
Bab 33
"Marc, kau tidak terganggu dengan bunga-bunga ini, bukan?" tanya Naeva perhatian.
"Ti-tidak, M'mselle."
"Baguslah, karena menurutku harum bunga ini bisa menjadi aroma terapi agar kau cepat sembuh."
Marc mengangguk. Wajahnya kembali terasa panas. Ya Tuhan ... bagaimana ia bisa memungkiri perasaannya jika perhatian sang nona selalu membuat jantungnya berdebar?
Tanpa sadar, Marc buru-buru merapikan rambut tebalnya yang lurus dan belah tengah itu. Kemudian membasahi bibirnya yang terasa kering.
"A-anda ingin saya cepat sembuh?" Pria itu tampak salah tingkah.
"Ya, tentu saja."
"Apa ... setelah saya sembuh, kita benar-benar akan pulang?" Entah kenapa Marc merasa ingin sang nona meninggalkan kastil milik Abellard itu secepatnya.
Naeva terdiam sesaat. Hatinya sedih jika mengingat harus berpisah dari Abellard. Seandainya saja Abellard bukanlah seorang Comte ....
"Ya, kita akan pulang ...." lirihnya.
Melihat wajah Naeva yang murung, Marc langsung duduk tegak, "anda tak perlu khawatir, M'mselle. Saya akan menjaga anda dari para pemburu itu dengan nyawa saya sendiri!" jawabnya sembari membusungkan dada. Namun kemudian Wajah tampan itu seketika memerah, menyadari sikapnya yang berlebihan. Oh ... perasaannya semakin kacau. Seperti inikah jadinya jika menyukai wanita?
Naeva menatap Marc sembari tersenyum. Marc seperti malaikat pelindung yang selalu membuatnya nyaman sekaligus khawatir, khawatir jika sampai sayap malaikatnya itu patah saat melindunginya, seperti saat ini.
Ah ... seandainya Abellard seperti itu, tidak terkekang dengan peraturan ibunya. Ia pasti akan sangat bahagia, seperti perempuan yang akan memiliki Marc.
"Oh, iya! Aku teringat sesuatu!" seru Naeva tiba-tiba. Lalu gadis itu beranjak ke meja kecil di samping jendela dan membuka lacinya.
"Teringat apa?" tanya Marc.
"Saputangan."
"Saputangan?"
"Ya," Naeva memperlihatkan sehelai saputangan berwarna putih pada Marc. "Sapu tangan ini milik seorang perempuan yang baik hati. Dia juga cantik, aku harus mengenalnya untukmu."
"Maksud anda?" Marc menaikkan alis hitamnya.
Naeva tersenyum dan menghampiri tempat tidur.
"Aku memang tidak berhak. Tapi aku ingin, Marc. Aku ingin kau kelak menikahi perempuan yang terbaik."
Marc menatap sang Nona yang kini duduk di tepi tempat tidur, tepat di ujung kakinya. Tenggorokan Marc seolah tercekat, harap-harap cemas memikirkan maksud perkataan nona-nya.
"Bahkan sebenarnya seluruh perempuan di dunia ini tak ada yang pantas untuk mendampingimu di mataku."
Marc merasakan wajahnya kembali panas dan tersipu.
Naeva yang melihat Marc salah tingkah langsung tersenyum geli. Marc terlalu polos, sama seperti dirinya. Mereka tak pernah berurusan dengan asmara. Naeva bahkan masih bingung, kenapa ia bisa menyukai pria egois seperti Abellard. Laki-laki itu bahkan terlalu membingungkan. Dulu selalu mengungkapkan cinta, sekarang malah menjauh dan hanya mengirimkan bunga.
Ah ... sudahlah. Ia tak ingin memikirkannya lagi. Fokusnya kembali pada Marc. Pria tampan berbibir tipis yang sekarang sengaja menghindari tatapannya.
__ADS_1
"Kau hanya pantas didampingi seorang perempuan yang seperti malaikat. Kau sangat penting bagiku, Marc. Kau, Anne, Emma, dan Adam. Kalian bahkan lebih penting daripada cintaku padanya." Naeva menatap pria itu penuh kasih.
