Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 56


__ADS_3

Mme Aamber mengajak Naeva masuk ke dalam ruangan kerjanya, ruangan yang dulu adalah ruang kerja suaminya, ayah dari Abellard.


Wanita elegan itu kemudian mempersilakan Naeva yang masih berdiri kaku untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


Sebuah meja kerja yang penuh dengan berkas-berkas menjadi penghalang di antara mereka.


"Mlle Gaulle, saya ingin membahas masalah batu mulia." Sang Comtesse langsung membahas tujuannya.


Naeva mengangguk, "baik, Ma'am ...."


Mme Aamber mengambil selembar kertas berukuran lebar yang berilustrasi gambar batu-batu mulia.


"Apa kau benar-benar mengenal banyak jenis batu mulia?" tanya Mme Aamber sembari menggelar kertas itu di atas meja.


"Tidak banyak, Ma'am. Hanya beberapa yang pernah dibawa pulang ayah saya."


"Coba lihat gambar ini, apa ada yang kau kenali jenisnya?"


Naeva bangkit dari kursinya agar bisa memperhatikan dengan seksama gambar pada kertas yang lebar itu. Kemudian jari telunjuknya mulai menunjuk batu mulia yang paling dekat dengannya. "Ini batu Lazuardi, batu permata ini dihargai karena warna birunya yang cantik."


Mme Aamber mendengarkannya dengan seksama. Sampai jari Naeva telah menunjuk hampir semua gambar batu mulia dan menjelaskannya dengan sangat cerdas. Hanya beberapa batu yang tak diketahuinya.


"Bagaimana kau bisa mengetahui begitu banyak jenis batu mulia? Kau pernah melihat semua batu mulia ini secara langsung?" Mme Aamber kemudian bertanya dengan raut takjub.


"Tidak semua Ma'am, ada beberapa yang pernah dibawa pulang ayah saya. Itupun hadiah dari teman-temannya. Selebihnya hanya berupa ilustrasi yang semacam ini juga. Beliau benar-benar pecinta batu mulia langka, dan saya juga memiliki ketertarikan yang sama."


"Oh, baiklah. Menurutmu, batu mulia mana yang cocok untuk dijadikan bisnis?"


Naeva tampak berpikir sesaat, kemudian jari telunjuknya menunjuk beberapa gambar. "Ini yang paling bagus kualitasnya, Ma'am. Tapi untuk dibisniskan tentu harus dicocokkan dengan minat dan selera orang-orang yang menjadi target pemasarannya. Tergantung orang seperti apa yang akan menjadi target Anda."


Mme Aamber langsung mengangguk-angguk penuh semangat. "Ya ya, benar sekali! Targetku tentu saja istri-istri para bangsawan yang glamor itu. Mereka suka sekali pada perhiasan. Dan pastinya semua suka barang yang bertampilan mewah," ujarnya. Tanpa sadar ia mulai tenggelam dalam obrolannya dengan Naeva tanpa rasa kaku dan keterbatasan seperti biasanya.


"Kalau begitu, model seperti ini sepertinya akan mencuri perhatian walau kualitasnya pertengahan," usul Naeva sembari menunjuk salah satu batu mulia yang paling berkilau dan indah.


"Yap, tepat sekali! Ini juga yang menurutku sangat menarik perhatian." Mme Aamber tersenyum penuh semangat. "Tapi kita harus memilih beberapa yang berkualitas tinggi," sambungnya.


"Ya itu benar, Ma'am. Agar tokonya juga dinilai berkualitas dan tidak dianggap murahan. Anda bisa memilih yang paling berkualitas seperti yang ini," sambut Naeva tak kalah bersemangat sembari menunjuk beberapa batu mulia berkualitas tinggi.


Mme Aamber kembali mengangguk-angguk sembari memperhatikan gambar yang baru saja ditunjuk Naeva.


Naeva menatap wanita paruh baya yang cantik itu sembari tersenyum. Hilang sudah ketegangan dan ketakutannya terhadap sang Comtesse.


