
Abellard mengernyit. Taruhan judi? Foto yang diletakkan di atas meja judi? Kenapa ia sangat familiar dengan cerita itu?
Sekelebat bayangan tiba-tiba menghinggapi memorinya. Ya, itu bayangan tentang sebuah kejadian, yang muncul dalam ingatan Abellard bagaikan sebuah film dokumentasi yang diputarkan kembali.
Abellard merasakan kepalanya tiba-tiba pusing dan sakit berdenyut.
Pria itu mencengkeram kepalanya dengan sebelah tangan. Benar-benar sakit. Ia bahkan tak dapat mendengarkan apa-apa lagi selain suara-suara yang berdengung dan bising di dalam kepalanya.
Ia benar-benar tak tahan. Hingga buket bunga dalam genggaman pun terpaksa di..lepaskan, agar kedua belah tangannya bisa mencengkeram kepala.
Ini bukan waktu yang tepat untuk menemui Naeva. Kakinya langsung melangkah menuruni tangga secepat mungkin. Namun di hadapannya muncul penghalang, Lord Alfred, yang baru keluar dari kamarnya.
"Monsieur Comte," samar-samar panggilan laki-laki itu terdengar.
Abellard tak sanggup untuk menjawab, bahkan rasanya tak mampu lagi untuk berdiri, kepalanya benar-benar pusing. Hingga ia memilih untuk mengabaikan Lord Alfred dan terus berlari menuruni tangga.
Abellard tak tak tahu bagaimana reaksi Lord dari Inggris itu karena diabaikan, dan ia pun tak sempat memikirkannya.
Begitu sampai di dalam, langkahnya mulai sempoyongan. Penglihatannya pun mulai buram, ia melihat Maria berjalan menghampiri. Tangannya langsung menangkap lengan wanita paruh baya itu sebelum terjatuh ke lantai marmer.
"Bawa aku ke kamar, Maria ...."
"Baik, Monsieur Comte," jawab Maria tanpa bertanya. Melihat kondisi sang Comte yang kesakitan, ia tahu ini bukan saatnya untuk bertanya dan panik.
Di dalam kamarnya, Abellard benar-benar telah tak bisa melihat apa-apa lagi selain memori di dalam otaknya. Ia ditidurkan oleh Maria di atas ranjang besarnya dan langsung memejamkan mata, menahan pusing di kepala.
Satu-persatu hal yang ia lupakan terbayang kembali di bawah pelupuk matanya yang terpejam. Hingga sampai pada bayangan saat ia mengunjungi sebuah kasino di pinggir kota Marseille. Kasino terpopuler yang hanya berani dikunjungi oleh para bangsawan.
Ia datang bersama beberapa pengawal, yang kemudian menunggunya dengan setia di luar Kasino.
Abellard memasuki bangunan yang gemerlap itu dengan setelan tuksedo hitam dan kemeja sutra biru tua di dalamnya. Rambutnya yang tebal tertutup topi koboi yang tinggi.
Hiruk pikuk dan suara wanita bangsawan terdengar cekikikan di antara meja judi.
Di antara mereka ada yang berstatus istri yang menemani suami bertaruh, namun banyak juga wanita yang hanya berstatus sebagai wanita simpanan.
Mata mereka semua langsung menatap genit pada sang Comte de Marseille yang baru masuk itu. Namun berbeda dengan reaksi para bangsawan pria yang langsung berwajah muram, seolah sang Comte muda itu datang untuk merebut semua kemenangan mereka di meja taruhan.
Abellard melangkah tanpa senyuman dan ramah tamah. Ia bagaikan raja kegelapan yang diidolakan wanita namun disegani pria.
__ADS_1
"Monsieur Comte Abellard!" Seseorang memanggilnya dari arah meja sebelah kanan. Meja yang telah dipenuhi oleh pria dan wanita berpenampilan jetset.
Langkah Abellard pun menuju ke sana.
"Meja ini telah penuh," ujarnya singkat begitu sampai di hadapan pria paruh baya yang memanggilnya.
Pria itu adalah Comte de Merlimont. Bangsawan yang dikenal sebagai penggila judi. Pria itu tak pernah mau bertaruh dengan taruhan yang sedikit dan tak pernah berhenti sebelum mendapatkan kemenangan yang besar. Hampir sama seperti Abellard.
"Tidak penuh," jawab Comte de Merlimont sembari melirik seorang pria yang berada di hadapannya. Yang menurutnya terlalu kecil memberikan taruhan sejak tadi. "Monsieur Brun telah selesai bermain," sindirnya.
Pria yang bernama Brun itu langsung merasa diusir dari meja itu. Dengan wajah kesal ia berdiri dan mempersilakan Abellard.
"Silakan Monsieur Comte Abellard, saya ingin mencari angin sebentar," tuturnya menahan malu.
Tanpa ekspresi apapun, Abellard menduduki kursi itu
"Anda kembali datang seorang diri, Monsieur. Apa wanita simpanan yang bersama Anda selama ini telah membosankan?" tanya seorang pria yang duduk di sampingnya.
"Apa menurut Anda perempuan itu mainan, sehingga bisa dikatakan membosankan?!" Sindirnya tajam.
