Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 66


__ADS_3

Begitu sampai di gerbang, Abellard melambatkan laju kudanya. Karena di samping kanan dan kiri berdiri dua orang pengawal. Mereka pasti akan memeriksa siapapun yang keluar dan masuk gerbang.


Abellard menarik caping topi untuk menutupi sebagian wajahnya.


Sementara Naeva cepat-cepat menurunkan tangannya yang memeluk erat tubuh Abellard. Memposisikan diri agar terlihat tenang dan wajar.


"Marc?! Kau hendak kemana malam-malam begini?" tanya salah seorang pengawal.


Abellard terdiam. Berpikir keras bagaimana caranya untuk memalsukan suara Marc.


Pengawal itu melirik ke arah Naeva. "Kau membawa saudarimu lagi. Apa ada masalah?" Pengawal itu bertanya dengan raut prihatin.


Abellard menggeleng.


Pengawal yang satunya lagi melangkah mendekat. "Marc terlihat aneh malam ini," komentarnya sembari menelengkan kepalanya untuk mengintip wajah pria di atas kuda.


Abellard semakin menundukkan kepalanya.


"Kami akan pulang!" seru Naeva cepat. Suaranya terdengar gugup. Namun gadis itu kembali berusaha tenang. "Karena aku ... aku sudah tidak betah tinggal di sini," sambungnya.


Kedua Pengawal itu terdiam sesaat. Raut mereka tampak prihatin. Mereka tahu bahwa saudari Marc ini tidak disukai Comtesse karena memiliki hubungan dengan Comte Abellard.


Namun kemudian, Pengawal yang di sebelah kanan tampak keheranan. "Lantas kenapa Anda tidak membawa pulang barang-barang?"


Naeva tercekat, ia lupa dengan barang-barangnya.


Merasakan keadaan yang terjepit, Abellard bersiap untuk memacu kudanya. Mungkin para pengawal akan semakin curiga. Mengira kepergian mereka itu ada apa-apanya. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Jikapun nanti mereka dikejar, ia akan berusaha semampu mungkin untuk kabur. Yang penting sekarang adalah bisa keluar dari Kastil.


"Apa kalian melarikan diri dari sesuatu?" Mata pengawal itu menyipit dengan raut curiga.


Abellard menggenggam tali kekang kuda erat-erat. Bersiap untuk menarik tali itu dengan kencang.


Namun Pengawal yang di sebelah kiri tiba-tiba memberi kode pada temannya untuk diam dan jangan teruskan untuk bertanya. Lalu beralih menatap Naeva dan pria yang mereka kira adalah Marc.


"Ya sudah, kalau begitu kalian pulanglah dengan hati-hati. Selamat jalan dan semoga kita masih bisa bertemu lagi," ucapnya.


Mendengar itu, Abellard segera menarik tali kekang dan kudanya pun langsung melaju. Berderap cepat, secepat detak jantung pengendaranya.


Abellard belum bisa bernapas lega. Karena sepertinya ada kejanggalan dalam sikap pengawal tadi.


Pengawal itu tiba-tiba meminta temannya untuk diam dan mempersilakan mereka pergi. Apa mungkin diam-diam mereka memanggil bantuan dan mengikuti?


Naeva pun berpikiran yang sama dengan Abellard. Gadis itu kembali memeluk tubuh tegap di hadapannya dengan tangan yang gemetar dan wajah pucat seputih kapas. Udara dingin malam itu ditambah dengan kecepatan laju kuda membuat Naeva merasakan tubuhnya membeku dan menegang kaku.


Jalanan yang berundak-undak tidak membuat nyali Abellard ciut untuk tetap memacu kudanya dengan cepat. Bahkan saat jalannya berkelok pada persimpangan, Abellard tak memperlambat pacuannya sedikitpun. Kaki kuda hitam itu terus berderap kokoh membawa pergi tuannya.


Naeva menatap jalanan yang bercabang ke arah kanan. Jalan itu yang mereka tempuh saat datang dari Kastil Wisteria. Tatapannya penuh dengan kerinduan. Sayang sekali mereka saat ini sedang menjalankan misi, bukan benar-benar pulang.


Hingga sepuluh menit berpacu dalam dinginnya malam, Abellard mulai memperlambat laju kudanya.


"Sepertinya mereka tidak mengejar kita lagi," ujarnya.


"Ya, mungkin mereka mengejar ke arah jalan pulang ke Kastil Wisteria," jawab Naeva.


Keduanya tampak menghela napas lega.


Sementara itu, sepeninggalan Abellard dan Naeva tadi, kedua Pengawal itu ternyata hanya menatap kepergian mereka.


Pengawal sebelah kanan bertanya pada temannya, "kenapa kau melarangku bertanya lagi? Sepertinya mereka terlihat mencurigakan. Pulang tanpa membawa barang-barang."


"Kau tidak peka, teman. Saudarinya Marc itu pasti sedang patah hati. Mana ingat lagi dia membawa pulang barang-barang? Apa kau tidak melihat kedatangan Duke dari Inggris dan istrinya tadi sore? Saat ini mereka pasti sedang merayakan acara pertunangan Monsieur Comte dengan Lady dari Inggris itu."


