Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 77


__ADS_3

Bab 77


Malam pun tiba.


Lampu-lampu kastil mulai dinyalakan. Sehingga bangunan megah itu tampak terang benderang di tengah kegelapan.


Di dalam sana, seorang gadis cantik tampak tak sabar melihat pelayan yang sedang membantunya memakai gaun indah berwarna hijau tua melalui cerminnya.


"Cepatlah, aku hendak melakukan sesuatu yang penting sekarang," desaknya.


"Baik my lady, ini sudah selesai," jawab si pelayan sembari mengambil hiasan rambut yang berwarna senada dengan gaun sang majikan dari atas meja rias. Lalu menyematkannya dengan tergesa.


Lady Angelia tak lagi sempat mematut diri lebih lama seperti biasanya. Ia harus cepat mendatangi kamar Abellard sebelum pelayan kepercayaan Maria mendahului.


Ini sudah waktunya makan malam, ia akan mengetuk sepuluh kali agar orang yang ada di dalam kamar itu mengira dirinya pelayan yang mengantarkan makanan.


Dengan tergesa, gadis itu melangkah keluar kamar dan menuju ke pintu kamar Abellard yang berjarak sedikit jauh dari kamarnya.


Namun pintu kamar yang berdampingan dengan kamarnya tiba-tiba terbuka. Dan Duchess of Medwin muncul dari dalam.


"Angelia? Oh untunglah aku menemukanmu di sini. Daddy-mu meminta kita datang ke ruang tamu."


"Untuk apa?"


Ibunya mencoba tersenyum. "Kita datang saja dulu, nanti kau juga akan tahu."


"Tidak, Mommy. Aku sedang ada urusan."


"Tidak akan lama, Sweet heart ... kau bisa pergi setelah memenuhi panggilan Daddy."


Lady Angelia menghela napas tak sabar.


"Tapi buat apa, Mommy?"


"Daddy ingin mengenalkanmu dengan Monsieur Simon. Seorang pengusaha sukses."


"Lagi? Kenapa Daddy terus memanfaaatkan ku untuk mendekati pria-pria yang membawa keuntungan untuk bisnisnya?" protes Lady Angelia nelangsa.


"Sweet heart, kau hanya perlu datang dan tidak perlu meladeni."


"Tapi untuk apa lagi, Mommy?! Bukankah aku akan segera menikah dengan seorang Comte yang terhebat di kota Marseille ini? Apa lagi yang diinginkan Daddy?!" Suara Lady Angelia sekarang terdengar keras dan membentak, namun menyiratkan kegetiran.


Mata Duchess tampak berkaca-kaca. "Maafkan Mommy yang tak bisa membelamu, Sayangku. Tapi tolong pahami Daddy-mu. Dulu dia merasa tak berharga di mata para bangsawan, karena dia hanyalah anak dari istri simpanan. Hingga sampai sekarang ia bekerja tanpa lelah untuk mendapatkan uang yang telah menaikkan martabatnya."


Lady Angelia melengos. Jika ibunya sudah mengingatkan hal itu, ia tak lagi bisa membantah.


"Baiklah, tapi setelah berbasa-basi aku langsung pergi ya, Mom?"


Duchess of Medwin mengangguk seraya menghapus air mata yang terlanjur merembes di ujung matanya dengan ujung jari. Lalu menggandeng tangan putrinya.


Kedua wanita terhormat itu kemudian melangkah anggun ke ruang tamu.


Di sofa ruang tamu yang berwarna putih tulang, duduk seorang pria dewasa dengan setelan tuksedo berwarna coklat muda bersama Duke of Medwin dan beberapa tamu wanita Comtesse.


Sang Lady langsung dapat menebak bahwa pria itulah yang dimaksud pengusaha sukses oleh ibunya.


Duke of Medwin tersenyum senang menyambut istri dan putrinya.


"Monsieur Simon ... perkenalkan, inilah istri saya bersama putri kami, Lady Angelia."


Pria itu bangkit dari Sofanya, kemudian membungkuk sopan dengan bibir tersenyum ramah.


Lady Angelia tidak terlalu mempedulikan, matanya sebentar-sebentar melirik ke arah jam besar dengan bandul seukuran kepalan tangan orang dewasa, yang tergantung di dinding ruang tamu itu.


