
"M'mselle, saya merasa ... ada konspirasi di balik masalah ini."
Naeva menatap Marc dengan kening mengernyit, ingin tahu sekaligus tegang. Karena dirinya juga merasa kasus itu adalah sebuah konspirasi terselubung.
"Saya melihat orang yang membubuhkan cairan racun itu. Dan perempuan itu tidak terlihat seperti pelayan."
Naeva langsung menghampiri Marc dan duduk tepat di hadapannya. Mata gadis itu tampak bersemangat.
"Apa dia memakai gaun sutra yang bagus dan juga perhiasan?"
Marc menggaruk tengkuknya sembari meringis, "saya tidak terlalu memperhatikannya, M'mselle. Anda tahu, saya ... tak terbiasa memperhatikan wanita."
"Kau bisa membayangkan seperti apa wajahnya?" desak Naeva sangat ingin tahu.
Marc kembali menggeleng. "Tapi jika saya melihatnya, saya pasti akan mengenalnya."
Naeva menghela napas. Bahunya yang sedari tadi tegak dan kaku, kini melengos karena kecewa.
"Tidak apa, setelah kau benar sembuh, kita akan menyelidikinya."
Marc menatap sang nona khawatir. Ia sebenarnya takut jika Naeva berurusan dengan masalah yang berbahaya seperti itu. Tapi masalah ini yang mendatangi mereka. Walau tidak pernah berhadapan dengan skandal yang menyangkut nyawa seperti ini, mereka harus siap.
"Apa anda tetap akan menolong kakaknya Amily?"
"Ya. Aku akan tetap berusaha," tekadnya. Naeva benar-benar iba, membayangkan kondisi Amily sedang meratapi satu-satunya saudari yang melindunginya selama ini. "Oh Marc, kasihan sekali Amily. Mungkin dia sedang ketakutan menemani kakaknya yang sedang dihukum," desahnya getir.
Naeva kembali mondar-mandir. "Aku tak bisa diam di sini, Marc. Tak bisa kubayangkan Amily menghadapinya sendirian. Aku harus ke sana untuk menemaninya."
Marc langsung duduk tegak dengan raut cemas. "Jangan M'mselle! Anda trauma dengan hukuman yang seperti itu."
"Aku tidak trauma. Hanya takut dan tak nyaman saja. Tapi saat ini ada orang yang lebih ketakutan daripada aku. Insyaallah aku bisa, Marc." Naeva mencoba meyakinkan Marc dengan semangatnya. "Kau tak perlu khawatir," sambung gadis itu sebelum pergi.
Penjara bawah tanah yang sudah sejak lama tak pernah lagi digunakan, kembali menjadi momok menakutkan bagi para pelayan. Mereka berbondong-bondong mengintip pada pintu yang menuju ke ruang bawah tanah itu. Namun tak ada dari mereka yang berani masuk ke sana.
Naeva melangkah melewati lorong berdinding batu yang terasa menurun. Suasananya remang-remang karena hanya diterangi api dari beberapa lampu kecil yang tertempel di dinding.
Tubuh Naeva langsung merinding, merasakan dingin dan lembabnya udara di sana.
Tak seberapa jauh melangkah, gadis itu melihat Amily duduk meringkuk di hadapan sebuah kamar tahanan.
"Amily!" seru Naeva sembari berlari menghampiri.
"Mlle Gaulle. Kenapa Anda datang kemari? Di sini sangat mengerikan." Amily malah menatapnya khawatir.
__ADS_1
"Amily, kau mengkhawatirkan aku yang baru datang, sementara dirimu sudah sejak tadi sendirian di sini," Naeva berjongkok di hadapan Amily dengan raut sedih. Kemudian mendekapnya hangat.
Tangis Amily langsung pecah di bahunya.
"Mlle Gaulle, dia ... dia bahkan tak sanggup lagi untuk berteriak kesakitan. Tapi sama sekali tak memohon ampun. Kakak saya itu begitu keras pendiriannya," ratap Amily dengan bahu berguncang.
Mata Naeva beralih menatap ke dalam kamar tahanan.
Di balik jeruji besi itu, kakaknya Amily tergeletak tengkurap di atas lantai.
"Ya Tuhan, apa kakakmu pingsan?"
"Tidak M'mselle. Dia hanya tertidur karena lelah menahan sakit. Dia tidur begitu karena punggungnya yang sakit terkena cambukan."
Naeva langsung menutup matanya erat-erat, ngilu dan ngeri mendengar penjelasan Amily.
"Ya Allah! Ini sungguh mengerikan!" Tanpa sadar ia mengucap nama Allah di hadapan Amily. Namun gadis itu tak menanggapi apa-apa.
Perlahan Naeva melepaskan dekapannya. Lalu menyapu air mata yang mengalir di pipi Amily dengan lembut.
"Aku tak akan membiarkan ini, Amily ..." Naeva menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca. "Dia harus segera diobati. Bagaimana bisa mereka tega membiarkan seseorang menderita seperti ini?!" Air mata semakin menggenang di matanya. Ia benar-benar tak tahan.
