Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 35


__ADS_3

"Marc. Kau ingat saat kita menonton drama karavan?" (Karavan adalah sebuah kelompok yang mengembara menggunakan alat transportasi dan sekaligus menjadi rumah bagi si pengembara)


Marc mengangguk. "Ya, waktu itu diam-diam kita keluar malam untuk menontonnya."


Naeva tertawa pelan mengingat kenangan itu. "Anne terus gelisah dan merengek untuk kembali. Tapi begitu sudah sampai di depan karavan para seniman, malah Anne yang tak mau pulang."


"Ya, benar. Dan setelah menonton drama putri tidur itu, Anne menjadi takut makan apel. Dia benar-benar polos." timpal Marc dan ikut tertawa.


"Setelah pulang, kau dipukuli Emma, aku sangat merasa bersalah."


"Ya, Mère sangat takut dua anak gadisnya kenapa-kenapa dalam gelapnya malam," timpal Marc. Namun kemudian ia langsung meralat, "maksud saya, Mère menganggap anda seperti anak gadisnya juga."


Naeva menghela napasnya. Ia benar-benar merindukan Emma.


"Lantas kenapa hanya kau yang tak bisa menganggapku seperti itu? Aku tau Emma mengajari kalian untuk menjaga batasan agar kalian tetap menganggap ku seorang nona. Tapi bukan seperti itu yang aku inginkan, Marc. Aku ingin kau menganggap ku saudarimu. Seperti kau dengan Anne."


Marc terpaku. Jadi seperti itulah anggapan lebih yang diinginkan sang nona. Ia telah salah mengartikan.


"Aku tak ingin hidup sendiri. Aku ingin memiliki kalian sebagai keluarga. Bahkan sejak kecil, sejak ibuku tiada dan ayahku menghabiskan waktunya di meja judi, hanya kalian yang aku punya."


"Anda tidak sendiri, M'mselle. Saya akan selalu bersama Anda sampai Anda menginginkan saya untuk pergi."


"Itulah yang menjadi perbedaan antara hubungan pekerjaan dengan hubungan keluarga. Aku menganggapmu keluarga, jadi aku tak akan pernah memintamu untuk pergi."


Marc menatap Naeva cemas. Bagaimana caranya ia mengatakan bahwa sang nona lebih dari seorang anggota keluarga baginya, agar gadis itu tak merasa sendirian?


"Sa-saya selalu menganggap Anda lebih dari sekedar seorang majikan. An-anda ... adalah keluarga saya," ujar Marc terbata.


Naeva tersenyum geli melihatnya. "Aku tak memaksamu, Marc. Kenapa sampai gugup begitu?"


"Saya tidak terpaksa, a-ataupun gugup!" Marc seketika panik, takut sang nona mengetahui perasaannya.


Nona Naeva mencintai pria lain. Marc tak ingin perasaannya yang bertepuk sebelah tangan ini membuat nona-nya merasa bersalah. Biarlah ia menyimpan sendiri rasa cinta yang terlanjur mekar di hatinya.


Naeva menoleh ke arah jendela. Cahaya senja semakin memerah. Perlahan senyuman gadis itu memudar.


"Marc ...." desahnya pelan. "Apa kau akan marah jika aku menyuruhmu pulang sendiri setelah kau sembuh nanti?"


Duduk Marc seketika tegak. Tubuh lemahnya kini menegang kaku dengan napas tertahan.


"Kenapa? Kenapa anda bertanya seperti itu?"


"Karena aku sepertinya tak akan pulang dulu. Tapi kau tak boleh berlama-lama di sini, kasihan Emma dan Adam, mereka pasti merindukanmu."


Naeva tak mengatakan bahwa sebenarnya ia khawatir jika Marc terus berada di Kastil ini, pria itu akan mengorbankan dirinya lagi.


"Saya tak akan meninggalkan Anda, M'mselle. Mère dan pere juga pasti merindukan Anda. Kita akan pulang sama-sama kapanpun yang Anda inginkan!" tegas pria itu.


"Tapi ...."


