
Satu bulan berlalu, kabar mengenai tertangkapnya Lady Angelia menyebar ke seluruh kota Marseille, bahkan hingga ke Paris. Seorang gadis muda yang begitu kejamnya menghabisi nyawa seorang pria yang tergila-gila padanya dengan ramuan beracun. Dan juga percobaan pembunuhan terhadap seorang tamu perempuan di kastil Marseille.
Luasnya jaringan bisnis Duke of Medwin yang merupakan seorang tuan tanah, membuat kabar itu cepat sekali menyebar, karena dibicarakan dari mulut ke mulut oleh kolega maupun saingannya.
Sementara itu, sang tamu yang hampir saja menjadi korban ramuan beracun di kastil Marseille yang tak lain adalah Naeva de Gaulle, kini tinggal dengan damai dan penuh cinta di Kastil megah yang berada di tepi lautan itu.
Semua berjalan dengan baik.
Bisnis Comtesse dengan Monsieur Simon pun berkembang pesat, setelah pengusaha sukses itu menggelontorkan dana yang besar-besaran.
Dengan bantuan pengetahuan Naeva, batu-batu mulia yang mereka perdagangkan menjadi perhiasan yang diburu setiap kalangan.
"Besok Anda harus hadir untuk launching model terbaru produk kita, M'mselle ...." pesan Monsieur Simon pada Naeva untuk ke sekian kalinya sebelum meninggalkan Kastil Marseille malam itu.
"Anda tak perlu khawatir, Monsieur. Saya akan membawanya serta," jawab Mme Aamber yang mengantarkan tamu-tamu undangan acara makan malamnya.
Naeva yang berdiri di samping sang Comtesse langsung tersenyum dengan perasaan tersanjung. Lalu membungkukkan badannya. "Saya merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dalam pembuatan perhiasan ini. Saya pasti akan datang untuk melihatnya, Monsieur."
Monsieur Simon menghela napas lega mendengarnya. Laki-laki itu kemudian berpamitan dan meninggalkan Kastil bersama seorang gadis manis yang ditemuinya di sebuah desa saat mencari sebuah batu mulia langka. Gadis yang ternyata berhasil mencuri hati pengusaha sukses yang telah lama melajang itu.
Naeva berbalik masuk kembali setelah sebelumnya mengucapkan selamat malam pada Mme Aamber. Sementara Sang Comtesse sendiri masih harus menemui tamu lainnya yang juga ingin berpamitan.
Gadis itu mengayunkan kakinya dengan langkah yang penuh semangat seperti biasanya. Semangat yang selalu menyelamatkannya dalam situasi seburuk apapun.
Di antara para tamu yang masih berbincang sembari berdiri dengan segelas minuman di tangan, Naeva menangkap sesosok tubuh tinggi tegap. Dengan ujung matanya ia bisa melihat sekilas, jika sosok itu sedang memperhatikannya.
Naeva tersenyum sendiri dan terus melangkah meninggalkan ruang tamu yang luas itu. Kemudian menuju tangga dan meniti setiap pijakannya dengan sedikit berjingkrak. Tak sulit baginya menaiki anak tangga yang berjumlah 30 lebih itu. Karena telah terbiasa menaiki tangga Menara Selatan yang lebih tinggi.
Kamarnya sekarang berada di lantai atas Kastil. Kamar berukuran luas yang diperuntukkan oleh Mme Aamber khusus untuknya.
Gadis itu terus berjalan menuju ke arah jendela kamar, melewati tempat tidur yang berukuran lebar berlapis sprei sutra berwarna putih dengan bantal-bantal tebal berisi bulu angsa yang lembut.
Di jendela kamarnya yang langsung berhadapan dengan laut, gadis itu berdiri menatap bayangan bulan di permukaan air, yang beriak karena gelombang.
__ADS_1
Naeva menyanggul rambutnya malam ini. Begitu cantik dengan hiasan jepitan emas yang berkilauan diterpa cahaya lampu kamar. Angin malam berhembus dingin, menerbangkan anak rambut di pelipis dan juga di tengkuknya.
Gadis itu memejamkan matanya, meresapi sejuknya angin yang seolah membelai hingga ke dalam hatinya. Mendengarkan suara angin dan juga deburan ombak di bawah sana.
