
Bab 72
"Cepatlah kau temui Monsieur Comte, Angelia," desak Duke of Medwin pada putrinya.
"Tapi bagaimana caranya, Daddy. Abellard pasti tak mau membuka pintu kamarnya kalau aku mengatakan ingin berbincang dengannya."
"Kau bisa beralasan membawakan makanan untuknya."
"Pelayan kepercayaan Maria pasti sudah mengantarkan makanannya."
Duke of Medwin mendecak tak sabar. "Kalau begitu kau bisa mengantarkan buah untuk makanan penutupnya. Kenapa kau tak lagi bisa berpikir cerdik? Apa cinta telah membuat otakmu tumpul?!"
Lady Angelia merengut mendengar kemarahan ayahnya. Namun ia tak menampik, jika cintanya pada Abellard telah membuatnya bodoh. Padahal dulu ia pernah menjerat beberapa pengusaha untuk kepentingan ayahnya, hingga pengusaha itu meninggalkan orang yang dicintai demi dirinya. Tapi untuk menjerat Abellard, otak liciknya seolah kehabisan ide.
"Baiklah, aku akan membawakan buah."
Sembari melangkah ke kamar sang Comte dengan menjinjing sekeranjang buah, Lady Angelia terus memikirkan apa yang akan dikatakannya nanti pada lelaki itu. Apa alasannya agar Abellard mau membuka pintu?
Di hadapan pintu kamar pewaris Kastil megah itu, sang Lady berdiri ragu. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Baru kali ini ia merasakan gugup saat hendak menemui lelaki. Sepertinya ia benar-benar telah jatuh cinta pada sang Comte.
"Bo-boleh ... A-aku masuk? A-aku membawakan buah," ujarnya tergagap.
Tak ada lagi ucapan manis yang mendayu manja seperti yang selama ini selalu berhasil membuat para pria bertekuk lutut. Bahkan ia lupa untuk mengetuk pintu.
Di dalam kamar itu, Marc yang masih menikmati makanan yang dibawakan Amily langsung menoleh ke arah pintu.
Buah? Apa itu Amily yang kembali datang karena lupa membawakan buah? Kenapa gadis itu tidak mengetuk sepuluh kali seperti yang telah disepakati?
Marc meletakkan kembali sendoknya dan bangkit dengan hati ragu.
Rasanya tidak mungkin orang lain. Karena Maria pasti telah mengatur agar yang membawakan makanan ke kamar ini hanya boleh Amily. Mungkin gadis itu lupa dengan ketukan pintunya.
Pria itu berjalan ke pintu dan mengulurkan tangannya untuk membukakan kunci.
Ceklek!
__ADS_1
Bunyi kunci pintu yang terbuka membuat Lady Angelia yang sedang gugup itu terkejut.
"Abellard membukakan pintu?" gumamnya tak percaya.
Lalu bibirnya tampak tersenyum.
**
Di aula tampak Amily yang masih berdiri terpaku, namun kemudian gadis itu langsung mengerjapkan matanya, mengembalikan kesadaran dan kembali fokus untuk memperbaiki sandiwara yang telah ia kacaukan.
Gadis itu berbalik cepat. Ia melihat Mme Aamber dan Maria yang meninggalkan aula dengan setengah berlari. Namun kemudian kedua wanita itu berpisah arah. Mme Aamber menuju ke arah kamar Comte Abellard sementara Maria ke arah pintu keluar.
Amily segera mengejar Maria.
"Mme Maria! Tunggu dulu!" panggilnya panik.
Maria menoleh tanpa memperlambat langkahnya.
"Kapan Monsieur Comte tiba? Apa terjadi sesuatu diperjalanannya sampai dia mengalami sakit perut seperti itu?" cemas wanita itu.
Amily mengikuti dengan terengah-engah. Ini benar-benar sudah kacau. Keringat dingin sampai membasahi dahinya. "Monsieur Comte belum pulang, Ma'am!" serunya dengan suara keras untuk menghentikan langkah Maria. Namun kemudian gadis itu cepat-cepat menutup mulutnya dan melihat ke sekeliling. Untung saja tidak ada orang yang mendengar.
"Belum pulang? Apa maksudmu? Bukankah tadi kau bilang Monsieur Comte sakit perut?"
