
Bab 60
Pintu terbuka. Dan yang muncul ternyata adalah Abellard. Naeva melihat pria itu membawa nampan berisi makanan di tangan kanan dan seikat bunga mawar merah di tangan kirinya.
Abellard tersenyum manis sembari fokus menyeimbangkan piring dan gelas di dalam nampan. Dan saat melihat kedalam, mata sebiru samudera itu seketika terpesona. Melihat indahnya makhluk cantik dengan rambut tergerai dan melambai ditiup angin laut dari jendela.
Keduanya terpaku.
Seperti terjebak dalam pesona. Mereka sama-sama tak bisa mengalihkan mata.
Hingga kemudian Abellard melihat angin yang menerbangkan rambut Naeva tampak lebih kencang. Pria itu segera masuk. Meletakkan nampan dan bunga di atas meja, lalu bergegas mengambil selimut.
Naeva memperhatikan Abellard dan semua yang dilakukan pria itu tanpa berkedip. Rasanya pagi itu Abellard terlihat sangat gagah dan segar.
"Anginnya terlalu kencang," ujar Abellard sembari menyelimuti pundak Naeva dengan selimut, lalu tersenyum hangat. "Ayo, kita sarapan dulu," ajaknya sembari mendekap pundak gadis itu dan membimbingnya ke sofa.
Naeva menggigit bibir bawahnya dan mengikuti bimbingan lembut pria itu. Menghirup aromanya dan meresapi kehangatan sikapnya.
"Duduklah ... aku memasakkan sarapan lezat untukmu," pintanya.
"Kau memasaknya sendiri?" Naeva membulatkan matanya sembari duduk seperti yang diminta sang Comte.
"Ya, aku menanyay resep dan cara memasaknya pada tukang masak."
"Benarkah? Tapi kenapa kau bersusah payah memasaknya sendiri?"
Abellard duduk di kursi yang berhadapan dengan sofa beludru putih yang ditempati Naeva. Menatap gadis itu sembari mengenang masa kecilnya. "Ini yang dilakukan ayahku setiap kali ibuku sakit. Dan aku selalu mengatakan akan melakukan hal yang sama saat besar nanti pada wanita yang aku cintai," jawabnya.
Naeva terpaku sesaat. Ada rasa senang dan takjub di hatinya. Menjadi wanita yang di-spesialkan oleh seorang Comte Abellard Marseille.
"Tapi aku tidak sakit," ujarnya setengah berbisik.
"Siku mu sakit," Abellard membantah sembari memotong pastry renyah yang baru keluar dari panggangan itu.
Naeva menatap tangan kokoh Abellard yang memotong dengan telaten. Lama dan tidak berantakan. Sebenarnya hal yang seperti itu membuat Naeva tak sabar. Bukan berarti ia telah kelaparan. Namun poin penting saat memakan makanan menurut Naeva adalah memasukkan makanannya ke dalam mulut dan menikmatinya sebelum dingin. Tapi saat ini ia lebih memilih untuk menunggu sesuai keinginan Abellard.
"Buka mulutmu, biar aku suapi," pinta Abellard lembut.
Naeva tidak memprotes. Buat apa pura-pura jual mahal sementara hati pasti suka dimanja? Gadis itu langsung membuka mulutnya dengan senang hati dan melahap suapan pertama dari pria tampan yang menjadi idaman setiap wanita itu.
"Wah, ini enak sekali! Kau ternyata pintar memasak, Abellard," pujinya antusias.
Abellard tersenyum senang melihat semangat Naeva. Ia pun semakin semangat memotong suapan selanjutnya, lebih telaten dan lebih lama lagi.
Sementara itu lidah Naeva yang telah merasakan lezatnya makanan di pagi yang dingin itu semakin tak sabar menanti. Hingga akhirnya potongan kedua masuk juga kedalam mulutnya. Dikunyah dan ditelan selama 15 detik dan harus menunggu suapan selanjutnya lebih dari 20 detik.
Abellard kembali memotong suapan ketiga. Namun sepertinya ia merasakan ketidaksabaran gadis di hadapannya itu. Abellard langsung tersenyum dan tersadar bahwa biasanya Naeva tak suka memotong-motong makanan seperti itu. Seperti di Kastil Wisteria, gadis itu selalu mewanti-wanti padanya saat meminta pisau di meja makan. "Pisau itu untuk memotong makanan yang belum dimasak, dan kalau sudah dimasak maka pemotongnya adalah gigi. Jangan sia-siakan ciptaan Tuhan!"
