Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 63


__ADS_3

Naeva begitu cantik.


Gadis itu memakai gaun berwarna merah hati pemberiannya. Abellard sengaja membelikan gaun indah yang sangat menarik perhatian itu karena ia ingin Naeva menjadi pusat perhatian malam ini. Agar semua kerabatnya tahu, gadis pilihannya itu sangat mempesona. Dan keinginannya pun tercapai, kedatangan Naeva menarik perhatian semua orang.


Abellard tersenyum lega. Kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Lady Angelia dan beranjak menghampiri Naeva.


Tap!


Lengannya tiba-tiba ditangkap oleh sang Lady. Gadis itu menatapnya tajam dan mengancam.


"Jangan coba-coba! Kau hanya boleh bersamaku!"


Abellard menghentakkan tangan gadis itu dari lengannya dan balas menatap tajam.


"Kalau kau masih ingin aku memperkenalkanmu sebagai calon istriku, maka jangan pernah berpikir untuk mengatur apa ingin aku lakukan!" ketusnya. Lalu berbalik meninggalkan Lady Angelia.


Sang Lady menatap punggung Abellard yang terus menjauh penuh kemarahan. Harusnya tidak seperti ini! Pria itu tak boleh mengancamnya balik. Ia baru saja memegang kendali. Tapi kenapa dengan mudahnya gadis miskin itu merebut kendalinya?!


Abellard melangkah dengan hati yang meluap oleh kebahagiaan. Menyongsong Naeva yang tak melihat kedatangannya. Mata berbulu lentik itu tampak mencari-carinya di antara kerumunan para tamu yang belum berdansa.


Hingga kemudian Abellard berdiri di samping gadis itu dan mengamati wajah cantiknya. Naeva sangat mempesona. Bibirnya tampak merah dan basah malam ini. Sepertinya Maria memberinya pewarna bibir.


Jantung Abellard seketika berdetak kencang. Bagaimana ia bisa menahan gejolak hati jika penampilan Naeva secantik ini? Tanpa sadar Sang Comte menelan salivanya.


"Maukah kau berdansa denganku, M'mselle?" ucapnya dengan suara yang serak.


Naeva menoleh dan langsung tersenyum melihat pria yang ia cari ternyata telah berdiri di sampingnya.


"Abellard?" serunya.


"Kau sangat cantik malam ini, Sayangku," pujinya dengan senyuman lembut dan tatapan teduh.


Naeva merunduk tersipu. "Kau juga sangat gagah malam ini, Abellard."


"Benarkah? Aku akan sangat tersanjung jika kau yang mengatakannya."


Gadis itu mengangguk dengan pipi yang semakin merona. Abellard memang sangat tampan memakai tuksedo hitam pekat itu.


"Kalau begitu, kau sudah siap berdansa denganku?" Abellard mengulurkan tangan kanannya dengan sedikit membungkuk.


"Aku siap," jawab Naeva sembari menyambut uluran tangan Abellard.


Pria itu menarik dirinya untuk merapat dengan sangat lembut. Kemudian meletakkan tangan kiri Naeva itu di bahunya. Sementara tangannya sendiri beralih memeluk pinggang Naeva yang ramping. Matanya tak lepas sedikitpun dari wajah cantik Naeva.


Gadis itu menengadah, membalas tatapan netra berwarna biru laut itu dengan hati yang berdebar tak menentu.


Perlahan, tangan mereka yang satunya lagi menyatu dalam genggaman. Dan kakipun mulai mengayun mengikuti alunan musik waltz.

__ADS_1


Abellard mendesah gelisah. Harusnya saat ini ia fokus menunjukkan tarian yang terbaik agar semua perhatian tertuju pada mereka. Tapi bibir merah Naeva begitu menggoda. Ia bahkan sampai khawatir pria lain akan melihat keindahan bibir itu.


Dengan napas yang tertahan pria itu bertanya, "Apa kau menyukai pewarna bibir?"


"Tidak seberapa. Aku takut terlalu mencolok. Tapi Maria bilang, kau ingin aku menjadi pusat perhatian kerabatmu malam ini."


"Ya, aku ingin semua orang mengagumimu dan melupakan kasta. Tapi kau terlalu mempesona, Sayangku. Aku bahkan tak bisa menahan diri untuk menginginkan kecupan dari bibirmu."


Naeva langsung menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang merona di dada Abellard yang bidang.


"Apa ... sebaiknya aku menghapus pewarna ini?"


"Tidak apa. Aku menyukainya." Pria itu menarik pinggang Naeva untuk lebih merapat. Menghirup aroma manis dari rambut gadis itu dengan jantung yang berdebar.


Oh ... ia begitu tenggelam dalam pesona Naeva. Padahal masih ada hal penting yang harus ia katakan pada gadis itu.


"Naeva," panggilnya. Lalu berdeham. Menghilangkan serak dari suaranya yang terpengaruh hasrat, sekaligus menghapus bayangan gairah yang menguasai kepalanya.


"Ya?"


"Aku sebenarnya tadi datang bersama Lady Angelia."


Abellard merasakan langkah kaki Naeva berhenti mendadak.


Pria itu langsung melanjutkan kata-katanya, "Dia mendatangi kamarku, dan mengatakan ... bahwa dia telah mengetahui agamamu," ujarnya.


"Ya, dia mengancamku untuk menjadi pasangan dansanya dan mengumumkan pada semua orang bahwa dirinyalah calon istriku."


