Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 68


__ADS_3



"Sudahlah, Vataf. Biarkan mereka ikut."


Seorang wanita tua berbadan subur keluar dengan bantuan tongkatnya dari dalam karavan. Wanita tua itu memakai gaun berwarna merah cerah dengan kombinasi warna hijau. Kepalanya di ikat dengan sapu tangan merah yang berhiaskan manik-manik emas. Sementara leher dan lengannya dipenuhi perhiasan emas yang berjumlah tidak sedikit.


"Phuri Dai! Apa kau yakin?" sela pemuda dari karavan kedua. (Phuri Dai: panggilan untuk wanita yang dituakan)


"Tentu saja aku yakin. Ada sebuah berkah yang mengikuti gadis ini. Karavan kita pun pasti akan terlindungi," tegas wanita itu. Berdiri dengan tubuh yang tak lagi tegak di samping karavannya.


Naeva tak mengerti dengan ucapan wanita tua itu. Namun dirinya sangat berterimakasih.


"Saya tidak paham dengan keberkahan yang Anda maksudkan, tapi kami bisa menjamin tak akan mengganggu perjalanan kalian," ujarnya dengan raut meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu, kalian boleh menumpang di karavanku," sahut kepala suku yang bernama Vataf. "Anda M'mselle, bisa beristirahat di dalam bersama Phuri Dai. Suami Anda biar duduk bersama saya di kemudi."


Abellard langsung maju selangkah dan membentengi Naeva. "Tidak. Kami harus selalu bersama," tegasnya.


Phuri Dai tampak tersenyum melihat sikap Abellard.


Seolah tahu yang dipikirkan pria muda di hadapannya, wanita itu berkata, "Anda tak perlu khawatir, Monsieur. Saya hanyalah wanita tua yang tak lagi bertenaga. Tak mungkin saya mampu menyerang perempuan yang masih muda. Lagipula, gadis Anda ini adalah gadis yang kuat. Anda jangan terlalu kaku seperti itu."


Abellard tak bisa berkata apa-apa. Terlalu kaku? Itu ungkapan yang membuatnya tampak tak banyak pengalaman. Tapi memang seperti itulah kebenarannya. Ia memang tak terlalu mengenal kaum gipsi.


"Terimakasih, Phuri Dai. Anda sangat baik," ucap Naeva sembari membungkuk hormat.


Setelah kuda mereka di ikat di belakang, iring-iringan karavan pun kembali bergerak. Mengitari kubangan lumpur dan terus memasuki hutan.


Naeva duduk di dalam karavan Phuri Dai dengan perasaan takjub. Baru kali ini ia memasuki karavan gipsi. Walaupun kaum etnik ini sering singgah di kawasan kastilnya dan ia juga sering mengajak mereka berbincang, tapi Emma selalu melarangnya untuk memasuki karavan itu.


"Ada area pribadi yang harus dijaga batasannya." Seperti itulah nasihat Emma setiap kaum gipsi singgah.


Gadis itu menatap ke sekeliling tanpa berhenti berdecak kagum. Ruang kecil itu terasa begitu hangat, nyaman, rapi dan juga indah. Sebagian ruang dipakai untuk tempat tidur, sebagian lainnya untuk tempat duduk, makan-minum dan bersantai.


"Karavan Anda sangat indah, Phuri Dai," puji Naeva.


Phuri Dai tersenyum. "Karavan orang tua tidak menarik, M'mselle. Anda pasti akan lebih menyukai karavan anak-anakku. Mereka pandai menata karavan menjadi tempat yang betah untuk ditinggali."


Naeva mengangguk-angguk dengan rasa tertarik.


"Bolehkah saya tahu nama Anda, M'mselle?" tanya Phuri Dai kemudian.


Naeva langsung tersadar bahwa ia sama sekali belum memperkenalkan diri pada penolongnya. Dan ini sangat memalukan menurutnya. Naeva merasa jadi orang yang tak beretika.


Dengan wajah tersipu, gadis itu menjawabnya, "maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Naeva de Gaulle, Phuri Dai. Dan suami saya Abellard."


Phuri Dai manggut-manggut. "Nama yang sangat indah," pujinya sembari memijat-mijat betisnya sendiri. "Naeva adalah nama yang mencerminkan kepintaran, kemandirian dan kerendahan hati. Sementara Abellard adalah nama yang mencerminkan kekuasaan, namun sangat membutuhkan sandaran dan posesif. Anda adalah gadis yang cocok untuk mendampinginya kelak, M'mselle."


