Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 28


__ADS_3

Naeva tampak gelisah di dalam kamar menara itu sendirian. Duduk di tepi ranjang dengan jemari saling meremas. Memikirkan bagaimana penilaian Abellard terhadap sikapnya tadi yang memilih duduk di samping Alfred.


Ia takut Abellard akan salah paham lagi. Pria itu tak pernah berpikir panjang. Selalu blak-blakan, antusias dan sedikit kekanak-kanakan.


Naeva merasa harus menjelaskan maksudnya menghindar di ruang duduk tadi.


Gadis itu segera menuju pintu. Ia akan mencari Abellard di kamar bawah. Semoga pria itu telah berada di sana.


Namun langkahnya tiba-tiba berhenti. Lalu berbalik kembali dan melangkah ke arah cermin. Cermin besar yang terbingkai baja berukir dengan warna emas.


Ia berdiri di hadapan cermin itu sesaat, tanpa melakukan apa-apa. Kepalanya tertunduk dengan raut ragu-ragu. Entah kenapa ia merasa ingin memperbaiki penampilan sebelum bertemu dengan Abellard. Namun perasaan itu membuatnya malu. Apa tidak aneh jika memperbaiki penampilannya sekarang? Padahal saat di Kastil Wisteria, pria itu bahkan telah melihat penampilan terburuknya sekalipun.


Naeva menggigit bibirnya.


Mungkin tak ada salahnya ia sekali-kali berpenampilan rapi.


Dengan gugup, Naeva mengambil


sisirnya dan merapikan rambut coklat tuanya yang masih terkepang. Ia juga mengambil jepitan mutiara dari dalam kotak perhiasan milik Almarhumah ibunya yang diantarkan Anne. Lalu ia pasangkan di rambut.


Gadis itu kemudian berdiri tegak. Mencoba menilai penampilannya sendiri. Memang tak secantik Lady Angelia yang bagaikan wujud seorang peri dengan perhiasan berlian yang gemilang dan elegan. Namun penampilannya sendiri rasanya tak terlalu buruk. Jepitan mutiara itu paling manis menurut Naeva. Emma mengatakan bahwa jepitan itu juga favorit ibunya.


Begitu tiba di hadapan pintu kamar bawah, gadis itu tampak mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum kemudian mengetuk pintu itu pelan.


Beberapa saat menunggu, Naeva kembali meremas jemarinya. Ia tak bisa mangkir, bahwa jantungnya kerap kali berdetak dengan ritme yang kacau saat hendak bertemu Abellard dalam situasi yang serius seperti ini.


Pintu itu kemudian terbuka.


Mata Naeva seketika membeliak, saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.


"Monsieur ... Lord Alfred?"


Pria itu menatap takjub. Matanya memerhatikan Naeva lamat-lamat. Lalu tersenyum.


"Rasanya lucu kalau kau memanggilku dengan sebutan Monsieur, sedangkan gelarku Lord. Lebih baik kau memanggilku dengan sebutan nama saja, Alfred."


Naeva tak terlalu mendengarkan perkataan Alfred. Pikirannya masih terfokus pada kenyataan bahwa ternyata bukan Abellard yang menempati kamar bawah.


"Ke-kenapa anda bisa ... di sini?"


Alfred memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sembari menatap wajah cantik yang terlihat bingung di hadapannya.


"Sebelum menjawabnya, aku ingin mengatakan terlebih dahulu bahwa kau sangat cantik saat ini." Alfred kemudian melangkah ke dalam, seolah mengundang Naeva untuk berbincang di dalam. "Aku akan tinggal di sini untuk beberapa hari. Dan kau, kenapa berada dalam menara yang gelap ini?"


"Saya ... tinggal di kamar atas," jawab Naeva, masih di depan pintu.

__ADS_1


Alfred berbalik. "Benarkah?" tanya laki-laki itu dengan ekspresi terkejut. Lalu tersenyum. "Kurasa kita memang berjodoh."


Naeva kembali merasa risih dengan sikap Alfred.


"Saya akan kembali ke kamar. Sampai bertemu lagi, Monsieur," Naeva membungkukkan badannya dan buru-buru pergi. Takut Alfred akan menanyakan maksudnya mengetuk pintu kamar itu. Ia tak tahu laki-laki itu masih memperhatikannya atau tidak, yang pasti ia belum mendengar suara pintu tertutup.


***


Angelia duduk termangu di sofa mewah itu seorang diri. Calon tunangannya dan saudara laki-lakinya telah pergi setelah terjadi perdebatan sengit di antara mereka. Masih terekam di kepalanya bagaimana protektif-nya Abellard terhadap perempuan bernama Naeva de Gaulle. Rasanya orang bodoh pun akan tau bahwa ada sesuatu di antara mereka.


"Hey! Kemarilah!" Angelia memanggil seorang gadis yang terlihat seperti seorang pelayan. Bajunya lusuh, namun perhiasannya sangat banyak. Angelia langsung menerka bahwa perhiasan itu semuanya palsu.


Perempuan bertompel yang tak lain adalah Lucie mendekat dengan wajah ragu.


