
Semalam suntuk, Abellard tak bisa memejamkan matanya. Kenyataan bahwa Naeva telah membodohi dirinya bersama Marc dan keluarganya, membuatnya geram hingga ingin memukul dinding.
Namun kemudian raut terluka Naeva kembali terbayang dalam pikirannya. Gadis baik hati yang memiliki senyuman hangat dan tak pernah mengabaikan orang yang membutuhkan pertolongan.
Apa gadis seperti itu pantas ia curigai?
"Aaargh!" Abellard mencengkeram rambutnya sendiri.
Hatinya penuh dengan emosi dan juga penyesalan yang bercampur aduk. Satu sisi hatinya masih marah, namun satu sisinya lagi dipenuhi penyesalan.
Sementara itu, di kamarnya Naeva pun mengalami hal yang sama. Hatinya terbagi dalam dua macam perasaan.
Satu sisi hatinya ia marah, karena Abellard tega menuduh dirinya sebagai wanita picik yang berencana menjerat seorang laki-laki bangsawan.
Ia masih ingat bagaimana pria gemuk di pasar yang mengaku sebagai asisten seorang bangsawan kala itu mengatakan bahwa Abellard sengaja mengalahkan ayahnya di meja judi karena ingin menjadikannya wanita simpanan. Jelas sekali akar masalah ini adalah Abellard sendiri. Kalau saja laki-laki itu tidak berniat seperti itu, tak mungkin ia akan berbohong dan ketakutan.
Namun di sisi hati Naeva yang lain, ia mengkhawatirkan Abellard. Pria itu baru saja mengalami sakit. Mungkin Comtesse terus menekannya agar percaya bahwa Naeva sedang memanfaatkannya.
Naeva menyeka pipinya yang basah oleh air mata. Lalu berusaha untuk terpejam dan tidur. Seandainya tidak sedang menstruasi, mungkin ia bisa berkeluh kesah di hadapan sang khalik melalui tahajudnya.
Perlahan bibirnya mengucap zikir yang dianjurkan untuk diamalkan saat merasa gelisah, "lahaula walaquwwata illa billah..."
Sedikit sharing: Zikir artinya menyebut atau menyimpan dalam ingatan. Seperti Firman Allah, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah."
Tok tok
Naeva membuka matanya perlahan. Ternyata Cahaya mentari telah menyusup melalui celah di atas jendela.
Kelopak matanya serasa berat karena sembab setelah menangis semalaman.
"Oh ... Sudah hampir siang," desahnya sembari memijit keningnya yang terasa sakit. Semalam ia tidur terlalu larut. Rasanya baru sebentar saja ia memejamkan mata.
Kakinya kemudian terjulur turun dari tempat tidur. Lalu melangkah menghampiri pintu.
Setelah pintu kamarnya terbuka, ia melihat Sora lagi di ambang pintunya.
"Bonjour (selamat pagi) Sora," sapanya dengan suara serak.
Gadis pelayan yang kurus itu memperhatikan wajah Naeva yang sembab sesaat. Namun kemudian kembali fokus pada tujuannya.
"M'mselle, kakaknya Amily sebentar lagi akan diusir dari kastil. Mungkin M'mselle mau menenangkan Amily karena dia sangat sedih sekarang."
__ADS_1
Mata Naeva sekarang terbuka normal. "Oh, tentu. Aku akan bersiap sebentar dan segera menemuinya. Terimakasih sudah memberitahuku, Sora."
Gadis kurus itu mengangguk senang. Ia sangat suka akrab dengan Nona Naeva de Gaulle ini. Setelah mengucapkan permisi, Sora melangkah kembali ke kastil.
Naeva pun segera bersiap. Ia harus menemani Amily dalam keadaan terpuruk seperti itu. Ia juga ingin menanyakan kembali pada kakak Amily tentang siapa orang yang telah mengancamnya untuk mengakui kesalahan yang tak diperbuatnya.
Di halaman Kastil, Naeva melihat Amily sedang memapah sang kakak yang berjalan dengan tertatih-tatih. Gadis itu segera mengangkat gaun biru mudanya dan mengejar mereka.
"Amily tunggu!" teriaknya.
Amily menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya.
"Kakakmu akan pulang sendirian?" Naeva bertanya dengan napas terengah-engah.
"Tidak, M'mselle. Monsieur Comte memerintahkan pengawal mengantarkan dengan kereta kuda."
"Oh, syukurlah ...."
Kakak Amily yang tak berbalik sama sekali menarik tangan adiknya untuk melanjutkan langkah. Namun Amily menahannya saat melihat Naeva ingin menanyakan sesuatu.
"Amily, boleh aku berbicara dengan kakakmu sebentar?"
"Tentu saja boleh, M'mselle."