Membuat pria itu terdiam dan memalingkan wajahnya yang memerah karena malu. Apalagi sang istri yang mendampingi kemudian mencubit lengannya.
Dan anehnya, setiap wanita yang dikencani bukanlah cantik semua. Tipenya sangat beragam. Ada yang merupakan gadis bangsawan elite, namun ada juga yang hanya bekas wanita simpanan orang lain, bahkan pria tampan itu pernah mengencani seorang wanita bangsawan yang lebih tua daripadanya.
"Sayang sekali, Mlle Claire (Nona Claire) itu padahal sangat manis," komentar Comte de Merlimont menyayangkan.
Abellard hanya mengiyakan dengan menganggukkan kepala.
Ya, gadis itu memang manis dan lemah lembut. Tapi sayangnya, gadis itu mulai jatuh cinta padanya. Padahal dari awal mereka telah terikat janji, tak boleh ada perasaan dalam hubungan sandiwara mereka.
Awalnya gadis itu datang sembari menangis karena tak kunjung dinikahi kekasihnya dan kekasihnya itu tak pernah peduli dan tak menghargainya. Gadis itu memohon pada sang Comte yang populer dan tampan itu untuk menjadikannya wanita simpanan, agar kekasihnya yang angkuh menyadari bahwa dirinya disukai banyak lelaki hebat.
Dan Abellard pun menolongnya. Ia memang tak pernah bisa melihat seorang wanita teraniaya. Ia bahkan pernah mengencani seorang wanita yang lebih tua, karena wanita itu selalu disiksa suaminya.
Ada kisah yang sangat pahit di masa lalu yang menorehkan trauma di hati sang Comte. Yang membuatnya tak bisa melihat wanita dipukuli ataupun direndahkan oleh laki-laki.
Sesaat kemudian, Abellard mendengar suara ribut-ribut dari meja judi sebelah kirinya. Seorang pria tua yang sedang mabuk berat menjadi perhatian semua pemain di meja itu.
"Anda benar-benar akan mempertaruhkan kastil anda?" tanya seseorang pada lelaki tua itu.
__ADS_1
"Ya, Kastil itu telah sangat sepi setelah istri yang kucintai ... tiada. Untuk apa lagi aku hidup di sana?" pria itu menjawab dengan suara yang mulai kurang jelas.
Abellard terus memperhatikan, hingga tiba-tiba pria itu mengeluarkan selembar foto dan menaruhnya di atas meja judi.
"Ini ... ini adalah putriku yang sangat cantik. Dia sangat baik ... seperti malaikat." Pria tua itu kemudian menangis. "Aku ... aku tak pantas memilikinya sebagai anak, aku tak pantas menjadi ayahnya."
Para bangsawan pria di meja judi itu berpikir bahwa si pria tua menjadikan putrinya sebagai taruhan. Mereka mulai menghujat. Namun begitu salah satu dari mereka mengambil foto itu dan langsung berseru kagum saat melihatnya, para pria lainnya kemudian malah berebut untuk melihat juga.
Sementara itu, sang ayah tak lagi menyadari apa yang telah dilakukannya.
Seorang bangsawan yang terkenal bejat terhadap wanita tampak tersenyum. Lalu berseru keras. "Aku akan bertaruh yang sangat besar untuk gadis ini!"
Asistennya yang gemuk dan setia berdiri di belakangnya langsung menyemangati dengan senyuman licik, selicik tuannya.
Abellard mendesah panjang. Sepertinya malam ini ia tak bisa bermain sesuka hati. Ia harus memenangkan taruhan di meja itu demi gadis malang yang tak tahu apa-apa nun jauh di sana.
Pria bertubuh jangkung itu bangkit dari kursinya.
"Maaf, aku harus bermain di meja lain," ucapnya sembari membungkuk sedikit pada partner di mejanya.
Wajah Comte de Merlimont tampak kecewa. Namun pria yang duduk di sampingnya malah tersenyum mengejek pada Abellard dan para wanita di mejanya, seolah mengatakan bahwa pria yang mereka puji tak lebih dari seekor harimau yang tak bisa melihat kelinci.
Abellard tak peduli, ia langsung melangkah ke meja sebelah kirinya itu.
"Aku ikut bermain!" tegasnya di hadapan pria yang selalu dikipasi oleh asisten gemuknya itu.
Pria itu menatapnya tegang. Halangan terbesar tiba-tiba datang disaat ia ingin memiliki gadis cantik di dalam foto. Sementara itu, asistennya malah menatap Abellard kagum.
"Silakan, Monsieur ...." Seorang pegawai kasino langsung mempersilakannya.
"Lihat dulu fotonya, mungkin Anda tidak tertarik pada gadis muda seperti ini," ejek sang pria bejat yang tahu bahwa Abellard pernah mengencani wanita yang lebih tua.
Ia melemparkan foto itu ke hadapan Abellard.
"Tak perlu," jawab Abellard singkat.
"Itu sangat sombong!" ketus si pria marah.
Abellard menghela napas. Lalu meraih foto itu karena tak ingin berdebat.
__ADS_1
Dan saat matanya melihat sosok cantik di dalam foto, Abellard tahu, hatinya tiba-tiba bergetar.