Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 29


__ADS_3

Tindak-tanduk gadis cantik berpenampilan elegan itu sangat mencurigakan. Gadis itu membuka sebuah botol kecil yang sedari tadi dalam genggamannya, lalu menuangkan cairan di dalam botol itu ke dalam makanan.


Brak!


Tak sengaja Marc menabrak seorang pelayan saat berbalik. Hingga baki berisi bahan dapur yang dibawa si pelayan jatuh dan isinya berserakan di lantai.


"Maaf! Saya tak sengaja," pria itu bergegas memungut bahan masakan di lantai.


"Tidak mengapa. Saya juga tak melihat anda di sini." Suara halus pelayan wanita itu menjawab dengan nada bersalah, dan bergegas membantu Marc.


"Terimakasih," ucapnya setelah semua terkumpulkan.


Namun Marc tak sempat melihatnya. Matanya tampak panik mencari perempuan yang menuangkan cairan misterius ke dalam makanan yang dipersiapkan untuk nona-nya.


Perempuan itu tak ada lagi di sana. Makanannya juga!


Dari ujung matanya, Marc melihat seseorang bergaun biru tua dari arah ruang depan.


Itu gaun perempuan tadi!


Pria itu segera mengejar hingga ke ruang depan. Perempuan yang tak lain adalah Angelia itu berhenti di aula begitu seseorang memanggilnya.


"Lady Angelia!" Comtesse muncul dengan senyuman lebar.


Langkah Marc seketika berhenti.


"Lady?" gumamnya bingung. Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa ingin mengirimkan makanan untuk nona-nya?


Angelia berbalik. Dan Marc bisa melihat gadis itu sedang membawa sekeranjang buah, bukan makanan tadi!


Raut Marc seketika panik. Kemana makanan yang tadi?


Tanpa pikir panjang, pria itu segera berlari ke belakang, mencari pintu keluar ke sebelah selatan.


Pikirannya begitu kalut. Bagaimana kalau makanan tadi ternyata dibubuhi racun? Oh, tidak!


Ia tak boleh terlambat! Tak boleh!


Beberapa pelayan menatapnya bingung. Namun Marc tak peduli. Jika saja ia bisa terbang, ia ingin melesat secepat mungkin.


***


Naeva membuka pintu kamarnya. Senyumannya tampak mengembang saat melihat siapa yang datang.


"Lucie?"


"Ya, ini saya, Lucie. Ternyata anda masih mengingat nama saya?" sinis nada bicara gadis bertompel itu.


"Ya, tentu saja."


"Apa karena saya sepupunya Comte?"


Naeva mengernyit bingung.


"Ya, itu sudah pasti," Lucie menjawab pertanyaannya sendiri. "Kau tak mengingat nama pelayan di sampingku ini, bukan?"


Naeva berpaling pada wanita pembawa nampan makanan yang menatapnya sinis.


"Aku ... bahkan tak mengenalnya," jawab Naeva apa adanya. Bagaimana bisa kenal, jika sejak ia datang, semua pelayan memusuhinya?


Lucie tampak mendengus. Ternyata memang benar yang dikatakan lady Angelia, gadis bernama Mlle Gaulle ini memang orang yang sombong.


"Aku membawakan makanan dari Comtesse. Kau harus memakannya walau tak suka. Aku tak tau harus mengatakan sesombong apa dirimu jika menolak pemberian Comtesse," sarkasnya.


Naeva benar-benar bingung melihat sikap Lucie yang tiba-tiba bermusuhan. Padahal saat pertama bertemu, Naeva bisa melihat kalau gadis yang memiliki kembaran ini begitu ramah dan polos.


"Saya pasti akan memakannya. Terimakasih telah mengantarkan."

__ADS_1


"Aku akan menunggu sampai kau menghabiskan makanannya," tukas Lucie. Ia takut jika Naeva tak benar-benar memakannya, Lady Angelia akan sedih. Dan menilainya tak bisa diandalkan.


