
Di balik semak belukar Abellard dan Naeva bersembunyi sembari menunggu siapa yang datang.
Suara roda yang berputar itu terdengar semakin mendekat, ditingkahi suara hewan malam di tengah suasana hutan yang sunyi.
Tiga buah kereta karavan muncul, (kereta berbentuk gerobak yang ditarik oleh dua ekor kuda). Lalu berhenti sebelum mencapai kubangan lumpur.
Samar-samar Naeva dapat melihat bahwa karavan itu dicat berwarna-warni dengan motif ceria dan unik.
Tak lama kemudian, seorang lelaki tua turun dari karavan yang paling depan. Lelaki itu mengenakan jaket pendek berkancing emas terang. Tangannya menggenggam tongkat panjang dengan kepala perak.
Dari saku saku rompinya terentang rantai emas tebal yang digantungi anting-anting. Ia mengenakan topi berpinggiran lebar dengan sulaman motif segitiga berwarna merah, putih dan hijau.
"Itu karavan gipsi," bisik Naeva.
(Gipsi: kelompok etnik yang hidup secara nomaden atau selalu berpindah-pindah tempat tinggal. Dan mereka hidup dalam karavan)
"Ya, mereka pasti akan memeriksa ke sekeliling tempat ini. Kita tak boleh mengeluarkan suara," sahut Abellard dengan bisikan pula.
"Kita bisa keluar, mungkin saja mereka mau menolong kita."
"Tidak. Mereka orang-orang yang tak bisa dipercaya."
"Siapa bilang? Mereka orang-orang yang baik," sanggah Naeva.
"Mereka itu pencuri, Naeva. Kemana saja mereka pergi, mereka akan menjarah hewan-hewan ternak milik penduduk di tempat mereka singgah. Mereka itu pengganggu yang merugikan."
"Mereka tidak seperti itu. Itu hanya perbuatan beberapa orang yang kemudian mencemari nama seluruh gipsi sampai sekarang. Sama seperti kita orang biasa, ada beberapa yang suka berbuat jahat. Hanya saja mereka hidup berkelompok, hingga kejahatan satu orang berimbas untuk kelompoknya."
Abellard menghela napas mendengar bantahan Naeva.
"Baiklah, kita akan lihat apa mereka akan mengambil kuda kita atau tidak," usulnya.
Naeva terdiam dan terpaksa mengikuti saran Abellard walau hatinya kurang setuju.
Gipsi tua itu kemudian berkeliling untuk memeriksa, persis seperti yang diperkirakan Abellard. Hingga kemudian seorang pemuda yang berpenampilan sama turun dari karavan kedua dan menghampirinya.
"Apa ada masalah, Doike?" (Doike: sapaan hormat kepada orang yang lebih tua)
__ADS_1
"Ada kuda yang tenggelam dalam lumpur sementara pemiliknya tidak terlihat," jawab pria tua yang terlihat seperti ketua suku itu.
"Mungkin pemiliknya sudah pergi."
"Sayang sekali, meninggalkan teman perjalanannya menderita setelah tak bisa lagi diambil manfaatnya." Pria tua itu berjongkok di tepi lumpur sembari memperhatikan si kuda hitam.
"Kami tidak meninggalkannya!" sengit Abellard dengan berbisik. Tak terima dikira menelantarkan kudanya.
"Aku akan mengambilkan tali untuk menariknya!" seru pemuda itu.
Sang Pemuda memasuki karavannya, dan kembali dengan membawakan tali. Lalu dari karavan ketiga keluar seorang pria dewasa dengan seorang seorang remaja lelaki. Mereka langsung bersiap membantu.
Ketua suku kemudian melemparkan tali yang telah dibuat bersimpul ke arah leher kuda bak seorang Koboi profesional.
Tap!
Leher kuda berhasil di jerat tali.
Pria tua itu kemudian menarik tali itu secara perlahan. Sementara bibirnya tampak komat-kamit membacakan sebuah mantra. (Jangan lupakan bahwa kaum gipsi sangat mempercayai mistis). Ketiga laki-laki lain bersedia di belakang kuda dan membuat suara-suara aneh. Suara yang terdengar seperti sorakan kaum Indian saat mengitari api dalam ritual mereka.
Naeva dan Abellard memperhatikan kejadian itu dengan napas tertahan dan mata terbuka lebar. Baru kali ini mereka melihat kejadian yang sarat mistis seperti itu.
Setelah beberapa saat terpaku, Naeva meraih tangan Abellard. "Ayo kita keluar!" ajaknya.