"Cinta anda ... pada siapa?" Marc langsung mengangkat wajahnya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Naeva tersenyum dengan pipi yang merona. "Aku tak biasa menceritakan perasaanku pada orang lain. Tapi ... untuk perasaan yang penting seperti ini, rasanya aku tak boleh menyembunyikannya darimu, orang yang juga penting bagiku."
Gadis itu meremas jemarinya dengan kepala yang masih tertunduk. Sementara Marc menunggu penuturan Naeva dengan napas tertahan. Mata abu-abu pria itu tiba-tiba merasakan perih.
"Aku ... jatuh cinta pada Abellard."
Hati Marc seketika mencelos. Ia merasa seperti terjatuh ke kedalaman yang teramat dalam. Ternyata dirinya telah salah paham. Sang nona tidak mencintainya. Kini rasa perih tidak hanya dirasakan Marc pada matanya, namun juga di hatinya.
"Jangan tanya apapun, aku sangat malu." Naeva tampak tersipu dan cepat-cepat bangkit dari sisi tempat tidur itu. "Kau istirahatlah. Aku akan menghias saputangan ini dengan warna dari kelopak bunga, sebagai rasa terimakasihku untuk perempuan itu."
Marc terpaku. Ia memang tak akan bisa menanyakan apapun lagi. Matanya kini tampak berkabut oleh air mata. Marc segera mengerjap-ngerjap dan memalingkan wajahnya. Namun tak urung juga setetes air menetes di pipinya. Dan Marc segera menyapu dengan punggung tangan.
Berbeda dengan perasaan Marc. Seseorang yang berada di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, tampak tersenyum senang mendengarnya. Orang itu adalah Maria.
**
Esok harinya.
"Monsieur Comte, nasib cinta anda sekarang benar-benar seperti telur di ujung tanduk," tegas Maria saat ia menjumpai pria itu di ruang baca.
"Apa maksudmu, Maria?" Pria itu mengernyit saat meletakkan buku bacaannya kembali di rak.
"Mlle Gaulle akan segera pulang."
"Pulang?" Abellard terperanjat.
"Apa?"
"Saya paham, anda tak ingin Mlle Gaulle diusir dari sini, namun Anda juga sangat menghormati Comtesse. Tapi kalau anda tidak pandai mengatur sikap, maka anda akan kehilangan salah satunya."
"Saya tak mengerti, Maria."
Maria menghela napasnya. Seandainya Abellard yang diasuhnya sejak kecil ini bukan seorang Comte, mungkin ia akan mengetuk kepala anak muda itu.
"Monsieur Comte, Mlle Gaulle tak akan bertahan jika anda hanya diam melihatnya hidup menderita seperti ini."
Mendengar itu, Abellard tersenyum. "Maria, aku tak bertindak bukan hanya karena terikat perjanjian dengan Mère. Aku sangat mengenal Naeva. Dia adalah gadis yang biasa mandiri. Dia akan merasa tersinggung jika aku menganggapnya lemah. Dia juga tak suka jika aku terlalu berlebihan menunjukkan cintaku. Dia akan menjauh dan langsung mengalihkan pembicaraan." Abellard kembali tersenyum mengingat wajah cantik Naeva yang merona setiap kali ia mengungkapkan cinta.
"Ya Tuhan Ma Comte!" Maria menepuk jidatnya sendiri saat mendengar penuturan anak muda di hadapannya.
"Tak ada perempuan yang tak suka diperhatikan. Semakin Anda berlebihan mencintainya, semakin melambung perasaannya. Mlle Gaulle itu sangat polos. Selama ini dia hidup terasing cuma bersama keluarga pelayannya, terang saja dia terkejut dan tak tahu caranya menanggapi cinta."
Abellard terpaku. Benar-benar terpaku. Sungguh ia tak menyangka seperti itu yang dirasakan Naeva.
"Ya Tuhan, kenapa aku tak berpikir seperti itu?" gumamnya cemas.
Maria menatapnya prihatin. "Tak perlu cemas, Monsieur Comte. Sangat wajar anda tak mengerti, karena perasaan wanita sangat sulit ditebak. Lagi pula dulu anda tak pernah peduli terhadap wanita. Dan sekarang, masih ada waktu untuk anda perbaiki."
"Ya, terimakasih Maria. Kau telah menyelamatkanku," ucap pria itu dengan mata yang menunjukkan semangat tinggi.
