
Bab 78
Sementara itu, di dalam kamar Sang Comte.
Lady Angelia tampak terpaku menatap pria yang berdiri di belakang pintu.
Itu ... Abellard.
Pria itu telah rapi dan tampak gagah dengan tuksedo berwarna perak, dan menatapnya dengan bibir tersenyum.
Sang Comte kemudian mengulurkan tangan untuk mengambil nampan dari tangannya.
"Aku tak ingin makan di dalam kamar. Kita akan datang bersama menghadiri makan malamnya," ujar pria itu dengan senyuman misterius.
"Ka-kau sudah sembuh?" Lady Angelia tergagap. Matanya terpesona melihat ketampanan Abellard.
"Sudah, aku sudah segar bugar dan penuh semangat!" jawab Abellard.
Lady Angelia tampak takjub. Tak pernah ia mendapat respon sebaik ini dari Abellard. Matanya kemudian menyapu ke sekeliling kamar untuk memeriksa.
"Apa kau hanya sendiri di kamar ini?"
Abellard mengerutkan kening. "Ya, aku sendiri," jawabnya.
Sang Lady terdiam sesaat. Matanya masih menelisik ke setiap sudut. Memastikan kamar itu memang tidak ditempati orang lain selain pria yang berdiri di dekatnya.
Sebenarnya hatinya masih merasa janggal, tentang stew ayam yang tak boleh disajikan dan juga sikap Maria dengan pelayan kepercayaannya yang mencurigakan. Namun ia segera menepis pikiran itu karena melihat keramahan Abellard.
"Apa kau mau pergi bersamaku sekarang?" Abellard merenggangkan lengan kanannya untuk digandeng Lady Angelia.
Gadis itu terdiam sesaat. Lalu ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman percaya diri.
"Tentu saja aku mau," jawabnya jumawa seraya menggandeng lengan Abellard.
Keduanya kemudian melangkah menuju ruang makan.
Lady Angelia melangkah dengan dagu yang terangkat. Ia tahu, pesonanya memang tak akan bisa ditolak lelaki manapun. Akhirnya ia bisa menaklukkan hati Sang Comte de Marseille. Ternyata tidak perlu waktu lama untuk membuat Abellard melupakan wanita kampung itu. Seandainya ia tahu, sejak dulu ia akan berusaha keras untuk menyingkirkan gadis itu dari pandangan Abellard.
__ADS_1
Begitu sampai di ruang makan, Duke dan Duchess of Medwin tersenyum senang melihat putri mereka telah kembali, bahkan menggandeng mesra Monsieur Comte.
Duke segera melupakan rasa kesal terhadap Lady Angelia. Ternyata karena itulah putrinya itu tak mau berbincang dengan Monsieur Simon.
Sementara Mme Aamber juga tersenyum lebar melihat putranya telah keluar dan bersemangat kembali.
"Aku sangat mengkhawatirkan mu, putraku ...." ujarnya begitu Abellard duduk di sampingnya.
"Aku baik-baik saja, Mère."
"Baiklah kalau begitu mari kita lanjutkan makan malamnya," ujar sang Comtesse senang.
"Maaf, Ma'am ... Saya tidak melihat Mlle Gaulle di meja makan malam ini. Apa dia baik-baik saja?" sela Monsieur Simon.
Mme Aamber menatap partner bisnis barunya itu dengan perasaan tak enak.
"Mlle Gaulle telah pulang ke tempat tinggalnya, Monsieur."
Monsieur Simon terpaku sesaat. Lalu menghela napas kecewa. "Sayang sekali, padahal saya berniat melipatgandakan investasi karena saya pikir akan berbisnis dengan orang yang tahu banyak tentang batu mulia."
Tiba-tiba terdengar kerusuhan dari arah aula. Lalu muncul Maria bersama seorang wanita yang mengamuk. Maria berusaha menenangkan dan menahan wanita yang tak lain adalah Jean itu agar tak menerobos ke ruang makan.
Semua tamu langsung memperhatikan. Termasuk Lady Angelia yang langsung berubah pucat pasi. Tubuhnya tampak menegang dengan mata melotot.
Kenapa pelayan itu muncul di sini? Bukankah ia sudah mengancam perempuan itu agar tak berani kembali?
Di ujung meja makan yang panjang itu, Mme Aamber langsung bangkit dari kursinya.
"Ada apa ini Maria?! Kenapa wanita ini bisa masuk?!"