Ternyata Mme Aamber tidak menakutkan seperti bayangannya. Sikap dingin dan kaku itu sepertinya hanyalah tameng, agar semua orang melihatnya sebagai wanita yang kuat.


Mme Aamber menghela napas puas. Lalu beralih menatap Naeva. "Terimakasih Mlle Gaulle. Kau sangat membantu," ucapnya tulus.


Naeva mengangguk hormat. "Tidak masalah, Ma'am. Saya sangat senang bisa membantu Anda," jawabnya.


Mme Aamber tersenyum senang mendengar jawaban Naeva. "Ah, iya. Nanti sore Monsieur Simon akan datang, apa kau bisa menemaniku menemuinya?"

__ADS_1


Naeva langsung mengangguk dengan raut takjub. Matanya sampai membulat mendengar ajakan Mme Aamber yang bernada hangat. Bibirnya yang berwarna merah muda sontak mengembangkan senyuman gembira. "Tentu saja, Ma'am. Saya akan menemani Anda."


Mme Aamber kembali tersenyum lega.


"Tadi itu di dapur ada acara apa?"


Senyuman Naeva seketika menghilang, hatinya was-was jika sampai Mme Aamber kembali marah.


"I-itu ... acara ulangtahun salah seorang pelayan, Ma'am. Dan mereka mengundang saya."


"Oh, mereka memang sering merayakannya."


Kening Naeva mengernyit, "Anda mengetahuinya? Dan Anda memberi izin?"


"Ya, tentu saja. Tak ada yang merugikan jika mereka merayakannya. Pekerjaan tetap diselesaikan dengan baik. Dan perayaan itu juga bisa menjadi hiburan dan penyemangat buat mereka."


Jawaban Mme Aamber benar-benar diluar dugaan Naeva. "Anda sangat baik, Ma'am!" pujinya.


"Baiklah kalau begitu. Kau pasti ingin kembali ke dapur. Sampai jumpa nanti sore, M'mselle ...."


Naeva membungkuk hormat, "Sampai jumpa kembali, Ma'am," ucapnya. Lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan hati yang sungguh lega. Rasanya pengalamannya berbincang dengan Mme Aamber barusan sangat menakjubkan dan tak disangka-sangka.


Begitu sampai di dapur, gadis itu melihat suasana dapur yang telah bersih. Para pelayan langsung menghampirinya dengan raut khawatir.


"Apa yang terjadi, M'mselle? Apa Anda dimarahi Comtesse gara-gara kami?"


"Oh, syukurlah kalau begitu," ucap Amily. "Tapi kalau Anda sedang ada masalah ataupun sedang merasa sedih, tolong berbagi dengan kami. Anda tidak boleh menanggungnya sendiri."


"Iya, M'mselle. Itu benar," sahut yang lain.


Naeva tersenyum, "tidak, aku benar-benar baik-baik saja. Jadi bagaimana acaranya? Aku terlambat kembali untuk membantu."


"Tidak apa, M'mselle. Anda sekarang berkemas saja. Sebentar lagi acaranya kita mulai. Dan Monsieur Comte juga berjanji akan datang, anda harus berdandan yang cantik untuknya," ujar pelayan senior dengan nada menggoda.


Perkataan pelayan itu seketika membuat Naeva tersipu. Pipinya yang mulus tampak merona merah muda. "Aku akan bersiap sekarang," jawabnya gugup.


Para gadis pelayan yang masih belia langsung cekikikan melihat gadis baik hati itu tersipu malu.


***


Di dalam kamarnya, Naeva tampak bolak-balik dari lemari pakaian ke cermin sembari membawa sebuah gaun, yang kemudian ia cocokkan pada tubuhnya dan mematut diri dengan wajah cemas.


Ia tak tahu harus memakai apa. Ia tak pernah bingung sebelumnya. Bahkan untuk hadir di acara makan malam mewah sekalipun ia tak terlalu memikirkan masalah gaun. Tapi kali ini berbeda. Walau tempatnya di dapur, tapi acaranya lebih mendebarkan. Ia akan bertemu dengan Abellard dalam suasana yang gembira dan penuh cinta. Suasana yang bebas untuk berekspresi, bukan suasana kaku seperti makan malam mewah itu.


