
"Jangan minum itu!" sergah Abellard sembari mengambil gelas dari tangan Naeva dengan kasar.
"Kenapa?! Apa karena minuman ini milik Anda, Monsieur Comte?" ketus Naeva dengan suara pelan, agar tak memancing perhatian tamu lain.
"Bukan! Karena kau harus menuruti kata-kataku!" tegas pria itu.
Naeva mendengus sembari tersenyum miring. "Kau memang pria yang menyebalkan! Aku tak akan pernah mengerti jalan pikiranmu."
"Kau hanya perlu mengerti bahwa laki-laki seperti Alfred tak bisa dipercaya."
"Kenapa? Apa kau berpikir Alfred akan menaruh racun di dalam minuman itu?" Naeva kembali menantang Abellard dengan tatapannya. "Berikan minuman itu, biar kau sadar bahwa kau selalu berpikiran buruk terhadap orang lain!"
Kemarahan Abellard seketika terpancing mendengar ucapan Naeva.
"Kenapa kau sangat bersikeras ingin meminumnya?! Apa kau sudah tak sabar ingin bersamanya setelah jauh dariku?!"
Naeva terhenyak. Kata-kata Abellard terlalu mengiris hati dan menyakiti perasaannya. Perih di dalam dadanya perlahan naik ke mata dan menciptakan air mata. Gadis itu menatap sang Comte dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya!" ketusnya dengan suara tertahan. Sungguh tangisnya benar-benar akan meledak. "Aku ingin dekat dengan siapapun, selain dirimu!" sambungnya serak.
Lalu tangannya bergerak cepat untuk merebut minuman itu dan menenggaknya sampai habis.
Abellard terpaku. Hingga tak sempat mencegah Naeva untuk meminumnya. Raut terluka Naeva benar-benar menohok hatinya. Gadis itu terluka dan menangis karena kebodohan yang kembali ia ulangi. Sungguh ia tak bermaksud menciptakan suasana yang sepahit itu diantara mereka. Ia mencintai Naeva, dan cintanya itu tak pernah berkurang sedikitpun. Ia hanya marah ... dan saat ini sedikit bercampur dengan rasa cemburu yang tak pernah bisa dikendalikannya.
Satu jam berlalu. Semua tamu merasa sudah waktunya untuk kembali setelah mencicipi setiap jenis makanan mewah yang dihidangkan dan juga berbincang-bincang.
Monsieur Simon kembali menoleh pada Naeva dan memanggilnya dengan senyuman. "Mlle Gaulle, saya permisi dulu sekarang. Saya harap Anda tak keberatan untuk bertemu kembali dengan saya esok hari," ujarnya.
Naeva segera mengerjap-ngerjapkan matanya dengan sedikit mendongak, untuk menghilangkan air mata yang menggenang. Lalu bangkit dan mengangguk hormat pada pria itu. "Ya, tentu saja saya tidak keberatan, Monsieur. Saya akan menunggu kedatangan Anda."
Lady Angelia menatap Naeva kesal. Sekarang semakin sulit baginya untuk mengusir gadis miskin itu dari Kastil calon suaminya.
Naeva duduk kembali, menunggu para tamu itu bangkit dari kursi mereka lebih dulu. Namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Gadis itu memegang kepalanya sembari meringis.
Ternyata reaksi Naeva itu tak lupa dari perhatian Abellard yang masih duduk di sampingnya.
"Kau kenapa?" tanya pria itu khawatir.
"Kepalaku ... pusing." Naeva menopang kepalanya dengan kedua siku bertumpu pada meja sembari memejamkan mata.
__ADS_1
Abellard menatap gelas minuman yang telah kosong dengan curiga. Kemudian melirik Lord Alfred di seberang meja. Pria itu tampak tersenyum melihat keadaan Naeva, lalu bangkit dari kursinya dan menghampiri.
"Mari kita kembali, Naeva. Kita datang bersama, tentu juga harus kembali bersama," ucapnya.
