
Gadis bernama Sora itu tampak menghela napas, sebelum kemudian menjawab dengan suara bergetar dan terbata-bata.
"Sa-saya melihat Lady ... Lady Angelia di dekat nampan itu."
"Wah ...." Semua tampak berseru kaget mendengar penuturan Sora. Tak menduga seorang lady yang terhormat itu terlibat dalam kasus ini. Tak menyangka juga Sora berani mengatakan apa yang dilihatnya.
Sementara Abellard langsung menoleh pada sang lady. Ya, perempuan ini yang patut dicurigai. Walau wajah itu terlihat tenang dan tak panik sedikit pun sejak tadi, namun filing Abellard tetap meyakini jika perempuan yang duduk tenang itu memang terlibat.
Lady Angelia langsung memasang tampang teraniaya.
"Itu ... tuduhan yang sangat kejam. Aku tidak mendekati nampan itu. Aku hanya datang untuk mengambil buah seperti biasa. Kalian bisa menanyakan langsung pada Comtesse, yang melihatku membawa buah siang itu."
"Ya, aku melihatnya." Comtesse mengiyakan pengakuan Lady Angelia dengan tegas, lalu beralih menatap Sora dengan mata melotot. "Jaga ucapanmu, pelayan! Tak mungkin Lady Angelia akan melakukan hal itu!" bentaknya.
Sora langsung tertunduk ketakutan mendengar bentakan sang Comtesse.
"Dia tidak mengatakan Lady Angelia yang meracuninya, Mère. Dia mengatakan melihat Lady Angelia ada di dekat nampan itu, karena itu yang kutanyakan," sela Abellard.
Pria itu kemudian menarik napas dalam-dalam sebelum berucap tegas. "Berarti, sekarang yang harus diselidiki adalah pelayan yang memasaknya, Lucie, dan Lady Angelia!"
"Ya Tuhan, aku benar-benar tidak melakukannya, kenapa aku harus terlibat?" terdengar protes Lucie yang duduk gelisah di kursinya.
Suasana kembali riuh oleh bisik-bisik. Namun wajah para pelayan sekarang terlihat lega. Setidaknya pemecatan massal akan tertunda sesaat. Dan mereka berharap pelakunya akan segera tertangkap, agar pekerjaan mereka terselamatkan.
"Comtesse, ini tak adil. Aku tak ingin namaku tercoreng karena dituduh terlibat dalam masalah ini." Lady Angelia merengek dengan raut sedih pada calon ibu mertuanya.
Membuat sang Comtesse menjadi serba salah. Ia tak setuju dengan keputusan putranya. Namun ia juga tahu tak ada gunanya membantah. Karena pendirian putranya itu sangat kuat sejak dulu.
"Saya! Saya lah pelakunya!" Tiba-tiba pelayan yang bertugas memasak makanan itu berseru keras. Mengalahkan kebisingan dan membuat suasana senyap kembali.
Abellard menoleh pada wanita itu dengan kening mengernyit.
"Kau?"
"Ya, Monsieur Comte. Sayalah pelakunya! Saya yang menuangkan cairan beracun itu kedalam makanan Mlle Gaulle!"
"Maksudmu kau sengaja melakukannya?"
"Ya, saya sengaja melakukannya."
Abellard mengepalkan kedua tangannya. Ternyata pelayan itu benar-benar berniat meracuni Naeva.
Ia menatap perempuan itu murka.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu ingin meracuni Mlle Gaulle?!" Suara Abellard terdengar menggeram.
Perempuan itu masih menunduk dalam dengan tangan terkepal. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Membuat Abellard semakin murka.
"Angkat wajah jahatmu itu dan jawab pertanyaanku!" bentaknya dengan mata yang memerah. Ingin rasanya ia menghampiri dan membalas perbuatan jahat perempuan itu dengan menyakitinya.
Wanita berusia sekitar 35 tahun itu perlahan mengangkat wajahnya. Wajah dengan raut yang keras.
"Saya tak suka melihat seorang gadis biasa tiba-tiba datang dan ingin menjadi istri Comte dan berkuasa di kastil ini!" jawabnya.
Abellard merapatkan giginya hingga bergemeletukan. Betapa picik pikiran perempuan itu, membuatnya sangat muak.
"Pengawal! Bawa perempuan ini dan beri hukuman!" teriaknya keras sembari menunjuk perempuan itu
"Kakak!" sebuah pekikan terdengar dari tengah gerombolan pelayan.
Lalu sosok gadis belia yang tak lain adalah Amily berlari menghampiri pelayan yang menunggu hukumannya.
"Ini tidak mungkin!" Amily menggenggam lengan kakaknya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dan menangis. "Kakak tak mungkin melakukan ini! Kakak tak pernah suka ikut campur hidup orang lain. Kakak selalu hanya fokus bekerja! Aku tak percaya kakak pelakunya!" ratap gadis itu dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Perempuan berwajah keras itu menatap adiknya tegas. "Amily, diam lah! Jangan pikirkan masalah ini. Terus bekerja yang giat. Ingat, jangan sampai kau kehilangan pekerjaan ini!"
