
Abellard menghela napas dan terpaksa menerima nampan roti itu sembari meneguk salivanya.
Naeva tersenyum melihat ekspresi Abellard. Rasanya bahagia sekali melakoni sandiwara suami istri ini. Tanpa sadar gadis itu mengucapkan sepatah kalimat yang muncul dari hatinya yang terdalam.
"Je vous aime, Abellard ...."
(Je vous aime: aku cinta kamu)
Abellard seketika membeku. Pria itu bahkan benar-benar mematung dengan tangan memegang nampan roti. Hingga beberapa saat, wajah tampannya menoleh pada Naeva.
"Kau ... mengatakan apa barusan?"
Naeva yang tersadar dengan ucapannya langsung salah tingkah dan mengalihkan pembicaraan. "Aku ... aku akan membuatkan teh untukmu."
Gadis itu buru-buru berbalik menuju karavan putri Phuri Dai. Namun ....
Tap!
Lengannya di tangkap Abellard.
Naeva berhenti melangkah, namun sama sekali tak berani berbalik menghadap Abellard. Detak jantungnya mulai berdetak kencang dan napasnya serasa tertahan. Saat ini Abellard pasti sedang menatapnya dalam-dalam, dan Naeva merasa tak sanggup membalas tatapan yang membuat hatinya kalang-kabut itu.
"Aku ingin kau mengatakannya sekali lagi."
"Mengatakan ... apa?"
"Apa yang kau katakan barusan."
Naeva memejamkan matanya. Abellard tak akan melepaskannya sebelum ia mengungkapkan kembali kalimat sakral tadi. Jadi mau tak mau ia harus mengatakannya agar tidak memancing perhatian orang lain.
"A-aku ... aku mencintaimu," ucapnya sembari menarik lengan dari genggaman Abellard dan berlari kecil menghampiri karavan putri Phuri Dai. Wajahnya benar-benar terasa panas saat ini, sementara jantung di dalam dada terus berpacu.
Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam dan berusaha bersikap biasa kembali di hadapan putri Phuri Dai.
Abellard tercenung. Menatap gadis yang berlari menghindarinya itu dengan perasaan melayang. Akhirnya ia mendengar sendiri ungkapan cinta dari mulut Naeva.
Hatinya sungguh membuncah oleh kebahagiaan. Dengan bibir tersenyum-senyum, pria itu mulai membakar rotinya.
"Mari, kita buat roti bakar yang paling enak!" serunya penuh semangat pada para pria gipsi yang awalnya ia sebut aneh.
Pria gipsi menatapnya heran. Bingung melihat keramahan yang tiba-tiba muncul dari orang yang sedari tadi menatap mereka tajam.
"Ya. Silakan, Monsieur," sambut menantu Phuri Dai canggung.
Setelah roti bakar dan teh panas terhidangkan, mereka duduk melingkar mengelilingi api unggun dan mulai mengisi perut. Sementara Phuri Dai dan ketua suku menikmati hidangan mereka di dalam karavan.
Naeva duduk di tengah-tengah gadis remaja yang berebut duduk di sampingnya. Sementara Abellard di seberang api unggun bersama para pria.
__ADS_1
Gadis itu menghirup teh panasnya pelan. Asap mengepul dari gelas keramik bergambar unik di tangannya. Udara yang dingin membuat panas teh cepat sekali menguap sehingga menimbulkan kepulan asap.
Perasaan Naeva tiba-tiba terusik oleh tatapan yang terus tertuju padanya. Dari balik asap ia melirik ke arah tatapan itu. Ternyata Abellard sedang memandangnya terus dengan bibir tersenyum.
"Uhuk! Uhuk!" Naeva seketika terbatuk-batuk, tersedak teh yang dihirupnya.
"Anda tidak apa-apa, M'mselle?" cemas putri Phuri Dai.
Sementara Abellard dengan sigap bangkit untuk menolongnya, namun ia urung menghampiri saat mendengar Naeva mengatakan dirinya baik-baik saja.
"Aku hanya tersedak sedikit," gadis itu tersenyum manis. Senyuman yang membuat Abellard duduk kembali dengan bibir yang ikut tersenyum. Sirat matanya menunjukkan bahwa dirinya sedang dimabuk cinta.
"Owek, owek, owek ...."
Tiba-tiba terdengar suara bayi menangis dari karavan ketiga, memecah kesunyian malam yang ditingkahi suara derak kayu bakar yang termakan api unggun.
"Suara bayi? Di sini ada bayi?" tanya Naeva kaget.
"Ya, M'mselle. Itu bayi saya. Sepertinya dia membutuhkan ASI. Maaf sekali, saya harus masuk lebih dulu," jawab putri Phuri Dai.
"Oh, tidak apa. Anda masuk saja. Saya juga akan segera beristirahat," jawab Naeva. Raut wajahnya tampak takjub. Ia sangat menyukai bayi. Matanya langsung berbinar antusias. Tentu putri Phuri Dai tak keberatan andai esok ia meminta untuk melihatnya.
Malam semakin larut. Setelah menghabiskan teh dan menikmati roti bakar, semuanya bubar dan menuju karavan masing-masing.
Malam itu kepala suku terpaksa tidur di luar karavan bersama Abellard.