Dengan dada yang terasa sesak, gadis itu bangkit. Ia harus cepat mengobati luka wanita itu.
Amily menatap gadis cantik berhati emas di hadapannya itu dengan hati cemas. Bagaimana kalau Mlle Gaulle malah diusir dari kastil ini oleh Comtesse karena membela kakaknya?
Namun langkah Naeva tak lagi bisa ditahan. Ia melangkah garang keluar dari ruang bawah tanah itu.
Para pelayan yang masih bergerombol di depan pintu menatapnya dengan tatapan bermusuhan. Mereka mengira Naeva sedang bergembira atas tertangkapnya pelaku yang meracuni makanannya.
Gadis itu tak peduli. Ia sudah terbiasa dengan sikap bermusuhan para pelayan. Sehingga ia terus berjalan pada tujuannya.
Buk!
Tak sengaja ia menabrak seseorang. Naeva masih tak peduli. Ia kembali melangkah dengan hati yang telah dibulatkan oleh tekad.
Hingga kemudian lengannya dicegat dengan lembut. "Naeva?"
Langkah Naeva seketika terhenti. Itu suara Abellard.
Gadis itu langsung menoleh.
"Oh, syukurlah kau ada di sini!" Naeva berseru dengan wajah tak ramah. Ia menatap Abellard dengan mata berkilat marah. "Aku ingin kau melihat hasil hukuman yang kau berikan pada wanita itu."
__ADS_1
Semua pelayan berseru kaget mendengar betapa beraninya seorang gadis biasa menghardik seorang Comte.
"Naeva, kau kenapa?" Abellard mengerutkan keningnya. "Apa sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu?"
"Apa kau pikir seseorang yang mendapat hukuman seberat itu masih bisa dikatakan tidak mengalami hal yang buruk?!"
Abellard menyentuh lengan Naeva lembut. "Naeva, aku benar-benar tak tahu. Memangnya hukuman apa yang diberikan oleh pengawal? Aku ... aku hanya menyuruh mereka menghukum. Aku mengira mereka hanya mengurungnya."
Naeva menatap Abellard kecewa. "Harusnya kau memeriksa dulu hukum yang berlaku di kastilmu!"
"Maafkan aku ...." lirih Abellard penuh penyesalan. Ia tak lagi menanyakan hukuman apa itu. Melihat kemarahan Naeva, tentu hukumannya menyebabkan pelayan itu terluka.
Mata biru Abellard kemudian beralih menatap para pelayan. "Aku perintahkan seseorang memanggil Dokter sekarang juga! Dan bawakan obat luka ke ruang tahanan!"
"Carikan daun Serapih, itu sangat mujarab untuk mengobati luka," sela Naeva.
Selama hidupnya di Kastil Wisteria, Naeva dan keluarga pelayannya selalu berusaha mengobati sakit dengan bahan-bahan yang dihasilkan alam. Sehingga ia tahu daun apa saja yang bisa menjadi obat.
Satu hal lagi yang selalu diamalkan Naeva, yakni membaca surah Al Fatihah. Ia mendapatkan pengetahuan itu dari mendiang ibunya.
*** Sedikit sharing:
Kenapa Rumah Sakit di Mekkah sepi pasien? Ternyata mereka melakukan hal ini saat sakit.
Pertama: melakukan shalat dua rakaat memohon kesembuhan kepada Allah SWT.
Kedua: membaca surat Al Fatihah dan surat surat lain yang ada dalam Al Quran lalu ditiupkan ke air minum untuk kemudian mereka minim.
Jika tak kunjung sembuh, ikhtiar selanjutnya adalah, bersedekah dengan niat dijadikan jalan sebagai penyembuh sakit, dan mereka perbanyak istigfar.
Apabila setelah bersedekah pun masih belum juga mendatangkan kesembuhan, baru mereka mengonsumsi makanan atau minuman yang bermanfaat, seperti madu atau habbatussauda.
Dan ikhtiar terakhir barulah pergi kerumah sakit. Subhanallah, penyakit datangnya dari Allah dan Allah pula yang akan memberikan kesembuhannya. ***
"Ya, carikan daun itu!" dukung Abellard dengan nada tegas.
Para pelayan langsung bubar dan mengerjakan perintah sang Comte. Namun pandangan mereka terhadap Naeva seketika berubah. Tak ada lagi kebencian. Kini mereka kagum pada gadis biasa yang selama ini mereka kucilkan.
"Kau lihat? Gadis biasa yang dicintai Comte inilah yang peduli dengan kehidupan orang kecil seperti kita. Dia bisa membimbing Comte untuk menjadi pemimpin yang baik. Kita sangat bodoh, mendukung Lady Angelia yang hanya tahu masalah perhiasan dan gaun sutranya."
"Ya, benar. Padahal kita telah berbuat buruk padanya. Aku jadi merasa bersalah," bisik yang lain.
Bisik-bisik seperti itulah yang kemudian menjadi topik pembahasan para pelayan sembari melakukan tugas mereka.
__ADS_1