
"Monsieur Comte, anda baik-baik saja?" Suara khawatir Maria terdengar samar-samar di pendengaran Abellard.
Namun pria itu tak sanggup membuka matanya. Keringat dingin telah bercucuran di dahi dan sekujur tubuhnya. Sementara kepalanya masih bising oleh ingatan-ingatan yang berputar silih berganti.
"Kalian siapa?" Kata pertama yang ia ucapkan saat pertama kali membuka mata di Kastil Wisteria pun terbayang dengan jelas dalam ingatannya kini.
"Kami orang yang telah menolong anda dari kejaran sekelompok orang yang ingin membunuh Anda," itulah jawaban Marc, yang kala itu tak terekam dengan jelas oleh otaknya yang masih linglung.
"Membunuh?"
"Ya. Sekarang anda bisa pulang ke tempat tinggal anda sendiri. Saya bisa mengantarkan. Dengan syarat anda harus menutup mata, karena kami tak ingin anda kembali kemari dan membawa masalah untuk kami."
Ya, Abellard ingat dengan jelas sekarang, Marc menjawab dengan jujur.
"Tapi ... saya tak tahu harus pulang kemana. Saya tidak ingat apa-apa."
Kemudian ia melihat Naeva muncul dari balik tubuh Marc dan bertanya dengan was-was. "Anda tak ingat siapa anda sebenarnya?"
Ekspresi Naeva kala itu pun ia ingat dengan jelas. Raut wajah gadis itu adalah raut ketakutan, bukan kesan jatuh cinta seperti yang dikatakan Anne.
"Tidak. Saya tidak mengingatnya ...."
"Kamu adalah Richard. Satu-satunya sepupuku!" Naeva mengucapkan kebohongan itu dengan penuh semangat.
Ya Tuhan ... gadis itu sengaja memanfaatkan keadaannya yang amnesia untuk berbohong!
Abellard merasakan sakit di hatinya. Gadis itu tak peduli dengan apa yang telah dilewatinya saat datang ke kastil tua itu demi menjemput cinta. Cinta yang sangat tulus dari hatinya.
Semua kenangan di Kastil Wisteria yang semula indah kini berubah menyakitkan bagi Abellard. Terbayang di benak bagaimana dirinya dibodohi oleh gadis yang ia cintai dan semua penghuni Kastil hangat itu.
Setetes air mata keluar dari ujung kelopak matanya yang masih tertutup dan terus mengalir ke samping telinga.
Maria yang melihat itu seketika panik. Sepertinya sang Comte menderita sakit yang teramat sangat, hingga mengeluarkan air mata.
Wanita paruh baya itu segera berteriak panik.
"Cepatlah bawa dokter sekarang juga. Apa kalian sudah memberitahu Comtesse?"
"Sudah, Ma'am. Comtesse sedang menuju kemari," jawab pelayan yang berdiri di ambang pintu kamar, sembari melongok keluar dengan sikap panik pula.
"Maria ...." panggil Abellard dengan suara yang terdengar seperti bisikan.
"Ya, Monsieur. Saya di sini," jawab Maria sembari meraih tangan Abellard dan menggenggamnya.
"Apa ... kau akan memaafkan ... orang yang memanfaatkan kelemahan orang lain ... demi kepentingannya?" Abellard masih menutup matanya. Walau kesadarannya telah benar-benar pulih.
Maria mengernyit bingung, kenapa tiba-tiba sang Comte bertanya seperti itu?
Namun wanita itu tetap menjawabnya. "Itu adalah perbuatan yang sangat keji, Monsieur. Orang seperti itu harus diberikan pelajaran. Apa Anda masih merasa sakit, Monsieur? Apa orang itu yang membuat Anda sakit?" Mata Maria tampak berkaca-kaca.
Abellard tak menjawab. Ia tak tahu harus menyalahkan siapa, Naeva, atau keadaan yang membuatnya amnesia, atau Claire dan kekasihnya, atau malah dirinya yang terlanjur jatuh cinta saat melihat foto Naeva?
"Abellard! Oh Mon Deu! Apa yang terjadi padanya?" Mme Aamber datang dengan panik.
"Saya juga belum tahu Ma'am. Sebentar lagi dokter akan datang," jawab Maria.
