Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 57


__ADS_3

Bab 57


Lima menit kemudian, seorang pelayan datang membawa gadis yang berulangtahun ke dapur, membuat Naeva mendapatkan celah untuk menghindari gombalan Abellard yang membuat hatinya ketar-ketir.


Gadis itu ditutup matanya dengan sepotong kain. "Sora?" gumamnya. Ternyata gadis kurus dan penakut itu yang berulangtahun hari ini.


Sora dibawa ke hadapan kue ulangtahun dan dibuka penutup matanya setelah hitungan ketiga. Gadis kurus itu membuka mata perlahan dan langsung menutup mulut yang sontak terbuka karena takjubnya. Sebuah kue ulangtahun, hadiah dan masakan-masakan spesial terhidang di hadapannya.


"Terimakasih ... semuanya," ucapnya terharu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jangan berterimakasih dulu. Kami masih ada kejutan lain untukmu, kau pasti akan merasa berhutang budi pada kami semua setelah melihatnya," sela seorang pelayan senior dengan gurauan.


"Benarkah? Ada kejutan lainnya? Apa itu?" Sora tampak sangat penasaran.


"Kalau kau ingin tahu, pejamkan matamu dulu."


Gadis belia itu langsung memejamkan matanya, dengan bibir yang tak henti tersenyum.


Pelayan senior itu memutar pundak Sora hingga berhadapan dengan Naeva dan Abellard. "Nah, buka matamu sekarang," instruksinya.


Kali ini Sora membuka matanya dengan cepat, hatinya benar-benar sudah tak sabar. Dan sebuah pekikan terdengar dari mulut gadis itu.


"Ya Tuhan!" teriaknya takjub. Lalu spontan berjingkrak-jingkrak saking girangnya.


Naeva bangun dari kursinya dan menghampiri dengan bibir tersenyum.


Sadar dengan sikapnya yang di luar kendali di hadapan sang idola, Sora langsung berbalik dan menutup wajahnya. "Kenapa kalian tidak memberitahu bahwa Mlle Gaulle akan datang?" bisiknya pada teman-temannya.


"Bukan kejutan namanya kalau kami memberitahu. Mlle Gaulle juga telah datang sejak pagi untuk menyiapkan acara ini," jawab temannya.


"Waa ... benarkah?" pekik Sora masih dengan suara berbisik.


"Apa kau lebih memilih membicarakanku daripada berbincang denganku?" tanya Naeva di belakangnya.


Sora langsung berbalik dengan wajah tersipu. "Terimakasih sudah datang dan menyiapkan ini semua, M'mselle," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku hanya membantu teman-teman yang lain menyiapkannya. Selamat ulangtahun, Sora. Semoga kau berkembang menjadi gadis yang hebat."


Sora benar-benar terharu. Ia sangat mengidolakan Naeva. Ingin menjadi seperti gadis dari Kastil Wisteria itu. Berani, hangat dan rendah hati.


"Hey, jangan menangis," hibur Naeva saat melihat mata Sora yang berkaca-kaca. "Kita akan mensyukuri usiamu ini dengan senyuman." Naeva meraih tangan Sora dan menggenggamnya.


Sora mengangguk dan mengerjap-ngerjap sesaat. Bibirnya kemudian tersenyum. "Saya sangat senang M'mselle."


Abellard melihat mereka dengan senyuman. Ternyata wanita yang dipilihnya ini mudah sekali untuk dicintai semua orang. Ia semakin kagum pada gadis pemilik senyuman hangat itu. Rasanya ia akan terus jatuh cinta dan jatuh cinta lagi pada Naeva.


Sang Comte kemudian bangkit dari kursinya dan ikut menghampiri. Berdiri tegak di samping Naeva dengan sikap tegas dan kaku. Seperti sikapnya biasa jika berhadapan dengan orang lain.


"Apa kau tidak senang melihat kedatanganku?" tanya pria itu pada Sora.


Naeva menoleh dan sontak menahan senyum. Abellard sepertinya mulai ingin beramah-tamah walau sikapnya masih harus dikondisikan.


Sora langsung mengangguk panik. "Sa-saya senang, Monsieur Comte. Ten-tentu saja sangat senang," jawabnya tergagap. Masih terbayang di memorinya bagaimana menakutkan sang Comte kala persidangan di aula tempo hari.


Abellard tersenyum dalam hati. Matanya melirik Naeva, seolah mengatakan bahwa dirinya juga diidolakan para pelayan.


Melihat ekspresi sang Comte, Naeva semakin merasa geli. Andai sang Comte tahu bahwa sebenarnya saat ini tangan Sora menggenggam erat seperti orang ketakutan.


Acara ulangtahun tahun Sora kemudian berjalan heboh dan penuh keharuan.

__ADS_1


Kue sus yang berada di puncak menara kue itu biasanya akan diberikan oleh yang berulangtahun untuk orang yang paling spesial, seperti halnya potongan pertama dalam kue tart. Dan Sora tentu saja memberikannya untuk Naeva.


