Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 43


__ADS_3

"Bagaimana M'mselle? Apa pelayan wanita itu telah diampuni?" tanya Marc begitu Naeva masuk kembali ke dalam kamarnya.


Naeva mengangguk, "ya, tapi dia tetap akan diusir dari kastil ini."


Marc bangkit dari tempat tidur dan berjalan lemah ke arah kursi yang berada di dekat jendela berukuran 1x1/2 meter itu.


Sang nona kemudian menghampiri dan duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


"Saya akan pindah dari kamar Anda hari ini, M'mselle. Saya sudah sembuh."


"Tapi kau masih sangat lemah, Marc."


"Saya bisa beristirahat di kamar penjaga istal kuda. Saya tidak ingin orang-orang di sini kembali berpikiran buruk tentang Anda."


Naeva terdiam sejenak, memperhatikan wajah Marc yang masih terlihat pucat.


"Baiklah. Tapi kau harus kembali jika para penjaga itu bersikap tak baik padamu," risaunya dengan raut prihatin.


Marc tersenyum. Nona Naeva selalu mengkhawatirkannya seperti adik kecil yang sangat ia sayangi. Padahal umur sang nona jauh lebih muda darinya.


"Saya pria yang kuat, M'mselle ..." Marc memperagakan gerakan pamer otot lengan sembari membusungkan dada.


Naeva terkekeh melihatnya.


"Ya, lenganmu memang sangat kuat. Aku masih ingat bagaimana kau meremas apel yang diberikan oleh aktor di karavan, yang berperan sebagai pangeran itu untukku sampai hancur lebur. Kau juga berpikir bahwa apel itu beracun seperti Anne, ya kan?"


Marc tersenyum. Tentu saja ia tak berpikir apel itu beracun. Namun tatapan mata sang aktor terhadap nona-nya lah yang beracun, membuat Marc ingin menusuk matanya yang nakal itu, namun ia hanya bisa melampiaskan kekesalannya pada apel.


"Mengingat masalah racun, pelayan wanita itu pasti disogok agar mau mengaku sebagai pelaku," kata Marc kemudian.


Naeva menggeleng. "Tidak, aku yakin bukan disogok, melainkan diancam. Aku mengetahui riwayat hidup mereka dari Amily. Mereka hidup bersama seorang ayah pemabuk yang sepertinya pernah berbuat kasar terhadap Amily. Sehingga kakaknya itu sangat takut Amily dipecat dan harus pulang pada ayahnya. Mungkin ketakutannya itulah yang dimanfaatkan pelaku, dengan mengancam akan memecat Amily," terang Naeva.


Ia sangat yakin, orang berpengaruh lah yang merencanakannya, karena pelakunya tahu riwayat hidup kakaknya Amily. Dan orang yang paling tepat untuk dicurigai menurut Naeva adalah Comtesse. Tapi ia masih ragu, jika Comtesse berniat meracuninya, tak mungkin pelayan itu mengatakan makanannya dari Comtesse sendiri.


"Oh, kasihan sekali ..." desah Marc. "Saya bisa saja bersaksi, bahwa saya melihat orang lain yang menaruh racun itu. Tapi siapa yang akan percaya pada kita? Apalagi pelayan wanita itu telah mengaku sebagai pelaku," sesalnya.


"Ya, benar. Hanya satu yang bisa kita lakukan sekarang, Marc. Kita harus menanyakan pada wanita itu siapa yang telah mengancamnya. Walau aku tak yakin dia akan mengatakannya, tapi tak ada salahnya mencoba."


Tok tok


Terdengar suara ketukan di pintu kamar. Keduanya langsung menoleh.


"Biar aku yang membukanya, Marc," larang Naeva begitu melihat Marc hendak berdiri.


Gadis itu menghampiri pintu dan membukanya.


Amily berdiri di ambang pintu dengan raut sedih.


"Amily? Apa terjadi sesuatu?" Naeva mengernyit khawatir.

__ADS_1


"Tidak, M'mselle."


"Kakakmu sudah diobati?"


Amily mengangguk, "sudah M'mselle. Saya datang untuk berbincang dengan anda," lirihnya. Setelah mengungkapkan maksudnya, setetes air mata mengalir di pipi gadis itu. Naeva langsung mengerti, bahwa Amily butuh seseorang untuk berbagi lara saat ini.


"Kau ingin bicara di mana? Apa kau nyaman jika di dalam?"


Amily melirik ke dalam kamar. Matanya melihat sosok tampan bermata abu-abu di dalam sana sedang menatapnya. Amily langsung menyembunyikan wajahnya dengan menunduk, lalu menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin Marc melihatnya di saat berantakan seperti ini.


"Baiklah kalau begitu kita berbincang di tangga saja," usul Naeva.


***


Abellard menatap cincin berliontin bunga aster di tangannya dengan bibir tersenyum. Ia akan memberikan cincin itu kembali sembari melamar Naeva.


Pria itu meletakkan kembali cincin yang ia beli di toko gipsi yang ajaib itu kedalam kotaknya sendiri.


Tatapannya beralih ke cermin. Merapikan rambut dan juga penampilannya sebelum menemui Naeva.


Seikat bunga mawar merah dan juga putih yang tergeletak di atas meja akan menemaninya dalam misi cinta ini.


Abellard meraih bunga itu dan kotak cincinnya, kemudian menarik napas dalam-dalam.


Oh ... detak jantungnya mulai berpacu. Ia benar-benar gugup.


Di hadapan cermin ia kembali mematut dirinya. Memastikan penampilannya saat itu sudah benar-benar gagah. Setelah yakin dan percaya diri, pria itu berbalik menuju pintu.


Abellard berdecak tak puas. Ia kembali mengembangkan senyuman, dan kali kedua ini lebih bagus dari senyuman tadi.