__ADS_1
***
"Ini saputanganmu," Naeva menyerahkan saputangan putih yang kini telah berhias corak kelopak bunga yang berwarna-warni, pada seorang gadis berwajah ramah di hadapannya.
"Aku telah menghiasinya sedikit, semoga kau menyukainya," ujar Naeva hati-hati, takut gadis itu tak menyukai hasil kreasinya.
Tapi ternyata gadis itu menatapnya dengan mata berbinar. Tangannya mengambil saputangan dan memperhatikannya dengan mulut terbuka.
"Oh Mon Deu! Ini ... ini indah sekali!" serunya antusias. Wajahnya yang ceria tampak begitu senang melihat wujud saputangannya yang sekarang.
Ternyata seruan si gadis terdengar di telinga beberapa pelayan lainnya dan menarik perhatian mereka. Hingga beberapa orang menghampiri.
"Bagaimana cara anda membuatnya?"
"Aku mewarnainya dengan bunga," Naeva tersenyum lega.
"Ya, ini bagus sekali," respon pelayan lainnya. Mereka berebut meminta izin melihat saputangan itu pada si gadis ceria.
"Saya sangat berterimakasih, Mlle Gaulle," gadis itu membungkukkan badannya penuh hormat. Lalu kembali berdiri tegak dan mengulurkan tangannya, "nama saya, Amily."
Naeva menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya hangat. "Nama yang sangat cocok untuk orang yang ceria sepertimu," pujinya tulus.
Tak disangka-sangka ternyata yang lain juga ikut memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan mereka. Sepertinya sambutan Naeva yang begitu hangat membuat mereka tertarik untuk mengakrabkan diri.
"Apa saputanganku yang berwarna abu-abu seperti ini juga bisa diwarnai?" salah seorang bertanya sembari memperlihatkan saputangannya.
"Tentu saja bisa. Kita bisa mewarnainya dengan kelopak bunga yang berwarna lebih dominan. Kalau kalian suka, datang saja ke kamarku. Aku akan menunjukkan pada kalian cara mewarnainya."
"Benarkah?"
"Ya, datanglah saat kalian memiliki waktu luang," jawab Naeva.
Beberapa pelayan yang lain tampak tertarik. Namun mereka masih enggan untuk mendekat. Naeva mengembangkan senyumannya. Tak apa jika mereka masih membenci. Sedikit demi sedikit ia akan menunjukkan pada mereka, bahwa dirinya bukanlah perempuan miskin yang sengaja menjerat tuan mereka demi menjadi seorang putri di kastil itu.
"Tidak perlu!" tiba-tiba seseorang mendorongnya kuat, hingga tubuhnya terhuyung dan terjatuh menabrak rak tinggi yang berisi toples-toples selai.
Toples itu berguncang dan terbalik. Salah satunya pun tumpah karena tutupnya yang longgar dan mengalir tepat di atas kepala Naeva.
Wanita yang mendorong Naeva itu tampak terkejut melihat hasil perbuatannya. Dia adalah wanita yang membawa makanan beracun untuk Naeva bersama Lucie. Wajahnya terlihat keras dan dingin.
"Kakak!" teriak Amily sembari balas mendorong perempuan itu.
"Jauhi adikku, Amily. Dan jauhi kami semua!" ketusnya, lalu cepat-cepat pergi.
Naeva menyapu selai yang mengalir di wajahnya sembari meringis karena merasakan sakit pada bagian belakang kepalanya. Namun sialnya, selai itu malah mengenai mata. Gadis itu menutup matanya yang terasa perih.
Ya, Tuhan ... Kenapa miris sekali nasibnya? Naeva merasa dadanya sesak. Ini ... sungguh menyedihkan.
"Apa yang kalian lakukan?!"
Tiba-tiba sebuah suara bariton menggelar di ruangan itu. Tanpa harus membuka mata pun, ia tahu itu suara Abellard.
Ah ... Naeva benar-benar ingin menangis sekarang. Akhirnya Abellard datang disaat ia membutuhkan. Haru dan sedih menggelegak jadi satu di dalam hatinya.
__ADS_1
Dan saat sebuah tangan kekar mengangkat tubuhnya, Naeva langsung berlindung di dada yang bidang itu.