
Di dalam kamar mewah itu sesosok pria berdiri menghadap jendela dengan raut cemas. Menatap seekor kuda yang berlari di halaman Kastil menuju pintu gerbang, membawa dua anak manusia menembus kegelapan malam.
Sementara di hadapan pintu kamar itu, berdiri seorang wanita paruh baya dengan wajah yang sama cemas.
"Mme Maria, Mme Maria!"
Sebuah suara panggilan bernada panik terdengar memanggil wanita yang tak lain adalah Maria itu. Ia langsung menoleh pada seorang gadis yang menghampiri dengan raut panik.
"Ada apa, Amily?" tanya Maria.
"Mlle Gaulle telah pergi! Dia pergi bersama saudaranya, Marc!" teriak Amily.
Suara Amily yang kencang ternyata memancing perhatian Mme Aamber dan Lady Angelia yang muncul dari ruangan dansa.
Sang Comtesse sengaja meninggalkan ruangan dansa dan para tamunya untuk menyusul Abellard. Bagaimanapun Abellard tak boleh meninggalkan tamu mereka begitu saja setelah mengumumkan perihal hubungannya dengan Lady Angelia.
Walau sebenarnya ia paham betul perasaan putranya. Abellard pasti merasa berat karena terpaksa meninggalkan cintanya. Wajar sekali jika putra semata wayangnya itu mengejar Mlle Gaulle yang pergi sambil menangis. Tapi putranya adalah seorang Comte yang memiliki tanggung jawab dan tak boleh bersikap sesuka hati.
Sang Lady juga ikut menyusul karena tak akan membiarkan Abellard luluh melihat air mata Mlle Gaulle dan mengubah keputusan. Ia tak akan membiarkannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Mme Aamber khawatir.
Amily langsung membungkuk hormat pada sang Comtesse. "Saya melihat Mlle Gaulle pergi meninggalkan Kastil bersama saudaranya, Marc, Ma'am."
"Mereka pulang maksudmu?"
"Sepertinya begitu, Ma'am."
Mme Aamber terdiam sejenak.
"Baguslah kalau begitu," sela Lady Angelia dengan senyuman sinis.
Mme Aamber menoleh pada Sang Lady dengan raut tak senang. Ucapan Lady Angelia menurutnya sama sekali tak mengandung empati terhadap orang lain, terdengar jahat dan kasar.
Tapi jika mengingat Abellard telah memutuskan untuk meninggalkan cintanya, memang ada baiknya Mlle Gaulle pulang. Mungkin dengan begitu Abellard bisa lebih mudah melupakannya, daripada melihat cintanya setiap hari.
"Abellard ada di mana?" tanya wanita itu kemudian.
"Ada di kamarnya, Ma'am," jawab Maria.
Mme Aamber menghela napasnya. "Jangan ada yang mengganggunya untuk saat ini. Siapapun dia, tak ada yang boleh memasuki kamar Abellard ataupun menemuinya," Mme Aamber melirik Lady Angelia saat mengatakannya. Seolah pesannya itu khusus untuk sang Lady, karena gadis itu yang pasti akan sibuk mencari perhatian Abellard. "Biarkan Abellard tenang, sampai dia keluar sendiri dari kamarnya!" tegasnya kemudian.
Lady Angelia mendongkol dalam hati mendengar pesan Mme Aamber. Namun keberhasilannya malam ini cukup membuatnya senang dan melupakan kekesalan itu.
__ADS_1
"Aku akan menemani kedua orangtuaku dulu, Ma'am. Permisi," ucapnya sembari membungkuk hormat.
Mme Aamber mengangguk. Wanita paruh baya itu kemudian juga berbalik menuju ke kamarnya sendiri.
Setelah kedua wanita terhormat itu pergi, Maria dan Amily langsung masuk ke kamar Abellard dan menutup pintu itu rapat-rapat.
"Rencana kita berhasil!" seru Amily senang bukan main.
Pria yang berdiri menghadap jendela kamar itu berbalik.
"Benarkah?" tanya pria yang tak lain adalah Marc itu.
"Ya, Mme Aamber telah melarang semua orang untuk memasuki kamar ini. Jadi kita akan aman. Tak ada yang akan tahu bahwa orang yang ada di dalam kamar ini bukanlah Monsieur Comte," jawab Maria dengan raut lega.
***
~Flashback ke satu jam yang lalu.
Naeva menggenggam tangan kokoh, yang juga menggenggam tangannya itu erat. Melangkah bersama menuju kamar Menara Selatan.
Gadis itu menoleh, menatap wajah tampan Abellard yang berjalan gagah di sisinya.