"Naeva ... a-aku ... aku ingin kau menjadi istriku sekarang juga!" ucapnya tergagap.


Namun kemudian ia meringis sendiri sembari menggaruk tengkuknya. Itu pernyataan yang sangat egois. Sangat mencerminkan sifat keras kepala yang selalu dituduhkan Naeva untuknya.


Pria itu menggeleng sendiri. Ia harus mencari kalimat yang lebih lembut.


"Naeva, maukah kau menjadi istriku?" ucapnya penuh perasaan.


Yes! Inilah kalimat yang tepat. Bibirnya yang menawan itu tersenyum senang. Dan kembali berbalik menuju pintu dengan langkah yang gagah.


"Monsieur Comte?" Sebuah suara manja langsung mengejutkan Abellard begitu membuka pintu kamarnya. Suara Lady Angelia.


"Wah, mawar yang sangat indah. Apa ini untukku?" tanya gadis itu sembari membulatkan matanya.


"Bukan!" jawab Abellard tegas.


"Lantas untuk siapa?" Lady Angelia mengerucutkan bibirnya dengan tampang merajuk.


"Bukan urusanmu!" ketusnya.

__ADS_1


"Tapi aku sangat menyukai mawar."


"Kalau suka, beli."


"Aku ingin kau yang memberikannya untukku." Lady Angelia memasang wajah imut dan menggemaskan yang selalu mampu meluluhkan hati siapapun.


Namun sayangnya, pria yang sedang ia jerat tengah melayang-layang sendiri dengan angannya terhadap wanita lain.


"Aku akan memberikanmu bunga saat kau tak mampu membelinya lagi."


Lady Angelia tersenyum jumawa mendengarnya, lalu berkata dengan dagu yang terangkat angkuh. "Monsieur Comte, anda tahu aku memiliki segalanya dan mampu membeli apa saja. Tapi aku hanya ingin bunga pemberianmu."


"Sampai kapan kau akan mampu membeli segalanya?" pancing Abellard.


Lady Angelia semakin tertantang mendengar pertanyaan Abellard, lalu tertawa pelan. "Itu pertanyaan yang telah kau ketahui jawabannya, Monsieur Comte. Aku ini seorang lady, yang akan terjamin hidupnya sampai kapanpun. Dan jikapun aku tak bisa membeli apa yang aku inginkan, itu hanya akan terjadi setelah aku mati."


Abellard tersenyum puas, pancingannya berhasil. "Kalau begitu, aku akan memberikanmu bunga setelah kau mati," katanya sembari melangkah melewati perempuan itu.


Meninggalkan lady Angelia yang saat itu juga merasa malu luar biasa. Belum pernah ia diremehkan dan diabaikan seperti itu. Gadis itu menghentakkan kakinya dengan wajah merah padam.


Tak seberapa jauh Abellard melangkah, Mme Aamber muncul menjadi penghalang lainnya. Namun sang Comte terus melangkah dengan tenang, ia telah mempersiapkan semuanya.


"Ma Fils, kau hendak kemana?" Mata Mme Aamber tertuju pada bunga mawar merah bercampur putih yang dipegang putranya.


Abellard mengembangkan senyumannya.


"Tentu saja ingin menemui Mère. Aku membawakan bunga. Tapi aku ragu warna apa yang cocok untuk Mère."


"Kau membawakan Mère bunga?" Mme Aamber menatap haru.


"Ya, sepertinya yang cocok untuk Mère adalah bunga warna putih." Abellard memilih semua mawar yang berwarna putih diantara sebuket mawar merah itu dan memberikan pada ibunya. "Seputih cinta Mère untukku," ucapnya tulus.


Mme Aamber tersenyum senang. "Merci, Ma Fils ...." Wanita itu meraih bunga mawar putih dari tangan putranya. "Mère akan meletakkannya di dalam vas, agar selalu segar."


"Oh, itu ide yang sangat bagus, Mère. Aku akan pergi dulu. Ada sesuatu yang harus ku lakukan." Abellard mengecup kening ibunya sekilas dan bergegas pergi.


Mme Aamber mengangguk senang dan segera membawa bunga segar pemberian putranya ke kamar.


Abellard mendesah lega. Kini ia bisa dengan tenang menemui wanita yang dicintainya.


Pria itu terus melangkah gembira menaiki tangga di dalam Menara Selatan. Hingga begitu mencapai tangga yang berkelok menuju puncak, ia mendengar suara orang berbincang. Itu seperti suara Naeva dan seorang perempuan lain.


"Aku pernah akan dijual oleh ayahku, M'mselle..." Terdengar perempuan itu berkata ditengah suara tangisnya.


Ah, itu pasti Amily. Abellard langsung menghentikan langkahnya. Gadis pelayan itu pasti sedang mencurahkan kesedihannya pada Naeva. Dan ia merasa harus memberikan waktu untuk mereka.


"Aku juga pernah mengalami hal yang sama, Amily. Aku menjadi taruhan judi ayahku. Ya walaupun dia tidak sengaja meletakkan fotoku di atas meja judi. Tapi itulah kerugian dari mabuk, membuat akal sehat manusia menghilang." Naeva menjawab dengan nada menenangkan.


Abellard mengernyit. Taruhan judi? Foto yang diletakkan di atas meja judi? Kenapa ia sangat familiar dengan cerita itu?

__ADS_1


Sekelebat bayangan tiba-tiba menghinggapi memorinya. Ya, itu bayangan tentang sebuah kejadian, yang muncul dalam ingatan Abellard bagaikan sebuah film dokumentasi yang diputarkan kembali.


Abellard merasakan kepalanya tiba-tiba pusing dan sakit berdenyut.


__ADS_2