
Abellard berdiri terpaku di depan bangunan kastilnya yang megah. Ia tampak gagah seperti seorang penguasa. Tapi hatinya saat ini sedang ciut, merasa menjadi lelaki yang paling bodoh sedunia.
Setelah beberapa saat, tubuh tegapnya berbalik dan melangkah cepat ke dalam. Menuju ruang duduk dimana Naeva mungkin masih menunggu.
Dan beruntungnya gadis itu masih berada di sana, duduk di sofa sembari meniup-niup sikunya sendirian. Abellard langsung menghampiri. Berlutut di hadapan gadis itu dan meraih lengannya.
"Abellard?!" seru Naeva kaget. "Aku tidak kenapa-kenapa. Comtesse sudah memberikanku obat," tunjuknya pada kotak obat di atas meja.
"Lihatlah, siku mu sampai lebam begini, kenapa kau bilang tidak kenapa-kenapa?"
"Aku, hanya ...."
"Tolonglah," sela Abellard. "Jangan pernah menyembunyikan apapun lagi dariku. Aku ini pria yang bodoh, karena aku belum pernah mencintai dan memahami wanita sebelumnya."
"Tapi ini hanya luka kecil," lirih Naeva. Terenyuh hatinya mendengar Abellard mengatakan dirinya sendiri bodoh hanya karena tak tahu siku Naeva benar-benar sakit. Semua orang tahu, bahwa seorang pria bangsawan memiliki ego yang sangat tinggi. Tak boleh terlihat cacat sedikitpun di hadapan orang lain, apalagi di hadapan wanita. Tapi bangsawan muda di hadapannya ini sangat berbeda dan menyentuh hati. Pria itu terus berusaha untuk memperbaiki diri demi dirinya.
"Seberapapun kecilnya lukamu, aku tetap tak akan lagi membiarkanmu menanggung sendiri," jawab Abellard sembari mengoleskan obat pada siku Naeva yang lebam memerah.
Naeva terdiam, menatap wajah tampan yang sedang serius memperhatikan sikunya sembari mengoleskan obat. Ada getar dalam hatinya saat tangan kokoh Abellard yang terasa dingin menyentuhnya.
"Ffuh ffuh ...." Abellard meniup-niup siku Naeva.
Napas hangat pria itu menyentuh kulitnya. Mengirimkan gelenyar indah yang membuat jantungnya berdebar. Ada kerinduan dan candu yang tiba-tiba mendorong hatinya untuk mengharapkan sentuhan demi sentuhan dari Abellard. Pria gagah berharga diri tinggi yang habis-habisan mencoba berubah untuk dirinya. Dan pria tampan yang selalu dingin pada wanita lain, tapi begitu lembut dan penuh perhatian padanya.
Naeva merasakan napasnya tertahan. Merasakan sebuah hasrat yang tiba-tiba menguasai pikiran. Ingin rasanya ia memeluk pria itu. Menyerahkan segenap jiwa dan raganya.
Oh ya Allah, apa yang sedang ia pikirkan? Naeva segera memalingkan wajahnya yang semakin panas dan panas oleh hasrat. Lalu menarik pelan lengannya dari tangan Abellard. Menghentikan tiupan napas hangat yang mampu menggelitik sarafnya.
__ADS_1
"Terimakasih," ucapnya.
Abellard mengangguk. Tanpa sengaja Naeva melihat jakun pria itu naik turun seperti baru menelan salivanya. Dan begitu menatap leher yang kokoh dan bersih itu, Naeva kembali harus menahan napas karena merasakan debaran tak menentu di dalam dada.
Ya Tuhan, kenapa otaknya begitu kotor setiap merasakan sentuhan Abellard?
Tiba-tiba ia melihat tubuh Abellard semakin mendekat. Leher kokoh itu bahkan tak jauh wajahnya. Naeva langsung memejamkan mata. Tak kuasa melihat pemandangan yang mengganggu imannya.
Dan detik selanjutnya, ia merasakan tubuhnya direngkuh dan diangkat. Apa yang terjadi? Abellard menggendongnya? Naeva segera membuka mata. Dan benar saja, tubuhnya kini digendong ala bridal style, dada bidang Abellard bahkan menempel di lengannya saat ini.
"Abellard, kenapa kau menggendongku?"
"Karena mungkin lututmu juga terluka. Aku tak boleh memeriksanya, bukan?"