Naeva terperangah. Ternyata Phuri Dai mengetahui kebohongan mereka. Wajah Naeva seketika memerah. Ia semakin tak enak hati.


"Jadi Anda tahu kami bukanlah suami istri?" tanya gadis itu.


Phuri Dai terkekeh pelan. "Tentu saja, M'mselle."


Jawaban wanita itu singkat dan misterius. Namun Naeva tak mempertanyakannya. Ia hanya teringat untuk meminta maaf karena telah berbohong.


"Maafkan kami. Abellard hanya tak ingin jauh-jauh agar bisa menjaga saya."

__ADS_1


"Tidak perlu meminta maaf, M'mselle. Semua orang boleh saja berbohong demi kebaikan. Anda beruntung mendapatkan cinta yang sangat besar."


Naeva menautkan alisnya, "cinta yang sangat besar? Benarkah itu?"


"Ya, hanya saja dia terlalu posesif. Saya merasakan sebuah trauma masa lalu dari auranya. Mungkin dia pernah dikecewakan."


Naeva terpaku sesaat. "Apa ... dia dikecewakan oleh seorang wanita?" ia bertanya ragu.


"Kalau maksud Anda adalah seorang kekasih, saya rasa bukan. Karena sikapnya menunjukkan bahwa Anda lah gadis pertama yang mengisi hatinya."


Hati Naeva seakan mengembang saat mendengar penuturan Phuri Dai. Namun rasa penasaran juga muncul di hatinya, trauma apa yang dialami Abellard?


Naeva menatap ke arah tirai karavan yang sekali-kali terbuka ditiup angin dan menampakkan Abellard duduk bersama ketua suku di luar sana.


Abellard pasti kedinginan. Pria itu tak memakai mantel, dan sekarang tak ada lagi kehangatan yang bisa mereka bagi melalui pelukan seperti saat berkuda tadi. Apalagi celana Abellard juga basah karena lumpur.


Naeva membuka mantel kulit Abellard yang masih membalut tubuhnya. Namun Phuri Dai kemudian mengatakan sesuatu yang membuatnya urung memberikan mantel itu untuk sang Comte.


"Sebentar lagi kita akan berhenti untuk bermalam. Ini sudah lewat tengah malam, Anda bisa beristirahat bersama kami dan melanjutkan perjalanan esok pagi."


Naeva langsung berseru senang. "Benarkah? Oh, Phuri Dai, saya sangat berterimakasih atas kebaikan Anda," ucapnya sembari membungkuk berkali-kali.


Tak lama kemudian, mereka telah melewati hutan kecil itu. Cahaya rembulan yang terang benderang langsung menyambut mereka kembali.


Kereta karavan pun berhenti.


"Tunggulah sebentar, M'mselle. Kita akan menyantap makan malam sebelum beristirahat."


"Anda makan tengah malam begini?"


"Tidak, ini hanya makanan ringan. Para lelaki akan merasa kelaparan karena terus menghadang udara malam yang dingin. Anda bisa menikmati teh jika tidak merasa lapar," jelas Phuri Dai.


Sesaat kemudian Naeva mendengar suara orang berbincang di luar. Gadis itu segera mengintip melalui jendela karavan dan melihat para pria mulai membuat api unggun.


Mereka bersiap untuk membuat makanan di alam terbuka.


"Wah, ini sangat menarik!" gumam Naeva takjub.


Lalu beralih menatap Phuri Dai penuh semangat. "Bolehkah aku keluar untuk membantu?"


"Tentu saja M'mselle. Putri-putriku pasti akan senang menerima bantuan Anda."


Naeva tersenyum senang dan langsung bangkit dari lantai karavan yang dilapisi karpet bulu itu.


Sementara Phuri Dai menatap kepergiannya dengan senyuman hangat.


Putri-putri Phuri Dai berkulit putih kekuningan, mata mereka coklat kehijauan. Bentuk wajah mereka persegi dengan rahang yang tegas, menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mandiri.


Awalnya mereka tampak terkejut dan canggung melihat Naeva yang ikut bergabung. Karena belum pernah ada gadis pribumi yang menyapa dan mendekati.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Naeva dengan senyuman lebar.


Seorang wanita yang terlihat lebih dewasa menjawab dengan senyuman canggung. "Tak perlu repot-repot, M'mselle. Anda adalah tamu kami, kami yang akan menyiapkannya untuk Anda."


