
Naeva bergegas masuk kembali ke ruang bawah tanah itu untuk menemani Amily.
"Eits! Mau kemana lagi?" Abellard langsung menghalangi dengan merentangkan kedua tangannya.
Naeva yang masih kesal mengerutkan keningnya. "Aku mau masuk kembali."
"Jangan ... kau di sini saja, udara di dalam ruang tahanan itu pasti tidak baik untuk kesehatan. Biar aku saja yang mengobatinya," cegah Abellard.
"Tidak, aku ingin ikut!" Naeva bersikeras.
Abellard tersenyum gemas. "Kau ingat? Saat aku bersikeras ikut berburu, kau menganggapku keras kepala. Tapi lihat, kau juga tak mau mendengarkanku," Abellard menyentil kening Naeva pelan.
"Aw!" Naeva meringis, "aku ingin menemani Amily," ucapnya dengan tampang cemberut.
"Kau ingin menemani Amily atau menemaniku?" goda Abellard sembari menaikkan sebelah alisnya.
Naeva mengelus dahinya dengan hati geregetan. Ingin marah tapi godaan Abellard memancingnya untuk tersenyum. Situasi sedang panik, masih sempat-sempatnya pria itu menggoda. Untunglah para pelayan telah pergi.
Tangan Naeva kemudian terangkat membuat gerakan sentilan. "Tuan Comte, kalau anda masih berlama-lama, saya akan balas menyentil!"
Abellard langsung memasang wajah takjub.
"Wah, ternyata mendengar kau yang menyebutku Comte, hatiku merasa lebih tersanjung!"
Naeva sekarang mendelik.
Membuat Abellard semakin gemas dan pura-pura mengangkat kedua belah tangannya sebagai tanda menyerah.
"Baiklah, baiklah. Kita masuk sekarang, karena kau sudah tak sabar untuk bersamaku di tempat yang remang-remang," godanya lagi. Lalu cepat-cepat berbalik dan melangkah lebih dulu.
Naeva hanya bisa memutar bola matanya sembari mengikuti langkah pria itu.
Begitu mereka sampai di dalam, Amily langsung bangkit berdiri.
"Monsieur Comte," ucapnya sambil membungkuk hormat.
"Bagaimana keadaan kakakmu?" tanya pria itu dengan sikap berwibawa.
__ADS_1
Naeva langsung menelengkan kepalanya, menelisik pria itu dengan raut bingung. Rasanya baru saja Abellard bersikap gombal dan menyebalkan. Wah wah ... Naeva berdecak kesal dalam hati karena merasa diperlakukan tidak adil. Padahal ia menyukai pria yang dewasa dan bijaksana.
"Dia masih tertidur, Monsieur," jawab Amily.
"Jadi ... dia mendapat hukuman apa?" Pria itu bertanya dengan raut bersalah.
"Hukuman cambuk," jawab Amily lirih.
Jawaban yang membuat sang Comte terhenyak. "Hukuman cambuk?"
"Ya, Monsieur."
Abellard terpaku sesaat. Lalu pria itu berjalan bolak-balik dengan gelisah. Ternyata hukuman seberat ini yang telah diterapkan di dalam kastilnya, sungguh ia tak mengingatnya.
Tak lama kemudian, muncul pelayan yang membawakan daun Serapih beserta air hangat, dan perlengkapan obat.
Naeva segera mengambil bahan-bahan itu, lalu menoleh pada Abellard. "Anda punya kuncinya, bukan?"
Abellard yang masih tampak gelisah mengangguk gugup. Lalu bergegas membukakan pintu ruang tahanan.
Abellard tampak kaget. "A-aku ... tunggu di sini saja," jawabnya gugup.
"Anda ... takut melihat darah?" Naeva bertanya tanpa bermaksud mengejek sedikitpun.
Namun ternyata, sang Comte paling anti terlihat pengecut di mata Naeva de Gaulle.
"Tidak," jawabnya cepat. "A-aku masuk ... sekarang."
Naeva mengangguk dan mengajak Amily membantunya membawa air hangat. Kakinya menapak pelan-pelan pada lantai batu yang berdebu dan kotor itu. Kemudian meletakkan peralatan obatnya di samping tubuh terkapar itu tanpa menimbulkan suara.
"Kak, bangunlah. Ada Monsieur Comte dan Mlle Gaulle di sini. Mereka akan mengobati lukamu," panggil Amily di telinga kakaknya.
"Jangan dibangunkan Amily. Dia lebih baik tidur daripada merasakan sakit. Daun Serapih ini juga akan menimbulkan rasa perih," larang Naeva cepat.
Amily mengangguk dan menyadari kekeliruannya. Mlle Gaulle memang sangat bijak.
Perlahan Naeva bersimpuh di samping tubuh wanita itu, dan Abellard pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Namun begitu mata pria itu melihat luka berbentuk garis-garis panjang di punggung si wanita pelayan hingga membuat baju berwarna putih jadi bergaris-garis merah, ia langsung memejamkan mata dengan raut ngeri.
"Oh, Mon Deu!" desahnya.
Perlahan Naeva menggunting gaun bagian atas. Sekilas matanya melirik Abellard, pria itu sedang memejamkan matanya. Naeva tak tahu, Abellard memejamkan mata karena tak ingin melihat tubuh wanita atau karena takut melihat darah. Gadis itu hanya berusaha fokus pada pekerjaannya.
Setelah membersihkan luka yang disertai lebam itu dengan air hangat, Naeva mulai menempelkan daun Serapih yang telah diremukkan di atasnya.
Tubuh wanita itu refleks bergerak kaget. Kemudian terdengar suara erangan dari mulutnya.
"Akh!"
Semuanya ikut meringis mendengar erangan kesakitan itu. Apalagi Abellard, wajahnya meringis seolah merasakan ngilu yang teramat sangat.
Amily bergegas mengelus-elus rambut kakaknya agar tertidur kembali.
"Letakkan daunnya di bagian kanan," bisik Naeva pada Abellard.
Laki-laki itu terdiam dengan mata yang masih terpejam. Tangannya telah menggenggam daun Serapih, namun ia tak bergerak sama sekali.
Naeva yang merasa tak ada bantuan sama sekali dari sang Comte kembali berbisik, "ini keadaan darurat, tak apa kalau kau melihatnya, lagipula ini hanya punggung."
Perlahan Abellard membuka sebelah mata. Untunglah Naeva tak curiga bahwa dirinya takut melihat darah. Pemandangan seperti ini benar-benar ngeri baginya. Namun demi permintaan Naeva, ia memberanikan diri untuk mengulurkan tangan dan menempelkan daun itu.
Tangan kokoh Abellard tampak bergetar. Sementara rautnya terlihat begitu tegang. Dengan cepat ia menempelkan daun itu.
"Akh!" Si pelayan berteriak sakit.
"Waaa!" Abellard ikut berteriak saking kagetnya. Tubuhnya sampai terlonjak ke belakang.
Naeva dan Amily pun terkejut mendengar suara bariton sang Comte berteriak keras.
"Anda kenapa?" tanya Naeva.
Wajah tampan Abellard pucat pasi, sementara nafasnya tampak memburu.
"A-aku hanya terkejut," jawabnya cepat.
__ADS_1