"Ravi de vous rencontrer ...." ucap Monsieur Simon. (Ravi de vous rencontrer: Senang bertemu dengan Anda)


"Ravi de vous rencontrer, Monsieur ...." Duchess of Medwin yang membalas.

__ADS_1


"Mari, duduklah Sweet heart," Duke of Medwin menepuk sofa di sampingnya. "Apa kau tahu? Monsieur Simon ternyata juga pernah tinggal di Inggris dan berniaga di sana. Gerainya dekat dengan tempatmu belajar menyanyi. Apa kau ingat? Gerai perhiasan yang terkenal itu?"


Lady Angelia menggigit bibirnya dengan raut cemas. Ia tak begitu memahami pertanyaan ayahnya, karena tak benar-benar mendengarkan. Pikirannya sedang mengembara pada rencananya.


Sang Lady kemudian hanya menggeleng untuk menanggapi.


"Daddy, maafkan aku. Aku ada urusan yang harus dikerjakan sekarang. Aku akan mengobrol kembali saat kita makan malam nanti," ujarnya tergesa.


***


Amily membawa nampan berisi makanan dari dapur. Wajahnya tampak begitu sumringah. Makanan yang beru saja matang itu akan segera ia bawakan ke kamar Monsieur Comte.


Dengan langkah penuh semangat dan hati yang berdebar penuh suka cita, ia melangkahkan kakinya.


"Kau hendak kemana?"


Tiba-tiba Lucie menghadang di hadapannya.


"Mlle Lucie? Saya hendak mengantarkan makanan ini ke kamar Monsieur Comte."


"Ini masih terlalu awal, bukankah waktu makan malam biasanya sesaat lagi?"


"Iya. Tapi tinggal beberapa menit lagi, M'mselle. Saya tidak ingin terlambat."


"Kau tidak akan terlambat, cobalah periksa dulu. Mungkin ada yang kau lupakan," Lucie mencoba mengulur waktu. Ia belum melihat Lady Angelia mendatangi kamar Monsieur Comte.


"Ini sudah lengkap, M'mselle," jawab Amily.


Namun ternyata orang yang mengajaknya bicara malah memperhatikan ke arah lain dengan raut cemas.


"Mlle Lucie?" panggilnya.


Lucie segera menoleh dengan tingkah gelisah. "I-iya?" jawab wanita bertompel itu. Keningnya tampak berkeringat. Ia tak pernah bermain strategi seperti ini, sehingga benar-benar gugup.


Kemana sebenarnya Lady Angelia? Kenapa belum juga datang?


Perhatian Lucie langsung tertarik saat mendengar kata stew ayam. Matanya melihat ke arah nampan dengan kening mengernyit.


"Stew ayam? Kenapa kau membawa stew ayam?" tanya Lucie bingung. Rasanya tadi siang ia mendengar Maria melarang tukang masak membuat stew ayam.


"Karena ini makanan kesukaan Monsieur Comte, M'mselle."


Lucie terpaku. Apa maknanya ini? Apa kecurigaannya bahwa ada orang lain yang berada di kamar Monsieur Comte itu keliru?


"Maaf, M'mselle. Izinkan saya mengantar makanan ini sekarang agar tidak terlambat," pinta Amily sopan.


Lucie terpaksa memberikan jalan dengan menggeser langkahnya.


Namun baru saja Amily melangkah,


tap!


Lengannya tiba-tiba dicengkeram seseorang.


"Ya Tuhan!" pekik gadis itu terkejut sambil melihat orang yang sekonyong-konyong muncul dan berbuat kasar padanya.


"Biar aku yang mengantarnya!" sentak orang yang ternyata adalah Lady Angelia itu, kemudian merebut nampan makanan dari tangan Amily. Hingga kuah rebusan ayam tumpah di nampan. Tapi sepertinya sang Lady tak begitu peduli.


"Lady Angelia?" seru Amily kaget.


"Ya, kau kembalilah ke dapur. Aku yang akan mengantarkan makanan ini untuk calon suamiku!" ketusnya dengan tatapan mengintimidasi.


Wajah Amily seketika pucat pasi. "Tapi ... Mme Maria memerintahkan saya untuk mengantarkannya," bantahnya. Ia tampak takut, tapi sekuat hati gadis belia itu berusaha memberanikan diri.


