Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 50


__ADS_3

Di meja makan, telah duduk keluarga Comte de Marseille bersama tamu kebesaran mereka. Termasuk Dokter kepercayaan Comtesse dan juga Lady Angelia.


Malam itu hadir seorang pengusaha yang paling sukses di Marseille. Usahanya bahkan lebih maju dan populer dibandingkan usaha keluarga Comtte. Pengusaha paruh baya ini sedang diincar oleh Comtesse untuk dijadikan partner bisnis keluarganya.


Dari arah aula, datanglah Naeva de Gaulle bersama Lord Alfred.


Naeva memakai gaun terbaik milik almarhumah ibunya. Gaun berwarna kuning dengan renda putih di kerah dan pinggangnya. Gadis itu berusaha untuk tenang. Namun seberat apapun usahanya, perasaan tak nyaman tetap membuatnya harus menahan napas. Acara makan malam yang mewah di tempat yang semegah ini tidak cocok dengan jiwanya.


Sementara itu, Lord Alfred berjalan dengan raut puas. Apalagi ia melihat Comte Abellard menatap mereka dengan tatapan murka. Alfred benar-benar merasa menang telak.


"Syukurlah, tamunya tidak terlalu ramai," gumam Naeva.


Lord Alfred menoleh. "Kau tidak suka ramai? Wah, kalau aku lebih senang banyak tamu, sayangnya hari ini mereka sedang menerima tamu spesial," ujar Alfred dengan suara pelan. Namun kemudian matanya tak sengaja melihat kalung yang dipakai Naeva. Kalung itu hanyalah seutas tali biasa dengan liontin batu mutiara berwarna oranye.


"Di lehermu itu ... apa?"


"Kalung," jawab Naeva apa adanya.


Alfred mendengus sinis. "Ya, aku juga tahu benda itu kau pakai sebagai kalung. Tapi sangat tidak enak dipandang. Lebih baik kau melepasnya saja, sebelum kita sampai di meja," bisiknya dengan nada memerintah.


Naeva langsung menghentikan langkahnya dan menarik tangannya kembali dari lengan Lord Alfred. "Kalau penampilan saya membuat Anda malu, silahkan Anda pergi sendiri, saya bisa kembali," tegas gadis itu.


Lord Alfred sontak kelimpungan. Tak seharusnya ia berucap sesuka hati sebelum benar-benar mendapatkan Naeva. "Bukan maksud saya begitu. Sudahlah jangan marah, kita tak mungkin berpisah seperti ini di hadapan orang lain."


Naeva menatap ke arah Abellard. Pria itu juga sedang menatapnya. Mata biru tuanya terlihat menghujam dingin. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, ia harus menemui Abellard dan memberi pelajaran pada pria itu karena telah menyakiti hatinya kemarin malam.


"Baiklah, tapi Anda harus meminta maaf," ujar Naeva tegas. Mulai sekarang, ia tak akan membiarkan siapapun merendahkannya.


Lord Alfred tampak tidak senang melihat kesombongan Naeva, belum pernah ada gadis yang berani memerintahkannya untuk meminta maaf seperti ini. Namun ia tak punya pilihan, tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan gadis ini.


"Baiklah, aku minta maaf. Ayo, kita harus masuk sekarang." Lord Alfred kembali merenggangkan lengannya untuk digandeng Naeva.


Gadis itu menyambutnya dengan kaku.


"Lord Alfred, silakan bergabung. Anda terlambat sekali malam ini," sambut Mme Aamber ramah. Namun keramahannya langsung hilang saat melihat Naeva.


"Terimakasih, Ma'am. Saya harus menunggu kekasih saya berdandan terlebih dahulu," jawab Lord Alfred sembari melirik Abellard.


Dan pria itu langsung bersorak dalam hati saat melihat ekspresi terkejut dari sang Comte.


Naeva pun terkejut, begitu juga dengan Mme Aamber dan Lady Angelia.


Namun belum sempat Naeva menyangkalnya, Mme Aamber telah mengalihkan pembicaraan. Sang Comtesse sadar betul bahwa ungkapan Lord Alfred itu akan memancing keributan. Sementara ia sangat takut hal itu terjadi di hadapan pengusaha incarannya.