Tok tok!


Suara ketukan di pintu memotong kata-kata Naeva. Gadis itu langsung menoleh ke arah pintu.


"Sebentar Marc, aku akan membukanya," ujarnya sembari bangkit.


Di ambang pintu, berdiri Amily bersama 3 pelayan wanita lainnya.

__ADS_1


"Se-selamat ... sore, Mlle Gaulle," sapa gadis itu sembari membungkuk hormat.


Yang lain pun ikut menyapa.


Naeva mengembangkan senyumnya. "Selamat sore," jawabnya dengan membungkuk hormat pula.


"Saya ... saya ingin meminta maaf atas kelakuan kakak saya tadi pagi, M'mselle," ucap Amily dengan wajah tertunduk.


Naeva terdiam sesaat. Kejadian tadi pagi memang membuatnya sedih sekaligus marah. Tapi Amily dan kakaknya adalah orang yang berbeda, dan berbeda kepribadiannya pula.


"Kau tak perlu minta maaf. Itu perbuatan kakakmu, bukan kesalahanmu. Seharusnya ... dia yang meminta maaf."


"Saya sudah memintanya untuk memohon maaf pada Anda, tapi dia terlalu keras."


"Oh iya, kalian datang kemari untuk belajar membuat motif saputangan, bukan?" Naeva mengalihkan pembicaraan demi melihat wajah Amily yang merasa bersalah.


"Ya, M'mselle. Jika Anda masih berminat mengajari kami," jawab salah seorang pelayan.


"Masuklah, kita akan membuatnya di dalam."


Keempat gadis muda itu saling berpandangan. Mereka tersenyum senang sekaligus lega mendapat sambutan hangat dari orang yang selama ini mendapat perlakuan buruk dari mereka.


Ternyata, Mlle Gaulle yang sering digosipkan oleh senior-senior mereka sebagai perempuan miskin yang sombong dan tak tahu diri itu, sama sekali tak begitu.


Perlahan mereka melangkah masuk, diikuti oleh Amily yang masih merasa tak enak hati.


Marc yang melihat kedatangan para pelayan wanita itu langsung bergerak siaga. Pria itu bahkan bangkit dari tempat tidur dan menatap mereka was-was.


"Tak apa, Marc. Inilah gadis yang meminjam saputangannya untukku. Namanya Amily."


Marc menoleh dengan tatapan tajam pada gadis yang sedari tadi menunduk dengan raut sedih.


Merasa ditatap lama oleh pria yang bernama Marc, Amily melirik ragu. Dan ia langsung teringat pada seorang laki-laki tampan yang menabraknya beberapa hari lalu.


"Maaf saya tak sengaja menabrak anda waktu itu. Saya sedang tidak fokus." Gadis itu membungkukkan sedikit tubuhnya.


Marc menggumam pelan. "Oh, pantas saja terasa tak asing."


"Sengaja atau tidak? Padahal kau memikirkannya setiap hari," bisik temannya menggoda.


Amily langsung menepuk lengan temannya itu dengan raut merona.


Naeva menahan senyumannya mendengar bisikan itu.


"Baiklah, kalau begitu kalian pilih sendiri bunga warna apa yang ingin kalian jadikan pewarna."


Gadis-gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan takjub.


"Kamar anda sangat indah, M'mselle," puji Amily.


"Aku hanya menempatinya sementara waktu atas kebaikan Comtesse," jawab Naeva.


"Apa ini kiriman Monsieur Comte?" tanya salah seorang gadis.


"Ya," jawab Naeva singkat. Ia tak nyaman membahas Abellard. Karena tahu para pelayan wanita tidak menyukai kedekatannya dengan majikan mereka.


"Anda sangat beruntung, M'mselle. Menurutku tak ada salahnya anda mendampingi Monsieur Comte. Anda hangat dan baik. Lagipula siapa yang bisa mengatur cinta harus berlabuh dimana, iya kan?" Pelayan muda lain mulai mengeluarkan opini.