"Sebentar My Lord. Saya sedang merasa pusing," tolak Naeva.
"Benarkah? Wah, kau mungkin kelelahan. Sebaiknya beristirahat sekarang, aku akan mengantarkanmu ke kamar." Lord Alfred mengulurkan tangannya untuk meraih lengan Naeva
Abellard yang melihat itu segera menangkap tangan sang Lord dan mencengkeramnya.
"Tidak perlu, biar saya yang mengantarkan," larang Abellard dengan nada tajam.
"Monsieur Comte, tidak masalah jika saya yang mengantarkan, karena kamar kami berada dalam satu bangunan."
Abellard meradang mendengar jawaban pria itu. "Tapi ini jadi masalahku!" tegasnya sembari mendorong bahu Lord Alfred agar menyingkir dari hadapannya.
Abellard memapah Naeva yang tak lagi bersuara dan membantah. Sementara tangan kirinya menyambar gelas bekas minuman dari atas meja.
"Dokter!" panggil Abellard pada sang dokter yang telah melangkah menuju aula bersama para tamu dan Comtesse.
Pria berpenampilan rapi itu menoleh ke belakang dan cepat-cepat menghampiri saat melihat sang Comte sedang memapah Naeva. Pasti terjadi sesuatu.
Abellard menyerahkan gelas di tangannya pada laki-laki itu. "Tolong, periksakan minuman yang masih berbekas dalam gelas ini. Apa mengandung sesuatu atau tidak. Tolong bawa segera hasilnya padaku."
"Baik, Monsieur. Saya akan memeriksa secepatnya," jawab Dokter sambil mengambil gelas dari tangan sang Comte.
Lord Alfred berdiri kaku di tempatnya. Raut wajahnya tampak tegang. Sepertinya perbuatannya akan segera terbongkar, dan itu sangat berbahaya untuk posisinya di kastil ini. Begitu juga dengan posisi adiknya nanti.
Naeva tampak semakin lemah dan mulai tak sadarkan diri. Abellard langsung menggendongnya ala bridal style, lalu melangkah gagah menuju ke kamarnya. Biarlah Naeva beristirahat di kamarnya karena tak mungkin ia menggendong sampai ke luar kastil dan menaiki tangga Menara yang banyak.
"Kenapa semuanya berwarna merah?" tanya gadis itu dengan matanya yang setengah terpejam.
"Merah?" Abellard mengernyit. Menatap bingung gadis dalam gendongannya.
"Ya ... Semuanya merah. Oh, aku sepertinya sedang berada di dalam bunga mawar ...." Naeva mulai meracau. "Ah bukan, ini di dalam sebuah kotak merah," ralatnya semakin kacau.
Abellard segera mempercepat langkahnya.
Begitu sampai di dalam kamar, pria itu membaringkan tubuh Naeva dengan perlahan di atas tempat tidur. Kemudian menyelimuti dengan selimut yang biasa di pakainya.
__ADS_1
Pria itu menghela napas dan duduk di sisi Naeva yang tak bereaksi apa-apa lagi. Gadis itu tidur dengan tenang. Namun matanya masih setengah terbuka.
"Naeva?" panggil Abellard sembari melambai-lambai kan tangannya di hadapan wajah gadis itu.
Tap!
Tiba-tiba Naeva menangkap tangannya.
"Mère?" panggil Naeva sembari menatap tangan Abellard. Seolah melihat ibunya yang telah tiada.
Lalu tiba-tiba gadis itu memeluk tangan Abellard dan menempelkan pipinya di jemari pria itu.
Sang Comte tentu saja terkejut. Napasnya seketika tertahan dan jantung berdetak kencang merasakan sentuhan Naeva di tangannya.
"Mère, aku sangat merindukanmu." Naeva mulai menangis. Wajahnya terlihat begitu pilu. Membuat Abellard yang memandangnya merasa sedih dan sesak.