"Kau memanggilku?"


Angelia mengernyit tak senang. Perempuan ini berbicara seolah dirinya adalah orang berpangkat tinggi. Sama sekali tak sopan.


"Ya, kau! Perhiasanmu banyak sekali." Angelia menatap sinis.


"Oh, sungguh?" Mata Lucie langsung membulat. "Terimakasih. Aku memang suka menyimpan perhiasan lama."


"Apa kau ingin memiliki perhiasan yang lebih bagus? Aku akan memberikannya kalau kau mau melakukan sesuatu untukku."


Mata Lucie semakin membesar. "Benarkah? Oh, kau sangat baik. Kau juga sangat cantik. Kau pasti tamunya bibiku."


"Ya, bibiku. Comtesse."


Mulut Angelia seketika menganga. Tak menyangka gadis buluk di hadapannya adalah keponakan Comtesse.


"Perkenalkan, namaku Lucie." Gadis itu mengulurkan tangannya dengan wajah sumringah. Tak banyak orang-orang dari kalangan atas yang mau menyapanya. Dan sapaan gadis cantik di hadapannya itu membuat hatinya senang.


Angelia memaksakan senyumnya, dan menerima uluran tangan itu dengan perasaan enggan.


"Lady Angelia."


Mata Lucie tambah berbinar takjub.


"Wah, kau putri dari Inggris?"


"Yah begitulah ... apa kau mengenal Mlle Gaulle?" Angelia langsung memotong pada masalah yang menjadi tujuannya.


Lucie tampak berpikir sesaat. "Ya, aku mengenalnya," jawabnya kemudian. "Dia adalah tamunya Comte. Dia mengatakan bahwa aku mirip dengan Louise!" Lucie mengenang ucapan Naeva dengan wajah senang.


"Louise?"

__ADS_1


"Ya, kembaranku. Dia sangat cantik. Dan Mlle Gaulle mengatakan kami sangat mirip."


Angelia belum pernah melihat kembaran Lucie itu. Namun ia merasa ini kesempatannya menjerat Lucie untuk menjadi pendukungnya.


"Mlle Gaulle salah. Kau lebih cantik daripada Louise. Aku bahkan sampai memanggilmu untuk berkenalan."


"Oh, benarkah?" Lucie berseru takjub sembari menutup mulutnya dengan tangan.


Angelia menahan rasa mualnya melihat sikap berlebihan dari gadis yang menurutnya bodoh itu.


"Apa kau mau membantuku? Aku ingin mengirimkan makanan sebagai tanda persahabatan untuk Mlle Gaulle. Aku takut Mlle Gaulle akan tersinggung jika hanya seorang pelayan yang mengantarkannya."


"Begitukah? Apa Mlle Gaulle itu orang yang sombong?"


"Ya, seperti itulah."


"Kau sangat baik Lady, aku akan membantumu."


Angelia tersenyum puas.


"Baiklah, seorang pelayan akan memanggil mu jika makanannya sudah siap diantarkan. Tapi jangan katakan makanan itu dariku, aku tak ingin dikira suka mencari muka. Kau bisa mengatakan makanan itu dari Comtesse, agar Mlle Gaulle mau memakannya."


Lucie menatap Angelia dengan tatapan prihatin. "Aku mengerti, Lady. Sangat mengerti. Karena aku juga sering dituduh suka mencari muka oleh Louise."


Angelia menyeringai senang. Ia telah memiliki satu satu pion untuk saat ini.


**


Marc bergegas masuk ke dalam kastil dengan tergesa. Ia baru saja pulang dari perjalanan jauh, dan mendengar kabar bahwa nona-nya telah diungsikan ke kamar menara. Hatinya sungguh sakit. Abellard benar-benar tak bisa diharapkan. Baru sebentar sang nona ia tinggalkan, telah terjadi sesuatu yang buruk seperti ini.


Pria itu menuju ke dapur. Sekalian mengambilkan makanan untuk makan siang nona-nya. Para pelayan sejak awal tidak menghargai mereka. Sudah pasti tak ada yang akan mengingat untuk mengantarkan makanan.


"Makanan ini untuk diantarkan ke kamar atas menara Selatan. Jangan lupa, kamar atas!"


Langkah Marc langsung terhenti. Itu kamar nona-nya.


Seorang gadis cantik dilihat Marc sedang menginterupsi pelayan yang berdiri patuh di sampingnya.


Siapa gadis itu?


"Kau ambilkan minum. Aku akan menata makanan ini agar lebih menarik."


Si Pelayan mengangguk dan bergegas melakukan perintah itu.


Bukannya merapikan tatanan makanan, Marc malah melihat gadis itu celingukan. Menatap was-was pelayan lain yang sibuk mengerjakan tugas masing-masing.

__ADS_1


Tindak-tanduk gadis cantik berpenampilan elegan itu sangat mencurigakan, membuat Marc cepat-cepat mencari tempat tersembunyi untuk mengawasinya.


Gadis itu membuka sebuah botol kecil yang sedari tadi dalam genggamannya, lalu menuangkan cairan di dalam botol itu ke dalam makanan.


__ADS_2