__ADS_1


"Iya, tapi Anda harus ekstra sabar, M'mselle. Lady Angelia itu terlalu sempurna untuk dikalahkan." komentar yang lain.


Amily langsung mendelik pada temannya. Lalu melirik kearah Naeva yang terlihat tak nyaman.


"Sudah, kita datang kemari untuk belajar! Kita tak punya banyak waktu. Cepat pilih bunganya," tegas gadis itu kesal.


Naeva menatap Amily senang. Tak terusik sedikit pun perasaannya dengan kenyataan bahwa Amily adalah adik dari seseorang yang pernah berbuat buruk padanya.


Amily gadis yang pintar dan baik.


Setelah memilih bunga, keempat gadis itu mengerubungi Naeva di dekat jendela, memperhatikan langkah selanjutnya dari mewarnai saputangan.


Suasana kamar mulai sedikit gelap, karena sang mentari mulai tenggelam di ufuk barat bersama cahayanya. Sementara listrik belum dinyalakan.


"Maaf, M'mselle. Kami datang terlalu sore. Karena pekerjaan kami baru saja selesai," ucap Amily tak enak.


"Tak mengapa. Aku mengerti."


"Inipun kami pergi secara diam-diam. Kalau tidak, pelayan senior akan marah. Tapi kami tak akan takut selama ada Amily, dia sangat berani. Dia juga yang menemui Mme Maria saat anda butuh madu." Seorang gadis yang sedari tadi diam dan terlihat penakut, bercerita panjang lebar.


"Benarkah? Oh, aku sangat berhutang budi padamu, Amily." Naeva menatap gadis yang terlihat lebih muda darinya itu penuh rasa terimakasih..


"Tidak usah merasa berhutang, M'mselle. Setelah menolong, saya malah membuat anda dimusuhi kakak saya."


"Itu bukan kesalahanmu, jangan lagi merasa bersalah."


Perlahan namun pasti, keakraban tercipta di antara mereka. Para gadis muda itu bercengkerama sembari memperlihatkan hasil kreasi mereka masing-masing.


Hingga kemudian listrik menyala, dan para gadis pelayan terpaksa meninggalkan kamar yang indah beserta pemiliknya yang baik hati itu untuk kembali ke dalam kastil.


"Aku ... ingin berbicara dengan Mlle sebentar. Kalian pergilah lebih dulu," ujar Amily sebelum meninggalkan kamar Naeva.


"Mlle Gaulle, saya benar-benar minta maaf atas perlakuan kakak saya," ucapnya.


"Jangan dipikirkan lagi." Naeva menutup pintu kamarnya dari luar. Tak ingin Marc mendengarkan dan mengetahui masalahnya tadi pagi.


"Kakak saya itu sangat keras. Dia paling takut kalau saya kehilangan pekerjaan di sini, karena ...."


Ucapan Amily tersendat, gadis itu tampak sulit melanjutkannya.


"Karena dia tak ingin saya pulang. Kami hidup bersama ayah yang seorang pemabuk. Itu ... sangat buruk."


Naeva menyentuh pundak Amily dengan raut prihatin. Gadis yang pertama kali dijumpainya itu selalu berwajah ceria dan penuh semangat hari ini tampak murung.


"Kakakmu sangat menyayangimu. Aku benar-benar tak mengapa. Kembalilah, jangan sampai dia benar-benar melarangmu untuk berteman denganku lagi."


Amily menghembuskan napas lega dengan perasaan haru.


"Saya sangat senang, mendengar kata teman dari anda. Saya permisi, M'mselle." Gadis itu membungkukkan badannya, lalu tersenyum dan berbalik pergi.


Naeva pun menghela napas panjang setelah kepergian Amily. Ia merasa bersyukur, walau ayahnya pemabuk tapi tak pernah bersikap kasar. Malah ayahnya sangat pengasih dan mencintainya.


Naeva pun berbalik untuk masuk kembali. Namun belum sempat ia membuka pintu, seseorang memanggilnya dari arah tangga.


Kamar Naeva


__ADS_1


Kamar Abellard



__ADS_2