Naeva meneguk salivanya dengan wajah memucat. Kini mereka sama-sama terpaku, tak lagi mengikuti irama musik yang mengalun.


"Semua rencanaku berbalik total, Sayangku. Hancur berantakan. Ternyata perempuan itu sangat licik." Abellard menggeram.


"Apa yang harus kita lakukan, Abellard? Lady Angelia itu sangat berbahaya."


Abellard langsung menatap Naeva khawatir, "kau pernah disakitinya?"


"Ya, ternyata dia lah yang menaruh racun ke dalam makananku waktu itu."


"Apa?! Perempuan itu?"


Naeva mengangguk. "Ya. Kakaknya Amily tanpa sengaja mengatakan bahwa orang yang telah menyuruhnya untuk mengaku menjadi pelaku adalah orang dari Inggris. Dan Marc pun melihat Lady Angelia saat menaruh sesuatu dalam makananku hari itu."


Abellard terperangah.


"Kenapa kau tak mengatakan apa-apa padaku selama ini?"


"Karena aku belum memiliki bukti. Sedangkan kau dan Comtesse tak akan mempercayai perkataan Marc."

__ADS_1


Abellard mendesah dengan penuh rasa bersalah. "Maafkan aku, Naeva. Harusnya aku menjadi pendukungmu."


"Tidak apa. Lagipula kita memang tidak bisa menuduh Lady Angelia tanpa bukti nyata. Seharusnya kunci bukti adalah kakaknya Amily, tapi perempuan itu tak mau bersaksi."


Abellard terdiam sejenak. Lalu berseru dengan yakin. "Ya! Aku menemukan solusinya sekarang. Kita harus mencari perempuan itu dan membawanya kembali ke sini untuk bersaksi. Setelah itu kita bisa mengusir Lady Angelia dari sini."


Naeva mengangguk setuju. "Kejahatan seperti itu tak bisa dibiarkan. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa wanita secantik peri itu bisa berkelakuan seperti iblis?"


Abellard tertawa pelan mendengarnya. "Secantik peri? Jadi menurutmu perempuan dari Inggris itu sangat cantik?"


"Ya, dia memang sangat cantik. Kulitnya putih bersih, matanya, hidungnya, bibirnya, semua menawan."


"Ah, untung saja dia perempuan. Kalau tidak, aku pasti akan sangat cemburu mendengarnya."


"Tapi wajah mereka memang sangat menawan."


"Mereka?" Abellard langsung mendelik. "Mereka siapa maksudmu? Lady Angelia dan si Alfred sialan itu?"


Naeva tersenyum geli melihat wajah cemburu Abellard.


"Maksudku, orang-orang Inggris itu. Rata-rata memang cantik dan tampan. Apa kau juga akan cemburu pada semua orang Inggris?"


Abellard tersenyum. "Apa kau tak suka kalau aku cemburu?" Abellard menaikkan sebelah alisnya dengan raut menggoda. Lalu tangannya kembali meraih pinggang Naeva dan mengajaknya kembali berdansa.


"Aku suka, tapi kadang aku takut kau malah menjauh saat cemburumu berlebihan."


"Benarkah? Maafkan aku. Aku selalu membuatmu kecewa karena rasa cemburu itu. Itu semua karena aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu." Ucapnya berulangkali.


Irama musik terus membuai pasangan-pasangan dansa dengan alunan yang menghanyutkan. Mereka seolah saling meresapi kebersamaan yang indah itu dalan setiap langkah kaki.


"Naeva, apa kau akan keberatan jika aku harus bersandiwara dulu dan mengumumkan Lady Angelia sebagai calon istriku? Kau bisa menolaknya. Aku bisa membawamu pergi jauh dari sini jika nanti Lady Angelia membocorkan rahasiamu dan orang-orang menghakimi dirimu. Kita akan pergi jauh dari Marseille."


"Aku tidak keberatan, Abellard. Aku ingin kita berjuang lebih dulu.


Kita sudah menemukan solusi untuk mengalahkan Lady Angelia. Tapi perempuan itu sepertinya memang sangat licik. Jadi tak ada salahnya jika kita melakukan sandiwara ini."


Abellard menarik napas dalam-dalam.


"Baiklah, kalau kau memang setuju," sahutnya. "Tapi sekarang, kita harus membuat perempuan itu kesal terlebih dahulu, Naeva. Perempuan itu sangat suka dipuji. Jadi kita harus membuat kau menjadi pusat perhatian serta pujian orang-orang. Kau setuju?" tanya Abellard penuh semangat.


Naeva tertawa pelan melihat semangat itu. Lalu mengangguk.


Abellard tersenyum senang. "Baiklah kalau begitu, mari kita tunjukkan apa yang sudah kita pelajari beberapa hari ini pada semua orang!"


Dengan satu hentakan penuh semangat Abellard menarik pinggang Naeva untuk merapat. Dan Naeva pun dengan sigap mengangkat siku dari tangan kirinya yang memegang bahu Abellard hingga sejajar dengan bahu pria itu.


Seperti melayang, keduanya melangkah mengikuti irama. Mata mereka saling menatap, membakar seluruh semangat yang ada di dalam tubuh keduanya.

__ADS_1


Dan semua mata pun tertuju pada mereka. Tertarik dan menatap takjub.


__ADS_2