Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 34


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan?!"


Tiba-tiba sebuah suara bariton menggelar di ruangan itu. Tanpa harus membuka mata pun, ia tahu itu suara Abellard.


Ah ... Naeva benar-benar ingin menangis sekarang. Akhirnya Abellard datang disaat ia membutuhkan. Haru dan sedih menggelegak jadi satu di dalam hatinya.


Dan saat sebuah tangan kekar mengangkat tubuhnya, Naeva langsung berlindung di dada yang bidang itu.


"Menangis lah, jika kau ingin menangis. Maafkan aku yang terlambat ada untukmu," bisik Abellard lembut sembari melangkah lebar meninggalkan dapur. Tangannya merengkuh hangat. Tak akan membiarkan siapapun menyakiti gadisnya lagi.


Naeva semakin menyembunyikan wajahnya pada dada bidang itu. Dadanya sendiri masih terasa sangat sesak, namun tak ada tangis yang keluar.


"Mataku perih," lirihnya.


"Iya, Sayang. Aku akan segera membasuhnya." Abellard mempercepat langkahnya, hingga kemudian ia membuka sebuah pintu dan mendudukkan Naeva di atas kursi. Gadis itu langsung menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang pasti terlihat berantakan saat ini.


Ia merasakan Abellard berada di hadapannya dan pasti sedang menatapnya.


"Kenapa kau tidak menangis? Kejadian tadi pasti membuatmu sangat sedih."


Naeva menggeleng. Namun tak tahu kenapa ia menggeleng.


"Naeva, kau tak boleh terus menyimpan perasaanmu. Rasa sedih dan senang itu harus diungkapkan. Itulah yang namanya hidup. Penuh rasa yang mewarnai. Kau tak boleh hanya diam dalam kegelapan."


Naeva terdiam. Mendengar suara Abellard yang begitu lembut dan penuh pengertian. Ucapan pria itu bagaikan sebuah petuah yang menyentuh hatinya. Membuat Naeva merasa ingin menumpahkan semua lara yang terpendam dalam hati. Perlahan bahunya berguncang. Sesak di dalam dadanya kemudian berubah menjadi tangis.


Dan Naeva benar-benar menangis untuk beberapa saat.


Abellard membiarkannya sejenak, seperti membiarkan anak kecil yang menangis melepaskan tantrum-nya.


Setelah beberapa saat, barulah Naeva merasakan tubuhnya direngkuh lembut ke dalam pelukan Abellard. Pria itu kemudian menepuk-nepuk punggungnya pelan untuk menenangkan.


"Kau merasa lega?"


Naeva mengangguk. Beban di dalam dadanya terasa menguap. Perlahan tangisnya pun reda.


"Aku dimana?"


"Di dalam kamarku," suara Abellard terdengar menjauh.


Sesaat kemudian ia mendengar langkah Abellard kembali mendekat. Hingga aroma maskulin pria itu tercium di hidungnya.


Lalu Naeva merasakan kain basah menyapu keningnya.


"Kenapa kau terus menyembunyikan wajahmu?"

__ADS_1


"Aku ... berantakan sekali."


"Kau sangat manis saat ini."


"Bohong!" Naeva semakin merunduk.


"Aku tak berbohong. Kau berlumuran selai yang manis saat ini." Abellard terkekeh setelah mengatakannya. Membuat Naeva berdecak kesal dalam hati. Abellard terkadang hangat namun terkadang menyebalkan.


Naeva merasakan jemari Abellard mengangkat dagunya. Lalu perlahan membasuh matanya dengan kain basah.


"Kau tetap terlihat cantik di mataku apapun kondisimu, Sayangku. Perasaanku tak tak akan berubah hanya karena kecantikanmu berubah," ucapnya lembut.


Setelah menyapu kedua kelopak mata Naeva hingga bersih, pria itu bertanya dengan suara yang terdengar serak.


"Apa masih perih?"


Naeva menggeleng.


Abellard kemudian berdeham.


"Kalau begitu, bukalah matamu. Aku bisa melakukan sesuatu yang lebih jika kau terus memejamkan mata."


Sesuatu yang lebih? Mendengar itu Naeva cepat-cepat membuka matanya.


Abellard ternyata berjongkok di hadapannya. Wajah tampan itu langsung tersenyum hangat.


"Ya, mulai sekarang kau memang harus mempersiapkan hatimu, karena aku akan terus mengungkapkan perasaanku tanpa menahannya lagi."


Naeva buru-buru memalingkan wajahnya yang terasa panas. Sementara jantungnya semakin berdebar-debar.