Abellard langsung balas menarik tangan Naeva, "jangan gegabah, Sayangku. Aku rasa meminta pertolongan mereka bukan ide yang bagus."
Gadis itu kemudian menggenggam tangan Abellard dan menatap mata yang sebiru samudera itu dalam-dalam. "Abellard, tolonglah. Percayalah padaku. Aku mengenal baik kaum gipsi. Mereka selalu singgah di kastilku saat melewati desa. Dan kau harus tahu, mereka tidak mengambil apapun saat berangkat kembali," ucapnya berusaha meyakinkan.
Tatapan itu tentu saja membuat hati sang Comte luluh.
"Baiklah, kita akan mencobanya. Tapi dengan satu syarat," tegasnya.
"Syarat apa?"
"Kalau mereka mau membantu, kita harus mengaku sebagai suami istri. Karena aku tidak mau kau dan aku dipisahkan. Kita harus selalu bersama agar aku bisa menjagamu."
Naeva mengalihkan tatapannya dengan hati berdesir dan salah tingkah. Suami istri? Sungguh mendebarkan membayangkan dirinya dan Abellard bersandiwara menjadi sepasang suami-istri.
__ADS_1
Gadis itu kemudian mengangguk, "baik, aku setuju!" jawabnya.
Ketua suku dan ketiga pria lainnya membersihkan lumpur di kaki kuda. Mereka seketika terkejut melihat kedatangan seorang pemuda gagah dengan seorang gadis cantik keluar dari semak-semak.
"Bonjour, Monsieur ...." sapa Naeva sembari mengangguk hormat.
Kepala suku bangkit dari berjongkok. Kemudian memperhatikan kedua muda-mudi yang muncul tiba-tiba itu sejenak.
"Bonjour ...." jawabnya. "Kalau saya perhatikan, kalian pasti pemilik kuda ini."
"Itu benar, Monsieur. Kami terperosok ke dalam lumpur. Kemudian mendengar suara roda kereta. Kami khawatir yang datang adalah perampok, makanya kami bersembunyi."
Kepala suku itu mengangguk paham. "Kuda ini sepertinya tak bisa melanjutkan perjalanannya sekarang. Dia terlalu lelah."
"Ya, itu benar," lirih Naeva sembari menatap kudanya iba. "Terimakasih, telah membantu kuda kami mendarat," ucapnya dengan sedikit membungkuk.
"Tidak perlu berterimakasih, M'mselle. Kami hanya membantu hewan yang sedang membutuhkan pertolongan. Apa kalian akan melewati hutan ini?"
"Benar, Monsieur. Kami harus melewati hutan dan mencari pedesaan untuk beristirahat. Apa kami boleh ... menumpang di kereta Anda? Hanya sampai kuda kami kuat untuk dinaiki," pinta Naeva penuh harap.
Kepala suku terdiam, mempertimbangkan permintaan gadis cantik yang bersikap lain dari pada yang lain terhadap mereka. Biasanya anak gadis yang bertemu dengan mereka akan langsung menjauh dan menghindari bertatap mata dengan mereka.
Semua karena para gipsi dituduh memiliki mata jahat. Keahlian mereka dalam hal mistik, membuat orang-orang desa mengira tatapan mata gipsi akan menghipnotis dan membawa keburukan.
Tapi gadis ini berbeda.
Mata kepala suku melirik Abellard sekilas. "Bagaimana dengan teman Anda? Sepertinya teman Anda tidak benar-benar berminat ikut dengan kami."
Abellard yang merasa dibicarakan sama sekali tak berekspresi. Pria itu hanya bersiaga menjaga kekasihnya.
Naeva tersenyum. Lalu meraih tangan Abellard. "Ini suami saya. Dia kurang mengenal kaum Anda, Monsieur. Tolong dimaafkan kalau sikapnya menyinggung perasaan Anda."
Kepala suku kembali terdiam. Hingga kemudian sebuah suara menyeru dari dalam karavan ke satu.
"Sudahlah, Vataf. Biarkan mereka ikut."
Seorang wanita tua berbadan subur keluar dengan bantuan tongkatnya dari dalam karavan. Wanita tua itu memakai gaun berwarna merah cerah dengan kombinasi warna hijau. Kepalanya di ikat dengan sapu tangan merah yang berhiaskan manik-manik emas. Sementara leher dan lengannya dipenuhi perhiasan emas yang berjumlah tidak sedikit.
__ADS_1