
"Maria, kumpulkan semua penghuni Kastil ini di aula. Aku akan memberi pengumuman!" perintah Abellard dengan nada dan raut tegas.
Lalu kaki panjangnya berderap gagah melangkah ke arah aula untuk menunggu.
Beberapa saat menunggu, para penghuni kastil yang berjumlah sekitar 80 orang itu mulai berdatangan dan berkumpul di hadapannya. Dari pelayan wanita yang bekerja di dapur, pelayan yang bertugas bersih-bersih, yang bertugas mengurus pakaian hingga para pengawal dan pengurus istal kuda.
Semua tampak berbisik-bisik. Mereka mempertanyakan tujuan sang Comte mengumpulkan semua orang di ruangan yang luas itu, karena tak pernah seperti itu sebelumnya. Biasanya setiap informasi tentang peraturan kerja mereka akan disampaikan oleh Maria melalui kepala bagian.
Tanpa membuang waktu lagi Abellard mulai bersuara. "Aku mengumpulkan kalian semua untuk mencari siapa pelaku yang memberi racun untuk calon istriku, Mlle Gaulle!" Abellard berdiri di atas podium aula bak raja kegelapan yang sedang menyidak rakyatnya.
Seketika itu juga ruangan yang berisik berubah senyap.
"Ada apa ini?!" Suara Comtesse tiba-tiba memecah keheningan.
Wanita pemegang kekuasaan tertinggi di kastil itu datang dengan ditemani Lady Angelia dan keponakan kembarnya.
"Kau menyelidiki setiap orang hanya untuk mencari orang yang telah menyebabkan saudaranya Mlle Gaulle keracunan?! Itu sungguh tak penting, Ma Fils! Tak ada racun, karena tak ada yang berani melakukan hal seperti itu di kastilku! Mereka hanya mengada-ada untuk mencari perhatian!" tegasnya angkuh.
"Mère, Dokter kepercayaan Mère sendiri yang mengatakan hal itu. Kalau ternyata diagnosa-nya salah, aku sendiri yang akan membuat Dokter itu kehilangan pekerjaannya!"
Abellard kemudian berpaling pada para pelayan kembali. Mengabaikan ibunya yang masih ingin membantah.
Sikap putranya itu membuat Mme Aamber terpaksa melipir ke kursi kebesarannya.
Namun ternyata Lady Angelia tidak mengikuti langkah calon ibu mertuanya. Ia merasa ini kesempatannya untuk mendampingi Abellard dan mencari perhatian sang Comte.
Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah perempuan berpendidikan yang mampu membantu calon suaminya dalam menyelesaikan masalah kepemimpinan.
"Biarkan aku mendampingimu, Monsieur Comte." Gadis itu mengulurkan tangan kanannya untuk disambut Abellard. Tentu saja ia bermaksud agar pria itu membimbingnya untuk berdiri berdampingan.
__ADS_1
Namun bukan sambutan hangat yang ia dapatkan, Abellard malah mengabaikan dan melanjutkan urusannya.
"Aku tak ingin ada pelaku kejahatan yang bersembunyi di kastilku!" seru Abellard keras.
Lady Angelia terpaksa menarik kembali tangannya dengan wajah memerah karena menahan malu. Untunglah semua orang sedang dalam keadaan tegang, sehingga ia lolos dari cemoohan.
"Mph ..." Terdengar suara tawa tertahan dari arah kursi para petinggi.
Ah ... ternyata nasib Lady Angelia tidak semujur itu. Masih ada Louise yang melihatnya. Gadis bertompel yang acuh tak acuh itu ternyata menyaksikan kejadian yang menurutnya sangat lucu itu. Namun mengingat empatinya terhadap para pelayan yang sedang disidang, Louise berusaha keras menahan tawanya.
Lady Angelia menatap Louise tak senang. Si kembar yang tak bisa dipengaruhinya itu sangat menjengkelkan.
Namun tatapannya itu sama sekali tak membuat Louise gentar. Ia balas mendelik dengan matanya yang besar, membuat sang Lady buru-buru menghampiri Mme Aamber dan duduk di sampingnya.
"Jika tak ada yang mengaku, maka semua dari kalian akan aku suruh keluar dari kastilku hari ini juga!" Suara bariton Abellard kembali menggelar dengan nada tegas. "Karena Aku akan menggantikan kalian semua dengan pelayan baru!"
Sontak semua pelayan terperanjat. Wajah mereka seketika pucat karena takut kehilangan pekerjaan.
Abellard merasa caranya itu tak akan berhasil. Ia harus mencoba cara yang lain.
"Aku ingin orang-orang yang tidak masuk ke dapur hari itu, untuk memisahkan diri dari yang lain. Ingat, walau satu detik pun kalian masuk hari itu, kalian harus tetap di sini!"
Yang merasa tidak masuk ke dapur hari itu langsung memisahkan diri dengan wajah lega.
"Apa ada yang melihat salah satu diantara mereka yang masuk ke dapur?" tunjuk Abellard pada kelompok yang memisahkan diri, dengan tatapan mendominasi.
"Ada!" seru beberapa orang sambil menunjuk seorang pengawal yang hari itu masuk untuk mengambil jatah makan mereka.
Pengawal itu terpaksa kembali dengan wajah pucat.
__ADS_1
"Bagus!" seru Abellard. "Sekarang aku ingin menanyakan, siapa saja yang bertugas memasak makanan yang ada dalam nampan itu?!"
Satu orang maju dengan wajah tertunduk. Tak lain dan tak bukan adalah kakaknya Amily.
"Baik, sekarang siapa saja yang mendekati nampan itu?!
"Saya dan Mlle Lucie," jawab wanita itu.
"Aku tak mungkin menaruh racun dalam makanan itu!" sergah Lucie panik. "Kau! Kau pasti yang melakukannya!" tunjuk wanita bertompel itu pada pelayan yang mengantarkan makanan saat itu bersamanya.
Wanita pelayan itu masih menunduk. Namun tangannya tampak terkepal kaku.
Abellard masih belum yakin dengan yang dituduhkan Lucie. Entah kenapa, perasaannya mengatakan bahwa kasus itu ada sangkut pautnya dengan orang yang berpengaruh di sini.
"Apa ada yang melihat orang lain mendekati nampan makanan itu sebelum diantarkan?" tanya sang Comte kemudian.
Lama tak ada jawaban. Ruangan pun tak lagi riuh walau masih ada yang berbisik-bisik.
"Sa-saya, Monsieur Comte. Saya melihatnya." Seorang gadis belia yang terlihat penakut memberanikan diri untuk bersuara. Gadis itu adalah salah satu teman Amily yang datang untuk belajar mewarnai saputangan di kamar Naeva.
Semua orang langsung menoleh pada gadis yang berada di tengah-tengah kerumunan itu.
"Sora?!" seru Amily tak percaya.
Gadis penakut itu tak berani melangkah ke depan. Ia hanya berdiri di tempatnya dengan kaki yang bergetar.
"Baik. Kau tak perlu takut," ujar Abellard menenangkan, demi melihat wajah tirus gadis itu pucat seperti kapas. "Setelah memberi kesaksian, kau akan dilindungi pengawal. Dan pelakunya akan segera dijatuhkan hukuman!"
Gadis bernama Sora itu tampak menghela napas, sebelum kemudian menjawab dengan suara bergetar dan terbata-bata.
__ADS_1
"Sa-saya melihat Lady ... Lady Angelia di dekat nampan itu."