"Baiklah, silakan menikmati hidangannya," ujarnya. Lalu cepat-cepat berbincang dengan sang pengusaha. "Monsieur Simon, saya dengar Anda menyukai Coq Au Vin?" (ayam jantan di wine) tanya Mme Aamber penuh perhatian.


"Ya, saya sangat suka makanan ini," jawab pria paruh baya yang memiliki jambang panjang di depan telinganya.


"Syukurlah, saya telah meminta pelayan membuatkannya khusus untuk Anda." Mme Aamber tersenyum hangat dengan sikap yang terlihat sangat memuja pria itu.

__ADS_1


Naeva yang telah duduk di samping Alfred langsung dapat menerka, bahwa pria itulah tamu spesial malam ini.


Naeva memakan makanan di piringnya tanpa dapat menikmatinya. Bagaimana tidak? Tatapan Abellard yang duduk berseberangan, begitu menghujam padanya. Naeva menduga pria itu sekarang menilai dirinya wanita picik lagi, karena menemani Lord Alfred makan malam.


Naeva melirik sedikit. Dan wajah Abellard memang tampak seperti yang dipikirkannya, dingin dan marah.


Oh baiklah ... Naeva benar-benar tak tahan sekarang. Apa pria itu berpikir hanya dia yang terluka?


Naeva mengangkat wajahnya, menantang Abellard dengan tatapan yang tak kalah tajam. Ia benar-benar marah. Tangannya yang memegang garpu pun terangkat, dan ....


Brak!


Ia menghujamkan garpu itu di atas piring.


Prang!


Piring itu pecah.


Naeva kaget, tak menyangka hasil perbuatannya akan sebegitu parah. Padahal ia hanya ingin menusuknya ke meja, namun ternyata salah sasaran.


"Naeva!" seru Abellard sembari bangkit dan berlari menghampiri.


Naeva seketika gugup. Ini benar-benar di luar dugaan. Ia langsung bangkit dan meminta maaf pada semua orang yang ada di meja itu.


"Ma-maaf saya tak sengaja," ucapnya sembari membungkuk beberapa kali.


Sang Dokter yang tadinya duduk di samping Abellard pun ikut bangun dan menghampiri.


"Apa Mlle Gaulle terluka?" tanya Pria itu perhatian.


"Sepertinya tidak," jawab Abellard lega. "Dokter, bolehkah saya meminta tempat duduk Anda untuk Mlle Gaulle?"


"Tentu saja. Saya juga baru mau menawarkannya."


"Terimakasih, Dokter ...." Abellard langsung menarik tangan Naeva dan mengitari meja panjang itu. Tak sekalipun ia menghentikan langkahnya walau ia merasakan tangan Naeva berusaha melepaskan genggamannya.


Alfred hanya bisa menatap mereka dengan hati kesal. Kejadiannya terlalu cepat sehingga ia tak sempat mencegah Abellard membawa Naeva.


Naeva hanya bisa pasrah duduk di samping pria yang telah menyakiti hatinya. Yang ingin ia marahi sepuas hati.


Tak ada yang menanyakan apa yang telah terjadi, karena semua tamu hanya melihat saat piring telah pecah dan Naeva yang memegang garpu dengan wajah terkejut. Mereka berpikir piring keramik itu pecah sendiri karena tertimpa makanan yang panas.


"Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri?" Protes Abellard dengan suara berbisik.


"Kau yang lebih menyakitiku!" ketus Naeva dengan suara pelan.


Abellard tak tahu harus menjawab apa, hingga hanya terdiam dan mengalah. Ia dapat merasakan getirnya suara Naeva.


Namun ternyata diamnya Abellard membuat Naeva tak puas. Ia ingin Abellard menjawab agar bisa mengeluarkan semua uneg-uneg yang telah membludak dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa diam?! Apa kau tak merasa telah menyakitiku?"


Abellard menghela napasnya. Wajah Naeva yang penuh kemarahan menyiratkan kekecewaan yang sangat besar. Membuat Abellard merasakan rasa bersalah yang teramat sangat menghimpit dadanya.