"Apa kau yakin, Abellard?"
"Ya, aku yakin, Sayang. Kita akan menjemput wanita itu."
"Karena itu, aku akan meminta Marc pura-pura menjadi aku selama kita pergi."
"Apa?! Itu nggak masuk akal, Abellard," sanggah Naeva tak setuju.
"Percayalah padaku. Kita akan menyusun rencananya dengan baik." Abellard menatap Naeva penuh keyakinan.
Begitu sampai di atas, Naeva melihat ada Maria dan Amily telah menunggu di depan pintu kamar menara yang kini ditempati Marc.
"Aku memanggil Maria dan Amily untuk membantu aksi kita ini," terang Abellard. "Apa Marc ada di dalam?" tanya pria itu kemudian pada Maria dan Amily.
"Kami belum mengetuknya, Monsieur," jawab Maria.
Abellard langsung menghampiri pintu dan mengetuk pelan.
Tak lama kemudian muncul Marc dari dalam. Pria tampan itu langsung mengernyit bingung melihat banyak orang di hadapan pintu kamarnya.
"Marc, aku butuh bantuanmu," ujar Abellard sebelum sempat Marc bertanya.
__ADS_1
"Bantuan saya?"
Abellard mengangguk. "Biarkan kami masuk, kita akan membahasnya di dalam."
Marc segera membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Matanya menatap Naeva dengan penuh tanda tanya. Namun gadis itu juga belum bisa menjelaskan maksud dan rencana Abellard itu.
Setelah Amily menutup pintunya kembali. Abellard mulai menatap orang-orang yang bisa dipercayanya itu satu persatu.
"Aku ingin kalian membantuku. Aku dan Naeva akan menjemput kakaknya Amily. Karena itu aku ingin Marc berpura-pura menjadi aku selama kami pergi."
"Menjemput kakaknya Amily?" tanya Maria tidak mengerti.
"Ya, Maria. Kakaknya Amily saat ini adalah saksi kunci untuk kejahatan Lady Angelia."
"Kejahatan Lady Angelia?" Maria semakin tak mengerti.
"Ya. lady Angelia yang telah menaruh racun ke dalam makananku waktu itu, Maria. Lady Angelia kemudian memaksa kakaknya Amily untuk mengaku sebagai pelaku," jelas Naeva.
Maria langsung menutup mulutnya yang terbuka lebar karena terkejut. "Oh Mon Deu! Saya benar-benar tidak menyangka," serunya tak percaya.
"Karena itu, aku sendiri yang harus menjemput wanita itu untuk menjadi saksi," ujar Abellard.
"Tapi rencana ini sedikit berbahaya, Monsieur. Karena Anda pasti akan dicari oleh Comtesse dan orang-orang yang memiliki kepentingan dengan Anda. Saya rasa lebih aman jika saya yang pergi," usul Marc.
Abellard menggeleng. "Tidak. Ini adalah satu-satunya cara untuk membuat Lady Angelia pergi dari sini. Bahkan mungkin nanti, ibuku sendiri yang akan mengusirnya. Jadi aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus memastikan wanita itu mau kembali untuk bersaksi."
Suasana terasa senyap untuk beberapa saat. Semua orang yang berada di kamar itu tampak tegang, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Bagaimana kalau kita ketahuan?" tanya Marc.
Naeva meneguk salivanya mendengar pertanyaan itu. Kalau mereka ketahuan, sudah pasti Lady Angelia akan membongkar rahasianya, mengatakan pada semua orang tentang agamanya. Namun ia tak bisa menjawab seperti itu di hadapan Maria dan Amily.
"Kita tidak akan ketahuan, karena aku akan menyusun rencananya sebaik mungkin," jawab Abellard yakin.
***
Di tengah malam buta itu Abellard memacu kudanya. Menuju ke gerbang Kastil dengan jantung yang berdegup kencang.
Sementara itu, di belakangnya Naeva tanpa sadar memeluk erat tubuh pria itu dengan detak jantung yang sama kencangnya.
Naeva juga tak menyadari jika tangannya saat itu memeluk dada Abellard yang terbuka.
Pria itu tak bisa mengancingkan kemejanya sampai ke atas. Karena baju yang dipakainya sekarang adalah baju Marc. Kemeja Marc tidak cukup untuk menutupi dada Abellard yang lebih bidang.
__ADS_1
Begitu sampai di gerbang, Abellard melambatkan laju kudanya. Karena di samping kanan dan kiri berdiri dua orang pengawal. Mereka pasti akan memeriksa siapapun yang keluar dan masuk gerbang.
Abellard menarik caping topi untuk menutupi sebagian wajahnya.