
"Apa akan ada yang tidur di kamar ini?" tanya Naeva saat turun dari kamarnya dan melihat seorang pelayan membawa masuk barang-barang ke kamar bawah.
"Saya tidak tau M'mselle, tapi semua ini barang-barang dari kamar Monsieur Comte."
Naeva terhenyak mendengarnya. Lalu tanpa sadar ia tersenyum. Senyum yang terukir karena hati yang berbunga-bunga.
Gadis itu kemudian mendengar suara langkah kaki seseorang yang datang. Jantungnya seketika berdetak kencang. Itu pasti Abellard.
Namun wajah cantiknya berubah kecewa saat melihat yang datang adalah seorang pelayan wanita.
"M'mselle, anda ditunggu Monsieur Comte di ruang duduk."
"Di ruang duduk?" tanya Naeva khawatir, bagaimana mungkin ia menemui Abellard di ruang duduk sementara Comtesse melarangnya masuk ke bagian depan kastil.
"Ya, M'mselle."
Naeva terdiam dalam bimbang. Kedua tangannya tampak saling meremas.
Ingin sekali menemui Abellard, tapi takut Comtesse melihatnya dan menganggap dirinya tamu yang tak tahu berterimakasih.
Naeva menarik napas dalam-dalam. Ia akan masuk untuk terakhir kali. Abellard belum tahu tentang larangan Comtesse. Ini kesempatannya untuk memberitahu, agar laki-laki itu tak lagi mengajak bertemu di dalam kastil.
Kakinya melangkah was-was ke dalam bangunan megah itu melalui pintu belakang, berharap tak bertemu dengan Comtesse. Melewati para pelayan wanita yang sedang bekerja. Dan koridor berornamen gold dengan lukisan-lukisan besar di kedua sisinya.
Di balik sandaran sofa ruang duduk yang terbuat dari beludru hitam dengan rangka baja berukir dan berlapis emas, Naeva melihat Abellard sedang duduk bersama orang lain.
Gadis itu mengernyit bingung, kenapa Abellard mengajaknya bertemu disaat sedang menerima tamu?
Namun langkahnya seketika terhenti saat mengetahui siapa tamu itu.
"Oh, Mlle Gaulle! Senang sekali bisa kembali melihat anda." Alfred langsung berdiri menyambutnya dengan senyuman.
Naeva tersenyum rikuh sembari membungkukkan badannya. "Senang berjumpa anda juga," ucapnya sopan. Kemudian melirik Abellard dan Angelina yang duduk berdampingan.
Gadis yang dijodohkan dengan Abellard itu sangat cantik. Dengan gaun biru tua, dan kalung berlian yang melingkar di leher jenjangnya. Bagaikan peri.
Mereka sangat serasi. Rasanya tak akan ada orang yang mencela kesempurnaan mereka saat berdampingan seperti itu.
Tiba-tiba Naeva merasa kerongkongannya kering. Gadis itu berusaha menelan salivanya dengan susah payah.
"Mari, silahkan duduk!" Alfred menghampirinya dan mengulurkan tangan.
Naeva kembali membungkukkan badannya. "Terimakasih, Monsieur. Tapi saya tidak bisa duduk lama. Saya hanya memenuhi panggilan ... Monsieur Comte," tegas gadis itu. Rasanya masih janggal memanggil Abellard dengan gelarnya.
Alfred menarik kembali tangannya yang tak disambut Naeva, dengan senyuman penuh arti. Gadis di hadapannya semakin menarik. Seperti merpati, jinak tapi tak mudah untuk ditangkap.
"Bukan Monsieur Comte yang memanggilmu, melainkan aku. Karena itu duduklah sebentar, aku hanya ingin berbincang-bincang denganmu."
__ADS_1
Naeva mengangkat wajahnya dengan terkejut. Alfred yang memanggil? Untuk apa?
"Ayo duduklah di sampingku," pria itu kembali memanggil sembari menepuk bagian kosong sofa panjang itu.
Naeva melirik Abellard di sofa yang berseberangan. Laki-laki itu ternyata sedang menatapnya. Dengan mata yang menyiratkan senyuman dan kehangatan. Seolah berkata, 'kemarilah, duduk di sampingku'.
Namun sorot mata Angelia begitu sinis dan menelisik Naeva dengan ujung matanya.
Naeva kembali meremas tangannya. Salah bersikap sedikit saja, sang Lady bisa curiga.
Begitu melihat Abellard hendak berdiri menghampirinya, Naeva buru-buru berbalik dan melangkah ke sofa yang ditempati Alfred.
Ia tak ingin membuat suasana menjadi canggung jika Abellard terlalu menunjukkan rasa cemburunya.
Saat ini Naeva merasa masih memiliki hak untuk mencintai Abellard, jadi ia tak ingin keadaan menjadi kacau dan membuat Comtesse mengusirnya.
Alfred tersenyum senang melihat Naeva menuruti kehendaknya. Sementara Abellard menatapnya kecewa. Naeva hanya bisa menunduk, berharap Abellard memahami sikapnya saat ini.
"Kau tak memakai bros-mu?" tanya Alfred sembari memperhatikan Naeva dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bukan dengan tatapan nakal, tapi tetap saja membuat Naeva risih.