"Itu karena saya ingin memberi kode agar Anda cepat-cepat ke kamar Monsieur Comte karena Lady Angelia ingin menemui Monsieur Comte dan sekarang Lady Angelia sedang menuju ke sana sekarang," jelas Amily dengan satu tarikan napas. Hingga setelah menjelaskannya gadis itu tampak terengah-engah.
"Apa?" Wajah Maria seketika puas. Tanpa berkata-kata lagi wanita itu segera melangkah cepat ke arah kamar sang Comte.
Amily segera mengikuti di belakangnya dengan perasaan bersalah yang memuncak.
"Maafkan saya, Ma'am. Saya telah mengacaukan semuanya. Saya begitu panik, sehingga yang keluar malah alasan yang bodoh," keluh Amily dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh rasanya ia ingin menangis mengingat kebodohannya itu.
"Tidak apa-apa. Aku rasa Marc tidak akan membukakan pintu karena Lady Angelia tidak akan mengetuk sampai sepuluh kali. Itulah makanya aku mengusulkan kode mengetuk pintu sebanyak itu," jawab Maria sembari terus mempercepat langkahnya.
Yang dikhawatirkannya saat ini adalah Comtesse, yang memiliki akses untuk memasuki kamar itu tanpa dibuka dari dalam.
__ADS_1
***
Sementara itu di Beausoleil, Jean berdiri menatap peternakan kambing hitam yang selama ini menjadi tempatnya hidup dan tumbuh dewasa itu dengan hati lega. Tangannya menjinjing tas berisi semua baju dan barang-barang.
Jean menghela napas. Akhirnya ia berhasil meninggalkan neraka itu lagi.
Di sampingnya berdiri Naeva dan Abellard. Menatap ke depan dengan perasaan yang sama mirisnya.
"Tempat yang seindah surga ini ternyata menyimpan penderitaan semengerikan neraka," lirih Naeva. Angin yang sejuk namun terasa kering bertiup sedang, membawa suara Naeva dan hilang dalam kesunyian. Suara rumput bergesekan tertiup angin yang biasanya menenangkan saat itu terdengar begitu suram.
Gadis itu menoleh pada Jean. "Kau harus meyakinkan dirimu untuk tidak akan pernah kembali lagi ke tempat ini," ujarnya.
Jean mengangguk pasti. "Saya sungguh tak ingin kembali."
Abellard memutar tubuhnya, lalu meninggalkan tempat itu sembari membimbing kudanya.
"Kita akan mencari kereta di Desa terdekat," ujarnya.
"Baik," jawab Naeva. Kemudian mengikuti langkah pria itu bersama Jean.
"Kau yakin tak ingin aku membantu membawakan tasmu?" Naeva menatap jinjingan Jean.
"Saya bisa membawanya sendiri, M'mselle. Semangat meninggalkan tempat ini memberikan saya kekuatan besar."
Naeva tersenyum senang mendengar semangat wanita yang beberapa saat lalu tak lagi memiliki semangat hidup itu.
"Baguslah. Kita harus memperjuangkan hak kita untuk bahagia, Jean!" serunya.
Sembari menyusuri jalanan berumput di bawah siraman cahaya matahari menjelang siang itu, Jean menatap Naeva dengan penuh keharuan.
"Saya berjanji, tidak akan kembali lagi ke tanah ini. Saya akan menjadi pelindung, pelayan, atau bahkan bayangan Anda sekalipun, M'mselle ...." ikrarnya.
Naeva menoleh dengan kening mengernyit. "Apa maksudmu? Jangan pernah berpikir seperti itu. Kau adalah kau. Dan aku menjemputmu sebagai teman."
Jean menelan salivanya dengan mata yang kembali berkaca-kaca. "Kenapa Anda sangat baik, M'mselle?"
__ADS_1
Naeva tertawa pelan mendengarnya, "aku tidak baik, Jean. Aku hanya berusaha untuk terus berbuat baik, karena mendiang ibuku mengatakan bahwa kebaikan akan membawa keberuntungan. Dan lihatlah, hari ini aku beruntung bisa menambah teman."
Air mata Jean akhirnya jatuh, namun bibirnya tampak tersenyum. Walaupun Mlle Gaulle menganggapnya teman, hati Jean tetap bersumpah untuk menjadi orang yang terdepan dalam melindunginya.