Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bonus chapter


__ADS_3

Dua buah kereta kuda bergerak menuruni perbukitan, meninggalkan sebuah Kastil megah dan juga lautan yang biru.


Perlahan aroma garam dan hembusan kencang udara yang kering berkurang dan mulai tenang.


Kereta yang berjalan di depan, dinaiki oleh sang Comte. Namun pria itu tak mau duduk di dalam kereta yang tertutup. Ia bersikeras duduk di belakang kuda, yakni di samping kusir.


Saat Naeva bertanya kenapa, pria itu beralasan ingin menikmati suasana alam.


Padahal sebenarnya ia tak ingin terlihat lemah di hadapan gadis yang dicintainya. Marc saja dengan gagahnya memegang tali kekang dan mengendalikan kuda, masa dirinya hanya duduk manis di dalam kereta mewah ini?


Seharian penuh Abellard tak mau beristirahat di dalam keretanya walau sejenak.


Hingga malam tiba, udara pun mulai terasa dingin. Apalagi saat kereta kuda memasuki Padang rumput yang luas, angin berhembus kencang tanpa terhalang pepohonan. Membuat rumput yang setinggi lutut orang dewasa itu tersibak hingga menyentuh tanah.


Abellard masih bersikukuh duduk di luar. Menghadang angin yang menderu-deru di telinga.


"Monsieur Comte, sebaiknya Anda masuk ke dalam. Cuaca malam ini tidak bagus." Sang Kusir memperingatkan majikannya.


Abellard merapatkan mantelnya. "Tidak apa, aku akan baik-baik saja," jawabnya.


Satu jam melewati padang rumput itu, Abellard tiba-tiba merasa kepalanya pusing. Ia juga merasa tidak enak badan. Sepertinya ia masuk angin.


Tubuhnya mulai menggigil. Abellard mendesis kedinginan sembari memeluk tubuhnya sendiri.


Sang Kusir yang menyadari keadaan tuannya perlahan menghentikan kereta.


"Kenapa berhenti?" tanya Abellard dengan suara bergetar.


"Maaf Monsieur, saya rasa sebaiknya Anda beristirahat di dalam. Karena sepertinya ...."


Belum habis ucapan Kusir itu, tiba-tiba Naeva muncul.


"Abellard, kau baik-baik saja? Entah kenapa, aku tiba-tiba mengkhawatirkanmu," ujarnya cemas.


"A-aku baik-baik saja," jawab Abellard terbata. Bibirnya tampak kering dan pucat.


Naeva segera meraih tangan pria itu. Ia dapat merasakan tangan yang kokoh itu gemetaran.


"Tidak, kau sakit Abellard. Kau kedinginan," cemasnya.


Mendengar itu, Abellard langsung menegakkan tubuhnya. "Tidak. Aku tidak kedinginan. Bagaimana mungkin tubuh sekuat ini dikalahkan udara dingin," bantahnya sembari membusungkan dada dan tersenyum menggoda.


Naeva memicingkan matanya dengan hati tak sabar. Pria ini lagi-lagi keras kepala dan kekanak-kanakan. Ia sangat mengenalnya. Mengetahui persis seperti apa sifat pria yang dicintainya itu.


"Turunlah sekarang, kau duduk di dalam bersamaku."


"Tidak!" sanggah Abellard lagi. Namun sedetik kemudian otaknya baru memahami perkataan Naeva. "Eh, bersamamu? Maksudnya, kau mengajakku duduk di keretamu bersama?"


Naeva mengangguk.


"Oh, baiklah kalau begitu. Dengan senang hati aku akan menemanimu," jawab Abellard cepat. Ia tampak sumringah dan semangat, membuat wajah tampannya tak lagi terlalu pucat.


Naeva menghela napasnya melihat tingkah Abellard.


"Masuklah lebih dulu, aku akan mengambilkan selimut mu," ujarnya.


Sang Comte mengangguk, dan membiarkan Naeva masuk ke dalam keretanya, sementara dirinya langsung melangkah ke kereta gadis itu dengan penuh semangat walau kepala terasa berdenyut dan tubuh meriang.


Matanya melirik Marc sekilas. Namun tak ada lagi rasa bersaing di hatinya, karena Marc sekarang telah memiliki wanita idaman lain.


Ia hanya ingin pamer, jika Naeva mengajaknya duduk bersama di dalam kereta.


Perjalanan kembali di lanjutkan setelah Naeva masuk kembali ke dalam keretanya. Gadis itu memperhatikan pria yang duduk di sampingnya dengan raut cemas.


