
Langkah Naeva tiba-tiba terhenti saat teringat sesuatu. Sebuah ide melintas di pikirannya. Ia berbalik dan menatap sang Comte. "Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku ingin kau berubah? Kalau benar-benar ingin meminta maaf, kau bisa melakukan perubahan itu mulai sekarang."
Abellard langsung mendekat. "Aku akan melakukannya! Apapun itu!" tekadnya penuh semangat.
Naeva menahan senyum mengingat idenya. Sekarang para pelayan wanita tak perlu lagi menunggu pengawal untuk mengangkat barang yang berat-berat, karena sang Comte sendiri yang akan membantu.
"Baiklah, aku akan mengantarkan buah ini ke ruang makan dulu. Tunggulah sebentar," ujarnya.
Di ruang makan ternyata Amily masih berdiri menunggunya.
"Amily? Kau menungguku?"
"Ya, M'mselle. Saya takut tiba-tiba Anda bertemu dengan Comtesse sendirian."
Naeva tersenyum. Amily sangat memperhatikannya.
"Baiklah, tugas ini sudah selesai, sekarang kita kembali ke dapur," ajaknya semangat.
Begitu kembali ke tempat tadi, Naeva melihat Abellard masih menunggunya. Sepertinya sang Comte benar-benar berniat untuk berubah.
Gadis itu kemudian mengangguk hormat seperti yang dilakukan Amily, "Monsieur Comte, mari ikut kami ke dapur jika Anda berkenan," ucapnya dengan sikap yang dibuat formal. Membuat Abellard gemas, mengetahui dirinya sedang diuji gadis itu dengan permainannya.
Sang Comte hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah mereka.
Amily menatap bingung, lalu berbisik pada Naeva dengan cemas. "Anda benar-benar mengajak Monsieur Comte ke dapur?"
Naeva mengangguk dan tersenyum. "Ya, dapur itu adalah salah satu ruangan yang berperan penting dalam sebuah hunian. Tempat yang menjamin kelangsungan hidup penghuninya. Jadi wajar saja kalau pemilik hunian itu sendiri memasukinya, bukan?" Naeva sengaja menjawab dengan suara keras, agar Abellard juga mendengarkan.
Amily mengangguk segan, apalagi kemudian ujung matanya melihat sang Comte sampai garuk-garuk tengkuknya yang pasti tidak gatal itu.
Keterkejutan dan kecemasan Amily tak lebih hebat dari keterkejutan para pelayan yang berada di dapur. Melihat sang Comte masuk, semuanya menghentikan kegiatan dan mengangguk hormat.
Naeva langsung menghampiri para gadis belia yang baru saja meletakkan kembali karung gandum di lantai saat membungkuk hormat.
"Masihkah ada lagi karung gandum yang harus dimasukkan? Kami akan membantu," tanya Naeva.
Sementara Abellard masih terpaku menatap suasana dapur yang tak pernah diperhatikannya selama ini. Penuh oleh bahan masakan dan pelayan wanita bersama tukang masaknya. Pantas saja meja makan mereka yang panjang dan besar itu selalu dipenuhi makanan. Ternyata semua pelayan bekerja keras untuk menyiapkannya.
"Masih, M'mselle," jawab seorang pelayan senior. "Tapi ... lebih baik Anda duduk saja. Ini sudah tugas kami."
"Tidak apa. Monsieur Comte mengatakan bahwa dirinya perlu olahraga pagi, makanya saya mengajaknya kemari," jawab Naeva.
Para pelayan menoleh pada sang Comte, mencari tahu apakah yang dikatakan Mlle Gaulle bukanlah sebuah gurauan.
__ADS_1
Abellard terpaksa mengangguk.
"Di sana, M'mselle. Masih ada beberapa karung gandum yang belum dipindahkan," tunjuk pelayan itu ke arah pintu yang menuju ke luar. Sepertinya gandum-gandum itu baru dibawa pulang dari pasar.
"Baiklah, kami akan berusaha!" sambut Naeva sembari tersenyum lebar dan mengangkat lengannya penuh semangat.
Langkahnya menuju tumpukan karung gandum diikuti oleh Abellard yang spontan tersenyum gemas melihat ekspresi Naeva, gadis itu seperti bocah yang bersemangat mengajak temannya bermain.
"Biar aku saja," tegas Abellard sambil menarik satu karung gandum.
Dua orang pengawal yang baru saja dipanggilkan pelayan wanita, langsung membantu sang Comte mengangkat karung itu dengan raut bingung. Apa yang terjadi sampai Comte Abellard mengerjakan pekerjaan mereka?
Naeva menatap Abellard dengan senyuman. Rasanya senang sekali melihat Abellard kembali seperti dulu saat menjadi Richard. Pemuda biasa yang dicintainya.
Selesai mengangkat karung gandum, Naeva mengajak Abellard melakukan hal lain, bahkan sampai menghiasi kue 'Croquembouche' dengan bunga-bunga cantik yang bisa di konsumsi.
'Croquembouche' ini adalah kue khas Perancis yang biasa dibuat saat perayaan. Kue ini berupa kue sus yang berbentuk bulat sebesar bola tenis yang kemudian disusun membentuk menara kue sus yang dijalin oleh karamel-karamel halus di sekelilingnya, agar tidak terjatuh.
