Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 70


__ADS_3

Naeva keluar dari karavan Phuri Dai dengan tubuh segar. Rambutnya pun sudah kepang rapi kembali. Ia melihat Abellard masih meringkuk di atas meja kayu panjang dengan bergelung selimut linen bermotif bunga. Meja itu diturunkan dari karavan ketiga yang berukuran lebih besar dari karavan lain.


Naeva tersenyum melihat wajah tampan yang terlelap itu. Tampak polos seperti bayi. Gadis itu berjalan menghampiri dan berjongkok di hadapannya. Memperhatikan wajah yang telah menggodanya semalam. Abellard memang seperti bayi, menggemaskan dan keras kepala.


"Abellard, bangunlah. Sudah pagi," panggilnya pelan.


Namun Abellard tidak membuka matanya.


"Hey, Monsieur Comte Abellard de Marseille, buka matamu. Ini sudah pagi," ulangnya lebih keras.


Tapi sepertinya sang Comte benar-benar tenggelam dalam mimpinya. Alis yang tebal itu tertata dengan rapi, bibirnya yang menawan tertutup dengan bentuk yang sempurna.


Naeva tiba-tiba mendapatkan ide untuk menjahilinya. Sembari tersenyum jahil, gadis itu mencabut sehelai rumput dari sisi kakinya untuk menggelitik wajah sempurna itu.


Namun sebelum ujung rumput menyentuh kulit pria itu, tiba-tiba tangannya ditangkap dengan gerakan cepat.


Tap!


"Aku tak akan membuka mata sebelum ada kecupan selamat pagi," ujar Abellard dengan suara yang serak. Suara khas pria saat baru bangun tidur.


Pria itu menggenggam tangannya dengan mata yang masih tertutup.


Naeva tercekat sesaat, lalu cepat-cepat menarik tangannya sembari bangkit berdiri.


"Ka-karena kau telah bangun, a-aku akan menjenguk cucunya Phuri Dai," kilahnya tergagap. Lalu bergegas melangkah ke karavan putri Phuri Dai.


Abellard membuka matanya. Lalu tersenyum menatap Naeva yang buru-buru meninggalkannya. Ia sangat suka melihat Naeva salah tingkah dan tersipu malu seperti itu.


*


Di teras karavan ketiga, duduk putri Phuri Dai menyusui bayinya. Naeva langsung menghampiri dengan antusias.


"Selamat pagi, M'mselle," sapa ibu muda itu dengan senyuman hangat.


"Selamat pagi," balas Naeva, namun matanya tertuju pada bayi dalam gendongan. Sudah tak sabar ingin melihat makhluk kecil nan imut itu. "Apa bayinya sedang tidur?"


"Tidak, dia sudah bangun sejak pagi. Menangis meminta ASI."


"Wah, dia benar-benar pengembara sejati. Siap bangun pagi dan melanjutkan perjalanan lagi," gurau Naeva sembari tertawa pelan.


Putri Phuri Dai juga ikut tertawa mendengarnya.


"Apa Anda mau menggendongnya?" tawar wanita itu, memahami ketertarikan Naeva terhadap bayinya.


"Ya, saya sangat ingin menggendongnya jika Anda mengizinkan."


"Tentu saja, M'mselle. Silakan ...." Putri Phuri Dai mengangkat bayinya dan memberikan pada Naeva yang berdiri di bawah. Gadis itu menyambut bayi yang masih dibalut dengan selimut tebal itu dan menimangnya penuh kasih. Naeva memang tak tahu cara menggendong bayi yang benar. Ia hanya mengikuti instingnya sebagai seorang perempuan.


Ibu si bayi kemudian turun dari teras karavan. Lalu meraih tangan kiri bayinya yang tampak tenang dalam gendongan Naeva. Wanita itu membuka gelang dari manik-manik cantik yang dipakai bayinya.


"Bolehkah saya memakaikannya di rambut Anda?" tanya wanita itu.


Naeva tidak mengerti dengan maksudnya, namun gadis itu mengangguk juga.


Putri Phuri Dai melangkah ke belakang Naeva dan mengikatkan gelang yang dibuat dengan tali elastis itu di ujung kepangan rambut gadis itu.


"Ini adalah gelang yang mengandung berkah, M'mselle. Ini akan melindungi Anda," jelasnya.


"Lalu bagaimana dengan bayinya?"


"Dia memiliki gelang berkah yang lain." Putri Phuri Dai tersenyum hangat.


"Terimakasih, aku sangat senang menerimanya. Anda sangat baik," ucapnya terharu. Bukan karena kehebatan gelang yang ia terima.


Tapi karena niat baik putri Phuri Dai dan perhatiannya.