"Tidak apa. Saya sangat tertarik memasak di alam lepas seperti ini. Izinkan saya membantu," jawab Naeva masih dengan semangat yang tinggi.


Wanita itu tersenyum. Senang hatinya melihat keramahan gadis cantik di hadapannya. "Baiklah, kalau begitu. Kita akan membakar roti dengan mentega, M'mselle."


Naeva mengangguk dan segera membantu dua gadis remaja yang mengoleskan mentega pada roti. Kedua gadis remaja itu tampak canggung sembari sekali-kali melirik Naeva.

__ADS_1


"Kalian sangat cekatan," puji Naeva mencoba mencairkan suasana.


Keduanya langsung tersipu. "Anda sangat cantik, M'mselle."


Naeva tersenyum dengan mata yang berbinar mendengar pujian remaja polos itu. "Kalian juga. Mata kalian berwarna kehijauan. Sangat indah," pujinya pula. "Oh, iya. Setahuku, kaum gipsi berkelompok hingga berjumlah Tujuh sampai sepuluh karavan. Kenapa kalian hanya tiga karavan?"


"Kami terpisah dari kelompok, karena Phuri Dai mengalami sakit hingga harus tinggal beberapa hari di Marseille. Mereka akan menunggu kami di lembah Chajentau."


Naeva manggut-manggut.


Salah seorang gadis remaja itu kemudian menyentuh lengan Naeva dan memberi kode ke arah Abellard. Naeva mengikuti arah dagu si remaja gipsi.


"Suami Anda sepertinya sangat takut Anda kenapa-kenapa. Sedari tadi dia terus mengawasi," goda remaja itu dengan tersipu-sipu.


Naeva menatap Abellard sejenak. Pria itu sedang berdiri tak jauh dari karavan Phuri Dai seorang diri. Mengawasi dirinya seperti seorang pengawal pribadi. Tangannya bersedekap di depan dada, sementara matanya menatap tajam.


Naeva kemudian tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Benar seperti yang dikatakan Phuri Dai, Abellard sedikit posesif.


Setelah mengoleskan mentega, para lelaki mulai memanggang roti. Sementara yang perempuan membuatkan teh.


Selesai membakar roti. Pria paling dewasa yang sepertinya adalah menantu Phuri Dai, menghampiri wanita yang sedang menjerang air bersama Naeva.


"Istriku, ini roti bakar untukmu," ujar pria itu.


Wanita itu menerimanya dengan senyuman.


"Suami Anda sangat romantis," goda Naeva setelah pria itu pergi.


Wanita gipsi itu kembali tersenyum. "Phuri Dai membiasakan kami untuk saling membantu dan menghargai." Kemudian dengan raut tersipu ia melanjutkan,"dan suami saya memang seperti yang Anda katakan. Dia sangat perhatian."


Mendengar jawaban putri dari Phuri Dai itu, Naeva tiba-tiba mendapat sebuah ide.


Ia akan meminta Abellard membakar roti untuknya.


Dengan wajah sumringah, gadis itu menghampiri sang Comte, yang malam itu berubah menjadi seorang pengawal siaga demi dirinya.


Abellard tersenyum menyambut Naeva yang menyongsongnya. . Senyuman pertama yang terukir dari bibir menawan itu sejak mereka menumpang di karavan gipsi.


"Ada apa?" tanya pria itu hangat.


"Kenapa tidak membaur?"


"Aku ... kurang nyaman. "


"Abellard, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Apa kau mau?"


"Melakukan apa?" tanya pria itu lembut.


Naeva hanya tersenyum misterius. Meraih tangan kokoh Abellard dan menariknya pelan ke arah api unggun.


"Aku ingin kau membakarkan roti untukku dan aku akan membuatkan teh untukmu," bisik gadis itu antusias.


Abellard tercenung sesaat. Membakar roti? Bersama orang-orang gipsi yang aneh ini?


Menantu Phuri Dai menyodorkan nampan berisi roti yang telah diolesi mentega pada pria itu. Canggung dan tanpa kata.


Abellard menghela napas dan terpaksa menerima nampan roti itu sembari meneguk salivanya.


Naeva tersenyum melihat ekspresi Abellard. Rasanya bahagia sekali melakoni sandiwara suami istri ini. Tanpa sadar gadis itu mengucapkan sepatah kalimat yang muncul dari hatinya yang terdalam.

__ADS_1


"Je vous aime, Abellard ...."


(Je vous aime: aku cinta kamu)


__ADS_2