Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 53


__ADS_3

Tok tok


Terdengar suara ketukan di pintu kamar Abellard.


Sang Comte menoleh sesaat. Lalu berpaling kembali menatap Naeva yang telah benar-benar tertidur. Pria itu menarik tangannya yang masih dipeluk Naeva perlahan lalu mengelus lembut kepala gadis itu.


Tubuhnya yang lemah kemudian melangkah ke arah pintu sembari mengusap kasar wajahnya yang masih tersisa air mata.


Ia berdiri sejenak di belakang pintu, menarik napas dalam-dalam lalu membuka pintunya sedikit.


"Maria?" desahnya saat melihat asisten ibunya yang baik hati itu.


"Pardon Monsieur, saya mendengar dari Dokter, bahwa Mlle Gaulle sedang sakit. Apa itu benar?"


"Ya, Maria. Apa Dokter telah selesai melakukan permintaanku?"


"Sudah Monsieur, Beliau sedang menuju kemari. Boleh saya menjenguk Mlle Gaulle?"


"Tentu saja, silakan masuk." Abellard membuka pintu kamarnya lebih lebar.


Dan Maria melangkah masuk dengan raut khawatir. Mulutnya seketika menyerukan nama Tuhannya saat melihat Naeva yang tertidur di bawah selimut.


"Oh Mon Deu, kasihan sekali gadis baik hati ini." Maria duduk di samping Naeva dan menyentuh dahi gadis itu. Membelai kepalanya dengan hati iba. "Kenapa hal buruk selalu mengincarnya?" ujarnya cemas.


"Dia ... menderita karena aku," sahut Abellard getir.


Maria menoleh pada anak asuhnya itu prihatin.


"Setiap hubungan memang ada konfliknya, Monsieur. Konflik itu akan semakin memperkuat cinta, jika pasangan itu mau memperbaiki dan menjadikannya acuan. Untuk lebih saling memahami, menjaga dan percaya."


Abellard memijit keningnya sembari menghela napas. "Ya, itulah yang tidak kulakukan. Aku hanya mengharap Naeva yang memahamiku," jawabnya serak.


Tok tok


Pintu kamar yang masih terbuka kembali diketuk. Dan sang Dokter berdiri di ambang pintu itu dengan membawa peralatan medisnya.


"Masuklah Dokter," Abellard menyambut pria itu dengan raut tak sabar. "Apa yang anda temukan? Minumannya pasti dicampur dengan obat tidur, bukan?"


Dokter menghampiri sang Comte yang berdiri di samping Maria. "Bukan, Monsieur. Tapi semacam itu juga. Minuman ini di campur dengan ramuan yang membuat pengonsumsinya berhalusinasi. Mungkin sejenis jamur yang beracun."


"Halusinasi?" gumam Abellard dengan kening mengernyit. Pantas saja Naeva mengira tangannya adalah ibunya.


"Apa tidak sebaiknya Naeva diberikan obat?"


"Tidak perlu, Monsieur. Setelah Mlle Gaulle terbangun nanti, efek halusinasi akan menghilang dengan sendirinya."


"Bagaimana bisa ramuan-ramuan aneh sekarang ada di kastil ini?" cemas Maria.


"Aku yakin ini adalah perbuatan Lord Alfred. Semenjak kedatangannya dengan adiknya itu semua jadi kacau!" Abellard mengepalkan tangannya. Lord Alfred pasti berniat tidak baik pada Naeva. Ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika Alfred berhasil membawa Naeva dan melakukan yang ... oh, Mon Deu! Ia tak dapat membayangkannya. Darahnya serasa mendidih sampai ke otak.


"Maria, tolong jaga Naeva. Aku harus melakukan sesuatu!" ujarnya dengan suara menggeram. Lalu melangkah lebar-lebar untuk keluar dari kamarnya.


"Anda hendak kemana, Monsieur?" Maria menjadi khawatir melihat raut wajah sang Comte yang penuh amarah.


Namun pemuda itu tak lagi mendengarnya.


Maria menoleh pada Dokter. "Dokter, tolong ikuti Monsieur Comte. Saya takut terjadi apa-apa."