Pengawal sebelah kanan langsung menepuk jidatnya dengan raut iba. "Oh Mon Deu! Sama sekali tak terpikirkan olehku. Kasihan sekali gadis itu. Pantas saja Marc terlihat kaku dan enggan berbasa-basi. Dia juga pasti merasa terhina."


***


Angin malam semakin dingin. Kuda hitam itu terus berjalan pelan, meninggalkan bukit di mana kastil Marseille berada. Di bawah penerangan bulan yang benderang, keempat kaki kuda yang kokoh itu memasuki jalanan berkerikil yang di samping kanan dan kirinya terdapat jurang bertanah kuning.


"Kau kedinginan?" Abellard menyentuh tangan yang memeluk perutnya.


"Sedikit," jawab Naeva dengan suara gemetar.

__ADS_1


Memang teramat dingin, padahal ia telah memakai mantel wol di luar gaunnya. Namun hawa dingin itu seolah menyusup sampai ke tulang, hingga ia lupa untuk melepaskan pelukannya pada tubuh Abellard.


"Tunggu sebentar," Abellard menghentikan kudanya dan turun ke bawah.


Pria itu kemudian membuka tas pelana. Mengambil sebuah mantel kulit dari dalamnya.


"Pakailah, ini mantel yang biasa aku bawa saat berburu."


"Tapi aku sudah memakai mantel, Abellard. Sedangkan kau hanya memakai kemeja Marc. Pakai saja untukmu," tolak Naeva.


Abellard tersenyum sembari membuka mantel di tangannya.


"Aku merasa lebih hangat tanpa memakai mantel. Kau pasti tahu kenapa," jawabnya sembari melirik gadis itu dengan kerlingan menggoda.


"Aku tidak tahu. Bagaimana bisa?" tanya Naeva polos. Sepertinya rasa dingin yang teramat sangat itu telah membekukan otaknya.


"Bisa saja, asal kau mau memelukku lagi seperti tadi."


Naeva seketika tersipu mendengarnya. Pipi yang sedari tadi membeku tiba-tiba dialiri hawa panas hingga merona merah.


"Pakailah," Abellard menyerahkan mantel kulit itu pada Naeva yang masih duduk di atas kuda.


Gadis itu cepat-cepat meraihnya, mengalihkan rasa malu yang membuatnya salah tingkah. Jaket kulit itu berukuran besar, sehingga cukup nyaman walaupun di dalamnya Naeva juga memakai mantel tebal.


Pletak ... pletak!


Tiba-tiba telinganya mendengar suara kerikil yang terlindas roda dari kejauhan.


"Apa kau mendengar itu Abellard?" bisik gadis itu was-was.


"Ya, aku mendengarnya," jawab Abellard pelan. Menajamkan pendengarannya dengan raut waspada.


"Suaranya dari arah belakang kita," bisik Naeva lagi.


Abellard segera menaiki kembali kudanya.


"Kita harus pergi. Daerah ini rawan perampokan. Karena di jalan yang rawan bahaya seperti ini, perampok dengan mudah melumpuhkan korban dan melemparnya ke dalam jurang," ujar Abellard.


Tangannya segera memeluk Abellard erat, saat pria itu mulai memacu kudanya lagi.


Abellard menatap fokus ke depan. Ia tak ingin lengah sedikitpun, karena jika sedikit saja melenceng, mereka bisa tergelincir ke dalam jurang. Naeva pun merasa ngeri menatap ke sampingnya. Tubuhnya menegang kaku, berusaha tak banyak bergerak agar tak mengecoh konsentrasi Abellard.


Akhirnya setelah berjuang penuh ketegangan mereka memasuki wilayah hutan, meninggalkan kawasan jurang yang berbahaya itu.


Tapi Abellard belum bisa bernapas lega. Wilayah hutan yang berada di hadapan mereka belum tentu aman.


"Aku belum pernah memasuki wilayah ini," ujar Abellard setelah melambatkan laju kudanya.


"Apa kita tersesat?"


"Sepertinya tidak. Amily memberitahu bahwa setelah jurang memang akan ada hutan kecil. Kita hanya perlu melewati hutan dan mencari pedesaan untuk beristirahat. Hanya saja aku tidak tahu seluk beluk hutan ini. Dan tidak tahu aman atau tidaknya."


"Kau tidak pernah pergi berburu ke sini?"


"Tidak. Hutan ini kecil, tidak banyak hewan yang bisa diburu. Lagipula, aku juga jarang berburu."


"Tapi tembakannu sering tepat sasaran," puji Naeva.


"Ya, khususnya saat menembak hatimu," jawab pria itu. Lalu terkekeh pelan. "Aku jitu dalam menembak karena latihan resmi. Sejak kecil aku telah memiliki jadwal latihan menembak, juga memanah."


Naeva mengangguk-angguk paham.


