Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 46


__ADS_3

Dengan menahan napas, tangan Abellard yang gemetar terjulur ke arah hidung Claire untuk memeriksa napasnya. Dan saat jari telunjuknya tak lagi merasakan hembusan napas, Abellard menutup matanya erat dengan raut pedih.


"Apa dia ... masih hidup?" tanya si pengawal.


Abellard menggeleng pelan.


"A-apa yang harus kita lakukan sekarang, Monsieur Comte?" suara pengawal terdengar panik.


"Panggil yang lain, kita akan membawa jasadnya pulang ke Marseille."


***


Setelah Claire dimakamkan, Abellard harus menjalani pemeriksaan sebagai saksi. Semua diurus oleh Monsieur Dupon. Hingga ia terbebas dari segala tuntutan. Dan selama satu minggu, sang Comte hanya berdiam di kastilnya. Menenangkan suasana hati yang teramat shock setelah kejadian mengerikan itu.


Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk pergi. Menemui pujaan hatinya dan merancang masa depannya sesegera mungkin. Abellard tak ingin kejadian seperti ini terulang lagi. Tak ingin lagi ada perempuan yang meminta bantuannya dan kemudian salah paham terhadap kebaikannya seperti Claire.


Ia mengutus seseorang untuk mencari tahu alamat pasti dari calon istrinya itu, dan mengirimkan telegram. Mengabarkan bahwa dirinya akan datang satu minggu kemudian.


Minggu yang kedua pun berlalu. Bersama seorang pengawal, ia berangkat ke Kastil Wisteria. Kastil tua yang berada nun jauh dari kota Marseille.


Perjalanan yang ia tempuh memakan waktu sampai dua hari. Hingga kemudian ia memasuki sebuah desa yang sangat hijau dan asri. Bunga Wisteria masih berkuncup menyambut musim semi. Di desa itulah gadis sederhana pujaan hatinya tinggal. Dan menurut informasi yang ia dapatkan, kastil tuanya berada diujung desa di tepi hutan.


Malam pun menjelang. Abellard tak ingin singgah di penginapan. Gadis dengan senyuman hangat itu pasti akan mengijinkan tamu jauh sepertinya untuk menginap barang satu malam. Ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Karena rasa rindu di hati tak dapat lagi dibendungnya. Ingin segera menatap gadis sederhana itu dalam bentuk nyata.


"Berhenti!" Tiba-tiba sekelompok laki-laki bersetelan hitam mencegat perjalanannya.


Abellard turun dari keretanya ditemani sang pengawal.


"Ada apa?" Sang Comte bertanya dengan nada sopan.


Seorang pemuda berwajah tampan maju menyeruak pria-pria berbadan besar dan berwajah sangar yang menghadang garang di depan kereta Abellard.


"Aku ingin menuntut hutang!" Pemuda itu menjawab dengan raut bengis.


"Hutang?" Abellard mengernyit.


"Ya, hutang nyawa!"


Abellard menggeleng bingung. "Saya tak paham maksud Anda."


Pemuda di hadapannya menggeletukkan gigi hingga rahangnya terlihat mengeras. "Kau telah merebut kekasihku! Menjadikannya simpanan dan setelah kau bosan, kau membunuhnya dengan sadis!"


Abellard langsung mengerti apa yang sedang di hadapinya.


"Jadi Anda kekasihnya Mlle Claire? Anda harus tahu, hubungan kami cuma hubungan palsu. Dia yang memintaku untuk bersandiwara menjadi kekasihnya. Dan Anda juga harus tahu bahwa saya tidak membunuhnya. Mlle Claire menusuk dirinya sendiri."


"Kenapa dia harus bunuh diri di hadapanmu?"

__ADS_1


"Karena ... dia jatuh cinta pada saya dan saya tak bisa membalas perasaannya," terang Abellard apa adanya.


Pemuda itu mengerang marah. Harga dirinya terinjak-injak mendengar kenyataan itu. Dengan satu teriakan ia memerintahkan lima pria sangar yang mendampinginya untuk menyerang.


Pengawal segera maju ke hadapan sang Comte untuk melindungi, dengan menodongkan senapan kecil yang selalu dibekali tuannya saat mereka melakukan perjalanan jauh.


Pihak lawan langsung menembak tanpa memberi jeda.


Duar! Duar! Duar!


Sang pengawal pun dengan sigap membalasnya.


Duar!


Mereka kalah jumlah, dan mereka pun hanya memiliki satu senjata. Karena Abellard tak menyangka akan terjadi penembakan di tengah perjalanannya menjemput cinta.


Kuda yang menarik kereta Abellard seketika meringkik kaget mendengar suara letupan-letupan senjata yang kencang.


"Kita berlindung di belakang kereta!" instruksi Abellard pada pengawalnya. Lalu berlari sembari merunduk ke belakang kereta.