"Baik, Ma'am. Saya akan mengikutinya."

__ADS_1


Sang Dokter bergegas mengikuti Comte Abellard yang terus melangkah ke arah Menara Selatan.


Duk duk duk


Seperti itulah ia mendengar suara tapak sepatu Comte Abellard yang melangkah lebar dan penuh hentakan. Hingga ia sampai kewalahan mengejarnya.


Begitu sampai di hadapan kamar lantai bawah menara, pintu itu segera digedor dengan tangannya yang terkepal.


Buk buk buk!


Pintu kayu itu berbunyi keras.


"Monsieur Comte, tenang lah ...." Dokter mencoba menenangkan di belakangnya.


Namun sang Comte tak berhenti sedikit pun.


Dokter mendesah cemas. Pria berpenampilan rapi itu sampai berkeringat di dahi, karena tak tahu harus bagaimana menenangkan pemuda bergelar Comte itu. Ia belum pernah melihat Comte Abellard semarah itu.


Hingga kemudian pintu kamar terbuka. Dan Lord Alfred muncul dengan raut marah.


Namun belum sempat pria Inggris itu melontarkan makiannya, kepalan tangan Comte Abellard telah melayang kuat dan menghantam wajahnya.


Buk!


Lord Alfred terjatuh di lantai. Karena kuda-kudanya yang tak siap untuk menerima pukulan sekuat itu.


Dokter memekik terkejut. Lalu bergegas menahan lengan Abellard. Namun dengan tenaga yang luar biasa kuat, Abellard menarik lengannya dan kembali memburu Alfred yang masih terduduk di lantai.


Kepalan tangannya kembali melesat kencang dan ....


Buk!


***


Seorang pria yang terlihat babak-belur dicengkeram pada kerah kemejanya dan diseret ke arah aula oleh seorang pria tampan yang berwajah bengis. Begitu sampai di ruangan itu, tubuh pria babak belur itu dihempaskan di lantai.


"Oh, Mon Deu! Apa yang terjadi pada saudaraku?!" Seorang gadis yang tak lain adalah Lady Angelia segera berlari menghampiri.


Mme Aamber yang sedang berjalan bersamanya pun ikut menghampiri dengan langkah cepat. Wajahnya tampak pucat. Ini kali kedua Abellard memukuli seseorang sampai babak-belur seperti itu. Pertama kalinya yaitu saat Abellard berusia 18 tahun. Putranya itu memukuli seorang pria yang ia cintai.


"Abellard! Apa yang kau lakukan?!" teriaknya marah.


"Monsieur Comte! Kenapa anda memukuli Alfred?!" Lady Angelia bersimpuh di samping saudaranya yang tersungkur di lantai dengan wajah meringis kesakitan. Lalu membantu Lord Alfred bangkit dan duduk bersandar padanya.


"Kau tidak apa-apa?"


Lord Alfred tersenyum sembari menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Pria itu kembali meringis merasakan sakit di wajahnya.


"Aku tidak apa-apa. Monsieur Comte hanya salah paham padaku," jawabnya.


Abellard berdiri tegak menatap sandiwara Alfred dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Abellard, apa alasanmu memukuli Alfred?" Mme Aamber menatap putranya marah.


Abellard menoleh pada ibunya. "Dia adalah penjahat, Mère. Dia laki-laki pengecut yang telah meracuni orang lain."


"Aku tidak meracuninya! Itu bukan racun!" sambar Lord Alfred cepat. Tanpa sadar ia telah mengakui secara tidak langsung bahwa ia memang memasukkan sesuatu ke dalam minuman Naeva.


Abellard tertawa sinis sekaligus puas. "Akhirnya kau mengaku juga!"

__ADS_1


Lord Alfred seketika gelagapan menyadari kebodohannya.


"Aku ... aku tak bermaksud seperti itu. Aku ...."


"Mère," potong Abellard sembari menoleh pada ibunya. "Orang seperti ini tak pantas bertamu di tempat kita. Kenapa Mère tidak mengusirnya sekarang? Dia ini tamu Mère, maka Mère yang bertanggung jawab untuk mengusirnya. Tapi kalau Mère tidak bertindak, aku yang akan menendangnya keluar dari sini!"


