Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 23


__ADS_3

Abellard terlihat berbeda. Apalagi netra biru tuanya menatap tajam, dan tanpa senyuman.


Naeva merasa ada kemarahan di sana, di netra berwarna samudera itu.


Tanpa sadar, ia mengeratkan genggamannya di lengan Marc.


Maria yang sedang berdiri di belakang Mme Aamber, merasa kasihan melihat kecemasan di raut cantik gadis itu. Tanpa meminta izin majikannya, wanita itu menghampiri Naeva dan mengulurkan tangannya.


"Mari, Mlle Gaulle!" ajaknya ramah. Lalu beralih menatap Marc. "Terimakasih Monsieur Pomeroy, biar saya yang akan mengantarkan nona anda ke meja."


Naeva melepaskan genggamannya pada lengan Marc dan menyambut uluran Maria.


"Kursi di samping kananku ini untuk seorang tamu spesial. Bawa dia duduk di kursi lain!" ketus Mme Aamber saat Maria mempersilahkan Naeva duduk di kursi yang berhadapan dengan Abellard.


Maria mengangguk, sementara Naeva menunduk canggung, ia bahkan tak berani menatap Abellard. Padahal hatinya begitu merindu. Seharian sudah matanya mendambakan tatapan hangat dari Abellard.


Gadis itu kemudian duduk dalam diam.


Sesaat lagi, pasti akan banyak tamu yang datang. Jamuan makan malam para bangsawan biasanya seperti sebuah pesta, dan mereka bisa mengadakan jamuan makan malam seperti ini sampai tiga kali dalam seminggu.


Acara jamuan seperti ini biasanya ditujukan sebagai penguat silaturahmi diantara saudara, kolega ataupun sahabat. Sehingga Naeva tak menyangka, dirinya yang hanya orang asing dan pernah dianggap benalu akan mendapatkan undangan dalam jamuan malam itu.


Naeva belum pernah mengadakan ataupun menghadiri undangan makan malam. Karena kedua orangtuanya tak lagi memiliki sanak saudara. Sang ayah telah benar-benar dilupakan oleh keluarga bangsawan-nya yang terpandang. Sementara ibunya hanyalah seorang budak yang sebatang kara.


Tetangga pun ia tak punya. Karena kastil mereka sedikit terpisah dari desa dan berada di tepi hutan.


Oh ... mengingat betapa terbuangnya dirinya, membuat Naeva semakin merasa tak layak mendampingi seorang pangeran seperti Abellard.


Mata indahnya mencuri pandang pada Abellard dengan ragu. Tapi ternyata, laki-laki itu sama sekali tak melihatnya. Sementara tatapan Mme Aamber terus mengawasi.


Gadis itu meneguk salivanya dengan gugup. Ia benar-benar tak nyaman berada dalam situasi seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Abellard? Kenapa laki-laki itu tiba-tiba terasa bersikap seperti orang asing dengannya?


Tak berapa lama menunggu, para tamu pun berdatangan. Semua terlihat megah dan elegan. Para laki-laki dengan tuksedo yang memanjang dan mengerucut di bagian belakangnya serta para wanita dengan gaun sutra indah, yang cukup dengan melihatnya saja bisa dirasakan kelembutannya.


Naeva belum pernah melihat wanita-wanita secantik dan se-elegan mereka. Di antara mereka ada yang memakai jepitan dari berlian di rambut, yang lainnya memakai topi bulu cenderawasih atau elang. Mereka juga memakai bros dari mutiara di gaun dan gelang emas di sarung tangan yang panjang. Satu hal lagi, leher gaun mereka sangat terbuka.

__ADS_1


Tanpa sadar ada rasa cemburu di hatinya, mengingat Abellard selalu bersama wanita-wanita cantik dan menggoda seperti mereka, bahkan salah satunya mungkin pernah menjadi kekasih atau wanita simpanan pria itu.


Tak ada yang menyapa Naeva. Para tamu itu hanya memperhatikannya sejenak, lalu berbondong-bondong menghampiri Comtesse dan Abellard.


Gadis itu mendesah lirih, hingga kemudian ia mendengar Comtesse mengatakan sesuatu.


"Silakan duduk, Sayangku. Kursi di sampingku ini khusus untukmu." Nada suara Mme Aamber terdengar begitu lembut dan penuh perhatian.


Naeva segera menoleh. Siapa orang yang diistimewakan sang Comtesse?


Seorang gadis muda yang usianya sebaya dengan Naeva tersenyum senang dengan mata tak henti-hentinya melirik Abellard. Gadis itu cantik, rautnya bagaikan peri yang menggemaskan, dengan sorot mata manja yang ingin diperhatikan. Pangkal dadanya pun begitu terbuka, serta pinggang yang sangat ramping.


Maria langsung menarik kursi untuk gadis yang diistimewakan majikannya. Dan gadis itu pun duduk dengan keanggunan yang dilebih-lebihkan.


Perhatian Mme Aamber kemudian beralih pada laki-laki paruh baya yang berdiri di sisi si gadis sejak mereka sampai.


