
Lady Angelia mematut dirinya di depan cermin dengan tatapan puas. Sementara pelayan pribadinya sibuk merapikan bagian bawah gaun berwarna hitam yang dipakainya. Gadis itu memakai perhiasan dari berlian yang sangat berkilauan di lehernya dan topi berbulu putih di kepala serta sarung tangan putih.
"Ambilkan kipasku, aku ingin keluar sebentar," titahnya pada pelayan. Ia tak ingin kepanasan dan membuat wajah segarnya berkeringat.
Dengan kipas di tangan, gadis itu melangkah anggun keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah mengintimidasi Naeva agar dirinya yang menjadi pasangan dansa Comte Abellard.
Hatinya menggerutu kesal, membayangkan gadis saingannya itu bahkan kini menempati kamar kesayangan sang Comte. Ah, ia terlalu menyepelekan gadis miskin dari kampung itu!
Tangannya bergerak menarik gagang pintu kamar yang berada tepat di samping kamar Abellard. Tak perlu mengetuk, karena ia masuk bukan untuk beramah tamah dengan penghuninya.
Tapi ternyata pintu itu terkunci. Gadis itu mengernyit. Lalu menggoyangkan beberapa kali pegangan pintunya. Namun masih tak ada tanda-tanda jika pintu akan dibukakan.
Apa yang dilakukan perempuan miskin itu di dalam? Apa jangan-jangan ada orang yang sedang bersamanya? Wajah Lady Angelia semakin mengernyit penasaran. Mungkin saja di dalam sana gadis miskin itu sedang bersama laki-laki yang disebut saudaranya. Lady Angelia tak pernah percaya mereka benar-benar bersaudara, ia selalu yakin bahwa ada sesuatu diantara mereka. Laki-laki bernama Marc itu tampaknya menyimpan rasa.
Dengan raut curiga gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia berencana akan mengintip. Menemukan rahasia Mlle Gaulle, berarti menemukan celah untuk menjatuhkannya.
Melalui lubang kunci, gadis itu memicingkan sebelah matanya dan mulai mengintai.
Betapa terkejutnya ia melihat pemandangan di dalam sana. Lady Angelia sampai terlonjak berdiri dengan wajah pucat pasi.
Ia baru saja melihat sesuatu yang aneh. Membingungkan dan mengejutkan. Gadis kampung itu sedang melakukan ibadah yang biasa dilakukan para budak dari Maroko. Ibadah orang Islam. Bagaimana mungkin? Bukankah Mlle Gaulle adalah orang Perancis?
Lady Angelia tampak melotot dengan napas tertahan. Lalu cepat-cepat kembali merunduk untuk memastikan.
Ia kembali melihat gadis di dalam sana bersujud di lantai dengan selembar kain yang melapisi, sementara seluruh tubuhnya ditutupi kain berwarna putih yang hanya menampakkan wajahnya saja.
Tak salah lagi, itu memang ibadahnya orang muslim.
Raut wajah Lady Angelia yang awalnya pucat karena terkejut tiba-tiba berubah penuh semangat. Rahasia Mlle Gaulle yang ditemukannya ini bahkan lebih besar daripada sekedar affair dengan seorang pria. Gadis miskin itu bisa dihujat bahkan dihukum mati jika ibadahnya itu diketahui orang lain.
Senyuman licik mengembang di bibir sang Lady. Ini benar-benar kesempatan emas untuknya.
Gadis itu kemudian beranjak ke pintu di sebelahnya. Pintu itu sedikit terbuka, sepertinya ada orang yang sedang menemui sang Comte. Tangannya mengetuk pelan, namun orang yang ada di dalam sana pun tak kunjung menjawab.
Lady Angelia melongok ke dalam dan melihat Abellard yang berdiri di hadapan jendela sedang berbincang serius dengan Maria. Jendela itu terbuka hingga angin yang kencang berhembus masuk dan menimbulkan bunyi berisik, mungkin karena itulah sang Comte tak mendengar suara ketukannya.
"Apa Comtesse sudah mengizinkannya?" tanya Maria.
"Sudah. Mère menyerahkan semuanya padaku. Aku tidak akan menunda lagi. Setelah acara dansa nanti aku akan mengumumkan pada semua kerabat bahwa Naeva adalah calon istriku."
Lady Angelia terperanjat. Jadi ini rencana Abellard? Menggelar acara dansa untuk memperkenalkan gadis miskin itu sebagai calon istri? Bahkan Comtesse juga sudah memberikan restu? Ini tak bisa ia biarkan! Dirinya datang ke kastil ini karena lamaran dari Comtesse dan perjodohan yang telah disetujui kedua pihak keluarga. Bagaimana bisa mereka sekarang berniat memperkenalkan wanita lain pada kerabat-kerabat mereka?