"Memangnya apa yang telah dilakukan Lord Alfred?" tanya Mme Aamber belum mengerti duduk perkaranya.


"Dia telah mencampur minuman Naeva dengan ramuan yang bisa menyebabkan halusinasi, dan dia berencana untuk membawa Naeva ke kamarnya. Benar-benar seperti binatang!" Suara Abellard terdengar menggeram.


Mme Aamber dan Lady Angelia tampak terkejut.


"Alfred? Kenapa kau melakukan itu?!" sentak Lady Angelia. "Kau hanya menjatuhkan martabat kita dengan mengejar perempuan miskin itu!"


Abellard mendengus sembari menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar komentar Lady Angelia. Gadis itu malah menghujat orang lain, bukan saudaranya yang berbuat bejat itu.


Sementara Mme Aamber hanya terdiam, tak tahu harus mengatakan apa karena perbuatan putra dari besannya itu memang keterlaluan dan menjijikkan.


"Kau harus pergi dari sini secepatnya!" tegas Abellard pada Lord Alfred. Lalu berbalik dan melangkah pergi.


"Comtesse, tolong jangan usir saudaraku dari sini. Tolong maafkan dia!" Lady Angelia memohon dengan mata yang berkaca-kaca.


Mme Aamber menarik napasnya dalam-dalam. "Aku tidak bisa, Lady. Lord Alfred memang harus dihukum. Perbuatannya itu adalah kejahatan."


Lady Angelia tampak begitu kecewa.


Namun sepertinya Mme Aamber tak akan mengubah keputusannya. Wanita paruh baya itu kemudian beralih menatap Alfred. "Lord Alfred, untuk sementara saranku adalah kau harus pergi ke tempat lain sejenak. Karena jika kau pulang ke kastil orangtuamu dengan keadaan seperti itu, orang tuamu akan marah dan pernikahan adikmu mungkin akan gagal."


"Aku tidak mau! Apapun yang terjadi aku harus menikah dengan Comte Abellard. Aku tak ingin pulang sebagai wanita yang gagal menikah!" raung Lady Angelia sembari menangis.


Untuk pertama kalinya, Mme Aamber menatap Lady Angelia dengan raut tak senang. Gadis itu terlihat egois, manja dan tak beretika di matanya.


***


Pagi menjelang.


Naeva membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya sedang berada di kamar Abellard. Dan pria itu sedang duduk dengan mata terpejam pada kursi di samping tempat tidurnya.


Gadis itu mengerjapkan matanya sesaat. Mengingat-ingat apa yang telah terjadi semalam. Yang terekam di pikirannya hanyalah acara makan malam dan kemudian ia merasa pusing.


Apa ia semalam pingsan sehingga Abellard membawanya kemari?


Gadis itu bangkit perlahan dari tidurnya. Namun kemudian tangannya langsung memegang kepala yang terasa berdenyut.


"Oh, ya Allah ...." desahnya.


Apa yang terjadi pada kepala ini? Apa mungkin tekanan darah menurun?


Naeva menoleh pada Abellard. Pria itu masih tertidur dalam posisi duduk. Mungkin semalaman Abellard menjaganya.


Hati Naeva masih merasa kesal pada Abellard. Tapi matanya malah ingin menatap lebih lama. Wajah tampan Abellard yang tanpa ekspresi itu tampak seperti patung seorang dewa yang terpahat sempurna.


"Apa aku sangat tampan?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Abellard yang ia kira masih tertidur. Seperti merasakan Dejavu, Naeva teringat pada kenangan saat Abellard baru sadar dari pingsan setelah menolongnya ketika terjatuh ke dalam jurang. Pria itu juga pura-pura tidur dan menanyakan hal yang sama.


Naeva langsung membuang muka ke arah lain. "Kau ... sangat menyebalkan!" jawabnya.


Lalu bergegas turun dari tempat tidur mewah Abellard dan melangkah pergi tanpa berkata apapun.


Tap ....

__ADS_1


Tangannya diraih lembut oleh sang Comte.


__ADS_2