"Kakaknya Amily, boleh aku tahu siapa namamu?"
Wanita itu tak menjawab dan malah menatap ke arah lain.
Naeva tak mengambil hati terhadap sikapnya, sudah sejak awal wanita ini memang selalu bersikap dingin.
"Namanya Jean, M'mselle." Amily menjawab.
"Jean, aku ingin kau mengatakan yang sebenarnya. Siapa orang yang telah mengancammu untuk mengaku sebagai pelaku?"
"Tidak ada yang mengancam saya," jawab perempuan itu datar.
"Jean, apa kau ingin Kastil ini tidak aman sementara adikmu masih tinggal di sini? Orang yang mudah menyakiti orang lain seperti itu tidak bisa dibiarkan."
"Amily tidak akan disakiti. Karena kami tak pernah ingin berurusan dengan orang besar! Lagi pula dia sudah berjanji tak akan menyakiti Amily!" ketus perempuan itu.
Naeva terhenyak. Jadi benar seperti dugaannya, pelakunya adalah orang yang berpengaruh di Kastil itu. Dan Amily menjadi sasaran pelaku untuk mengancam kakaknya.
__ADS_1
"Tapi orang seperti itu harus dihukum, Jean. Kita tak boleh membiarkannya."
Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap Naeva dengan sinis. "Anda pikir bisa menghukum anggota keluarga kerajaan negara Albion itu?" (Albion: berasal dari bahasa latin yang berarti putih. Istilah ini dulunya digunakan bagi negara Inggris)
Naeva tersentak kaget mendengar jawaban yang tak sengaja terlontar dari mulut Jean. Akhirnya ia mengetahui siapa pelakunya. Sementara Jean yang sadar telah terlanjur membuka rahasianya langsung mengajak Amily pergi.
"Cepat Amily! Sudah kukatakan kita harus berjalan terus!" Omel Jean pada Amily sembari berbalik dan berusaha menyeret langkah dengan cepat, dan melewati Naeva yang berdiri di hadapannya.
Naeva pun kemudian berbalik, menatap kepergian seorang kakak yang rela mengorbankan diri demi cinta pada adiknya.
"Semoga kau cepat sembuh, Jean. Hiduplah dengan tenang. Aku akan menjaga Amily," ucapnya tulus.
Ketulusan yang kemudian membuat hati wanita itu mencair. Hatinya sebenarnya sedih dan menyesali keadaan yang membuatnya harus menyakiti gadis sebaik itu.
"Sampaikan maafku pada Mlle Gaulle ...." bisiknya pada Amily sembari naik ke dalam kereta.
**
Malam pun tiba. Naeva harus memenuhi janjinya pada Lord Alfred untuk menghadiri makan malam bersama pria itu.
Ini juga kesempatannya untuk bertemu Abellard, memperjelas masalah yang terjadi di antara mereka. Ia paling tak bisa membiarkan masalah terus berlarut-larut.
Lord Alfred tersenyum senang saat pintu kamar Naeva terbuka. Gadis itu berdiri dengan penampilan yang menurutnya terlalu sederhana. Tak pernah sebelumnya ia berkencan dengan seorang gadis yang tidak memenuhi diri dengan kilauan perhiasan. Tapi tak masalah, Naeva de Gaulle saat ini lebih berharga dari gadis manapun, karena ia harus memperebutkannya dengan Comte Abellard.
"Kau sudah siap?"
Naeva mengangguk sopan, "sudah, My Lord ...."
Lord Alfred segera berbalik dan merenggangkan lengan kanannya untuk digandeng Naeva.
Naeva menatap ragu. Hingga kemudian Lord Alfred menoleh ke belakang.
"Apa kau belum siap? Aku akan menunggumu sampai kau siap." Bagi Alfred lebih baik datang terlambat agar Abellard melihatnya datang bersama Naeva.
"Sa-saya sudah siap." Naeva pun mengalungkan tangannya.
Sementara itu di meja makan telah duduk keluarga Comte de Marseille bersama tamu kebesaran mereka. Termasuk Dokter kepercayaan Comtesse dan Lady Angelia.
Malam itu hadir seorang pengusaha yang paling sukses di Marseille. Usahanya bahkan lebih maju dan populer dibandingkan usaha keluarga Comtte. Pengusaha paruh baya ini sedang diincar oleh Comtesse untuk menjadi partner bisnis keluarganya.
Dari arah aula, datanglah Naeva de Gaulle bersama Lord Alfred.
__ADS_1
Note: Maaf jika saya membuat karakter Naeva banyak mengerti agama Islam. Padahal ibunya telah tiada saat dia masih kecil. Pengetahuan ini semata-mata sharing dari Author untuk saling berbagi ilmu.