Naeva terdiam sesaat. Sikap Lucie benar-benar aneh.


"Baiklah," jawabnya.


Gadis itu menghampiri nampan makanan yang telah diletakkan oleh pelayan di atas meja kamarnya.


Makanan itu terlihat enak, walau terlihat sedikit berantakan di pinggiran piring keramiknya. Seperti baru diaduk kembali.


"Tunggu!" Sebuah seruan tiba-tiba terdengar dari arah pintu.


Naeva melihat Marc berdiri di sana dengan wajah kelelahan dan nafas memburu.


"Marc? Kau sudah pulang?" Naeva urung mengambil sendok.


"Ya, saya baru sampai, M'mselle." Mata Marc beralih pada nampan makanan di hadapan sang nona. "Dan saya ingin membuatkan makanan kesukaan anda."


"Tidak perlu, Marc. Comtesse telah mengirimkan makanan untukku."


"Tapi saya ... saya sudah menyiapkan bahannya," Marc membuat alasan.


"Mlle Gaulle harus menghabiskan makanan itu!" sela Lucie.


Tatapan Marc beralih pada gadis bertompel yang menyela dengan wajah tak bersahabat. Siapa lagi perempuan ini?


"Harus?" tanya Marc dengan wajah curiga.


"Karena ini dari Comtesse."


Marc langsung meyakini kecurigaannya. Makanan itu bukan dari Comtesse. Ini pasti sebuah konspirasi.


"Jangan M'mselle! Makanan ini ...."


"Makanannya kenapa? Kau ingin menuduh Comtesse meracuninya?!" Lucie mendelik.


"Duduklah Marc, kita makan bersama," Naeva menyela dan berharap Marc tak lagi meneruskan.


"Biar saya saja yang memakannya, M'mselle. Saya sangat lapar." Marc mengambil sendok dan mulai memakan makanan di dalam piring berukuran paling besar dengan suapan yang penuh. Ia yakin hanya piring itu yang dicampur sesuatu. Jangan sampai Nona Naeva sempat memakannya.


Naeva menatap Marc yang duduk di hadapannya heran. Ada apa dengan Marc? Sikapnya pun terlihat aneh.


Beberapa menit kemudian, Marc terus makan dengan tergesa membuat Naeva tak jadi menyuap makanannya sendiri dan malah memperhatikan Marc. Hingga pria itu kemudian memakan suapan terakhir dengan raut lega.


"Oh ... syukurlah!" ucap laki-laki itu sembari meletakkan sendok di piring yang telah kosong.


Lucie dan pelayan wanita menatap Marc dengan tatapan menghujat, seolah sikap Marc barusan benar-benar tak beradab dan bar-bar.


"Marc, kau benar-benar kelaparan. Apa kau tak makan sejak pagi?"


"Ya," jawab Marc.


Naeva tersenyum.


"Kau mau makan lagi?"


"Tidak, M'mselle. Anda bisa memakan yang lainnya."


Naeva melirik Lucie yang masih berdiri memperhatikan sebelum menyuap makanannya. Rasanya risih makan dengan diawasi.


Namun Naeva tetap memakannya sampai habis.


"Oh ..." Marc mendesah saat merasakan panas di kerongkongannya.


"Marc, kau kenapa?"


"Kerongkongan saya serasa panas. Makanan tadi telah dicampuri sesuatu. Saya melihatnya sendiri, M'mselle. Sepertinya ada yang ingin menyakiti anda," jawab Marc dengan mata menatap tajam ke arah Lucie.

__ADS_1


Naeva terhenyak mendengarnya.


"Ya Tuhan! Lantas kenapa kau memakannya?"


"Agar anda tidak ... memakannya," Marc menjawab dengan suara terputus-putus.


Tak hanya kerongkongan, tubuhnya pun kini terasa panas.


Naeva segera bangkit dan meraba kening Marc.