"Dia memaksa Ma'am. Katanya ada yang perlu disampaikan."
"Kalau begitu, biarkan dia menyampaikannya. Semua orang di sini juga harus tahu bahwa tidak semua orang bisa dipercaya," sela Abellard. Tentu saja yang ia maksud tak bisa dipercaya itu adalah Lady Angelia.
Mme Aamber mengiyakan perkataan putranya. "Ya benar. Agar para tamuku di sini bisa berhati-hati dalam memilih pelayan."
Maria pun melepaskan Jean. Kakaknya Amily itu maju dua langkah. Berdiri tegak dengan kepala terangkat, Ia terlihat tangguh dan berani. Tak lagi menunduk dan menutup diri seperti biasa. Lalu membungkuk hormat pada sang Comte dan Comtesse.
__ADS_1
"Saya ingin menyampaikan sesuatu, Ma'am," mata Jean melirik Lady Angelia sekilas. Wajah putri dari Inggris itu tampak pucat seperti mayat. Matanya melotot mengancam. Namun Jean sama sekali tak gentar. Sekalipun nanti Lady Angelia akan membunuhnya, ia tak akan menyesal telah mengungkapkan kebenaran ini.
"Sebenarnya yang meracuni makanan Mlle Gaulle kala itu bukanlah saya!"
Mme Aamber tampak terkejut.
"Saya diancam untuk mengaku sebagai pelaku. Orang itu memanfaatkan kelemahan saya, yaitu Amily adik saya. Saya paling takut jika adik saya ini kembali ke desa dan hidup menderita bersama ayah kami yang pemabuk. Jadi orang itu mengancam akan membuat adik saya diusir dari kastil ini."
Para tamu tampak tercengang mendengar pernyataan mengerikan dari wanita bermata tajam yang tiba-tiba mengganggu acara makan mereka itu. Mereka langsung saling berpandangan dengan wajah heran.
Sementara itu, Duke of Medwin langsung berbisik pada istrinya. "Kau lihat? Kastil ini menyimpan skandal yang mengerikan. Aku sebenarnya tak setuju kau merekomendasikan bangsawan ini menjadi calon menantu kita. Masih lebih hebat Monsieur Simon."
Duchess hanya bisa diam mendengar keluhan suaminya.
"Siapa ... orang itu?" tanya Mme Aamber dengan raut wajah syok. Ia sama sekali tak menyangka telah terjadi skandal yang begitu jahat di kastilnya.
Jean menarik napasnya dalam-dalam. Akhirnya, ia bisa mengungkapkan hal yang ia kira tak akan ada kesempatan untuk diungkapkan sampai ia mati. Matanya beralih pada Lady Angelia. Tak sekedar melirik, Jean menatap sang Lady dengan tatapan yang menghujam.
"Orang itu adalah ...."
Jean tersenyum puas sebelum mengucapkannya.
"Lady Angelia!" serunya sembari menunjuk tepat ke wajah pucat sang Lady.
Semua orang yang ada di ruangan itu terperanjat bukan kepalang. Apalagi Duke of Medwin dan istrinya.
Setelah beberapa saat terpaku dalam keterkejutan, setiap kepala serentak menoleh pada sang Lady.
Duke of Medwin langsung bangkit dari kursinya. Mata pria paruh baya itu mendelik ke arah Jean dengan wajah merah padam.
"Jaga mulutmu pelayan rendahan! Putriku tak mungkin berbuat seperti itu! Kami ini orang terhormat dan terpelajar. Berani sekali kau menuduh putriku berniat meracuni orang lain dan mengancam mu!" teriaknya keras dan menggebu-gebu. Hingga liurnya muncrat tanpa ia sadari.
Abellard kemudian bangkit dari kursinya dengan gerakan santai dan berwibawa.
"Dia tidak menuduh, Your Grace. (Your Grace: panggilan untuk seorang Duke). Tapi mengungkapkan kebenaran. Putri Anda memang melakukannya. Kami masih memiliki saksi lain jika Anda tidak percaya. Saat ini kami juga sedang menggeledah kamar putri Anda. Saya yakin, akan menemukan beberapa bungkus ramuan herbal yang mematikan."
Lady Angelia yang duduk di sampingnya tampak ketakutan setengah mati. Gadis itu terpaku dengan wajah pucat dan mata melotot. Ia benar-benar tak menyangka, Abellard ternyata menyelidikinya!
__ADS_1