"Untuk anda Grace, kursi istimewa satu-satunya yang berhadapan denganku." tutur wanita itu sembari mengulurkan tangan kanannya. (Grace adalah sapaan yang digunakan untuk menyapa seorang Duke yang bukan anggota keluarga kerajaan. Dalam bahasa Indonesia, sapaan ini dapat disejajarkan dengan 'Yang Mulia')


Naeva tersentak. Duke? Ternyata mereka keluarga bangsawan dari Inggris.


Laki-laki paruh baya itu meraih tangan Mme Aamber yang memakai sarung tangan warna biru muda yang senada dengan warna gaunnya, lalu mengecup punggung tangan wanita itu lembut.


Naeva tiba-tiba merasa jengah. Pasalnya, ada mata yang memperhatikannya sejak tadi.


Gadis itu melirik dengan perasaan tak nyaman ke arah sosok yang terus menatapnya. Seorang laki-laki muda yang berdiri tak jauh dari Mme Aamber untuk menunggu giliran menyapa wanita itu.


"Lord Alfred, sayangku. Pilihlah kursi semau mu," sambut Mme Aamber saat pemuda itu menghampiri.


Pemuda itu berterimakasih, lalu berbalik dan menatap Naeva kembali. Langkahnya tertuju pada kursi gadis itu dan duduk di sampingnya.


Sementara tamu-tamu yang lain mulai memenuhi sekitar 30 kursi yang mengelilingi meja panjang itu.


"Hai," sapanya ramah.


Naeva menoleh. Tanpa sengaja matanya menangkap tatapan Abellard yang begitu tajam ke arahnya. Naeva benar-benar tak mengerti apa yang terjadi pada laki-laki itu. Kenapa kehangatan yang biasa ditunjukkannya menghilang malam ini?

__ADS_1


"Ha-hai ...." sambut Naeva tergagap.


"Kau pasti sudah tau namaku. Bukan aku mengatakan diriku populer, walaupun itu memang benar. Tapi Comtesse baru saja menyebutkan namaku," ujar pria itu dengan senyuman lebar.


Naeva tak tahu, pria itu baru saja memuji diri atau hanya bercanda.


"Apa aku boleh tau namamu?" Alfred mencondongkan tubuhnya pada Naeva, membuat gadis itu refleks menjauh.


"Na-Naeva de Gaulle," Naeva semakin gugup dan tak nyaman.


Pria itu terkekeh pelan. "Kau pasti gadis yang pemalu. Aku suka itu. Sangat suka."


Naeva tak dapat menahan matanya untuk kembali melirik Abellard. Laki-laki itu tampak mengepalkan tangannya. Naeva seakan menggigil, melihat kilatan murka dari netra biru tua milik Abellard yang menghujam ke arah pria di sampingnya.


"Sebelum kita mulai menikmati hidangan ini, aku ingin mengumumkan sesuatu!" Tiba-tiba suara Mme Aamber memecah suasana. Wanita itu telah berdiri tegak di depan kursinya dengan dagu terangkat.


"Putraku, Comte Abellard Marseille, akan segera bertunangan dengan Lady Angelia, putri dari Duke of Medwin!"


Ucapan Mme Aamber membuat Naeva tersentak, begitu juga dengan Abellard. Laki-laki itu seketika bangkit dari kursinya.


"Mère!" Protesnya dengan suara menggelegar. "Apa maksudnya ini?!"


"Maksudku adalah, sudah waktunya kau menjalani hidup yang serius dengan pendamping yang terbaik, Ma Fils!"


"Tidak, Mère tidak memberitahu ku sebelumnya. Aku tak mungkin akan menikah dengan wanita lain ..."


"Cukup Abellard!" potong Mme Aamber keras. "Kau harus ingat janjimu untuk menuruti semua kemauanku mulai saat ini. Jika kau masih ingin perjanjian itu ku tepati!"


Abellard melirik Naeva dengan perasaan getir. Janji yang dikatakan ibunya adalah izin untuk Naeva tinggal di kastilnya. Bahu lebar Abellard tampak kuyu, hingga kemudian ia terduduk kembali.


Apa boleh buat, ia harus rela menerima keputusan ibunya. Karena ia akan melakukan apapun demi melindungi wanita yang dicintainya.


Suasana berubah tegang oleh pertikaian singkat itu. Mme Aamber langsung mengembangkan senyumannya untuk mencairkan suasana.


"Anak laki-laki memang terlalu takut dengan pernikahan. Aku harus bertindak keras untuk meyakinkannya bahwa tak ada gunanya terus melajang, karena kastil ini membutuhkan pewaris," ucapnya berusaha menerangkan penyebab pertikaian itu.

__ADS_1


Para tamu langsung mengangguk setuju, dan beberapa di antara mereka menanggapi dengan komentar semacam keluhan karena mengalami hal yang sama saat menghadapi putra mereka.


"Apa kau tau? Aku berbeda dengan Abellard. Aku tipe laki-laki yang akan membawa ke pernikahan, jika telah menemukan gadis yang mampu memikat hatiku," bisik Alfred pada Naeva, di tengah suara-suara tamu yang terus mengungkapkan argumen hebat agar terlihat menonjol.


__ADS_2