Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 81


__ADS_3

"Tunggu dulu!" bantah Lady Angelia dengan suara keras. "Kalian tidak boleh membawaku sekarang. Karena aku akan mengatakan sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan sang Comte."


Abellard tak peduli. Ia tak akan membiarkan Lady Angelia memiliki kesempatan untuk mengatakannya.


Pria itu segera menghampiri dan menarik lengan Lady Angelia dengan keras.


Namun sang Lady segera membuka mulutnya dan bersuara dengan lantang, "Mlle Gaulle adalah seorang muslim!"


Semua orang terpaku. Termasuk Maria, Jean dan Dokter yang datang dari ruang makan.


Lady Angelia tersenyum melihat reaksi semuanya.


"Kalian semua pasti sangat terkejut, bukan? Perempuan yang kalian agungkan itu ternyata tidak seperti yang kalian pikirkan."


"Cepat bawa dia pergi dari sini sekarang juga, Prajurit!" tegas Abellard dengan suara bergetar dan tangan terkepal.


"Baik, Monsieur ...." Prajurit segera menyeret Lady Angelia pergi.


Tapi kali ini gadis itu tak lagi memberontak. Ia mengikuti langkah para prajurit dengan bibir tersenyum.


"Aku tidak akan hancur sendirian hari ini. Naeva de Gaulle juga akan hancur. Aku ... tidak berakhir dengan sia-sia. Hahaha!" Tawa sang Lady terdengar melengking dan dibalut aura kejahatan. Suara tawa yang membuat semua orang merasa merinding.


***


Abellard segera melangkah keluar Kastil dan menuju Menara Selatan. Menjemput Naeva yang ia minta untuk bersembunyi sementara di sana.


Setelah mengetuk pintu kamar bawah Menara yang berada di tepi laut itu, sang Comte dapat melihat wajah cantik Naeva yang terlihat khawatir.


"Bagaimana? Semua berjalan lancar?" tanya gadis itu.


Abellard meneguk salivanya. Apa yang harus ia katakan?


Perlahan kepalanya menggeleng.


Naeva tercekat. Wajahnya seketika memucat.


"Ti-tidak? A-apa semua menjadi kacau?"


Abellard kembali bingung harus menjawab apa. Dan perlahan kepalanya mengangguk. "Tapi kau tak perlu khawatir. Aku tidak akan membiarkan seorangpun menyakitimu."


Naeva menahan napas dengan raut cemas. Mendengar jawaban Abellard, ia langsung bisa menebak jika Lady Angelia pasti telah membeberkan rahasianya. Ia percaya Abellard akan melindunginya. Tapi hatinya tetap cemas membayangkan penilaian semua orang terhadapnya.


"Jadi ... sekarang apa? Apa yang harus kita lakukan?" lirih gadis itu.


Abellard meraih tangan Naeva dan menggenggamnya. "Kau hanya perlu perlu berdiri di sisiku dan menggenggam tanganku seperti ini. Selebihnya, serahkan padaku," ucapnya sembari menatap gadis itu hangat. "Apa kau bisa mempercayaiku?"

__ADS_1


Naeva mengangguk tanpa harus berpikir.


Bibir menawan sang Comte tersenyum tipis. "Ayo ...." ajaknya sembari menarik tangan Naeva lembut.


Mereka menuruni tangga dan melangkah dengan tangan saling menggenggam menuju ke kastil.


Di dalam sana Naeva melihat banyak orang berkumpul. Sepertinya memang telah terjadi kekacauan di sini. Langkah Naeva seketika terhenti.


Abellard ikut menghentikan langkahnya dan menatap Naeva sembari mengeratkan genggamannya.


"Jangan khawatir, Sayangku ...." bisiknya.


"Apa yang telah terjadi, Abellard? Apa mereka semua menungguku untuk dihujat?" Alis Naeva bertaut dengan raut cemas.


Abellard menggeleng.


Sepuluh menit yang lalu Lady Angelia baru meninggalkan Kastilnya setelah mengungkapkan rahasia Naeva.


Semua orang terlihat syok dan tak percaya. Mereka baru saja menyaksikan dan juga mendengarkan hal yang diluar dugaan. Lady Angelia yang ternyata adalah seorang pembunuh dan juga Mlle Gaulle ternyata seorang muslim?


Melihat itu, Abellard pun tidak tinggal diam. Ia tak akan membiarkan semua orang membenci Naeva dan menghujatnya. Ia harus bertindak.


Sang Comte kemudian memerintahkan Maria untuk meminta para tamu pulang dan menyampaikan permintaan maafnya.


Abellard menatap gadis yang telah berada di sisinya itu dengan tatapan meyakinkan. "Kita akan menghadapi apapun yang terjadi. Apa kau siap?"


Naeva menarik napasnya dalam-dalam. Ia akan siap untuk pergi jika semua orang tak lagi menerima dan menghujatnya.


Gadis itu kemudian mengangguk.


Keduanya melangkah kembali menghampiri semua orang yang telah menunggu.


Jean yang berada di antara kerumunan itu langsung menghampiri, mengawal Naeva dengan sikap siaga dan garang. Ia telah bersumpah akan melindungi Naeva dengan jiwa dan raganya.


Kini, semua mata tertuju pada Naeva. Namun gadis itu belum berani untuk mengangkat wajahnya. Hatinya masih terlalu tegang, hingga seluruh tubuhnya terasa kaku.