Gadis itu merasa dadanya sesak, penuh dengan emosi dan rasa terhina.
"Baiklah kalau begitu, Monsieur Comte. Saya akan membantu Mlle Gaulle tampil mempesona malam ini." Maria tampak beranjak dari kursinya.
__ADS_1
"Dia memang selalu mempesona, Maria." puji Abellard, membuat hati Lady Angelia terhiris sakit.
Namun ia cepat-cepat bersembunyi saat Maria keluar. Menunggu di balik patung Dewi yang berdiri menjulang tak jauh dari pintu kamar Abellard. Hingga kemudian Maria masuk ke dalam kamar Naeva.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan melangkah masuk ke dalam kamar Abellard tanpa mengetuk pintunya lagi. Pria tampan itu tampak terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba.
"Lady Angelia, ada perlu apa tiba-tiba masuk kemari? Anda bahkan tidak mengetuk pintu dulu," protes Abellard dengan raut tak senang.
Lady Angelia semakin sakit hati melihat reaksi sang Comte. Seharusnya pria ini menyambutnya dengan senyuman dan pujian. Karena Lady secantik dirinya tak patut dibentak seperti itu. Ia bahkan bisa mendapatkan perhatian dari laki-laki manapun di dunia ini.
Tapi dengan Abellard ia tak bisa berkutik, ia akan menerima apapun perlakuan pria itu terhadapnya.
"Aku tak perlu mengetuk, Sayangku. Kamar ini tak lama lagi juga akan menjadi kamarku," jawab Lady Angelia dengan mata menatap sayu dan nada suara yang mendayu.
"Apa maksud Anda?!" bentak Abellard.
Lady Angelia menatapnya lamat-lamat. Pria itu tampak gagah dengan setelan tuksedo berwarna hitam pekat.
Gadis itu kemudian menghampiri dengan langkah gemulai dan menyentuh pundak Abellard, menghidu aroma parfumnya dan menjelajah tubuh tegap itu dengan tatapannya. Inilah yang membuatnya jatuh cinta. Sosok sempurna Abellard. Sosok yang pasti sengaja diciptakan Tuhan untuk wanita sesempurna dirinya.
Abellard segera menepis tangan Lady Angelia yang perlahan turun menyusuri dadanya.
"Bersikaplah yang sopan, Lady!" sentaknya keras.
"Buat apa aku menjaga sikap di hadapan calon suamiku sendiri?" Suara gadis itu semakin mendesah. Bahkan ia berusaha mendesakkan tubuhnya pada lengan Abellard.
"Keluar dari kamarku sekarang juga!" ketusnya.
Lady Angelia tersenyum miring. Hatinya sakit, namun semakin tertantang. Ia harus segera memiliki laki-laki ini!
"Apa kau yakin, Sayangku? Kalau kau tak keluar bersamaku sekarang, mungkin aku tak akan bisa menahan mulutku untuk mengumbar pada semua orang bahwa Mlle Gaulle, tamu yang kau bawa itu adalah seorang muslim."
Abellard sontak menoleh kaget. Matanya sampai mendelik saking terkejutnya. "Apa kau bilang?!" geramnya dengan gigi yang merapat.
Lady Angelia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Abellard penuh kemenangan. "Apa kau tidak tahu, Sayangku? Atau kau tidak ingin ada orang lain yang tahu?"
Abellard terpaku. Bagaiman perempuan ini bisa tahu tentang agama Naeva?
Lady Angelia kembali menghampiri Abellard. Bibirnya tersenyum penuh kelicikan. "Kalau kau tidak ingin orang lain tahu, maka keluarlah dan berdansa denganku," desahnya manja. Namun tatapannya mengandung ancaman yang tidak main-main.
Abellard meneguk salivanya dengan wajah pucat. Ini benar-benar masalah yang berat. Ia tak akan membiarkan orang lain mengetahui perihal agama Naeva. Sangat berbahaya. Orang-orang di negerinya ini anti terhadap Islam. Agama yang dibawa oleh para budak dari negeri jajahan. Mereka akan mengecam Naeva sebagai pendosa yang mengkhianati tuhan mereka.
Lady Angelia tersenyum senang melihat ekspresi Abellard. Sepertinya ia telah berhasil memegang kendali terhadap sang Comte. "Satu lagi, Sayangku," tangan gadis itu kembali menyentuh pundak Abellard. "Aku ingin kau mengumumkan pada semua kerabatmu bahwa akulah calon istrimu."
Abellard benar-benar terdiam. Tak tahu harus berbuat apa sekarang. Tapi untuk menolak mentah-mentah keinginan Lady Angelia saat ini bukanlah pilihan yang tepat. Ia tak boleh gegabah. Sedikitpun tidak boleh! Ia harus melindungi Naeva.
