Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 39


__ADS_3

Di ruang duduk, Naeva melihat Abellard sedang bersama Mme Aamber dan Lady Angelia. Langkah Naeva terhenti sejenak. Ini bukan waktu yang tepat untuk meminta Abellard membatalkan hukuman. Comtesse pasti akan menilai dirinya suka mengatur dan mengendalikan Abellard.


Tapi ia harus menemui Abellard sekarang. Membayangkan orang yang tak bersalah sedang berteriak kesakitan mendapatkan hukuman yang tak selayaknya ia dapatkan, membuat Naeva tak bisa mengulur waktu.


Dengan memberanikan diri, ia melangkah maju.


Mata Comtesse dan Lady Angelia yang duduk menghadap ke arah Naeva langsung menatap marah dan penuh kebencian. Seolah Naeva adalah penyakit yang datang untuk mengganggu hidup mereka.


Naeva berusaha tak menatapnya. Berusaha menguatkan hati dan menghampiri Abellard yang duduk membelakanginya.


Ia harus tegas, harus!


"Permisi, Monsieur Comte. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda."


Abellard tampak tersentak mendengar suaranya. Pria itu langsung menoleh ke belakang, "Naeva?" sebutnya. Kemudian bangkit dan bertanya penuh perhatian, "ada apa?"


"Saya ingin meminta bantuan Anda, Monsieur Comte," Naeva berucap lugas walau wajahnya menunduk.


"Bantuan apa? Kau tidak kenapa-kenapa, kan?" periksa Abellard dengan raut khawatir.


Gadis itu menggeleng pelan dengan hati lega. Perhatian Abellard sungguh membuatnya nyaman. "Saya baik-baik saja. Saya ... ingin meminta Anda untuk membatalkan hukuman terhadap wanita itu."


"Apa?!" Pertanyaan bernada terkejut itu bukan berasal dari Abellard, melainkan dari Lady Angelia. Gadis bangsawan Inggris itu sampai berdiri dari sofa empuknya.


Sontak semua mata menatap Lady Angelia. Gadis itu tampak salah tingkah sesaat, menyadari keterkejutannya terlalu kentara. Namun kemudian ia dengan cepat menguasai diri.


"Mlle Gaulle, permintaan anda sangat aneh. Mana mungkin seorang penjahat dibatalkan hukumannya?" dengusnya.

__ADS_1


Abellard tak mengacuhkan perkataan Lady Angelia. Fokusnya kembali pada Naeva.


"Kenapa kau meminta agar hukumannya dibatalkan? Dia adalah orang yang telah meracuni makanan untukmu, Naeva."


"Tapi, saya ... tidak yakin dia yang melakukannya. Saya mengenal adiknya. Dan setelah mendengar bagaimana sifat wanita itu dari adiknya, saya ragu kalau wanita itu adalah pelakunya," terang Naeva.


Lady Angelia tertawa pelan dengan nada mengejek. "Kau menilai wanita itu dari cerita adiknya sendiri? Aku tak pernah mendengar ada pemikiran sebodoh itu!" sinisnya.


"Yang dikatakan Lady Angelia benar, Abellard. Pelayan itu pun telah mengakui kejahatannya sendiri. Dia bahkan memakai namaku saat mengantarkan makanan itu, aku sama sekali tak akan memaafkan! Lagi pula kau tak bisa membatalkan hukuman yang telah kau tetapkan. Itu akan membuat ketegasanmu diremehkan orang." Comtesse menimpali dengan raut kesal. Benar-benar kesal terhadap perempuan yang dicintai putranya.


"Naeva, apa kau yakin belum tentu wanita itu pelakunya?" Abellard tetap hanya fokus pada Naeva. Matanya menatap serius namun tetap penuh kasih.


"Saya yakin," Naeva mengangguk pasti.


"Kalau begitu aku akan menghentikan hukumannya. Tapi pelayan itu tetap tak boleh lagi berada di Kastil ini sampai pelaku yang sebenarnya tertangkap."


Jawaban Abellard benar-benar membuat Mme Aamber dan Lady Angelia meledak kemarahannya. Kedua wanita itu berdiri kaku dengan mata memelototi Naeva penuh kebencian.


Seketika itu juga jantung Naeva serasa mencelos. Ia hanya bisa menunduk menerima kemarahan sang Comtesse. Ingin rasanya ia bisa menghilang dari sana.


Namun kemudian, tangan kokoh Abellard meraih tangannya. Menggenggam erat dan hangat.


"Mère, Naeva tidak mengacaukan akal sehatku. Dia justru mengingatkanku agar tak ceroboh dalam mengambil keputusan. Kalau memang bukan pelayan itu pelakunya, maka aku akan menjadi orang yang zalim."


"Apalagi yang bukan, Abellard?! Pelayan itu telah mengakui kesalahannya sendiri!"


"Mungkin saja ada yang memaksanya untuk mengaku," Abellard melirik Lady Angelia saat mengatakannya.

__ADS_1


Lirikan matanya itu tak luput dari perhatian Mme Aamber. Sang Comtesse benar-benar murka melihatnya.


"Kau mencurigai Lady Angelia? Atau kau bahkan mencurigai Mère?" Mme Aamber menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. "Otakmu benar-benar telah terkontaminasi, Ma Fils!"


Naeva merasakan jemarinya semakin membeku tegang dalam genggaman Abellard. Ia hanya bisa menahan napas dengan hati tegang.


Namun kemudian Abellard menoleh padanya dengan tatapan khawatir, sepertinya pria itu merasakan jemarinya yang membeku.


"Kembalilah ke kamarmu. Biar aku yang menyelesaikan masalah ini," perintahnya lembut dan terkesan melindungi.


Naeva mengangguk dan merasakan tangan Abellard melepaskan genggamannya perlahan.


Tanpa berlama-lama, Naeva segera meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan tatapan benci dari dua wanita yang terlanjur menganggapnya toxic.


**


Naeva berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan hati gelisah.


"Anda yakin, Monsieur Comte akan menghentikan hukumannya?" tanya Marc yang telah tahu duduk perkara yang sedang terjadi.


"Aku yakin. Tapi aku tak yakin Comtesse akan membiarkannya." Naeva mendekap dadanya dengan raut cemas.


"Saya juga tidak yakin Monsieur Comte akan melawan keputusan Comtesse. Saya bisa melihat kalau Monsieur Comte sangat mencintai ibunya." Bukan tanpa alasan Marc berkata seperti itu, ia terlanjur kecewa pada Abellard perihal makanan beracun itu. Ia akan ikhlas membiarkan nona-nya dijaga pria lain, tapi jika pria itu benar-benar bisa diandalkan.


Naeva menghela napasnya. Perkataan Marc membuatnya resah, walau ia sebenarnya yakin Abellard akan membebaskan pelayan itu.


"Lagipula, M'mselle, saya merasa ... ada konspirasi di balik masalah ini."

__ADS_1


Naeva menatap Marc dengan kening mengernyit, ingin tahu sekaligus tegang. Karena dirinya juga merasa kasus itu adalah sebuah konspirasi terselubung.


"Saya melihat orang yang membubuhkan cairan racun itu. Dan perempuan itu tidak terlihat seperti pelayan."


__ADS_2