Panas.


"Marc, ini bahaya! Kau harus segera diperiksa tabib!"


Lucie yang sedari tadi memasang wajah sinis kini tampak ketakutan.


"A-apa yang terjadi? Tak mungkin makanannya beracun!" kilahnya panik.


"Itu tak penting sekarang. Tolong panggilkan tabib sekarang juga!" ketus Naeva, panik dan juga kesal.


"I-iya ... saya akan panggilkan!" Lucie dan si pelayan buru-buru berlari keluar.


Naeva segera mengambil segelas air minum.


"Minumlah Marc, mungkin racun itu membuat tubuhmu dehidrasi," usulnya.


Marc meminum air itu seperti orang yang telah terdampar di Padang pasir selama berhari-hari. Melihat kondisi Marc yang teramat lemah, gadis itu membantunya untuk beristirahat di tempat tidur.


Air minum telah habis. Ia tak boleh berdiam diri di sini. Marc harus diberi pertolongan sebelum tabib datang.


"Marc, tunggulah sebentar. Aku akan segera kembali!"


Tanpa membuang waktu, Naeva berlari keluar, menuruni tangga secepat yang ia bisa. Dan menuju ke dapur.


Gadis itu kemudian mengambil air untuk mengompres, dan air untuk diminum Marc. Namun sebelum naik kembali, ia teringat dengan madu. Madu lebah yang pernah dikatakan almarhum ayahnya bisa menjadi penawar racun.


"Saya ingin meminta sedikit madu," pintanya pada salah seorang pelayan.


"Madu hanya untuk konsumsi keluarga inti Comtesse." Pelayan itu menolaknya.


"Tapi ini darurat! Ini masalah nyawa seseorang." Naeva memelas dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh bayangan Marc yang sedang kesakitan membuatnya rela melakukan apapun.


Beberapa orang pelayan melihatnya memohon tapi tak ada seorang pun yang menganggap penting.


Hingga seorang pelayan belia menatapnya kasihan dan diam-diam pergi mencari Maria.


Naeva hanya bisa mengurut dada menerima perlakuan para pelayan. Dan bergegas membawa air yang berhasil didapatkannya untuk Marc.


Sekilas ia mendengar nyinyiran pelayan yang berbisik-bisik.


"Beginilah nasibnya kalau bermimpi terlalu tinggi. Orang rendahan ingin bersanding dengan Comte. Kalau saja semudah itu, kita yang seorang pelayan juga memiliki kesempatan. Tapi aku cukup tahu diri!"


Naeva menelan salivanya mendengar cemoohan itu. Tapi saat ini yang penting adalah Marc. Biar saja mereka menghina sesuka hati.


Keadaan Marc semakin parah. Tubuhnya tampak merah dan panas, seolah dibakar dari dalam. Keringat pun telah membanjiri tubuh dan wajahnya.


Naeva segera mengompres dan memberikan Marc minum terus menerus.


Lima belas menit menunggu. Tabib belum juga datang. Naeva mulai cemas. Apa Lucie tak jadi memanggil tabibnya?


Sementara Marc mulai meracau. Panas yang di deritanya teramat tinggi.


Naeva benar-benar tak tahan melihatnya. Diraihnya tangan Marc yang panas dan menggenggamnya erat. Dadanya terasa sesak. Hingga air mata pun tak lagi sanggup dibendung.


"Marc, kenapa kau melakukan ini? Bagaimana hidupku nanti jika terjadi hal buruk padamu?" lirihnya di sela tangis.


"Aku ... aku tak akan membiarkan seorang pun menyakiti M'mselle, tak akan ...." racau Marc. "Perasaanku murni ... lebih murni dari cinta manapun."

__ADS_1


Ucapan Marc yang terakhir membuat Naeva terpaku.


"Apa maksudmu, Marc?" bisiknya dengan pipi yang masih dibasahi air mata.


__ADS_2