__ADS_1
Seperti lembu yang dicucuk hidungnya, pria itu terpaksa mengikuti keinginan sang Lady. Mengikuti langkah kaki Lady Angelia yang telah menggandeng tangannya menuju ke luar kamar.
Matanya melirik ke arah pintu kamar Naeva dengan perasaan hancur. Seharusnya ia menuju ke ruang dansa bersama dengan Naeva.
Gadis yang dicintainya itu pasti akan sangat sedih melihatnya bersama Lady Angelia.
Tangan Abellard terkepal. Lengannya mengencang di dalam gandengan tangan perempuan itu.
Sementara perempuan yang berjalan di sampingnya itu malah tersenyum penuh kemenangan. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang Comte dengan manja. "Lihatlah, Sayangku. Kita bahkan memakai pakaian yang berwarna sama. Karena kita memang ditakdirkan untuk bersama," bisiknya di samping telinga Abellard.
Para tamu langsung menyambut kedatangan mereka dengan pujian. Menyanjung kecocokan mereka hingga membuat Lady Angelia gembira bukan kepalang. Dewi keberuntungan sepertinya mulai berpihak padanya sekarang.
Duke of Medwin beserta istrinya langsung membanggakan putri mereka pada para tamu. Sungguh mereka merasa acara itu memang diadakan untuk mereka dan putri mereka. Comtesse pasti sangat menghormati mereka hingga memperlakukan mereka seistimewa ini. Dengan dada membusung, pria dari Inggris itu bersikap layaknya pemilik acara.
Di antara para tamu, Mme Aamber menatap putranya bingung. Baru kemarin Abellard mengatakan akan mempertahankan cintanya pada Mlle Gaulle. Tapi kenapa sekarang Abellard malah menggandeng Lady Angelia tanpa harus dipaksa seperti biasa?
*
Ramah tamah para tamu terus berlanjut. Beberapa kerabat datang menghampiri Abellard dan mengajak Sang Comte berbincang.
Abellard benar-benar tak nyaman. Hatinya gelisah menanti Naeva. Belum lagi Lady Angelia terus saja menempel di sampingnya. Beberapa kali ia coba menjauh, tapi perempuan itu terus mengikuti, seolah tak akan melepaskannya barang sedetikpun.
Lady Angelia kemudian mengambil dua gelas minuman dari nampan yang dibawa pelayan dan menyerahkan satu gelas untuk Abellard.
Abellard langsung menepis dengan wajah bengis. Hatinya menggelegak bagaikan air yang mendidih melihat kelakuan sang Lady. Sepertinya perempuan ini benar-benar menikmati permainannya.
"Ayolah Sayang, jangan kaku seperti itu. Kau pasti tidak mau aku merasa bosan dan tak sengaja membahas perihal Mlle Gaulle pada para tamu, bukan?" ancam gadis itu dengan suara yang mendayu-dayu.
Abellard mendengus. Dan merampas gelas itu dengan kasar.
Acara dansa pun dimulai. Abellard menatap gelisah ke arah pintu masuk ruangan. Naeva belum datang. Gadis itu mungkin masih menunggu jemputannya. Oh, ya Tuhan ... kenapa semuanya jadi begini?
Lady Angelia meraih gelas minuman dari tangan Abellard yang belum diminum sama sekali. "Sekarang waktunya kita berdansa, Sayangku," ujarnya.
Abellard menghela napas dengan gelisah. Pria itu bahkan tak peduli pada sang Lady yang sibuk meraih tangannya dan memaksa untuk memeluk.
Musik waltz mulai mengalun dengan bunyi biola yang mendominasi. Abellard sama sekali tak melangkah dengan benar. Hingga berkali-kali tapak sepatunya menginjak kaki Lady Angelia.
Gadis itu memekik, sampai mengundang perhatian beberapa tamu.
"Tak bisakah kau benar-benar mengikuti irama? Aku ingin kita menjadi pasangan yang diperhatikan semua orang dengan takjub, bukan keheranan seperti ini!" protes sang Lady kesal.
Abellard tidak peduli. Matanya terus fokus ke arah pintu masuk. Hingga kemudian yang ditunggu pun muncul.
Naeva begitu cantik.
__ADS_1
Gadis itu memakai gaun berwarna merah hati pemberiannya. Abellard sengaja membelikan gaun indah yang sangat menarik perhatian itu karena ia ingin Naeva menjadi pusat perhatian malam ini. Agar semua kerabatnya tahu, gadis pilihannya itu sangat mempesona. Dan keinginannya pun tercapai, kedatangan Naeva menarik perhatian semua orang.