Abellard mengedarkan pandangannya pada semua orang. "Kalian semua sudah mengetahui kenyataannya. Bahwa gadis yang kucintai ini adalah seorang muslim ... begitu juga dengan Mère," Abellard menatap ibundanya sekilas.


"Yang harus kalian ketahui, bahwa Naeva de Gaulle tetaplah Naeva yang kalian kenal selama ini. Hanya kepercayaannya lah yang berbeda. Tapi dia sama sekali tak pernah merugikan siapapun dengan kepercayaannya itu. Bahkan pelayan yang tinggal bersamanya sejak dulu memiliki kepercayaan yang berbeda dengannya. Jadi, tak mungkin Naeva menjadi orang yang akan membahayakan kalian."


Semua orang masih terdiam. Tak ada bisik-bisik yang biasanya akan terdengar dalam situasi seperti itu. Semuanya tampak tenggelam dalam pemikiran masing-masing.


"Aku ingin tahu, apa pendapat kalian setelah mengetahui kenyataan ini. Jika Mère dan semua orang menghujatnya, maka aku akan membawa Naeva pergi dari sini dan hidup bersamanya di tempat lain."


"Saya tidak akan mempermasalahkan!" Amily tiba-tiba maju dan berkata lantang. "Mlle Gaulle adalah orang yang sangat baik, jadi saya yakin kepercayaannya itu adalah sesuatu yang baik pula."

__ADS_1


Naeva mengangkat wajahnya. Menatap Amily penuh rasa haru.


Sora kemudian ikut menunjukkan diri dan mengatakan hal yang sama dengan Amily. "Mlle Gaulle tetap akan menjadi idolaku sejak dulu."


"Ya, Mlle Gaulle adalah gadis baik hati yang selalu bersikap hangat dan suka membantu tanpa pandang bulu. Kenapa sekarang kita harus membedakannya?" sambut Maria.


"Seharusnya, kita melihat sifatnya. Lady Angelia yang satu keyakinan dengan kita malah memiliki sifat buruk. Orang seperti itulah yang harus kita jauhi," timpal sang Dokter yang sedari tadi bersikap normal.


Beberapa menit berlalu, suasana berlangsung tegang. Hingga kemudian beberapa orang maju menghampiri Amily. Menunjukkan bahwa mereka juga ikut meyakini bahwa Mlle Gaulle bukanlah seseorang yang harus dijauhi.


Naeva merasa kelegaan yang luar biasa di dalam dadanya. Matanya menatap penuh keharuan pada pelayan-pelayan yang pernah makan bersama dan merayakan ulangtahun dengan penuh sukacita bersamanya.


Ternyata mereka masih menganggapnya sama.


Tak lama kemudian semua pelayan telah berkumpul ke depan. Memberikan senyuman yang mengartikan sambutan hangat mereka, pada gadis luar biasa yang telah mendapatkan hati mereka. Gadis dari kalangan biasa yang telah menjadi penyatu para pelayan dengan sang pangeran, hingga tak ada lagi dinding kasta diantara mereka.


Apalagi yang harus mereka ragukan? Seandainya pun Lady Angelia kembali dan menawarkan emas serta berlian, mereka tetap tak akan berputar haluan.


Mata Naeva tampak berkaca-kaca. Sungguh ia tak menyangka semua orang akan menerimanya dengan baik.


"Terimakasih ... terimakasih untuk kalian semua," lirihnya dengan bibir tersenyum haru. Sementara air mata mengalir di pipinya.


Kini tinggal Mme Aamber saja yang masih terdiam dan tak memberi tanggapan apa-apa. Hingga semua mata pun tertuju padanya tanpa harus diberi aba-aba.


Menanti sang Ratu dari kalangan bangsawan itu mengungkapkan pemikirannya.


Mme Aamber berdiri dengan tatapan kosong. Ekspresinya terlihat datar, hingga tak ada yang bisa menebak apa yang sedang dipikirkan wanita itu.


"Mère ...." Abellard menatap ibunya dalam-dalam. "Aku tahu Mère sangat sulit untuk menerima hal ini. Tapi inilah cintaku. Seperti halnya Mère mencintai Beaupère (ayah tiri) yang menurutku tak bisa membahagiakan Mère, namun Mère tetap mencintainya apapun yang aku katakan. Aku juga akan mencintai Naeva dan menikahinya apapun yang Mère katakan."


Mme Aamber tampak menghela napasnya. Lalu membalas tatapan putranya.


"Jika itu memang keinginan dalam hidupmu, maka jalani lah dengan sebaik-baiknya. Dan jangan pernah menyesali keputusanmu hari ini."


Abellard Seketika tersenyum lebar. Senyuman yang merekah oleh kebahagiaan.


Ibunya telah merestui. Walau bukan dengan suka cita, namun ia yakin akan mampu membuat ibunya kelak ikut merasa bahagia dengan keputusannya.


Bersama Naeva, ia pasti bisa.


**


Akhirnya, untuk yang pertama kali masyarakat Perancis yang sangat anti terhadap Islam itu akhirnya menerima seorang muslimah. Dan seorang Ratu bangsawan Perancis yang sangat mengutamakan kasta itu, menerima seorang menantu dari kalangan biasa yang merupakan keturunan budak dari tanah jajahan mereka sendiri.


__ADS_1


__ADS_2