Oh Tuhan, kenapa keadaan begitu kejam terhadap dirinya dan Naeva? Ia memang yakin Naeva tak pernah ingin menjeratnya. Tapi kebohongan Naeva membuatnya merasa dipermainkan. Ia marah! Sehingga terus mencari-cari kesalahan Naeva sebagai alasan menumpahkan rasa marahnya.


Sementara itu, mata Monsieur Simon ternyata tertarik pada Naeva. Pria paruh baya itu terus menatapnya sampai meletakkan kembali sendok dan berhenti menikmati makanan yang masih bersisa di dalam piringnya.


"Mlle Gaulle? Itu nama panggilan Anda, M'mselle?" tanya Monsieur Simon tiba-tiba. Sepertinya ia tak bisa lagi menahan rasa tertarik di dalam hatinya.


Naeva mengangkat wajahnya dan menoleh pada pria berjambang yang duduk di dekat Mme Aamber.


"Saya?" tanya gadis itu bingung.


"Ya, Anda."


"I-iya, Nama saya Naeva de Gaulle," jawabnya terbata. Hatinya was-was. Bagaimana kalau sampai pria berpengaruh itu marah karena terganggu dengan insiden tadi?


Mata Monsieur Simon menatapnya lamat-lamat. Membuat Naeva salah tingkah dan semakin was-was.


Sementara Abellard pun mulai tak senang pada tatapan pria paruh baya yang menjadi tamu spesial ibunya itu


"Itu ... batu mulia yang sangat langka," ujar Monsieur Simon sambil menatap ke arah kalung Naeva.


Naeva langsung meraba kalung di lehernya.


"Ini ... pemberian ayah saya."


"Oh, ayah Anda pasti orang yang sangat mencintai kekayaan alam," puji Monsieur Simon. "Saya juga pecinta batu mulia langka. Tapi saya lupa apa nama batu itu. "


Naeva langsung menatap tertarik pada pengusaha paruh baya itu. Seperti menemukan seseorang yang memiliki hobi yang sama. "Batu ini bernama Melo-melo, Monsieur," jawab Naeva.


"Melo-melo ..." desah Monsieur Simon dengan raut berpikir. "Ya! saya ingat sekarang, itu memang batu yang sangat langka," seru pria itu dengan mata berbinar penuh semangat.


"Melo-melo? Itu nama yang sangat aneh, seaneh wujudnya," sindir Lady Angelia sinis.


Naeva langsung menoleh dan menatap sang Lady tajam. Kebencian langsung memenuhi hatinya, karena kini ia tahu bahwa Lady Angelia lah orang yang telah meracuni makanannya.


"Melo-melo berasal dari nama seekor siput yang menghasilkan mutiara ini. Melo melo adalah siput laut yang sangat besar, berasal dari Asia Tenggara. Ketika sesuatu tersangkut di dalam cangkang Melo, ia mengeluarkan lapisan kalsit dan aragonit di atasnya, yang terlihat sangat berbeda dari nacre yang ditemukan pada mutiara yang lebih umum. Sampai bertahun-tahun lamanya barulah dapat membentuk mutiara ini," terang Naeva sembari terus menatap Lady Angelia tak kalah sinis.


"Wah!" seru Monsieur Simon sembari bangkit dari kursinya dan bertepuk tangan takjub. "Anda sangat luar biasa, M'mselle. Masih muda, tapi pengetahuan anda sangat hebat!" puji Monsieur Simon.


Naeva membungkukkan sedikit badannya pada pria itu, "Anda terlalu memuji, Monsieur. Saya hanya mewarisi bakat ayah saya dalam mengenal kekayaan alam."


"Tapi, pengetahuan anda tentang alam memang luar biasa, M'mselle!" Kali ini sang dokter yang memuji, menimpali pujian Monsieur Simon dengan kekaguman yang sama.


Naeva kembali membungkukkan kembali badannya dengan canggung. Hatinya tak nyaman dipuji sedemikian rupa, apalagi tatapan tamu-tamu lain sekarang berpusat padanya.


Di kursinya, Lady Angelia hanya bisa membuang muka dengan hati dongkol.

__ADS_1


__ADS_2