Setelah berpamitan pada semua orang, akhirnya Naeva dan Abellard melanjutkan perjalanan ke arah yang berbeda dengan tujuan keluarga gipsi itu. Mereka berpisah dan bergerak menuju tujuan masing-masing. Namun kenangan indah yang tercipta dalam waktu semalam itu tak akan pernah mereka lupakan.

__ADS_1


Kuda hitam Abellard melangkah pelan menyusuri jalan yang akan menuju ke pedesaan.


"Melihatmu menggendong bayi itu tadi, membuatku tak sabar," ujar Abellard.


"Tidak sabar?"


"Hm, tidak sabar untuk melihatmu menggendong bayi kita."


"Kau selalu menggodaku," sungut Naeva.


"Aku tidak menggoda. Aku memang ingin cepat-cepat menikahimu."


Naeva terdiam. Cita-citanya juga sama, hidup bahagia bersama Abellard. Tapi mungkin rintangan yang mereka hadapi masih terlalu besar.


Dua jam perjalanan, akhirnya mereka melihat sebuah pedesaan. Rumah-rumah kayu yang berjarak sekitar 10 meter satu sama lain di hadapan mereka terlihat asri. Tumbuhan sayur dan bunga di halaman-halaman rumah membuat desa itu terasa sejuk dan menenangkan.


Beberapa wanita tampak membersihkan kebun kecil mereka, dengan anak-anak yang masih balita berlarian di sekitarnya.


"Aku akan bertanya pada salah seorang wanita itu," ujar Abellard. Lalu mengajak Naeva turun dari punggung kuda dan menghampiri salah satu rumah.


"Bonjour, Madame ...." sapa Naeva ramah.


Wanita yang berada di halaman rumah memperhatikan tamu tak diundang itu dengan raut bingung. Mencoba menerka siapa pemuda tampan dan gadis cantik yang berdiri di luar pintu pagarnya.


"Bonjour ... ada perlu dengan siapa?" jawabnya ragu.


"Kami ingin menumpang tanya, Ma'am," jawab Naeva. "Desa Beausoleil, apakah masih jauh dari sini?"


Wanita bergaun sederhana yang bernoda tanah itu tampak berpikir sesaat. "Beausoleil bukan sebuah desa. Itu nama peternakan kambing hitam," jawabnya kemudian.


"Oh, peternakan?"


"Ya."


Naeva dan Abellard saling berpandangan. Ternyata alamat yang diberikan Amily adalah alamat peternakan. Dan sepertinya tujuan mereka tidak jauh lagi.


"Ya, kalian berjalan lurus saja. Sekitar satu jam perjalanan dari sini, kalian akan menemukan tempat yang terang dan disinari penuh oleh matahari. Seperti namanya, Beausoleil." Jelas wanita itu. (Beausoleil: matahari yang indah, tempat yang cerah)


"Baik, Ma'am. Terimakasih atas bantuan Anda. Kami akan melanjutkan perjalanan." Naeva membungkukkan badannya sembari tersenyum.


Keduanya kemudian menaiki kuda mereka kembali dan menyusuri jalan desa yang lurus itu seperti instruksi wanita tadi. Belum jauh mereka pergi, Naeva mendengar tetangga wanita itu bertanya dengan suara keras.


"Apa mereka pembeli kambing hitam dari kota?!"


"Entahlah, tapi sepertinya bukan. Mana mungkin muda-mudi dari kota berurusan dengan kambing!" jawab wanita tadi.


Naeva tersenyum geli. Wanita-wanita itu tidak peduli orang yang sedang mereka bicarakan masih bisa mendengarnya.


Jika harus menjawab, ia akan mengatakan tujuan mereka bukan hendak membeli kambing hitam, melainkan menjemput orang yang dikambinghitamkan.


Satu jam perjalanan dengan kecepatan sedang, akhirnya mereka melihat sebuah Padang rumput yang sangat luas. Seperti kata wanita tadi, tempat itu memang disinari penuh oleh matahari. Benar-benar indah, hijau rumput yang segar berpadu dengan warna cahaya mentari yang keemasan.


Beratus-ratus ekor kambing hitam tampak merumput di tengah padang.


Abellard melambatkan laju kudanya. Dan melihat sebuah bangunan peternakan yang besar di tepi padang rumput.


"Kita akan bertanya pada peternak di mana rumah Amily."


"Aku setuju," jawab Naeva sembari menatap ke arah Padang rumput dengan alis bertaut. Ia benar-benar heran melihat kambing di sana, tak ada satupun yang berwarna lain selain hitam pekat.


"Kenapa mereka hanya memelihara kambing yang berwarna hitam?" tanya gadis itu.


"Sepertinya hitam itu adalah jenisnya. Jenis kambing hitam," jawab Abellard.


Naeva manggut-manggut.


Lalu ikut menatap kearah bangunan peternakan.