Biasanya mereka akan menjadikan Croquembouche ini sebagai kue ulangtahun
"Dimana orang yang berulangtahun?" tanya Naeva sembari membersihkan tumpahan karamel di tepi piring Croquembouche.
"Dia kami larang keluar sebelum persiapannya selesai," jawab salah seorang pelayan sembari tersenyum gembira.
Naeva tersenyum jail, kemudian menempelkan kedua tangannya di pipi Abellard, sehingga karamel berwarna cokelat itu menempel di pipi sang Comte.
Abellard terkejut. Awalnya ia senang mengira Naeva mulai berani menyentuh pipinya. Namun begitu kulitnya merasakan lengket, ia langsung tahu bahwa gadis itu sedang mempermainkannya.
"Waah ... urat-urat berwarna coklat di wajah Anda benar-benar mengerikan! Anda terlihat seperti monster, Monsieur Comte. Arrg arrg ...." Naeva menirukan gerakan monster dan suaranya juga. Membuat para pelayan tertawa lepas mendengarnya.
Abellard langsung memasang tampang marah. Seketika itu juga Naeva dan para pelayan berhenti tertawa melihatnya. Hati mereka seketika was-was, bagaimana kalau sang Comte marah besar?
Tanpa ada yang memperhatikan, tangan Abellard bergerak ke dalam wadah tepung dan meraupnya sepenuh genggaman.
Dan ...
Puk!
Wajah Naeva sukses di tepuki tepung olehnya.
Semua kaget.
__ADS_1
Dan benar-benar kaget karena suasana hati mereka juga sedang tegang.
Sementara Naeva terpaku dengan mata yang refleks terpejam saat wajahnya ditepuk pelan oleh Abellard.
Dua detik kemudian, perlahan Naeva membuka matanya kembali, lalu mengerjap-ngerjap lucu.
"Huahaha ...." Suara tawa Abellard tiba-tiba menggelegar di ruangan itu. Abellard benar-benar tertawa terbahak-bahak. Perutnya tergelitik melihat wajah Naeva yang putih dipenuhi tepung. Sungguh menggemaskan saat gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya yang berbulu lentik.
Melihat kejadian itu, para pelayan langsung ikut tertawa. Ternyata sang Comte hanya pura-pura marah untuk mengerjai Mlle Gaulle.
Suasana dapur itu benar-benar heboh sekarang.
"Ada apa ini?!" Suara Mme Aamber tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk dapur.
Semuanya terdiam dan menoleh ke arah pintu. Sementara Naeva cepat-cepat menghapus wajahnya. Semua orang merasa tegang, melihat Comtesse memergoki mereka sedang bersenang-senang, kecuali Abellard tentunya. Pewaris tunggal bangsawan Marseille itu bahkan ingin menunjukkan pada ibunya bahwa ia bahagia bersama orang-orang yang dinilai berkasta rendah oleh para bangsawan.
Mme Aamber tampak terkejut sekaligus bingung untuk sesaat, melihat putranya berada di dapur dan bercengkerama bersama para pelayan. Itu pemandangan yang aneh dan mengejutkan baginya.
Namun kemudian, wanita itu tampak bersikap normal kembali, dingin dan elegan seperti biasa. Lalu beralih menatap Naeva. "Mlle Gaulle, saya ingin berbicara berdua dengan Anda sebentar," tegasnya.
Naeva tersentak. Comtesse memanggilnya? Wajahnya yang sedari tadi menunduk, perlahan terangkat dengan ragu. Hatinya benar-benar was-was, kenapa Comtesse memanggilnya? Apa ibunya Abellard ini akan menyalahkannya karena melihat Abellard di dapur?
Abellard yang berpikiran sama dengan Naeva langsung bangkit untuk membela. "Mère, aku sendiri yang ingin kemari," tegasnya.
Mme Aamber menoleh dengan raut datar. "Mère tidak menanyakamu," jawabnya singkat.
"Jadi buat apa Mère memanggil Naeva?"
"Mère ingin membicarakan sesuatu dengannya."
Naeva bangkit dari kursinya dengan jantung yang berdetak kencang. Dan melangkah pelan menghampiri Mme Aamber yang telah berbalik keluar.
Abellard pun mengikutinya.
"Mère, kalau Mère ingin memarahi Naeva maka aku juga patut menanggungnya."
Mme Aamber berbalik kembali. " Ma Fils, Mère hanya ingin berbincang, bukan menyakitinya, apa kau tak bisa mempercayai Mère?"
Abellard terdiam, sepertinya ibunya memang tidak akan memarahi Naeva. Matanya beralih pada gadis yang masih bersisa tepung di wajahnya itu, dan ia melihat Naeva mengangguk pertanda ia tidak apa-apa.
"Baiklah," jawabnya menyerah.
Mme Aamber kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya dengan diikuti Naeva. Masih terbayang-bayang di benaknya bagaimana Abellard tadi tertawa lepas bersama para pelayan dan gadis yang berjalan di belakangnya saat ini.
__ADS_1
Itu benar-benar suatu pemandangan yang langka. Telah lama ia tak melihat Abellard tertawa seperti itu. Sejak ayahnya tiada dan kemudian saat ia menambahkan luka untuk putranya itu karena membawa seorang ayah tiri sebagai pengganti.
Mme Aamber mendesah berat. Dalam hatinya ia sangat berterimakasih pada gadis luar biasa yang dulu dihujatnya, Naeva de Gaulle.