"Kau ... sengaja mengacuhkanku, bukan?" Sebuah suara mengejutkan di belakangnya.
Naeva tersentak dan sontak membuka mata. Tanpa menoleh pun ia tahu siapa pemilik suara itu. Suara yang membuat jantungnya seketika berdebar.
Gadis itu tersenyum.
"Aku melihatmu masih berbincang dengan tamu," jawabnya sambil menatap samudera.
Abellard menghampiri dan berdiri di bagian kiri jendela. "Apa kau cemburu?"
Naeva menoleh dengan kening mengernyit. "Cemburu? Pada siapa?"
Abellard tampak melengos sembari mendesah kecewa. "Kau bahkan tidak merasa khawatir melihatku berbincang dengan tamu wanita."
Naeva tersenyum geli. "Kau tidak berbicara dengan para wanita itu, tapi dengan ayah mereka. Mereka hanya berdiri mengerumuni mu. Aku tahu itu," jawabnya.
Naeva memutar tubuhnya menghadap Abellard, menatap lekat pria tampan yang membuang muka dan berpura-pura menatap laut.
"Aku mencintaimu, Abellard. Aku juga pernah merasa cemburu. Tapi aku mempercayaimu, sehingga tak perlu menanyakan apapun padamu."
Abellard langsung menoleh dengan mata berbinar. "Benarkah?"
Naeva mengangguk.
Abellard memicingkan matanya. "Tapi kau ingin menjauh dariku. Kau tidak mau tidur di kamar yang bersebelahan dengan kamarku. Kau juga tidak mengizinkan aku pindah ke samping kamarmu."
"Itu ... karena aku tidak ingin kita terbawa hasrat jika terlalu mudah bertemu. Sementara kita belum menikah."
Abellard tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Naeva dan menggenggamnya penuh semangat.
__ADS_1
"Kalau begitu, kita akan menikah sekarang juga!"
Naeva tertawa pelan mendengarnya. "Ini sudah malam, Abellard ...."
"Justru, karena sudah malam aku tidak perlu menunggu lagi untuk malam pertamanya," jawab Abellard sembari memasang raut tanpa dosa dan senyuman manisnya.
Begitu menggemaskan. Namun kata-katanya sungguh mendebarkan.
Naeva refleks menjulurkan tangannya untuk mencubiti perut berotot milik sang Comte.
Pria itu terkekeh sembari menangkap tangan Naeva dan menggenggamnya kembali. "Bagaimana, kau setuju?" Abellard menaikkan sebelah alisnya dengan mata menggoda.
Raut wajah Naeva tiba-tiba malah berubah muram. Tidak ada wajah tersipu seperti biasa.
"Kita ... tidak bisa bersatu begitu saja," lirihnya.
"Kenapa?" Abellard mengerutkan keningnya.
"Karena perbedaan keyakinan kita. Tuhanku tidak mengizinkan penyatuan dua hambanya yang berbeda keyakinan. Dan aku tak akan mampu melanggar hukum-Nya karena cinta kepada makhluk-Nya," jawab Naeva dengan nada getir.
Abellard terdiam. Pria itu terpaku hingga tak sanggup untuk menelan salivanya.
Naeva melepaskan genggaman tangan Abellard dan kembali menatap laut dengan hati nelangsa. "Tapi kenapa aku tetap menjalani kisah cinta kita dan tak pernah membahas masalah ini denganmu? Itu karena aku menunggu ... menunggu takdir dari Tuhanku membuka jalan untuk cinta kita," sambung gadis itu.
Abellard tiba-tiba tersenyum. Ia meraih kembali tangan Naeva dan mengangkatnya. Kemudian mengecupnya lembut.
"Aku hampir saja takut karena mengira dirimu tak akan pernah bisa menikah denganku. Jika takdir Tuhan yang kau tunggu untuk mempersatukan kita, maka kau tak perlu khawatir. Tuhanmu telah menyentuh hatiku, melalui cinta dan kebaikan hati seorang gadis yang ditakdirkan-Nya untuk menemukanku."
Mata Naeva seketika melebar, menatap takjub pria yang menatapnya hangat itu.
"Be-benarkah? Ka-kau bersungguh-sungguh?" Gadis itu tergagap tak percaya.
"Ya, aku bersungguh-sungguh."
__ADS_1
Keduanya saling menatap. Penuh cinta dan rasa bahagia.