Dan seperti yang dikatakan wanita itu, tak lama kemudian dokter pun datang. Pria paruh baya yang menjinjing koper itu hanya bisa mendesah berat, mengingat baru saja ia pulang dari Kastil ini untuk mengobati seorang narapidana. Sekarang ia dipanggil kembali untuk mengobati sang Comte.
***
Tok tok
__ADS_1
"Mlle Gaulle! Mlle Gaulle!"
Pintu kamar Naeva diketuk dari luar bersamaan dengan suara panggilan yang tergesa-gesa.
Naeva yang baru saja merapikan tempat tidur setelah Marc meninggalkan kamarnya langsung menoleh kaget dan segera berlari untuk membuka pintu kamarnya.
Ternyata Sora, gadis penakut temannya Amily itu yang mendatanginya.
"Ada apa Sora?"
"Mlle Gaulle, Monsieur Comte tiba-tiba jatuh sakit. Beliau sekarang sedang diperiksa dokter!"
Naeva terhenyak. Abellard sakit?
"Sakit apa?" Gadis itu langsung terlihat panik.
"Saya tidak tahu, M'mselle. Amily yang meminta saya memberitahu Anda karena dia sedang menjaga kakaknya."
"Sora, apa Monsieur Comte sekarang berada di kamarnya?"
"Ya, dia sedang diperiksa dokter di dalam kamarnya."
"Bersama Comtesse?" Alis Naeva bertaut cemas.
"Ya, sepertinya begitu. Mme Maria langsung memanggilnya tadi."
Naeva meneguk salivanya. Sepertinya jalan untuk menjenguk Abellard akan menjadi sulit baginya. "Baiklah, Sora. Terimakasih sudah memberitahuku."
"Ya, M'mselle ... saya permisi dulu."
Naeva mengangguk lemah sembari menutup kembali pintunya.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Tak mungkin Comtesse akan membiarkannya menemui Abellard. Oh ... ya Tuhan. Hatinya benar-benar cemas. Berharap Abellard baik-baik saja. Namun hatinya tak akan tenang sebelum melihatnya sendiri.
Setelah berpikir begitu, langkah Naeva terhenti tiba-tiba. Ya, keinginannya barusan bisa menjadi ide yang bagus. Ia akan menerobos. Menjenguk Abellard apapun yang terjadi.
Tok tok
Suara ketukan kembali terdengar di pintu kamarnya.
Naeva segera melangkah ke pintu. Siapa yang datang kali ini? Mungkinkah Marc?
Naeva menarik gagang pintunya, dan melihat Lord Alfred berdiri di ambang pintu dengan seikat bunga mawar merah di tangannya.
"Selamat sore, Naeva ... boleh aku memanggilmu seperti itu? Rasanya lebih akrab." Lord Alfred tersenyum lebar.
Naeva melengos kecewa. Kedatangan pria ini semakin memperkeruh suasana hatinya yang sedang gelisah.
"Tapi kita memang tidak akrab, My Lord," tegasnya.
Lord Alfred tampak tak senang mendengar jawaban Naeva. Namun ia masih terus dengan ahlinya memasang tampang perhatian dan ramah.
"Baiklah, kalau menurutmu begitu, berarti kita harus melakukan sesuatu untuk mengakrabkan diri. Bagaimana kalau kita mulai dengan mendatangi makan malam di kastil ini berdua?"
Naeva menghela napas tak sabar. Ingin rasanya ia mengusir pria itu secepatnya agar dirinya bisa memikirkan cara untuk menemui Abellard.
"Maaf, my Lord. Saya tidak bisa," tolaknya langsung.
Lord Alfred sekarang benar-benar tampak marah. Naeva bisa melihat rahangnya yang mengeras.
Namun kemudian Naeva teringat sesuatu. Ajakan makan malam dari Lord Alfred bisa menjadi kesempatannya untuk masuk ke dalam kastil dan menjenguk Abellard.
__ADS_1
"Tapi saya rasa ... saya bisa," ralatnya kemudian.
Raut wajah Lord Alfred langsung berubah senang.
"Bisa? Maksudnya Anda bisa datang bersama saya?"
Naeva mengangguk, "ya ...." jawabnya.
"Oh, baiklah. Besok malam ada acara makan malam bersama. Aku akan menjemputmu." Mata Lord Alfred tampak berbinar penuh semangat. "Ah, iya. Ini bunga untukmu. Kau pasti menyukai mawar, bukan?" Lord Alfred berucap yakin. Karena ia melihat sendiri Abellard membawakan bunga itu untuk Naeva. Namun entah kenapa tiba-tiba Sang Comte menjatuhkan bunganya dan kembali dengan tergesa-gesa. Mungkin telah terjadi sesuatu dalam hubungan mereka. Namun yang penting, ini adalah kesempatannya untuk menikung.