Naeva menyambutnya haru. Walaupun sebenarnya ingin Sora memberikannya untuk sang Comte, agar tercipta keakraban antara Tuan dengan para pelayannya itu. Namun sepertinya masih terlalu dini untuk meyakinkan mereka bahwa sebenarnya Abellard adalah Tuan yang baik hati. Apalagi Sora adalah gadis yang penakut.


***


Sore hari, tiba waktunya untuk Naeva bersiap menemani Comtesse menemui Monsieur Simon. Gadis itu tak mengganti gaunnya, masih dengan gaun ungu yang dipakainya untuk menghadiri acara ulangtahun Sora.


Sejak beberapa hari ini, ia sengaja hemat memakai baju, karena Amily dan Sora selalu datang mengambil pakaian kotornya untuk mereka cuci.


Gadis itu hanya merapikan rambut dan segera turun dari kamarnya menuju bangunan utama kastil.


Buk!


Ia menabrak seseorang saat menuruni tangga dengan cepat, karena tatapan hanya fokus pada anak tangga yang dipijaknya.


"Aw!" pekiknya terkejut. "Kau mengagetkanku, Marc!" serunya sembari memegang dahi yang terbentur dada bidang orang yang menabraknya.


Tanpa harus melihat, Naeva langsung mengetahui bahwa orang itu adalah Marc. Seolah alam bawah sadarnya pun sudah sangat menghafal sosok Marc dan aromanya.


Marc tersenyum hangat.


"Anda mau kemana, M'mselle?"


"Aku ingin menemui Comtesse."


"Comtesse? Buat apa? Apa masih ada orang yang mengganggu Anda?!" Marc langsung memasang kuda-kuda, bersiap membela nona-nya.


"Tidak, Marc. Comtesse sekarang sedikit ramah padaku. Dia memintaku menemaninya menemui tamu penting. Kau sendiri pergi kemana sejak semalam?"


"Saya ... saya sedang bersama Amily." jawab Marc. Matanya memperhatikan wajah sang nona dengan seksama, berharap raut cemburu muncul di wajah cantik itu. Tapi harapan Marc tidak terkabul, karena Naeva kemudian malah bertanya dengan raut takjub dan penuh semangat.


Marc meneguk salivanya dengan hati kecewa. Entah kenapa ia masih mengharapkan perasaan lebih dari sang nona. "Ya, M'mselle. Karena Amily meminta saya untuk mencari tahu wanita mana yang menaruh racun dalam makanan Anda."


"Oh ...." wajah Naeva langsung berubah serius dan tegang. "Dan siapa yang kau temukan?"


"Amily mengatakan kalau perempuan itu bernama Lady Angelia, tamu Comtesse dari Inggris."


"Ya, akhirnya jelas sudah. Perempuan itu memang pelakunya."


"Apa yang harus kita lakukan untuk mengungkapkan kejahatannya, M'mselle?"


Naeva terdiam dan tampak berpikir dengan kening mengernyit dalam. Namun kemudian ia teringat janjinya dengan Comtesse, dan gadis itu tak ingin terlambat.


"Marc, aku harus menemui Comtesse lebih dulu. nanti kita akan membahasnya lagi."


"Baiklah, M'mselle. Berhati-hatilah," jawab Marc khawatir.


Naeva mengangguk dan bergegas turun.


Monsieur Simon ternyata telah hadir dan sedang berbincang dengan Abellard dan juga Mme Aamber di ruang duduk. Naeva segera menghampiri dengan hati was-was. Ia telah terlambat. Semoga saja Comtesse tidak marah dan memusuhinya kembali.


Namun sialnya, kaki yang melangkah tergesa itu terpeleset. Membuat tubuhnya oleng dan ....


Bruk!


Naeva terjatuh di lantai marmer yang keras dengan siku yang lebih dulu menghantam lantai saat refleks menahan tubuh.


"Aw!" teriak gadis itu.

__ADS_1


Abellard, Mme Aamber dan Monsieur Simon langsung menoleh. Dan secepat kilat kedua pria itu berlari menghampiri Naeva.


"Kau tidak apa-apa?" tanya keduanya bersamaan.


"Aku tidak apa-apa," jawab Naeva cepat.


Dengan wajah memerah malu, gadis itu merapikan gaunnya dan berusaha bangkit sendiri.


"Tapi kita harus memeriksa siku Anda, M'mselle," tegas Monsieur Simon.


Naeva berusaha tersenyum menanggapi perhatian pria itu. "Saya rasa siku saya tidak apa-apa," jawabnya sembari meringis.


Reaksi Naeva tentu saja membuat Monsieur Simon tak bisa tinggal diam. Pria itu meraih lengan Naeva dengan lembut namun tegas. "Tidak ada salahnya jika kita periksa, M'mselle."


Melihat itu, Abellard tentu saja merasa kesal. Tangannya langsung menepis tangan Monsieur Simon dari lengan Naeva. "Mlle Gaulle sudah mengatakan bahwa dia baik-baik saja? Apa anda tidak mendengar?"