Naeva mengangkat tangan Abellard dari pipinya. Kemudian memposisikan tangan itu di hadapan wajahnya.
"Mère, kenapa kau meninggalkanku? Apa Mère tahu? Setelah Mère tiada, Père pun meninggalkanku. Menyerahkan hidupnya untuk meja judi. Hingga aku, buah cinta Mère dan Père menjadi barang taruhan. Apa salahku Mère? Sampai hidupku harus menjadi hak orang lain?" Naeva kembali menangis. Tubuhnya sampai berguncang-guncang.
Abellard meneguk salivanya dengan dada yang terasa perih.
"Waktu itu ... aku benar-benar takut Mère. Aku harus berpisah dengan Emma, Adam, juga Anne dan Marc. Aku ... aku akan dijemput dan dijadikan wanita simpanan ... atau bahkan budak seseorang. Aku menangis memanggil Mère. Aku ingin Mère membawaku bersama, karena aku sangat takut."
Abellard merasakan tubuhnya benar-benar kehilangan tenaga. Kesedihan yang mendalam mendera hatinya mendengar curahan hati Naeva yang begitu pilu.
Kini ia baru mengerti, setakut itu Naeva saat mendengar kabar jemputannya. Padahal ia tak akan menjadikan gadis itu wanita simpanan apalagi budak, ia justru akan menjadikan Naeva istri dan masa depannya. Tapi bagaimana mungkin Naeva bisa tahu itu, sementara rumor yang beredar tentang kehidupannya dengan wanita sangatlah buruk? Oh Mon Deu! Harusnya ia telah menduga itu.
"Aku berpikir, Mère tak mendengarkan panggilanku karena Mère tak kunjung menjemput hingga aku masih berada di dunia ini. Tapi ternyata Mère mendengar, bukan? Mère kemudian mendoakanku hingga Allah mengirim orang itu dalam keadaan amnesia."
Naeva berhenti sejenak. Menatap tangan Abellard yang masih digenggamnya. Kemudian bibir bawahnya tampak keluar seperti bayi yang hampir menangis, kemudian Naeva benar-benar menangis, dan tangisnya lebih sesenggukan.
"Aku ... aku tahu keputusanku untuk berbohong adalah salah. Tapi aku sangat takut Mère. Dan lebih salahnya lagi, aku ... aku jatuh cinta pada lelaki yang telah aku bohongi."
Abellard terpaku. Ungkapan cinta yang tak disadari Naeva itu terasa sakral dan indah, melebihi angannya selama ini. Pria itu bergetar. Hatinya penuh dengan luapan perasaan yang bercampur aduk. Bahagia tapi perih. Lega namun menyesakkan. Semua itu karena penyesalannya.
"Dia marah Mère. Dia menyalahkanku. Mengatakan aku sengaja mempermainkan hidupnya." Naeva menyeka air matanya dengan tangan kiri, sementara yang kanan masih memegang tangan Abellard. "Itu memang benar ... aku bersalah," sambungnya lagi. "Tapi aku sama sekali tak bermaksud menjeratnya. Aku hanya ingin mencintai apa adanya. Menginginkannya hidup bersamaku tanpa ada embel-embel gelar atau harta. Tapi dia tak percaya Mère ... dia menyakitiku ...." Naeva memeluk kembali tangan Abellard seolah memeluk ibunya, lalu kembali terisak-isak. Air mata mengalir deras di pipinya.
Tangan kanan Abellard yang gemetar perlahan menyapu air mata itu dengan lembut. Pria itu menggigit bibirnya, merasakan pedih dari rasa bersalah yang teramat sangat. Dadanya begitu sesak. Ia berusaha menahan tangis. Namun setetes air mata mengalir dari netra biru tuanya, yang menatap Naeva teduh dan pilu. Abellard menutup wajahnya dengan tangan kanan, bahunya pun berguncang kuat.
__ADS_1
"Maafkan aku ... maafkan keegoisanku ... maafkan aku ...." bisiknya lirih dan berulangkali.