
Tangan kokoh Abellard tampak bergetar. Sementara rautnya terlihat begitu tegang. Dengan cepat ia menempelkan daun itu pada luka di pelayan.
"Akh!" pelayan wanita itu berteriak sakit.
"Waaa!" Abellard ikut berteriak saking kagetnya. Tubuhnya sampai terlonjak ke belakang.
Naeva dan Amily pun terkejut mendengar suara bariton sang Comte berteriak keras.
"Anda kenapa?" tanya Naeva.
Wajah tampan Abellard pucat, sementara nafasnya tampak memburu.
"A-aku hanya terkejut," jawabnya cepat.
Naeva dan Amily mengernyit heran, rasanya teriakan sakit wanita itu tidak kencang. Kedua gadis itu kemudian saling berpandangan dengan raut bingung.
"Akh!" Wanita itu kembali mengerang, mengalihkan pikiran mereka dari sang Comte.
Pelayan wanita itu perlahan membuka matanya. Tatapannya yang biasa tajam kini terlihat sendu dan lemah. Ia melihat di sisi kirinya ada Naeva dan Amily. Namun ia tak tahu bahwa di sisi kanannya ada sang Comte, karena posisi tidurnya yang tengkurap dengan muka menghadap ke kiri.
"Untuk apa anda ... kemari? Apa ... anda ingin membalasku?" Pelayan wanita itu bertanya dengan suara terputus-putus dan nyaris terdengar seperti bisikan. Lalu tubuhnya berusaha bangkit.
"Jangan bergerak dulu. Aku hanya ingin mengobati lukamu," cegah Naeva sembari menyentuh lembut pundak wanita itu.
"Kakak, ada Monsieur Comte di sini. Mlle Gaulle yang memanggilnya, dan beliau juga ikut mengobatimu."
Pelayan wanita itu tampak terkejut. Namun ia tak berani menoleh dan hanya memilih diam.
__ADS_1
"Kak," panggil Amily lagi, gadis itu kembali terisak. "Kenapa Kakak tak mengatakan siapa pelaku yang sebenarnya? Kenapa Kakak mau menanggung kejahatan orang lain?" desaknya tak sabar.
Kakaknya terdiam beberapa saat. "Akulah ... pelakunya," jawab wanita itu kemudian.
"Kalau kau tak mengakuinya, maka setelah diobati dokter kau harus pergi dari sini." tegas Abellard sembari menatap ke arah lain.
Walau bukan si pelayan pelakunya, namun dia tetap terlibat dalam konspirasi, karena menutupi siapa pelaku sebenarnya. Dan Abellard tak bisa membiarkan orang seperti itu berada di kastil nya.
"Dokter sudah datang, Monsieur Comte," lapor seorang pelayan yang muncul bersama seorang laki-laki paruh baya yang beberapa hari lalu memeriksa Marc, dokter kepercayaan keluarga bangsawan Marseille.
Naeva segera membereskan perlengkapan obat disaat dokter itu masuk.
"Wah, bagaimana anda bisa tahu daun ini?" tanya sang Dokter pada Abellard.
"Mlle Gaulle yang mengetahuinya," jawab pria itu.
Sang Dokter memperhatikan gadis belia yang sedang mengatur perlengkapan obat dengan telaten itu sejenak.
"Gadis yang masih muda sekali. Anda pasti orang yang sangat perhatian dan suka membantu orangtua," puji Dokter dengan mata memancarkan kekaguman.
Naeva tersenyum mendengar pujian sang Dokter. Kemudian bangkit berdiri sembari menjinjing kotak obat yang telah dikemasnya.
"Saya sudah tidak punya orangtua. Saya menemukan daun ini bersama saudara saya. Kami harus menemukan obat sendiri karena tak mampu memanggil seorang tabib setiap kali terluka. Dan kebetulan saya tinggal di tepi hutan."
Dokter itu mengangguk-angguk dengan raut kagum mendengar penjelasan Naeva yang masih begitu belia menurutnya.
"Baiklah, kalau begitu kami tunggu di luar saja, Dokter. Silahkan diobati," kata Abellard, lalu mengulurkan tangannya pada Naeva, "Ayo," ajaknya.
__ADS_1
Naeva menatap tangan Abellard, lalu melirik ke arah Dokter dan Amily. Dengan raut tersipu, gadis itu menyambut tangan sang Comte yang langsung menggenggamnya hangat.
**
"Apa kau tahu? Aku tak suka kau memanggilku dengan sebutan Anda, walau hanya di depan orang lain," protes Abellard begitu mereka berdua telah keluar dari ruang tahanan, dan berjalan bersisian di lorong ruang bawah tanah itu. Sementara tangan keduanya masih saling menggenggam. Hangat, dan kehangatan itu menciptakan kenyamanan di hati mereka.
"Lantas aku aku harus memanggil apa? Yang mulia Comte?" goda Naeva.
Abellard langsung menoleh gemas. Tangannya kemudian bergerak untuk mencubit ujung hidung Naeva. Membuat gadis itu tersipu dan menundukkan wajahnya.
"Aku akan memanggilmu Ma chérie dan kau memanggilku Mon chérie."
Di Prancis, kata ''ma chérie'' sendiri biasa diartikan sebagai sayangku. Panggilan ''ma chérie'' digunakan untuk memanggil kekasih wanita, sementara ''mon chérie'' digunakan untuk memanggil kekasih pria.
Naeva seketika tertawa geli mendengarnya. "Kau meracau," katanya di sela tawa.
"Aku tak meracau."
"Aku tak mungkin memanggil seperti itu di depan ibumu, bukan?"
"Kenapa tidak? Kau harus memanggilku seperti itu!" Abellard bersikeras. Seperti biasa laki-laki itu tetap keras kepala.
Naeva menelengkan kepalanya. Memperhatikan pria yang berjalan di sampingnya itu lamat-lamat. Kenapa ia bisa menyukai pria keras kepala ini? Abellard memang tampan, tapi Naeva pun bukan tak pernah melihat pria tampan. Bahkan Marc juga sangat tampan.
"Aku mencintaimu," bisik Abellard tiba-tiba sembari membalas tatapannya.
Membuat hati Naeva seketika berdebar. Tatapan teduh dari mata yang sebiru samudera itu, serta sentuhan tangannya yang hangat, sungguh mampu menggetarkan hati Naeva. Ya, karena itulah Naeva jatuh cinta. Karena hanya Abellard yang bisa menggetarkan hatinya.
__ADS_1