"Tapi, kau akan segera bertunangan dengan Lady Angelia."


"Aku tak akan pernah melakukannya."


"Tapi kau menyetujuinya."


"Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menikahimu atau membawamu pergi dari sini."


"Bagaimana dengan ibumu?"


"Aku akan menikahimu apapun tanggapan ibuku," ucap Abellard. Kemudian meraih kedua tangan Naeva. Menatapnya hangat dan berbisik lembut. "Setelah itu, tak akan ada yang berani mencelakai istri dari seorang Comte Abellard."


Naeva terdiam. Ini memang yang diinginkannya, menikah dengan Abellard. Tapi rasanya berat jika harus tinggal lebih lama di kastil ini.


Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Naeva, Abellard langsung menyambung ucapannya, "aku tidak memintamu untuk bertahan tinggal di sini. Tapi bertahanlah di sisiku. Kau harus mengatakan padaku jika kau ingin pergi. Maka kita akan pergi bersama kemanapun itu."

__ADS_1


Abellard kembali menyapu wajah Naeva untuk membersihkan selainya.


Membuat Naeva menjadi ingat saat ia membersihkan wajah Abellard yang berlumuran darah kala pertama kali ia menemukan pria tampan yang amnesia itu.


"Aku akan memecat mereka semua!" Wajah Abellard berubah bengis.


"Tidak. Tak semua dari mereka berkelakuan buruk. Kau hanya perlu mencari tahu siapa yang telah meracuni makanan. Karena kejahatan seperti itu tak bisa dibiarkan."


"Baik, aku akan lebih keras menyelidikinya."


***


Naeva duduk di hadapan jendela kamarnya. Menatap ke arah laut yang berwarna jingga diterpa cahaya senja. Pikirannya masih dipenuhi pernyataan Abellard tadi pagi.


Apa ia harus membatalkan niatnya untuk pulang? Abellard sedang berjuang demi cinta mereka, apakah tidak egois jika dirinya memilih untuk lari dari masalah ini?


Jika racun itu datang dari Mme Aamber, maka sang Comtesse pasti akan semakin murka dan berbahaya setelah Abellard mengatakan ingin menikahinya.


Masalahnya ia memiliki Marc yang akan mempertaruhkan nyawa jika sesuatu yang buruk terjadi lagi. Dan Naeva tak akan bisa memaafkan dirinya jika Marc kembali menjadi korban.


Gadis itu menoleh ke belakang. Melihat Marc yang kembali tertidur. Tubuhnya masih terlalu lemah sehingga menuntut istirahat yang banyak.


Naeva bangkit dari kursinya dan menghampiri.


"Marc, bangunlah sebentar. Ini sudah senja, bukan waktu yang baik untuk memejamkan mata," panggilnya lembut.


Marc membuka matanya sedikit. Wajah cantik yang senantiasa menjaganya beberapa hari ini menyapa netranya. Bibirnya langsung tersenyum.


"Saya menjadi seperti putri tidur ya, M'mselle?"


"Bukan. Kau adalah Pangeran yang paling ceroboh. Datang dan memakan makanan yang telah kau ketahui mengandung racun," jawab Naeva sembari tersenyum. Baginya Marc bahkan lebih baik daripada pangeran manapun. Marc datang dan mencegah Naeva memakan makanan beracun itu dengan memakannya sendiri.


"Maaf, saya tak bisa lagi berpikir saat itu. Yang penting anda tidak memakannya ...."


"Tapi kau lebih penting bagiku!" sela Naeva.


Marc terhenyak. Apa yang harus dirasakannya sekarang? Ia dapat merasakan arti dirinya bagi Naeva. Gadis itu sangat peduli padanya. Tapi sayangnya, Marc bukanlah orang yang mendapatkan cinta sang nona.


"Kalau dipikir-pikir, pangeran dalam cerita itu bukanlah seorang pahlawan. Dia datang setelah sang putri memakan racun, lalu mencuri sebuah ciuman karena tak tahan melihat kecantikannya." Naeva tertawa miris.


"Hm. Tapi pangeran itu memiliki keajaiban." Marc menatap ke arah jendela yang mengarah ke lautan dengan tatapan nelangsa.


"Keajaiban?"


"Ya, dia bisa mendapatkan cinta sang putri walau dia tak memakan racunnya." Yang dimaksudkan Marc tentu saja adalah Abellard. Sedangkan dirinya hanyalah seorang pecinta yang hilang dalam cerita.

__ADS_1


visual Marc



__ADS_2