"Apa kau kira Maria lebih tinggi kedudukannya daripada aku yang seorang calon istri pemilik Kastil ini?!" tekan sang Lady. "Cepat menyingkir dan kembali ke dapur!" ketusnya lagi.


Lalu tanpa mempedulikan lagi gadis pelayan yang baru saja berani membantahnya itu, Lady Angelia melangkah melewatinya.

__ADS_1


Sang Lady kemudian menuju ke kamar Abellard.


Begitu sampai di hadapan pintu, ia menarik napas dalam-dalam. Menyiapkan hati untuk melabrak gadis kampung yang telah merebut calon suaminya. Ia akan masuk ke dalam sana dan menyeret rambut saingannya itu hingga ke hadapan semua orang.


Gadis berwajah peri itu benar-benar murka. Matanya berkilat oleh api kemarahan.


Tangannya yang mengepal erat kemudian terangkat untuk mengetuk. Persis seperti yang dilihatnya dari Amily tadi siang. Pelan, hingga sampai sepuluh kali ketukan.


Beberapa saat kemudian ....


Ceklek


Bunyi kunci yang diputar.


Lady Angelia merasa jantungnya berdetak kencang. Tangannya yang terasa dingin tampak gemetar saat membuka pintu. Gemetar oleh kemarahan dan juga ketegangan.


Kemudian ia melangkah masuk ke dalam kamar itu.


Dan sejurus kemudian, matanya tampak melotot! Saat melihat ke samping kiri, tepatnya ke belakang pintu.


***


Comtesse mengajak tamu-tamunya ke ruang makan. Malam ini tak banyak yang ia undang, karena Abellard, putranya belum juga mau keluar. Ia tak suka mendengar banyak pertanyaan dari para tamu tentang ketidakhadiran putranya itu.


"Kemana perginya putri kita?" bisik Duke of Medwin pada istrinya begitu mereka telah duduk di salah satu kursi makan.


Duchess of Medwin tampak gelisah, "aku juga tak tahu, Sayang. Dia bilang akan kembali saat makan malam dimulai."


"Ck!" Duke itu mendecak kesal. "Putrimu itu memang tak bisa diandalkan! Harusnya pengusaha seperti Monsieur Simon itu tidak akan berpikir dua kali untuk berinvestasi tanah jika dia tertarik pada Angelia!" gerutunya.


Duchess of Medwin hanya bisa mengeluh di dalam hati. Suaminya itu selalu mengatakan 'putrimu' jika Angelia tak sesuai harapannya. Tapi akan mengatakan 'putriku' jika Angelia bisa memenuhi keinginannya.


Baru saja acara makan malam para kalangan atas itu dimulai, tiba-tiba Maria berlari tergopoh-gopoh menghampiri Mme Aamber dan membisikkan sesuatu.


Sejurus kemudian, tampak wajah sang Comtesse berubah terkejut.


"Apa?! Pelayan yang menjadi pelaku peristiwa racun itu datang kembali? Untuk apa?!" teriaknya tanpa sadar.


Hingga membuat para tamu berhenti makan dan memperhatikan.


~Sementara itu, di dalam kamar Comtesse.


Lady Angelia berdiri terpaku menatap pria yang berdiri di belakang pintu.


Itu ... Abellard.


Pria itu telah rapi dan tampak gagah dengan tuksedo berwarna perak, dan menatapnya dengan bibir tersenyum.


Sang Comte kemudian mengulurkan tangan untuk mengambil nampan dari tangannya.


"Aku tak ingin makan di dalam kamar. Kita akan datang bersama menghadiri makan malamnya," ujar pria itu dengan senyuman misterius.


***


Halo sayang-sayangku ....


Alhamdulillah, akhirnya kisah Naeva milik kita bersama ini meraih kemenangan dalam ajang lomba menulis novel dengan tema 100% Wanita Ideal yang diselenggarakan oleh Noveltoon. 🥳🥳🥳🥳🥳


Kemenangan ini berkat anugerah dari Allah dan juga berkat dukungan kalian semua. Saya sangat berterimakasih.


Semoga dengan adanya kemenangan ini semakin banyak yang mampir dan bergabung di kolom komentar kita untuk saling menyapa.


Love you very very very much my reader ... ❤️❤️❤️



__ADS_1


__ADS_2