Akhirnya Naeva menjatuhkan pilihannya pada gaun berwarna ungu muda yang cerah namun lembut. Ia juga menggerai rambutnya dengan sedikit kunciran dibelakang.


Dengan senyuman manis gadis itu menatap puas penampilannya saat ini, ceria dan santai.


Ia kemudian mengumpulkan beberapa tangkai bunga yang masih segar dan dibuat menjadi serangkai bunga yang indah sebagai hadiah. Ia tak punya apa-apa untuk dihadiahkan. Tak mungkin ia memberikan barang bekas pakainya.

__ADS_1


Setelah merasa siap, gadis itu segera turun menuju ke dapur kastil.


Begitu sampai di sana, sesuatu yang mengejutkan membuat langkah gadis itu terhenti. Abellard telah menunggu di sana. Pria itu tampak begitu tampan. Senyuman menawannya langsung menyambut Naeva.


"Kau cantik sekali," pujinya.


Oh sungguh, Naeva merasa dunianya terguncang seketika. Jantung berdegup kencang dan napas spontan tertahan. Ia langsung menunduk, merasakan panas di pipinya akibat rasa malu.


Para pelayan belia langsung cekikikan dan heboh mendengar pujian sang Comte terhadap Mlle Gaulle.


"Ya ampun, manis sekali. Aku sampai merinding," celetuk salah seorang gadis pada temannya.


"Iya. Aku juga ingin seperti Mlle Gaulle dengan Monsieur Comte, cinta mereka indah walau penuh perjuangan," timpal yang lain semakin melebih-lebihkan.


"Silakan duduk, M'mselle ...." Seorang pelayan senior menunjuk sebuah kursi yang berada di samping Abellard. Sepertinya mereka sengaja meletakkan kursi yang berdampingan untuknya dan Abellard. Sementara yang lain sedikit terpisah dari kursinya.


Naeva mengangguk. "Aku minta maaf, hanya bisa membawa bunga ini sebagai hadiah," ucapnya.


Pelayan senior itu tersenyum. "Tidak masalah, M'mselle. Karena bagi orang yang berulangtahun hari ini, kehadiran Anda lah yang akan menjadi hadiah terbaik untuknya."


"Benarkah?"


"Iya, kami akan menjemputnya sekarang. Tunggulah di kursi Anda."


Naeva mengangguk, lalu melangkah canggung ke arah kursi. Pasalnya tatapan Abellard tak sedikitpun teralih darinya.


Ya Allah, kenapa pria itu tidak menutup matanya saja? Kenapa pula tatapannya seperti itu, menggoda iman dan mengguncangkan hati?


Gadis itu duduk di kursi itu dengan detak jantung yang masih kencang.


"Kau semakin cantik kalau sedang malu-malu seperti ini," bisik Abellard menggoda.


"Jangan menggodaku terus. Atau aku akan ...." Naeva tak jadi melanjutkan ucapannya. Karena sebenarnya ia baru akan mengatakan bahwa ia akan membeku jika pria itu terus menatap dan menggodanya seperti itu.


"Akan apa? Akan semakin jatuh cinta padaku?" goda Abellard lagi.


Godaan yang membuat Naeva sontak mendelik kan matanya pada pria itu. Namun saat matanya bertabrakan dengan netra biru laut milik Abellard, hatinya malah semakin kacau. Gadis itu buru-buru berpaling ke arah lain.


"Bukan!" ketusnya. "Aku akan mewarnai wajahmu dengan karamel lagi," ucapnya asal, karena kebetulan melihat kue ulangtahun.



Abellard tersenyum melihat sikap meledak-ledak Naeva.


"Apa kau tahu persamaanmu dengan kembang api?" tanya pria itu.


"Tidak!" ketus Naeva lagi.


"Sama-sama indah dipandang walaupun meledak-ledak," jawab Abellard.

__ADS_1


__ADS_2