Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 59


__ADS_3

Tok tok ....


Terdengar suara ketukan di pintu kamar. Naeva menegakkan punggungnya, apa itu Abellard yang kembali? Matanya memendar gelisah. Hasrat yang menggetarkan hati masih terasa hingga ujung jemari, haruskah ia melihat pria itu lagi?


Naeva menarik napasnya dalam-dalam. Turun perlahan dan menghampiri pintu. Jantungnya berdegup gelisah. Apa yang akan terjadi jika ia membuka pintu? Apa Abellard tak dapat menahan hasratnya lagi?


Gadis itu menggigit bibir bawahnya sembari menutup mata rapat-rapat. Hasrat itu memang masih menggebu, tapi bukan hal yang benar jika ia tak bisa menahannya.


Dengan memantapkan hati dan napas yang tertahan, tangan mulus itu bergerak membuka pintu. Dan napas yang tertahankan seketika keluar dengan lega saat mata Naeva melihat Amily dan Sora yang berdiri di sana.


"M'mselle, kami membawa barang-barang Anda atas permintaan Monsieur Comte," ujar Amily yang menjinjing tas besarnya.


Sora menimpali dengan senyuman lebar, "ya, M'mselle. Saya senang sekali, akhirnya Anda tidak tidur sendirian lagi di kamar menara itu," serunya.


Naeva mengangguk dan membuka pintu lebih lebar untuk kedua gadis itu. Rautnya masih ragu, haruskah ia tidur di kamar ini? Bagaimana kalau Comtesse tidak suka?


"M'mselle, apa bunga-bunga yang masih segar kami turunkan juga?"


"Tidak, biarkan saja di sana. Di sini sudah terlalu banyak barang," jawab Naeva sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.


Mainan-mainan klasik, lukisan-lukisan, dan beberapa senapan tertata rapi di kamar itu.


"Monsieur Comte bilang akan memindahkan semua barang masa kecilnya ini ke kamar lain, M'mselle."


"Jadi ini barang masa kecilnya?" tanya Naeva.


"Ya, sejak dulu tidak seorang pelayan pun yang diizinkan masuk ke dalam kamar ini, kamar masa kecil Monsieur Comte, kecuali Mme Maria, yang masuk untuk membersihkan," jawab Sora. "Anda sangat beruntung, M'mselle. Monsieur Comte bahkan meminta kami memindahkan barang-barang ini agar anda nyaman."


Kenapa Abellard melakukan itu? Apa pria itu masih melupakan masa lalunya, hingga ia melupakan barang-barang berharga di masa kecilnya ini?


Tidak, ia harus memperingatkan Abellard.


"Sekarang di mana Monsieur Comte?"


"Mungkin sedang di kamarnya, M'mselle."


"Baiklah, kalau begitu biarkan saja barang-barang itu di situ, jangan dirapikan dulu. Aku harus keluar menemuinya."


"Baik, M'mselle," Amily dan Sora segera ikut keluar.


"Terimakasih Amily, Sora," ucap Naeva sebelum mereka kembali ke belakang.


Gadis itu kemudian menoleh ke sebelah kirinya, dimana pintu kamar Abellard berada. Perasaannya kembali ragu. Pantaskah ia mengetuk pintu itu? Tapi ini masalah penting, bisa saja Comtesse segera mengusirnya jika mengetahui kamar bersejarah penting itu ia tiduri.


Perlahan tangan Naeva mengetuk pintu kamar Abellard. Hingga beberapa saat, pintu itu terbuka. Memperlihatkan Abellard dengan kemeja yang terbuka. Dada bidangnya terpampang jelas di hadapan mata Naeva.


Gadis itu terpaku sesaat, melihat pemandangan yang kembali menggetarkan hati. Lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya yang terasa panas.


Abellard tersenyum manis. Melihat pipi Naeva yang merona, sungguh mengundang tangannya untuk mencubit pipi itu dengan gemas. Namun pertahanan jiwa pria itu ternyata sangat kuat. Baginya menyentuh Naeva akan lebih indah setelah mereka menikah dan gadis itu pun benar-benar telah siap menerima sentuhannya.


"Ada apa?" tanya Abellard lembut.


"A-aku ingin membicarakan masalah kamar sebelah ini," jawab Naeva gugup. "Bukankah itu kamar masa kecilmu?"


"Masuklah dulu," Abellard membuka pintu kamarnya lebih lebar.


Naeva menatap ragu.


Abellard mengangkat sebelah alisnya dengan raut menggoda. "Jangan takut. Kau pernah masuk sekali dan keluar dalam keadaan selamat. "


Naeva kembali harus menyembunyikan wajahnya yang merona sembari melangkah masuk. Gadis itu mengikuti langkah Abellard yang menuju ke sofa dan duduk di hadapannya.


Namun kepalanya masih tertunduk. Bagaimana mungkin ia berani melihat dada yang terpampang jelas itu?

__ADS_1


Abellard yang mengerti dengan ekspresi Naeva, tersenyum lembut dan mengancingkan kembali kemejanya.