Mengingat itu, sang Comte meletakkan kembali pisau dan garpunya di atas nampan dan mengambil pastry berukuran selebar telapak tangan orang dewasa itu langsung dengan tangannya.
"Begini lebih enak, kan?" tanya pria itu sembari tersenyum lebar.
__ADS_1
Naeva seketika tertawa kencang melihatnya.
Abellard memperhatikan tawa manis yang sangat menarik untuk dipandang itu hingga Naeva berhenti dan tersipu sendiri karena terus dipandangi.
"Apa terlihat jelas kalau aku tidak sabar?" tanya gadis itu malu-malu. Bagaimana tidak? Abellard pasti menyadari matanya yang terus memelototi pisau dan garpu itu.
Sekarang giliran Abellard yang tertawa, "Ya, tapi aku senang kau menyukai masakanku," jawabnya kemudian.
Lalu kembali menyodorkan pastry renyah itu ke hadapan mulut Naeva.
Gadis itu membasahi bibirnya dengan hati gugup. Makan melalui tangan Abellard langsung, tentu menghadirkan sensasi yang mendebarkan. Naeva berusaha menggigit pastry itu dengan anggun.
Namun lama-kelamaan gaya makan Naeva yang apa adanya itu muncul juga dengan sendirinya.
Abellard tersenyum. Ternyata seindah ini perasaan ayahnya kala itu. Pantas saja Abellard melihat sang Ayah tak pernah henti tersenyum saat menyuapi ibunya. Disaat seperti itu mereka bisa memperhatikan dengan intens setiap gerak-gerik wanita yang mereka cintai. Yang tak sempat mereka perhatikan sebelumnya.
"Tiga hari lagi aku akan mengumumkan pada semua kerabat tentang pernikahan kita," Abellard menyuapi gigitan pastry terakhir ke dalam mulut Naeva.
Gadis itu urung mengunyah. Matanya seketika membulat mendengar perkataan Abellard. "Pernikahan?"
"Ya. Aku ingin memperkenalkanmu sebagai calon istriku pada semua orang sebelum kita mengadakan acara pertunangan. Jadi tiga hari lagi kita akan mengadakan acara dansa dan makan malam."
Naeva terpaku. Tak menyangka akan mendengar kata-kata lamaran yang sungguh-sungguh dari Abellard.
Abellard tersenyum manis melihat wajah cantik itu mematung. Tangannya bergerak untuk mencubiti puncak hidung Naeva. Ah, ia benar-benar sudah tidak tahan untuk melepaskan rasa gemas itu.
"Hey? Kenapa? Kau setuju, kan?"
"Kenapa tidak? Ibuku sudah merestui kita. Walaupun beliau tidak akan membatalkan pertunangan dengan Lady Angelia. Beliau sudah menyerahkan semuanya pada kita". Mata Abellard tampak berbinar penuh semangat. "Kita akan berjuang demi cinta, kau mau?"
Naeva menatap takjub. Jalan cinta mereka akhirnya terbuka. Dengan penuh keyakinan gadis itu menganggukkan kepalanya.
Abellard menghembuskan napas yang sedari tadi tertahan karena semangat yang menggebu sembari tersenyum. "Kalau begitu, cobalah sup ini dulu," ujarnya seraya mengangkat mangkuk kecil sup buatannya.
Naeva membalas senyuman itu sembari mengerling jenaka, "apa sup ini mengandung penyemangat?" godanya.
Abellard tertawa pelan mendengarnya. "Yah, sepertinya begitu."
Naeva mengambil mangkuk itu dan menyendok sup di dalamnya.
Ting!
Sendoknya seperti menyentuh sesuatu yang berbahan besi di dalam sup. Naeva mengernyit. Langsung mencari benda apa yang menyebabkan bunyi itu.
Dan gadis itu menemukan sesuatu. Sebuah cincin bermata bunga aster yang pernah dipakaikan Abellard untuknya. Ia mengambil cincin itu dan menatap Abellard.
Pria itu juga sedang memperhatikannya, teduh dan hangat. "Pakailah cincin ini dan jangan pernah kembalikan lagi. Aku membelinya saat di Kastil Wisteria untuk melamarmu."
"Benarkah?" Naeva bertanya dengan raut bersalah karena pernah mengembalikan cincin itu.