"Saya ...."
"Bros?" Abellard langsung menyela dengan nada tajam.
"Ya, tadi malam aku menghadiahkannya untuk Mlle Gaulle sebagai tanda pertemuan pertama kami," jawab Alfred santai. Sama sekali tak terpengaruh dengan sikap bermusuhan Abellard.
"Ini! Ambil kembali!"
Alfred terkejut, matanya sampai melotot melihat Bros miliknya dicampakkan oleh Abellard. Naeva bahkan bisa melihat rahang Alfred yang berbentuk tegas, tampak mengeras.
"Monsieur Comte, kenapa sikap anda begitu bermusuhan terhadap Alfred?" Gadis cantik di samping Abellard berseru tegang.
Abellard tak menjawabnya. Ia tampak menantang Alfred dengan tatapannya.
Alfred pun tak lagi bersikap santai, matanya membalas tatapan Abellard tak kalah menantang.
"Kenapa Bros ini bisa ada pada anda?!" Suara Alfred terdengar menggeram.
Melihat ketegangan itu, Naeva merasa tak bisa tinggal diam. Ia pun segera bangkit.
"Maaf, Monsieur. Bros ini mungkin terjatuh tanpa saya sadari dan Monsieur Comte menemukannya. Tapi saya memang tak bisa menerima benda berharga ini."
Alfred menoleh dan menatap Naeva lekat-lekat.
"Kenapa?" tanya laki-laki itu penuh selidik.
Naeva menelan salivanya dengan susah payah. "Karena ... kita baru saja bertemu. Sepertinya, tidak baik jika menerima barang berharga dari orang yang baru dikenal."
__ADS_1
Alfred terdiam sesaat, kemudian bibirnya tersenyum.
"Baiklah, aku akan mempersiapkan hadiah yang lebih bagus dari ini, karena setelah ini kita akan sering bertemu."
Abellard mengepalkan tangannya mendengar kata-kata Alfred.
"Terimakasih atas niat baik anda. Maaf, saya harus kembali," Naeva membungkukkan badannya, lalu bergegas meninggalkan ruang duduk itu.
"Kau hanya membuang waktumu untuk mendekati perempuan itu, Alfred!" tegur Angelia.
"Membuang waktu? Kurasa tidak," bantah Alfred.
"Apanya yang tidak? Aku akan segera menikah," Angelia melirik Abellard dengan lirikan sendu saat mengatakannya. "Kau juga harus segera mencari wanita yang tepat untuk kau nikahi."
Alfred tersenyum.
"Aku sudah menemukannya."
Angelia langsung berdiri mendengar jawaban saudaranya. Matanya mendelik dan berkata tajam, " jangan pernah berpikir untuk menjadikan wanita miskin itu sebagai pendamping hidupmu, Alfred! Aku heran kenapa kau menyukainya. Padahal selama ini kau mengencani banyak wanita yang lebih cantik dari perempuan itu!"
Alfred menyandarkan punggung dan merentangkan kedua tangannya ke atas sandaran sofa.
"Justru karena itu, aku belum pernah menemukan yang menarik dan polos seperti ini. Kalau masalah kecantikan dan kepuasan lain, aku masih bisa mendapatkannya walau telah menikah."
Abellard tiba-tiba bangkit.
Kakinya yang panjang melompati meja tamu. Lalu tangannya yang kekar terulur mencengkeram kerah kemeja Alfred.
Wajahnya memerah, bibirnya yang menawan kini mendesis penuh kemarahan.
"Kau tak pantas mendekati Naeva, apalagi mendapatkannya. Jangan pernah bermimpi untuk itu!"
Alfred terperanjat. Tak menyangka Abellard akan luar biasa marah. Ia memang telah curiga, bahwa ada hubungan tersembunyi antara sang Comte dengan tamu cantiknya itu.
Pria itu menyunggingkan senyuman sinis. Kisah seperti ini semakin menarik baginya. Jiwanya semakin tertantang untuk mendapatkan Naeva de Gaulle.
"Kenapa tidak? Aku adalah putra dari seorang Duke of Medwin. Perempuan manapun akan berebut menjadi istriku," jawab Alfred tanpa melepaskan tangan Abellard yang mencengkeram kerahnya.
"Tapi bukan Naeva! Aku tak akan membiarkanmu!"
Alfred tertawa sinis. "Anda sangat lucu, Monsieur Comte. Anda ketakutan seperti orang yang akan direbut kekasihnya," sindir pria itu. "Aku tau anda berhutang budi padanya. Tapi tenang saja, aku akan membuatnya bahagia."
"Alfred! Wanita seperti itu tak akan bisa menjadi anggota keluarga kita!" sela Angelia gusar. Lalu beralih menatap Abellard dan berkata dengan nada yang dibuat lembut. "Monsieur Comte, aku rasa perempuan itu tak pantas berada di sini. Dia hanya akan mengacaukan pikiran Alfred. Dan Comtesse sepertinya juga tak menyukainya."
Abellard melepaskan kerah kemeja Alfred dengan kasar.
"Kalian lah yang tak pantas berada di sini!" ketusnya. Lalu berbalik meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1