Lalu perempuan itu menoleh pada pengawal yang berdiri di sampingnya.
***
Tok tok
Suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya. Naeva yang sedang memilah bunga yang telah layu, beranjak dari pekerjaannya.
"Amily?" sebut gadis itu saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Amily berdiri di hadapan pintu kamarnya dengan raut panik dan pipi bersimbah air mata.
"Amily! Kau kenapa?" Naeva langsung meraih pundak gadis itu dengan raut prihatin.
"Tolong kakak saya, Mlle Gaulle!" jawab gadis itu di sela tangisnya.
"Kakakmu? Dia kenapa?"
"Dia ... dia sedang dihukum cambuk, M'mselle!"
Naeva langsung memejamkan mata dengan raut ngilu saat mendengarnya.
__ADS_1
Hukuman cambuk?!
Ia telah banyak mendengar tentang hukuman mengerikan itu dari kisah para budak. Saat mencari tahu tentang tanah Maroko, tanah kelahiran ibunya. Naeva penasaran, karena dulu ibunya paling trauma mendengar kata cambuk. Dan setelah tahu kisahnya, trauma ibunya itu membuatnya juga merasakan takut yang teramat sangat saat mendengar kata itu.
"Mlle Gaulle, anda kenapa?" Amily berhenti menangis demi melihat ekspresi Naeva.
Naeva membuka matanya kembali dengan napas tertahan.
"Aku tidak apa-apa. Kenapa kakakmu sampai dihukum seperti itu?"
"Dia mengakui bahwa dialah yang meracuni makanan anda waktu itu, M'mselle."
Naeva terhenyak. Kakak Amily yang menaruh racun? Tapi kenapa? Ia bahkan tak mengenal perempuan itu.
"Tapi saya yakin, kakak saya bukan pelakunya. Sungguh, dia adalah orang yang paling fokus dalam bekerja. Dia tak pernah mau tahu urusan orang lain."
Alis Naeva tampak bertaut. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Bagaimanapun, yang dikatakan Amily sangat mengejutkan.
"Kakakku ... kakakku juga mengatakan alasannya meracuni Anda adalah karena ia tak setuju seorang perempuan biasa ingin menguasai Kastil ini. Itu ... itu benar-benar bukan dirinya. Ia tak pernah peduli siapa majikannya dan apa urusan mereka. Yang penting baginya adalah pekerjaannya." Amily kembali menjelaskan dengan terisak.
Naeva meneguk salivanya. Menatap gadis pelayan di hadapannya dengan perasaan serba salah. Di satu sisi ia tak ingin memaafkan orang yang telah meracuni Marc. Ia juga tak ingin membiarkan orang yang begitu mudah meracuni orang lain hanya karena masalah sepele.
Tapi kalau yang diyakini Amily memang benar bahwa kakaknya tak mungkin melakukan hal itu, bisa saja ada orang lain yang memaksanya mengaku. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang berpengaruh di kastil ini.
"Mlle Gaulle, tolonglah kakak saya. Hanya Anda yang bisa menolongnya," pinta Amily dengan raut memohon.
"Aku ingin menolongnya. Tapi ... aku cuma tamu di sini, Amily."
Amily menggeleng dengan mata penuh harap. "Tidak M'mselle. Anda bisa. Karena yang menjatuhkan hukuman itu adalah Monsieur Comte. Beliau melakukannya untuk anda. Saya yakin, perkataan Anda akan didengarkan olehnya."
"Baiklah, aku akan mencobanya," jawab Naeva.
Jawaban yang membuat Amily langsung meraih kedua tangannya dan menciumnya sembari menangis. "Terimakasih, M'mselle. Anda sangat baik. Kami tak akan melupakan budi Anda sampai kapanpun," ucapnya haru.
Alis Naeva kembali terpaut sedih, tak tahan melihat reaksi Amily. Hatinya sesak melihat kesedihan dan ketakutan gadis itu. Ia langsung merangkul pelayan itu dengan hangat.
"Sudah, jangan menangis. Aku akan menemui Comte sekarang," hiburnya.
**
Di ruang duduk, Naeva melihat Abellard sedang bersama Mme Aamber dan Lady Angelia. Langkah Naeva terhenti sejenak. Ini bukan waktu yang tepat untuk meminta Abellard membatalkan hukuman. Comtesse pasti akan menilai dirinya suka mengatur dan mengendalikan Abellard.
Tapi ia harus menemui Abellard sekarang. Membayangkan orang yang tak bersalah sedang berteriak kesakitan mendapatkan hukuman yang tak selayaknya ia dapatkan, membuat Naeva tak bisa mengulur waktu.
__ADS_1
Dengan memberanikan diri, ia melangkah maju.