Monsieur Simon menatap Abellard sesaat. Rautnya tampak seperti bingung sekaligus tak habis pikir melihat sikap sang Comte. "Tidak ada wanita yang benar-benar baik-baik saja jika meringis kesakitan, walau dia mengatakan seperti itu, Monsieur Comte."


"Anda tidak mengenal Naeva, Monsieur. Saya yang sangat mengenalnya," sinis Abellard.


Monsieur Simon menghela napas. "Baiklah, kalau begitu. Duduklah dulu, M'mselle," ujar pria berjambang itu mengalah.


"Terimakasih, Monsieur. Sungguh, saya baik-baik saja," jawab Naeva sembari melirik Mme Aamber dengan raut khawatir. Khawatir jika sang Comtesse merasa rapat bisnisnya terganggu dengan insiden itu. Gadis itu berusaha menahan rasa ngilu di kedua sikunya.


Sementara itu Abellard menatap Monsieur Simon penuh penekanan. Menunjukkan pada pria itu bahwa hanya dirinya yang mengerti Naeva. Dan pria itu tak boleh mencari perhatian dari kekasihnya.


Rapat itu pun diteruskan. Suasana mulai kembali normal. Monsieur Simon orang yang sangat pintar mencairkan suasana. Naeva bahkan begitu bersemangat menanggapi setiap obrolan pengusaha lajang berusia 40 tahun itu.


"Pilihan ini sangat bagus untuk dibisniskan, Ma'am," pujinya sembari memperhatikan kertas berilustrasi gambar batu-batu mulia yang digelar Mme Aamber di atas meja ruang duduk itu.


"Saya membahasnya bersama Mlle Gaulle, Monsieur," terang Mme Aamber apa adanya.


Monsieur Simon mengangkat wajahnya sejenak dan tersenyum lebar. "Sudah saya bilang, Ma'am, anda memiliki orang yang akan menjadi penasihat kompeten untuk bisnis ini," sanjungnya lagi sembari memperhatikan kembali gambar batu mulia yang telah ditandai oleh Mme Aamber.


Mata Monsieur Simon yang tajam itu meneliti gambar di hadapannya dengan serius, namun raut wajahnya tampak tak tenang. Sesekali kembali melirik Naeva. Gadis itu masih menahan sakit.


Abellard menangkap lirikan samar itu. Kesal hatinya melihat pria tua itu tak menyadari usia.


Setelah membahas semua poin-poin penting untuk bisnis kolaborasi mereka, Monsieur Simon langsung undur diri karena harus mengurus kepentingan pabrik-pabriknya yang lain.


"Sayang sekali, harusnya kita makan malam bersama dulu, Monsieur," Mme Aamber menyayangkan ketergesaan partner bisnis barunya.


Monsieur Simon merogoh ke dalam saku tuksedo, mengambil jam saku berbentuk bundar dengan rantai emasnya, dan membuka penutupnya.


"Saya juga sangat menyesalkan halangan ini, Ma'am. Kalau bisa, saya pasti akan memilih makan malam bersama di sini. Tapi ini sudah sangat terlambat, saya harus profesional dan adil terhadap pekerjaan lain yang telah menanti," sesalnya.


Namun sebelum pergi, pria itu kembali memperhatikan Naeva. "Jangan lupa memeriksakan siku Anda nanti, M'mselle."


Naeva mengangguk hormat dan penuh terimakasih. Ia bisa merasakan perhatian pria itu sejak tadi, perhatian tulus yang tidak mengandung maksud tertentu. "Baik, Monsieur. Saya tidak akan lupa," jawabnya.


Abellard sengaja mengantarkan Monsieur Simon sampai keluar. Ia berencana untuk menjelaskan masalah cintanya pada Naeva dengan gentle agar pria itu tak lagi berharap dan menebar pesona.


"Saya ingin menjelaskan sesuatu pada Anda, Monsieur," tegasnya.


Monsieur Simon menghentikan langkahnya dan diam sejenak. Beberapa menit kemudian terdengar suara helaan napas berat yang dihembuskan.


"Maaf, Monsieur Comte. Lebih baik kita berbincang di lain waktu."


"Saya tidak akan lama," Abellard bersikeras.

__ADS_1


Monsieur Simon memutar tubuhnya menghadap Abellard. "Anda salah paham, Monsieur Comte. Tak ada yang perlu dirisaukan dari saya dengan Mlle Gaulle. Anda hanya perlu tahu, wanita itu adalah makhluk yang paling sensitif, makanya Tuhan memberikan mereka hati yang sangat luas, untuk menampung dan menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya. Sebagai pria kita harus lebih peka, tak ada wanita yang tak ingin dilindungi sekalipun dia adalah wanita yang kuat. Dan tak ada wanita yang tak suka diperhatikan sekalipun dia bukan wanita yang lemah."


__ADS_2