"Sepertinya kita harus mencari kunang-kunang untuk penerangan ke depannya. Karena mulai dari sini saja sudah banyak pepohonan yang menutupi sinar rembulan. Kira-kira apa masih ada kunang-kunang sekarang?"


"Mungkin saja masih ada," jawab Naeva sembari mengedarkan pandangannya.


Bruk!


Tiba-tiba kaki kuda hitam mereka oleng.


Ngiiiiik!

__ADS_1


Ringkik kuda itu terdengar memilukan di tangah malam yang sunyi itu.


Abellard segera menenangkan kudanya. "Hey hey, tenanglah!" serunya sembari menepuk-nepuk leher kokoh hewan itu.


Ternyata kaki depan kuda mereka memasuki lumpur. Namun karena panik, si kuda malah semakin memasuki sungai lumpur itu.


Naeva segera mengencangkan pelukannya pada Abellard agar tidak terjatuh. Hingga kemudian kuda itu tenang kembali.


Tapi sayangnya mereka kini telah berada di tengah-tengah kubangan lumpur yang kedalamannya mencapai paha kuda.


Abellard memperhatikan lumpur di bawah mereka dengan bantuan cahaya bulan yang remang-remang. Ia khawatir jika lumpur itu adalah lumpur hisap.


"Sepertinya ini hanya lumpur biasa," ujarnya lega. "Berarti kita bisa turun dan menyeberang ke darat."


Naeva hanya mengangguk. Detak jantungnya masih berpacu kencang karena ketakutan sesaat tadi. Namun ia bukanlah gadis manja yang akan menangis. Ini adalah petualangan. Ketakutan dan kekhawatiran itu perasaan yang lumrah. Tapi untuk mengeluarkan air mata, ini bukanlah saatnya.


Abellard telah turun ke dalam lumpur itu, kedalamannya hingga ke pinggang pria itu. Bisa dipastikan lumpur itu akan menenggelamkan Naeva hingga di bawah dadanya, jika gadis itu ikut turun.


"Kemarilah, aku akan menggendongmu," Abellard merentangkan tangannya untuk menyambut Naeva.


Naeva langsung tersipu. Dengan wajah tertunduk ia menjawab, "tidak. Pasti susah berjalan di dalam lumpur ini. Aku tidak mau kakimu sakit dan ...."


"Kau tidak percaya kalau aku kuat?" goda Abellard. Namun kemudian raut wajahnya berubah serius. "Ayolah, aku tak akan membiarkanmu turun sendiri," tegasnya dengan tatapan mendominasi.


Naeva menghela napasnya. Ia tahu tak ada gunanya membantah kalau Abellard sudah memandangnya seperti itu. Gadis itu kemudian duduk menghadap Abellard.


Pria itu meletakkan tangannya di bawah lutut Naeva. Dan bersiap menyambut gadis yang kemudian langsung mengalungkan tangan ke lehernya.


Hup!


Naeva berhasil di gendong ala bridal style oleh Abellard.


Sang Comte kemudian berjuang melewati legitnya lumpur yang menahan langkah kakinya di dalam sana. Hingga akhirnya mereka berhasil mencapai tanah yang kering.


Naeva segera turun dari gendongan Abellard dan membantu pria itu naik.


Abellard langsung terjerembab di tanah dengan napas ngos-ngosan.


Naeva berjongkok di sampingnya dengan raut iba. "Kau sangat lelah," lirihnya sembari membersihkan lumpur di kaki Abellard dengan tangannya.


Abellard tersenyum dengan napas yang masih memburu. "Tapi aku lega bisa melewatinya tanpa menjatuhkanmu," jawabnya.


Pletak! Pletak!


Tiba-tiba suara kerikil dan roda yang berputar kembali terdengar.


Naeva dan Abellard seketika menegang kaku.


"Kita harus bersembunyi!" bisik Abellard waspada.


Tanpa pikir panjang, keduanya langsung berlari ke balik semak-semak. Naeva membantu Abellard yang melangkah terseok-seok karena kakinya yang belepotan lumpur. Memapah dengan mengangkat lengan pria itu ke bahunya.


"Bagaimana dengan kuda kita?" bisik Naeva khawatir.


"Biar saja dulu, kita akan mengambilnya nanti. Mudah-mudahan saja mereka berpikir pemiliknya telah meninggalkannya sejak tadi."


Di balik semak belukar mereka bersembunyi sembari menunggu siapa yang datang.


Suara roda yang berputar semakin mendekat, ditingkahi suara hewan malam di tengah kesunyian.


Tiga buah kereta karavan muncul, (kereta berbentuk gerobak yang ditarik oleh dua ekor kuda). Lalu berhenti sebelum mencapai kubangan lumpur.


Itu adalah karavan gipsi.


(Gipsi: kelompok etnik yang hidup secara nomaden atau selalu berpindah-pindah tempat tinggal. Dan mereka hidup dalam karavan)


***


Hai sayang-sayangku... Author mau minta tolong, nih. Kalau ada waktu, bantu rekomendasikan kisah Naeva, dong. Di event yang diselenggarakan Noveltoon ini 👉


__ADS_1


__ADS_2