__ADS_1


Ketika mereka semakin mendekat, tiba-tiba dari pintu kandang yang besar itu keluar seseorang dengan posisi tersungkur. Sepertinya orang itu di dorong dari dalam.


"Astaghfirullah! Apa yang terjadi di sana?!" seru Naeva kaget.


"Sepertinya ada pertikaian. Kita lebih baik turun di sini untuk memantau keadaan," jawab Abellard dengan suara yang dipelankan.


Seorang laki-laki bertubuh gemuk muncul dari dalam dengan raut marah dan cacian yang keluar dari mulutnya.


"Laki-laki itu menganiaya seorang perempuan, kita harus menolongnya, Abellard!" seru Naeva. Walau wajahnya belum terlihat, tapi Naeva yakin itu perempuan.


Pria gemuk yang memakai baju kodok khas peternak dan topi koboi itu kemudian menjambak rambut wanita yang masih tengkurap di lantai itu dengan kasar.


Tangan Abellard seketika terkepal melihatnya. "Baik, ayo kita peringatkan lelaki bang*sat itu!" geram sang Comte yang memang tak bisa melihat penganiayaan terhadap perempuan.


Pria itu kemudian memacu kuda hitamnya. Hingga berderap cepat menghampiri kandang ternak itu.


Begitu sampai, Abellard langsung meloncat dari kudanya.


Pria gemuk itu tampak terkejut dan melepaskan jambakannya.


"Ada apa ini, Monsieur?! Kenapa Anda menyiksa seorang wanita?!" bentak Abellard murka.


Naeva cepat-cepat ikut turun dan berdiri di samping Abellard.


"Ini urusanku!" ketus pria itu dengan mendelik kan matanya. "Kalian ini siapa?! Datang dan menginjak tanah peternakanku?!"


"Kami orang yang akan melaporkan Anda pada pihak hukum atas penganiayaan ini!" tegas Abellard.


Perempuan yang terjerembab di lantai itu perlahan mengangkat wajahnya yang tampak lebam.


Melihat itu tiba-tiba Naeva memekik.


"Ya Tuhan! Jean?!" serunya sembari menghampiri wanita yang ternyata adalah kakaknya Amily.


Abellard ikut melihat dan merasakan keterkejutan yang sama. Tak menyangka orang yang sedang mereka cari akan mereka temukan dalam keadaan naas seperti ini.


"Mlle Gaulle?" lirih Jean sembari berusaha bangkit.


Naeva langsung membantunya duduk.


"Kau ... kenapa bisa begini?" suara Naeva terdengar bergetar. Sungguh pemandangan ini membuatnya ngeri.


"Oh! Jadi kalian saling mengenal?" Pria gemuk yang kejam itu tiba-tiba bertanya. "Baguslah, akhirnya ada orang yang bisa ku tagih!"


"Aku akan membayarnya, Tuan ...." sela Jean lemah.


"Membayar katamu?! Dengan apa? Ayahmu telah menghilangkan 3 ekor kambingku! Dan hari ini kau tak becus menjaga ternakku sampai tenggelam di dalam sungai! Harusnya hari ini kau ku tenggelamkan ke dalam sumur!"


Abellard seketika meradang mendengar kata-kata kasar pria itu. Tanpa pikir panjang, kakinya melangkah menghampiri dan melayangkan tinjunya ke wajah bundar lelaki itu.


Buk!


Tinju sang Comte menghantam rahangnya. Membuat pria besar itu terhuyung dan jatuh ke lantai.


"Kau menyiksa wanita hanya karena tak becus menjaga ternakmu?! Sungguh otakmu sama seperti hewan peliharaanmu itu! Tak berakal!" murkanya.


Abellard kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan segepok uang. "Ini! Ambil uang ini dan pergunakan sebaik-baiknya. Karena peternakanmu ini akan segera gulung tikar!" geramnya sembari melempar uang kertas itu ke wajah berminyak pria itu.


Melihat itu, tiba-tiba Jean menangis. Wanita berhati baja itu benar-benar menangis. Meraung sejadi-jadinya sampai bahunya berguncang hebat.


Naeva terkejut melihatnya. Wanita berkepribadian keras itu tampak sangat menderita. Ia segera merengkuh tubuh yang sekarang terlihat lebih kurus itu dengan dada yang terasa sesak. Ratapan wanita yang biasanya bersikap dingin itu sungguh memilukan.


Naeva menggigit bibirnya kuat. Menahan pilu yang mendera hatinya.


Tempat itu sangat indah dan terang benderang, namun begitu kontras dengan kehidupan manusianya yang kelam dan suram.


***

__ADS_1


Sementara itu, di kastil Marseille, tampak Maria berlari tergopoh-gopoh menuju kamar Comte Abellard.


__ADS_2