"Jadi kenapa dengan kamar itu?" Abellard menyimak sembari bersedekap dan memiringkan kepalanya.


"Itu kamar masa kecilmu, bukan? Apa kau melupakannya?" Naeva melirik dengan ujung matanya. Begitu melihat dada itu telah tertutup, wajahnya langsung terangkat. "Amily dan Sora mengatakan bahwa sejak dulu hanya Maria yang boleh memasukinya," sambungnya lancar.


"Aku tidak melupakannya," jawab pria itu. "Aku masih ingat setiap benda yang ada di sana dan apa sejarahnya."


"Lantas, kenapa sekarang kau ingin semua barang-barang berharga itu dipindahkan?"


"Agar kau nyaman. Semua itu hanyalah barang, Naeva. Sementara dirimu adalah belahan jiwaku."


"Tapi kamar itu dan barang-barangnya adalah bagian dari kenangan masa kecilmu. Aku bisa kembali ke kamar menara."


Wajah Abellard berubah serius mendengarnya, rahangnya pun tampak mengeras.


"Kamar menara akan ditempati Marc. Kau hanya boleh tidur di kamarku. Sekarang kau tinggal memilih, tidur di kamarku saat kecil atau kamarku yang sekarang?" tantangnya dengan tatapan mendominasi seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Naeva.


Naeva refleks mundur pada sandaran sofa dengan raut pucat. Membuat Abellard tambah semangat untuk menggoda.


"Kalau kau memilih kamar ini, maka aku akan bersedia mengunci pintunya sekarang juga." Bibir sang Comte yang menawan itu tampak tertarik samar. Menahan senyum dengan perasaan geli melihat ekspresi ketakutan Naeva.


"Ti-tidak. Aku akan tidur di kamar itu," sahut Naeva cepat sembari buru-buru bangkit dari sofa. "Aku keluar dulu." Gadis itu segera melangkah ke arah pintu.


Abellard langsung terkekeh melihatnya.


"Aku cuma bercanda, Sayang ...." panggilnya lembut.


Naeva menghentikan langkahnya dan menoleh. Pria itu masih terkekeh sembari memegang perutnya yang rata. Suara tawanya terdengar renyah dan mengundang senyuman orang yang mendengarnya.


"Kau mengerjai ku?" Naeva menyipitkan matanya.


"Kau lucu sekali Naeva. Aku jadi merasa seperti harimau yang sedang menakuti anak kelinci."


Mata biru laut itu tampak terpana sejenak. Lalu cepat mengerjap dan menatap ke arah lain. "Tidurlah di kamar itu, agar aku lebih mudah menjagamu," pintanya lembut.


Naeva kembali melihat jakun di leher yang tegas itu naik turun. Gadis itu segera mengangguk. Dan keluar dari kamar itu dengan jantung yang seketika berdebar.


Lima menit setelah Naeva keluar. Mme Aamber mengetuk pintu kamar putranya yang masih terbuka.


"Boleh Mère masuk, Ma Fils?" sapanya pelan.


Abellard sedang berdiri menghadap jendela kamarnya yang masih terbuka, menatap lautan di bawah cahaya senja yang mulai meredup ditutupi malam. Pria itu langsung berbalik mendengar suara ibunya.


"Ya, Mère. Masuk saja," jawabnya.


"Kau meminta Mlle Gaulle tidur di kamar kesayanganmu?"


"Ya, Mère. Karena dia gadis kesayanganku."


Mme Aamber tak menanggapi jawaban Abellard. "Masukkan saja barang-barang itu ke kamar Mère. Mère juga merindukan ayahmu dan masa kecilmu," usulnya kemudian.


Abellard menatap Mme Aamber tak percaya. "Rindu? Apa Mère benar-benar merasakannya?"


Mme Aamber tersenyum lirih. Wanita itu mengangkat gaunnya yang panjang dan melangkah ke arah lukisan seorang pria paruh baya yang duduk dengan sikap berwibawa. Matanya menatap lukisan itu getir. "Ya, walaupun Mère tidak mencintai ayahmu, tapi dia tetap ayah dari putra yang Mère sayangi, dan dia suami yang baik."


Abellard meneguk salivanya dengan perasaan sedih. Ia masih ingat saat-saat ibunya mengatakan sendiri padanya bahwa tak pernah ada cinta untuk sang ayah. Tapi Abellard masih tak mengingat dengan jelas apa yang terjadi selanjutnya.


Mme Aamber menghela napas.


"Lukisan ini ... bolehkah Mère memintanya?"


Abellard menatap ke arah lukisan yang sedang ditatap ibunya. Satu-satunya lukisan Sang ayah yang ia miliki. Comte de Marseille tua itu dikenal sangat menyukai hidup sederhana, sehingga tak banyak lukisan tentang dirinya yang tercipta.

__ADS_1


Abellard mengangguk.


"Apa kau tetap bersikeras untuk mencintai Mlle Gaulle?" tanya Mme Aamber tanpa berpaling dari lukisan suaminya. Seolah sedang mengajak pria dalam lukisan itu membahas masa depan putra mereka.


"Ya, aku akan mencintai Naeva sampai kapanpun."