Biasanya Abellard enggan menerima celana bekas orang lain. Namun entah kenapa malam itu ia merasa bisa membaur, dan itu sangat menyenangkan. Tanpa keberatan sang Comte mengganti celananya dengan celana pemuda gipsi itu.
Phuri Dai telah memejamkan matanya di atas kasur bertilam kain warna merah cerah. Namun Naeva belum bisa merebahkan tubuhnya. Hatinya mencemaskan Abellard yang harus tidur di alam terbuka.
Dengan hati penasaran, gadis itu mengintip keluar dari jendela karavan. Tampak Abellard sedang berbincang santai dengan putra Phuri Dai.
Sepertinya Abellard baik-baik saja. Ia tak menyangka Pria itu bisa dengan cepat menyesuaikan diri.
Naeva menghela napasnya. Pria bernetra biru yang sedang berbincang di luar sana itu sangat menakjubkan.
Naeva tak pernah membayangkan, cintanya akan berlabuh pada seorang pangeran. Dan pangeran itu sangat mencintainya.
Tiba-tiba Abellard menatap ke arahnya. Membuat Naeva terpaku. Ternyata Abellard sadar kalau dirinya sedang mengintip.
Pria itu tersenyum manis. Bibirnya kemudian bergerak untuk membisikkan sesuatu dari jarak jauh. Bisikan yang langsung membuat Naeva menutup jendela karavan dengan pipi yang merona. Bisikan yang memantik api cinta di dalam dadanya.
Bibir menawan Abellard baru saja membisikkan sesuatu.
"je t'aime vraiment ...."
(je t'aime vraiment: aku sangat mencintaimu)
__ADS_1
***
Pagi menjelang. Naeva membuka matanya dengan bibir tersenyum. Bisikan Abellard semalam telah membuatnya bermimpi indah sepanjang malam.
Gadis itu merenggangkan otot dengan merentangkan kedua tangannya sembari menguap.
"Selamat pagi, M'mselle. Saya turut senang melihat Anda tersenyum cerah pagi-pagi." Phuri Dai menyapa dari tempat duduk bersantai sambil memijat betis seperti biasa.
Naeva tersipu dan cepat-cepat merapikan rambutnya.
"Maaf, Phuri Dai. Apa saya bangun terlambat?" cemasnya.
"Tidak, M'mselle. Ini masih sangat pagi."
Naeva bergegas bangkit dan melongok keluar jendela. Suasana memang masih pagi. Udara pun masih berkabut. Tapi putra-putri Phuri Dai sudah mulai memasak di luar.
"Duduklah di sini, sebentar lagi sarapan akan segera diantarkan kemari," panggil Phuri Dai.
Naeva mengangguk dan menghampiri wanita itu. Duduk di atas karpet bulu yang lembut dan hangat.
"Gadis-gadis remaja itu, apa mereka juga putri Anda?"
"Ya. Saya memiliki tiga orang putri dan satu putra. Putri pertamaku telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Satu masih bayi dan satunya lagi putra yang mulai beranjak remaja."
Naeva manggut-manggut. "Mereka anak-anak yang baik dan sangat mencintai Anda, Phuri Dai."
"Semua karena usaha kami mendidik mereka dengan tulus dan penuh kasih sayang. Sehingga mereka tumbuh dan berbakti kepada kami dengan tulus dan penuh kasih pula. Seperti kata pepatah, M'mselle. Apa yang kau tanam maka itulah yang akan kau tuai."
Tak lama kemudian, seorang putri Phuri Dai yang masih remaja mengantarkan sarapan ke dalam karavan. Naeva mencium aroma lezat dari piring-piring makanan itu.
"Silakan dimakan, M'mselle," Phuri Dai mempersilakan dengan nada hangat. Sementara putrinya kembali keluar karavan.
"Terimakasih," ucap Naeva sembari mengambil salah satu mangkuk berisi stew ayam. (ayam yang direbus berkuah).
Namun tak ada roti sebagai pelengkap stew ayam itu, melainkan kue jagung yang harum rempah, namun beraroma manis dan mengundang selera.
"Ini adalah Ankruste. Makanan favorit kaum gipsi," jelas Phuri Dai ketika melihat Naeva memperhatikan kue kering di dalam piring keramik.
Naeva mengambil sekeping Ankruste. Menggigit dan mengunyah pelan. Gadis itu berpendapat jika kue itu memang enak, meski ia akan lebih memilih roti.
Selesai sarapan, ia cukup penasaran dengan keadaan Abellard. Namun Phuri Dai menyarankannya untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Ada sebuah baskom berisi air yang beraroma bunga. Dan ada sehelai kain bersih di samping baskom untuk Naeva mengeringkan diri setelah membasuh tubuhnya.
Sementara itu Phuri Dai menunggunya di luar karavan.
Aroma air yang harum merefleksi pikiran dan tubuhnya, hingga terasa begitu segar selesai membasuh diri.
__ADS_1
Naeva sangat bersyukur berjumpa dengan kaum gipsi. Keluarga gipsi ini benar-benar baik padanya dan Abellard. Pagi ini mereka akan berangkat dengan kuda sendiri. Berpisah dengan keluarga Phuri Dai yang hangat dan sangat menarik ini.