"Apa kau merasa pusing?" nada suaranya terdengar lembut dan penuh perhatian.


Abellard mengangguk pelan.


"Kau ingin tidur?"


Abellard kembali mengangguk, kali ini mengangguk dalam-dalam. Kemudian langsung merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepala di pangkuan Naeva.


Sontak gadis itu terkejut.


"Eh?"


Bukan maksudnya meminta Abellard tidur di pangkuan. Melainkan pada bantal yang baru saja diraihnya.


Naeva memutar bola matanya. Lihatlah, pria yang tadinya bersikeras untuk terlihat kuat tiba-tiba berubah manja seperti anak kucing.


Namun baru saja ia hendak protes, pahanya merasakan suhu leher pria itu begitu panas. Tangannya langsung meraba dahi sang Comte dan merasakan suhu yang sama panasnya.

__ADS_1


Abellard demam.


***


Esok paginya.


Abellard membuka mata dan melihat Naeva tidur sambil duduk dengan menyandarkan kepalanya di badan kereta.


Sang Comte langsung terlonjak duduk.


Ya Tuhan, kenapa ia bisa tertidur di pangkuan Naeva sampai pagi seperti ini? Oh, tidak ... ia membuat gadis itu tidur semalaman dengan posisi duduk.


Plek!


Sebuah kompres kain terjatuh di pahanya. Pria itu langsung meraba dahinya yang terasa lembab.


Ternyata Naeva mengompres dahinya dan merawatnya sepanjang malam.


Ia meletakkan kembali kain kompres ke dalam baskom dan menoleh pada Naeva.


Kasihan sekali gadis cantik miliknya itu.


Dengan lembut Abellard meraih kepala Naeva dan mendekapnya, menidurkan gadis itu di dadanya


"Kau mengambil kesempatan." Suara Naeva terdengar pelan, namun cukup membuatnya terkejut.


"Ka-kau terbangun?"


"Hm," Naeva mengangkat kepalanya dari dada Abellard dan merapikan rambut. "Aku terbangun karena dadamu yang terlalu keras," guraunya.


Abellard tersenyum. "Benarkah? Ah, syukurlah ...." jawabnya.


Naeva mengernyit. "Syukurlah?"


"Ya, karena aku mengira kau terbangun karena mendengar suara hatiku."


Naeva menahan senyum sembari memalingkan wajahnya ke arah jendela.


"Kau tidak ingin tahu apa kata hatiku?" Abellard semakin menggoda.


"Tidak," jawab Naeva dengan pipi bersemu.


"Tidak mau. Kau itu perayu yang genit." Naeva tersenyum, namun masih tidak menoleh.


Sang Comte tertawa mendengarnya.


Namun belum sempat ia menanggapi lagi, sebuah goncangan tiba-tiba mengejutkan.


Bruk!


Naeva sontak mencengkeram lengan kiri Abellard dan memekik kaget dengan wajah pucat. Pria itu juga refleks melindunginya, mendekapnya dengan lengan kanan.


"Oh, Mon Deu!" terdengar teriakan Marc dari luar kereta.


"Apa yang terjadi?" Abellard memperhatikan keadaan keretanya dengan kening mengernyit.


Posisi kereta mereka tampak miring. Sepertinya roda kereta baru saja patah ataupun memasuki lubang.


"Apa Anda baik-baik saja, M'mselle?" terdengar Marc bertanya khawatir.


"Dia baik-baik saja, Marc. Apa yang terjadi?" jawab Abellard.


"Roda kereta kita memasuki lumpur tanah liat, Monsieur Comte."


"Oh, kami akan segera turun," sahut Abellard.


Pria itu memperhatikan Naeva yang melepaskan lengannya sambil menghela napas lega.


"Kita turun dulu," ajaknya.


Naeva mengangguk.


Seperti yang di katakan Marc ternyata salah satu roda kereta mereka memang memasuki lumpur tanah liat, dan rodanya masuk cukup dalam.


"Kita berempat sepertinya bisa mengangkat kereta ini," ujar sang Comte sembari berjongkok di samping roda.


Ia bersama Marc dan dua orang Kusir kemudian mendorong kereta itu sekuat tenaga. Sementara Naeva menunggu di kereta yang satunya lagi.


Namun sepertinya tanah liat itu cukup sulit untuk dikalahkan. Roda kereta mereka seolah di cengkeram dengan sangat kuat dari dalam tanah.


Keempat lelaki itu tak kuasa mendorongnya.

__ADS_1


Abellard mengatur napasnya yang tersengal sembari berpikir keras.


