Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 61


__ADS_3

Abellard berdiri di balkon kastil yang menjorok ke laut dengan tatapan kosong. Angin sore berhembus kencang mengacak rambutnya yang tebal.


Masih terbayang di benaknya tentang mimpi yang mengganggu tidurnya semalam. Membuat suasana hatinya muram sampai sekarang.


Ia memimpikan ayahnya, pria baik yang tersakiti hatinya.


Ia bermimpi seperti itu setelah melihat sebuah lukisan di kamar ibunya saat ia mengantarkan lukisan ayahnya setelah sarapan pagi bersama Naeva.


Lukisan itu baru dipasangkan kembali oleh Mme Aamber setelah bertahun-tahun menyimpannya.


"Aku ingat lukisan ini," ucap Abellard kemarin pagi. Menatap lukisan ibunya dengan penuh kebencian. Tidak, bukan benci pada ibunya, melainkan pada orang yang menciptakan lukisan itu.


Mme Aamber terkejut mendengar perkataan Abellard. "Kau ingat?"


"Ya, kenapa Mère memajangnya lagi?" nada suara Abellard terdengar marah.


"Karena Mère menyukai lukisan ini. Sudahlah Ma Fils, lupakan kenangan buruk itu."


Abellard menggeleng. "Tidak, aku telah mengingat kembali semua kenangan buruk itu hari ini. Dan aku tahu, Mère tak benar-benar merasa itu adalah kenangan buruk. Mère sangat mencintai laki-laki bejat itu!" ketusnya.


"Abellard, lukisan ini tidak ada hubungannya dengan cinta. Lukisan ini adalah mahakaryanya yang sangat Mère kagumi."


Abellard mendengus. "Mère dibutakan oleh cinta! Mère tak peduli dengan cinta Père yang sangat tulus. Père adalah laki-laki baik dan bertanggung jawab, tapi Mère tidak pernah mengaguminya!"


"Itu masalah yang berbeda, Abellard! Ayahmu memang baik, tapi ... dia bukan cinta Mère. Mère jatuh cinta pada Beaupère (ayah tiri) mu karena dia bisa membuat Mère bersemangat untuk menikmati hidup ini," mata Mme Aamber tampak berbinar saat mengenang mantan suami keduanya yang seorang seniman lukis terkenal. "Sama sepertimu Abellard, kau jatuh cinta pada Mlle Gaulle dan sangat mengaguminya, sekalipun orang lain menentang cintamu itu."


"Tidak! Sama sekali tak sama! Naeva mencintaiku dan membuatku berubah menjadi pria yang lebih baik. Sementara laki-laki itu malah merubah Mère menjadi ibu yang melupakan anaknya sendiri. Bahkan dia menyiksa Mère setiap hari."


"Itu dilakukannya tanpa sadar," Mme Aamber kembali membela mantan suaminya.


"Aku juga pernah melihat laki-laki jahat itu menggoda seorang wanita bangsawan di tengah acara yang digelar istrinya sendiri! Dan itu dilakukannya secara sadar!"


"Cukup Abellard!" teriak Mme Aamber dengan suara yang bergetar. Masih terbayang di benaknya bagaimana mantan suaminya itu menggoda wanita lain seperti yang dikatakan Abellard. Ia juga melihatnya. Tapi kata maaf terus ia terima, kala pria itu mengucapkannya dengan penuh penyesalan.


Laki-laki itu adalah cinta pertamanya. Laki-laki yang mengisi hatinya setelah masa mudanya ia habiskan bersama pria yang tidak ia cintai. Sehingga hatinya akan selalu luluh dan luluh pada sang pelukis.


"Dia telah menyesali semua perbuatannya," lirih Mme Aamber getir, mengenang cintanya yang berbalut perih.


"Dia pemabuk gila, bagaimana bisa menyesali perbuatannya?!" Abellard menggeram dengan tangan terkepal.


Ayah tirinya memang pemabuk. Setiap saat kehilangan kesadarannya, pria itu akan mengangkat cambuk di atas punggung istrinya. Abellard masih mengingat luka cambukan yang ia obati sendiri di punggung ibunya.

__ADS_1


Setelah itulah, ia memberontak. Mengusir ayah tirinya itu dari Kastil mereka.


"Sebenarnya aku tak puas mengusirnya pergi begitu saja. Seharusnya dia mendapatkan hukuman yang berat!" sambung Abellard dengan wajah merah padam.


Mme Aamber mulai terisak mendengar ucapan putranya. "Sudahlah Abellard, sudah ... Semuanya sudah berlalu."


"Mère harus membuang lukisan ini. Apapun alasannya, aku tak ingin lukisan ini ada di kastil kita!" tegasnya sebelum meninggalkan kamar ibunya kemarin.


Hari semakin sore, angin laut mulai berhembus kencang dan dingin. Abellard menggenggam teralis besi berukir indah yang menjadi pembatas balkon. Terasa membeku di telapak tangannya.


Pria itu melepaskan napas panjang sembari menengadah pada langit yang berwarna jingga. Mungkin sikap posesifnya selama ini tercipta karena rasa trauma. Ia trauma mengingat kata-kata ibunya yang mengatakan bahwa tak ada cinta untuk sang ayah.


Ingatan Abellard pun terbang kembali ke masa kecilnya dulu.