"Baik Monsieur ... Akh!" Tiba-tiba si pengawal berteriak keras, saat sebutir timah panas menembus dadanya. Sang pengawal roboh dan terkapar di depan kaki tuannya.


"Ya Tuhan!" Abellard berseru tegang melihat pengawalnya. "Pengawal!" teriaknya. Namun sepertinya sang pengawal telah menghembuskan napas terakhirnya. Dengan cepat Abellard mengambil senapan dari tangan si pengawal untuk melindungi dirinya.


"Jatuhkan senjatanya! Atau kau akan ditembak bertubi-tubi sekarang juga!" teriak kekasih Claire.


Perlahan Abellard menjatuhkan senjatanya di tanah. Matanya menatap was-was. Bersiaga menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.


Pemuda itu memberi kode. Kode yang membuat para pria sangar itu mengambil tongkat kayu berukuran besar dan menghampirinya.


Abellard meneguk salivanya dengan susah payah. Mata birunya mengawasi dengan tajam. Bersiap untuk mengambil kembali senapan di tanah. Dan begitu musuhnya itu telah berjarak sekitar 7 langkah, Abellard menyambar senapan, mengokangnya dengan cepat dan menembak salah satu dari mereka.


Satu orang terjatuh. Namun sayang, senjatanya hanya bisa satu kali menembak untuk satu kokangan. Dan di saat ia menarik kokangan kedua, sebuah kayu besar menghantam kepalanya.


Abellard roboh dengan posisi bersujud. Senapannya ia peluk dengan erat. Di saat pukulan-pukulan lain menghantam tubuhnya, sang Comte hanya bisa meringkuk menahan sakit yang teramat sangat, menghantam dan menghujam di sekujur tubuhnya.


Hingga beberapa saat ia merasa kesadarannya mulai menghilang, akibat rasa sakit yang luar biasa.


Sebuah bayangan menghampirinya. Gadis sederhana yang tersenyum menantinya. Untuk membangun masa depan yang cerah dan penuh cinta.


Tidak!


Ia tak boleh mati di sini. Tak ada yang boleh merenggut masa depan yang telah terbuka dan dirancangnya sedemikian rupa.


Dengan sisa tenaga, Abellard mengokang senjatanya sekali lagi.


Ceklek!

__ADS_1


Di tengah kesibukan menghajar sang Comte, para pria sangar itu tak tahu bahwa korban mereka telah mengokang senapan dan mengarahkan moncong senjata itu pada tuan mereka.


Duar!


"Akh!"


Pemuda itu berteriak dan roboh.


Seketika itu juga, pukulan yang mendera Abellard pun berhenti. Pria-pria sangar itu terpaku kaget. Dan begitu melihat tuannya terkapar di tanah, mereka segera berlari menghampiri.


"Anda tidak apa-apa, Tuan?"


"Bo-doh ... cepat ... habisi Comte itu!" erang si pemuda sembari menahan sakit.


Anak buahnya menatap ragu. Mereka tak bisa membiarkan sang Tuan kenapa-kenapa. Karena uang bayaran mereka tergantung pada hidup tuannya.


Menyadari itu, kekasih Claire menggeram marah.


"Aku hanya tertembak di kaki, bodoh! Aku tak akan membayar kalian jika sampai dia melarikan diri!"


Anak buahnya langsung berdiri mendengar ancaman tuannya. Namun saat mereka berbalik, sang Comte telah tidak ada di sana. Hanya tinggal senapan yang tak lagi berpeluru.


*


Abellard terus berlari. Terengah-engah dengan kepala yang berdenyut-denyut, serasa mau pecah. Darah segar telah mengalir dari kepala yang terluka hingga membasahi wajahnya.


Namun ia tak boleh berhenti. Para pria sangar itu pasti akan segera menangkapnya. Dengan tertatih-tatih ia menelusuri jalan setapak yang menuju ke satu arah.


Abellard terus mengikuti jalan itu seiring mengikuti kata hatinya, yang seolah membimbing langkahnya menuju suatu tempat.


Hingga kemudian ia mencapai sebuah gerbang dan langsung memasukinya.


Tenaganya benar-benar habis sekarang. Penglihatan pun tambah berkunang-kunang.


Samar ia melihat bayangan gadis sederhana pujaannya berlari menghampiri.


Ah ....


Mungkinkah gadis itu sebenarnya adalah bidadari? Dan sekarang sang pujaan hati tengah menjemput kematiannya dan membimbingnya ke surga.


Abellard tersenyum.


Dengan penuh semangat ia menyeret langkahnya menyongsong si gadis pemilik senyuman hangat itu.


Namun kunang-kunang di matanya semakin menutupi pandangan. Dan detik selanjutnya pandangan sang Comte menjadi gelap gulita bersamaan dengan hilangnya tenaga di kedua tungkai kaki.


Bruk!

__ADS_1


Tubuhnya tersungkur di tanah berumput hijau yang terasa basah.


__ADS_2