"Kita harus mencari cara lain," ujarnya.


Duk duk duk ....


Tiba-tiba telinganya menangkap suara derap kaki kuda yang berlari di kejauhan. Suara kaki kuda yang berjumlah banyak.


"Kalian dengar? Sepertinya ada sekelompok orang berkuda yang mengarah kemari." ujarnya.


Kedua Kusir tampak tegang. "Jangan-jangan mereka perampok, Monsieur," panik salah satunya.


"Aku rasa bukan," sanggah Marc. "Daerah ini tidak pernah dilewati perampok."


Abellard langsung beranjak ke depan menghampiri kereta Naeva. Siapapun yang datang, ia harus siaga di dekat wanita yang dicintainya.


Dari kejauhan, tampak sekelompok orang berkuda dengan mantel hitam.


Abellard tersentak.


Mereka ....


"Mereka orang-orang yang memburu Anda, Monsieur!" seru Marc di belakangnya.


"Apa?" Naeva melongok melalui jendela kereta.


Abellard menoleh cemas pada Naeva.


"Jangan melihat keluar. Dan jangan bersuara sedikitpun," paniknya.


Bagaimanapun, terakhir kali ia melihat anak buah kekasih Claire di kedai kala itu, mereka juga berniat menyakiti Naeva.


Namun untuk menghindar sudah tidak memungkinkan lagi.


Dengan jantung berdegup kencang, sang Comte berdiri tegak menunggu. Ia hanya bisa mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan apapun.


Seperti biasa, ia tak suka membawa senjata apapun. Pengawal pun kali ini tidak ia sertai. Hanya ada Marc dan dua orang Kusir yang akan menghadapi mereka bersamanya.


"Kita harus bersiap!" serunya dengan tangan terkepal.


Kelompok orang bermantel hitam itu berhenti tepat di hadapan mereka. Wajah mereka masih sangar seperti dulu.


"Apapun keinginan kalian, kami akan menghadapinya. Tapi jika kalian masih bersikeras untuk membunuhku, maka biarkan orang-orang yang seperjalanan denganku ini pergi!" Abellard menatap para pria sangar itu tanpa takut.


Namun kemudian dari tengah kelompok itu menyeruak seorang pria berpenampilan mewah yang tak lain adalah kekasih Claire, wanita yang bunuh diri karena mengharapkan cinta seorang Comte Abellard.


Mantel hitam pria itu tampak mahal dengan topi hitam yang tinggi di kepalanya. Kudanya yang besar meringkik angkuh saat sang tuan memaksa berhenti.


"Kenapa Anda sangat tegang, Monsieur Comte? Kami tidak sedang mencari Anda," ucapnya tanpa ekspresi.


Abellard mengernyit. "Bukankah Anda menyimpan dendam dan ingin menghabisiku?"


Pria itu masih tak berekspresi.


"Itu dahulu. Sekarang kita tidak memiliki urusan apapun. Karena Anda telah menebusnya dengan memenjarakan wanita yang telah menghancurkan hidupku," jawabnya.


"Maksud Anda?"


"Lady Angelia telah menipu dan merayuku untuk menjadi kekasihnya, hingga aku menyakiti Claire."


Abellard terdiam.


Ternyata begitukah?


Sang Comte menelan salivanya dengan hati getir. Mengingat bagaimana putus asanya Claire saat datang meminta bantuannya. "Mlle Claire berusaha keras untuk memperbaiki diri agar Anda mau mencintainya kembali," lirihnya.


Pria di atas kuda itu terpaku. Matanya tampak menyiratkan luka dan penyesalan.


Sebelum pergi, ia memerintahkan anak buahnya untuk membantu rombongan Abellard menarik kereta. Lalu berlalu dengan laju kuda yang berderap cepat. Sepertinya pria itu telah memutuskan untuk mengembara, meninggalkan seluruh kemewahan hidupnya di kota Marseille.


Sebuah pesan ia ucapkan pada sang Comte sebelum memacu kudanya, "lebih baik Anda berhenti menjadi pahlawan para wanita, agar tak menjadi korban seperti yang telah lalu."


Abellard tersenyum.


Ia tak ingin menjadi pahlawan lagi. Karena kini ia telah menemukan seorang wanita yang harus dijaganya sampai akhir hayat.


Dua hari berlalu dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah kastil sederhana yang dikelilingi pemandangan hijau dan bunga Wisteria ungu.


Emma, Adam, Anne dan Edward yang sedang bercocok tanam di pekarangan langsung berdiri tegak dengan raut bahagia luar biasa melihat kereta yang tiba.


🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2