"Mère tega menikah lagi padahal Père baru saja tiada?" protesnya kala itu.


"Mère hanya ingin menikahi laki-laki yang Mère cintai, Ma Fils. Sudah cukup lelah, Mère hidup bersama pria yang tidak Mère cintai."


"Apa maksud Mère?" Abellard kecil bertanya penuh kebingungan dan juga ketakutan. Takut mendengar kalimat aneh yang diucapkan ibunya.


"Abellard, Mère tidak pernah mencintai ayahmu."


Kata yang membuatnya trauma hingga sekarang. Membuatnya selalu merasa takut dibohongi dan takut jika dirinya tidak benar-benar dicintai, seperti yang ayahnya alami.


"Monsieur Comte!" Suara seorang gadis tiba-tiba memutus rajutan kenangan pahit yang dialami sang Comte semasa kecilnya itu.


Kepalanya menoleh ke arah suara dan melihat Lady Angelia datang menghampiri dengan langkah anggun dan senyuman manisnya.


Abellard mengalihkan tatapannya kembali ke laut, mengabaikan kedatangan sang Lady yang mengganggu kesendiriannya.


"Sedang apa di sini?" Nada suara gadis itu terdengar lembut dan penuh perhatian.


"Tidak sedang apa-apa," Abellard melengos malas.


"Wah, pemandangan senja di sini sangat indah. Apa kau tahu Comte? Aku sangat menyukai laut. Comtesse mengatakan kau juga sangat menyukainya."


"Hm ...." respon Abellard tak acuh.


Lady Angelia melirik kesal. Pria ini sama sekali tak menganggap dirinya. Padahal semua pria bangsawan berlomba-lomba mencari perhatiannya. Jika tak mengingat rasa cinta di hatinya, tak mungkin ia akan bertahan diabaikan seperti itu.


Menurutnya, hanya Comte Abellard Marseille yang pantas menjadi pendampingnya. Pria berpengaruh yang memiliki segalanya. Ketampanan, penampilan yang menarik, kekayaan dan juga kepopuleran di kalangan bangsawan dan rakyat biasa di tanah Eropa.

__ADS_1


"Abellard ...." panggilnya gugup. Baru kali ini ia memanggil pria itu dengan namanya. "Kedua orang tuaku telah berangkat kemari, mungkin akan tiba sebelum acaranya di mulai. Mereka pasti akan sangat senang, jika acara dansa ini menjadi penyambutan untuk mereka."


"Acara ini aku buat untuk Mlle Gaulle. Jadi kalau orangtuamu ingin hadir di acaranya, silakan saja," jawab Abellard tanpa menatap sang Lady.


Jawaban itu benar-benar membuat gadis itu mati kutu.


"Se-sebenarnya aku datang kemari atas permintaan Comtesse. Beliau memintaku menjadi pasangan dansamu," dustanya untuk mengalihkan rasa malu.


Abellard langsung menoleh dengan kening mengernyit. "Pasangan dansamu? Benarkah Mère memintanya?"


"Iya. Jadi maukah kau berlatih denganku sekarang?" Lady Angelia mengulurkan tangan kanannya untuk diraih Abellard.


Namun pria itu kembali mengabaikan. "Tidak bisa, Lady. Saya sudah memiliki pasangan." Abellard langsung beranjak pergi.


Meninggalkan Lady Angelia yang meneguk salivanya dengan wajah kecewa.


Angin menghembus dingin meniup leher dan dadanya yang terbuka. Lady Angelia merinding sembari memeluk lengannya sendiri. Ia sampai lupa pada angin laut senja hari yang dingin, demi tampil sempurna dan seksi di hadapan Sang Comte.


"Kau tidak bisa mangkir, Abellard! Comtesse harus melihat kita berdansa berdua malam nanti!" teriak gadis itu tak puas.


***


Tepat satu jam sebelum acara dimulai. Duke of Medwin bersama istrinya Duchess of Medwin, datang seperti yang di inginkan putri mereka. (Duchess: gelar untuk istri seorang Duke)


Mereka langsung sumringah mengira acara itu untuk menyambut kedatangan mereka. Apalagi putri mereka juga mengiyakan.


"Apa Comtesse yang mengusulkan acara ini?"


"Tidak, Mom. Comte sendiri yang mengusulkan."


"Wah, ternyata anak muda yang bersikap dingin itu memang bijaksana dan pintar memimpin seperti yang dikatakan orang-orang," puji wanita paruh baya yang memakai topi kecil berbulu elang, di bagian sebelah kiri kepalanya itu.


"Aku memang tidak salah pilih menantu," timpal Duke of Medwin bangga.


"Tapi kemana mereka semua? Apa kau tak memberitahu bahwa kami berdua sudah sampai, putiku?"


Lady Angelia tampak tergagap sesaat. Pasalnya saat ini semua orang sedang sibuk menjelang acara. Bahkan sebenarnya Abellard menolak mentah-mentah untuk memberi sambutan atas kedatangan kedua orangtuanya.


"Me-mereka pasti sedang sibuk, Mom. Bukankah lebih baik Mommy dan Daddy membersihkan diri dan istirahat dulu? Biar terlihat segar saat acara nanti."


"Ya, itu benar. Kita lebih baik tampil mewah dan terhormat saat acara nanti." Duke of Medwin membenarkan kata-kata putrinya.

__ADS_1


__ADS_2