"Iya. Aku membelinya pada pedagang gipsi. Dan dia meramalkan bahwa kita memang berjodoh. Aku tahu ramalan itu bukanlah hal yang baik untuk dipercaya. Tapi tak ada salahnya jika dijadikan motivasi."
__ADS_1
Naeva tersenyum dan mengangguk, "aku akan memakainya sampai kapanpun," ikrarnya sembari menggenggam Cincin Aster itu.
Namun kemudian Naeva teringat sesuatu, rautnya tampak berubah risau. "Tapi Abellard, aku tidak bisa berdansa," lirihnya.
"Tidak mengapa. Mulai besok, aku akan mengajarimu. Kita akan menjadi pasangan dansa terhebat nanti," cetus sang Comte luar biasa semangatnya.
***
Seperti yang dijanjikan, ditengah kesibukannya mempersiapkan acara, Abellard selalu mengajak Naeva belajar dansa setiap pagi.
Sementara itu suasana Kastil mulai sibuk dengan persiapan demi persiapan. Tak ada yang tahu akan ada acara apa di kastil itu. Namun para pelayan begitu bersemangat mempersiapkannya, karena Abellard memotivasi mereka dengan sedikit bocoran bahwa acara itu khusus untuk Naeva.
"Apa yang akan di gelar di kastil ini?" tanya Lady Angelia pada Louise dan Lucie suatu sore di ruang duduk.
Louise mengangkat bahunya acuh tak acuh. Matanya fokus pada tangan yang sedang mengikir kuku. Yang penting baginya saat pesta tiba dirinya bisa mengenakan gaun baru dan semua barang baru lagi.
Namun tidak dengan Lucie, baginya Lady Angelia adalah putri baik hati yang selalu butuh pertolongannya.
"Aku juga tidak tahu, my Lady ...." sahut Lucie.
Lady Angelia mendecak kesal karena tak langsung mendapatkan jawaban. Gadis itu kemudian memasang tampang lemah di hadapan Lucie.
"Maukah kau mencari tahu untukku? Aku sanga penasaran, tapi tidak tahu bertanya pada siapa."
"Kau bisa bertanya pada pelayan yang mempersiapkannya!" potong Louise ketus. Tak ingin saudarinya yang polos itu terus dibodoh-bodohi.
"Aku tak suka bertanya pada mereka. Mereka semua seolah memusuhiku."
Louise tersenyum miring sembari memperhatikan ujung-ujung kukunya. "Tempo hari kau mengejek Mlle Gaulle karena tak disukai pelayan. Sekarang kau malah dimusuhi mereka?"
Lady Angelia tampak merah padam wajahnya mendengar kata-kata sini Louise. Tapi mengingat posisinya belum benar-benar aman di kastil itu, membuatnya menahan diri untuk membalas sepupu Abellard yang menjengkelkan itu.
"Ini semua pasti gara-gara Mlle Gaulle yang menghasut semua orang," ujarnya dengan tampang memelas pada Lucie.
"Tapi aku tidak akan pernah terhasut oleh orang seperti itu, my Lady. Aku akan mencari tahu untukmu." Lucie langsung bangkit dari sofa ruang duduk yang mewah itu dan beranjak ke ruang belakang dengan penuh semangat. Menurutnya Lady Angelia sangatlah rapuh. Ia harus menjadi penopang untuk gadis yang tinggal seorang diri itu.
Sepeninggalannya Lucie, Lady Angelia melirik Louise tajam. Namun lirikannya malah dibalas tak kalah menghujam oleh perempuan bertompel itu.
"Aku tak akan membiarkanmu terus memanfaatkan Lucie!" desis Louise tajam.
Lady Angelia langsung mengalihkan wajahnya.
Hingga beberapa saat kemudian Lucie kembali dengan raut panik dan heboh.
"Ternyata itu acara untuk Mlle Gaulle, my Lady. Comte sengaja mengadakan acara makan malam dan dansa untuknya!"
"Apa?!" Lady Angelia sontak bangkit dengan mata melotot.
"Acara yang lumayan meriah," gumam Louise sembari ikut bangkit dan meninggalkan ruangan itu dengan cueknya.
Emosi sang Lady semakin tersulut mendengar gumaman Louise. Tangannya mengepal dengan napas memburu. Tampangnya yang biasa seperti peri kini tampak bengis bagai penyihir.
__ADS_1