"Mère tidak melarangmu mencintai seseorang. Tapi untuk pernikahan yang telah direncanakan, Mère tak bisa membatalkan." Wanita itu melangkah kembali ke pintu. "Berjuanglah sendiri untuk cintamu. Asal jangan mempermalukan keluarga kita," ujarnya sebelum keluar.


Ucapan Mme Aamber itu benar-benar bagaikan keajaiban yang datang secara mengejutkan dan tiba-tiba. Ucapan yang mengandung restu yang tersembunyi dari ibunya.


Abellard terpaku sejenak saking tak percaya dengan pendengarannya. Sejurus kemudian hatinya melonjak penuh kegembiraan.


"Terimakasih Tuhan!" teriaknya sembari menengadah. Tangan terkepal, bibir tersenyum penuh semangat dan hati menggebu tiada tara. Sungguh ia bahagia.


***


Pagi menjelang.


Abellard bangkit dari mimpi indahnya, menuju kenyataan yang lebih indah baginya sekarang.


Setelah membersihkan diri dan berpakaian segagah mungkin, pria itu berencana untuk mengantarkan lukisan ayahnya ke kamar sang Comtesse. Namun sebelumnya, ia akan melakukan sesuatu.


Pria itu keluar dari kamarnya dan melangkah menuju pintu kamar sebelahnya dengan langkah perlahan, berusaha meminimalisir bunyi sepatunya di lantai. Lalu menempelkan telinganya di daun pintu.


Tak ada suara apa-apa di dalam. Abellard tersenyum manis. Beruntung ia bangun lebih awal, Naeva sepertinya masih terlelap dalam mimpi. Karena ini memang masih terlalu pagi.


Kakinya yang panjang kemudian melangkah ke dapur.


Ruangan itu ternyata sudah mulai di hiasi kesibukan beberapa pelayan senior. Mereka adalah tukang masak pilihan yang akan membuatkan ramuan khusus untuk Comtesse sebelum sarapan.


"Monsieur Comte?!" seru mereka terkejut.


Abellard langsung menempatkan jari telunjuknya di depan bibir. "Sst, jangan ribut-ribut. Aku hanya ingin mengerjakan sesuatu," ujarnya dengan senyuman misterius.


Sementara itu, di kamar yang telah sepenuhnya di rombak oleh para pelayan menjadi seperti kamar seorang putri, Naeva membuka kelopak matanya yang berbulu lentik itu.


Netra coklat terangnya langsung menatap lampu hias mewah yang tergantung di langit-langit kamar.


Tatapannya kemudian mengedar ke sekeliling. Pada sofa berbalut kain beludru putih dan pada lukisan-lukisan cantik yang baru di pasang semalam oleh para pelayan sembari bercengkerama dengannya. Sementara barang-barang masa kecil Abellard dibawa entah kemana.


Gadis itu tercenung. Apa yang akan dilakukannya hari ini? Apa ia juga harus sarapan bersama di meja makan yang panjang dan mewah itu? Rasanya sama sekali tak nyaman. Semalam ia sampai meminta Amily dan Sora mengajaknya sarapan di dapur sebelum Abellard memintanya sarapan di meja itu.


Naeva turun dari tempat tidurnya dengan gaun tidur berwarna krem lembut dan rambut coklat tuanya yang di gerai. Melangkah ke arah pintu dan membukanya sejenak. Kepalanya kemudian melongok keluar, tak ada orang sama sekali. Mungkin Amily dan Sora bahkan belum ke dapur.


Gadis itu menutup kembali pintunya.


Lalu melangkah ke jendela yang berukuran dua kali lipat lebih besar dari jendela kamarnya di Menara Selatan.


Tangan halus itu bergerak mendorong daun jendela dari kayu itu perlahan. Cahaya fajar memendar dari ufuk timur, menyinari wajahnya yang berkilauan dan menyenangkan.


Tok tok ....


Pintu kamarnya diketuk. Naeva menoleh dan tersenyum. Akhirnya Amily dan Sora datang, bahkan lebih cepat dari yang ia harapkan.


"Masuklah," pintanya.


Pintu terbuka. Dan yang muncul ternyata adalah Abellard. Pria itu membawa nampan berisi makanan di tangan kanan dan seikat bunga mawar merah di tangan kirinya.


Abellard tersenyum manis sembari fokus menyeimbangkan piring dan gelas di dalam nampan. Dan saat melihat kedalam, mata sebiru samudera itu seketika terpesona. Melihat indahnya makhluk cantik dengan rambut tergerai dan melambai ditiup angin laut dari jendela.


Keduanya terpaku.


***

__ADS_1


Maaf semuanya sayang-sayangku. Author nggak up kemarin. Selesai ngerawat anak-anak sama suami yang estafet terserang demam, sekarang giliran emak yang tumbang. Ngeliat layar ponsel langsung pusing rasanya. Jadi hari ini baru bisa nyapa kamu semua lewat bab ini. Maaf untuk semua yang sudah nyapa di kolom komentar tapi belum saya balas ya .... Love you all ❤️


__ADS_2