Naeva langsung memalingkan wajahnya. Wajahnya benar-benar terasa panas kali ini, dibakar hasrat yang kembali menggoda. Suara Abellard terdengar begitu seksi, kata-katanya pun seolah sengaja menggoda.
"Kau mau membawaku kemana?" Naeva mulai cemas karena melihat tujuan Abellard adalah kamar.
"Ke kamar." Abellard memiringkan tubuhnya untuk menarik gagang pintu dengan tangan yang berada di bawah lutut Naeva. Mendorong daun pintu itu dengan kaki, lalu melangkah ke tempat tidur.
"A-abellard, ini ... tidak benar," desah Naeva. Antara takut, risau dan candu.
Abellard tak menjawab. Naeva hanya merasakan napas Abellard yang terdengar lebih cepat. Seperti napasnya saat ini. Ia tak tahu napas Abellard terdengar memburu karena kelelahan mengangkat tubuhnya atau karena hasrat yang sama seperti yang dirasakannya.
Abellard tak menjawab. Pria itu mendudukkan Naeva di tepi tempat tidur dengan perlahan dan hati-hati.
Lalu berdiri di hadapan Naeva dan menatapnya sesaat. Naeva dapat melihat, jakun Abellard kembali naik turun seperti tadi.
__ADS_1
"Aku tahu," lirih pria itu, suaranya terdengar serak. "Karena itu aku tak boleh berada di sini terlalu lama. Mulai sekarang kau tidurlah di sini. Aku tak ingin lagi kau mengatakan bahwa dirimu baik-baik saja tidur di menara itu."
Abellard berdeham, lalu berbalik meninggalkan Naeva yang duduk terpaku.
Gadis itu hanya bisa menatap punggung lebar dan pundak kokoh Abellard saat pria itu berjalan menuju pintu. Merasakan hati yang sedikit kecewa melihat Abellard pergi. Ia ingin kembali menghirup aromanya yang maskulin. Oh ... Abellard. Kenapa berada di dekat pria itu mampu membuatnya mabuk?
Naeva tahu pria itu juga merasakan hal sama. Mereka terbakar hasrat yang sama. Tapi Abellard meninggalkannya demi dirinya, demi keyakinannya akan larangan Tuhannya untuk bersentuhan dengan lelaki yang bukan muhrim. Kenapa malah dirinya yang ingin melanggar janjinya sendiri?
"Ya Allah, maafkan hamba ...." istighfar-nya.
Sungguh beruntung ia jatuh cinta pada Abellard. "Semoga cinta kami menemui jalannya," doa Naeva dalam bisikannya.
Ternyata semua kejadian hari itu tak luput dari pantauan mata licik Lady Angelia yang mengintip. Dengan bergegas, gadis cantik bertampang malaikat itu mengirimkan telegram untuk kedua orangtuanya. Meminta Duke of Medwin itu datang segera untuk mempertunangkan dirinya dengan Comte Abellard.
***
Setelah ini, Abellard akan menjadi pria yang seperti pembaca idamkan. Tegas dan selalu mengutamakan Naeva. Menjaga hatinya dan menjadi pahlawan untuknya. Pahlawan yang tidak kesiangan lagi tentunya, hehe ....
Karena setelah bab ini kita akan masuk pada konflik utamanya yang akan menuju pada akhir cerita.
Author sengaja membuat Abellard tidak peka dan tidak bisa memahami Naeva selama ini. Karena sejatinya seorang pewaris bangsawan itu begitulah karakternya. Egois dan lama dalam mengambil tindakan, karena sejak kecil mereka telah diikat oleh aturan dan aturan. Harus mengikuti prosedur demi prosedur. (Ah, kayak Polisi aja ... hehe)
Bukan berarti begitu jatuh cinta dia langsung bucin dan tunduk di bawah kaki perempuannya. Mereka punya ego yang tinggi karena selalu diutamakan.
Kapan juga dia bangkit dan benar-benar meninggalkan sifat egonya? Setelah sifat wanita itu merubahnya dan saat ia benar-benar takut kehilangan karena merasa tak bisa hidup tanpa wanita itu.
Saya ingin membuat cerita yang tidak mengada-ada. Ceritanya semacam Cinderella, tapi bukan berarti tokoh wanitanya bisa menundukkan sang pangeran dengan Abrakadabra ....
__ADS_1
Jangan lupa di like, Sayangku ....