Untuk beberapa saat, Naeva menatap ragu pada sebuket mawar yang di serahkan Alfred, namun akhirnya ia mengambil juga buket bunga itu. Rasanya tidak apa hanya menerima bunga, asalkan perasaan cintanya hanya untuk Abellard.
"Ya, saya suka semua jenis bunga," jawabnya.
Lord Alfred tersenyum senang. "Sampai jumpa esok malam." Pria itu melambaikan tangan dengan raut sumringah.
Naeva mengangguk dan lekas menutup pintu.
**
Abellard bangkit dari tidurnya dengan tubuh yang terasa begitu lemas. Seolah tenaganya baru saja terkuras habis.
"Saya tidak kenapa-kenapa, Dokter. Cukup berikan saya vitamin yang bisa mengembalikan tenaga saya," katanya pada sang dokter.
Mme Aamber meraba dahi putranya dengan raut khawatir.
"Apa kau yakin baik-baik saja, Ma Fils?"
Abellard mengangguk. "Aku hanya mengingat ... sesuatu. Dan itu membuatku lelah," jawabnya getir. Hatinya masih sangat perih.
"Apa? Jadi ingatanmu telah kembali?" Mata Mme Aamber membesar.
"Ya, tapi tidak semuanya."
"Mulai sekarang mungkin ingatan Monsieur Comte akan kembali sedikit demi sedikit, setiap melihat atau mendengar sesuatu yang memicu memorinya," sela Dokter.
"Wah! Itu sangat bagus, Ma Fils. Oh, Mère tak dapat membayangkan jika kau terus melupakan semuanya. Karena kastil ini butuh seorang Comte dengan pengetahuan yang telah terdidik sejak kecil, begitu juga dengan pabrik-pabrik kita." Mme Aamber berseru senang. Ia benar-benar berharap putranya kembali seperti dulu, mematuhi semua perintahnya dan menyayanginya dengan sepenuh hati.
"Bolehkah aku minta waktu untuk sendiri? Aku ingin beristirahat." Abellard tak menanggapi ucapan ibunya.
"Baiklah, Monsieur. Saya akan meninggalkan vitamin yang anda minta di atas meja," jawab Dokter.
Setelah semua meninggalkannya seperti yang ia pinta, Abellard membuka laci lemari kecil di samping tempat tidurnya. Mengambil selembar foto dan menatapnya lama.
Abellard merasakan hatinya masih bergetar seperti pertama kali menatap wajah gadis sederhana dalam foto itu. Ia masih sangat mencintai Naeva.
Mungkinkah yang dikatakan ibunya memang benar? Naeva sengaja ingin menjeratnya? Ayahnya pasti telah menceritakan kejadian di Kasino malam itu. Walau pria tua itu sedang mabuk, pihak Kasino akan memberitahukan apa saja kerugiannya setelah ia tersadar.
Apalagi kemudian ia mengirimkan telegram untuk mengabarkan kedatangannya ke Kastil Wisteria. Kemungkinan besar Naeva tahu siapa dirinya sebenarnya.
Dan saat Mère mengatakan bahwa gadis itu sengaja menjeratnya, Anne datang untuk mengatakan bahwa alasan nona-nya berbohong karena telah jatuh cinta sejak pandangan pertama.
Oh Mon Deu! Jika Naeva benar-benar berniat memanfaatkannya, rasanya ia tak akan sanggup lagi untuk hidup.
"Argh!!" Abellard mencengkeram rambutnya frustasi. Hingga foto yang masih berada dalam genggamannya ikut teremas.
Namun kemudian cepat-cepat merapikan kembali foto itu dengan raut panik, seolah tak sengaja telah menyakiti Naeva.
Matanya kembali menatap foto itu. Terbayang jelas dalam benak, sikap Naeva yang selalu tulus pada semua orang. Membuat Abellard tersadar, bahwa tak mungkin Naeva sejahat itu.
Abellard memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.
__ADS_1
Tidak adil jika ia memutuskan semua menurut ingatannya. Ia harus menanyakan langsung pada Naeva. Apa benar, gadis itu telah mencintainya sejak pandangan pertama?