Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan

Kekasih Taruhan Tuan Bangsawan
Bab 51


__ADS_3

Naeva membungkukkan badannya dengan canggung. Tak nyaman dipuji sedemikian rupa, apalagi tatapan tamu-tamu yang berjumlah sekitar 15 orang itu sekarang berpusat padanya.


Di kursinya, Lady Angelia hanya bisa membuang muka dengan hati dongkol.


Dan saat Naeva duduk kembali, ia melihat piring di hadapannya kini telah diisi makanan oleh Abellard. Naeva melirik pria itu sekilas. Tampak Abellard sedang fokus memisahkan daun Peterseli dari dalam semangkuk sup.


"Makanlah ..." ucapnya sembari menyodorkan mangkuk berisi sup itu ke hadapan Naeva. Gadis itu terpaku sesaat. Ia memang tak suka memakan sup yang dibubuhi daun Peterseli sehingga sering memisahkannya sendiri saat dimasak Emma. Ternyata Abellard memperhatikan.


Tanpa dapat ia tahan, sebuah rasa haru muncul dalam hatinya. "Terimakasih ...." ucapnya setengah berbisik. Lalu mengambil sup itu dan mulai menikmati rasa gurih dari sup yang tanpa daun Peterseli itu.


Abellard senang luar biasa mendengar ucapan terimakasih dari Naeva. Namun pria itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dan pura-pura tak peduli.


Alfred memperhatikan mereka dengan hati menggerutu. Padahal tinggal sedikit lagi Naeva akan menjadi miliknya. Ia telah membubuhi minuman untuk Naeva dengan sesuatu yang akan membuat gadis itu tak sadarkan diri. Dan kemudian, tinggal memapah Naeva ke dalam kamarnya. Tapi Abellard telah mengacaukan semua.


Tak jauh dari pemikiran saudaranya, Lady Angelia pun menatap mereka dengan hati kesal setengah mati. Harusnya dirinya yang duduk di sisi Abellard sebagai calon tunangan. Tapi sejak datang tadi pria itu malah memilih duduk di samping Pak dokter, dan sekarang malah digantikan oleh gadis kampungan dan miskin itu! Comtesse pun sepertinya tak begitu peduli padanya hari ini karena sedang fokus pada tamu istimewanya. Lady Angelia menghentakkan kakinya. Membuat tamu yang duduk di sebelahnya langsung menoleh bingung.


Monsieur Simon mulai menyantap makanan penutup saat Mme Aamber memulai kembali obrolannya.


"Monsieur Simon, saya juga mengetahui kecintaan Anda terhadap batu mulia langka. Saya sengaja memakai kalung ini untuk menghargai hobi Anda." Mme Aamber menyentuh kalung mutiara yang menggantung di lehernya.


Semua tamu menatap kalung mutiara indah itu sembari berseru takjub.


Monsieur Simon memperhatikan sesaat. Lalu tersenyum tipis dan kembali menyuap makanan penutupnya. Setelah mengunyah dan menelan dengan elegan, pria itu menyeka mulutnya dengan serbet.


"Mutiara itu bukan mutiara langka, Ma'am. Hanya sedikit susah dikoleksi karena harganya yang mahal," jawabnya berterus terang.


Muka Mme Aamber seketika memerah. Wanita terhormat itu sampai tak bisa bernapas saking malunya karena terlihat bodoh di hadapan para tamu.

__ADS_1


"Bukankah begitu, Mlle Gaulle?" Monsieur Simon menanyakan pendapat Naeva.


Naeva yang sedang meyesap sup hangat di dalam sendoknya, langsung tergesa menelan dan mengangkat wajahnya.


Matanya melirik Mme Aamber tak enak. Mana mungkin ia akan menatap kalung yang dipakai sang Comtesse.


"Sa-saya kurang tahu, Monsieur." jawabnya pelan.


"Anda belum melihatnya dengan jelas. Saya yakin Anda tahu, M'mselle. Saya hanya ingin mengetahui pendapat Anda. Bukan untuk mempermalukan siapapun. Saya rasa Comtesse juga bukan orang yang berpikiran sempit. Kita hanya ingin membahas kekayaan alam, bukan kekayaan manusia." Monsieur Simon berkata dengan begitu bijak. Pria itu tahu kalau Naeva tak berani melihat kalung sang Comtesse.


Mme Aamber langsung merasa lega. Pengusaha hebat ini memang terkenal dengan jiwanya yang sportif dan tak suka merendahkan orang lain. Lalu Comtesse beralih menatap Naeva.


Untuk pertama kalinya Mme Aamber menatapnya dengan raut normal dan tak bermusuhan. "Lihat saja, Mlle Gaulle. Tidak masalah ...."


Naeva mendongak tak percaya. Seolah mimpi, ia mendengar suara Comtesse yang tidak bernada dingin.


"Mutiara ini sekarang memang tidak langka. Tapi dulu di eranya, mutiara ini termasuk langka, sehingga mendiang Ratu Marie Antoinette memilih mutiara ini untuk menjadi salah satu hiasan mahkotanya. Setelah Ratu memakainya barulah semua orang mencari mutiara yang sama dan menjualnya dengan harga yang sangat mahal," jelas Naeva.


Penjelasan yang membuat Mme Aamber sangat lega. Sampai-sampai tanpa sadar ia berterimakasih pada gadis itu di dalam hati.


Naeva bukan bermaksud untuk mengambil hati Mme Aamber. Karena memang seperti itulah kenyataannya. Namun menurut Lady Angelia, Naeva terlihat memang ingin merebut hati calon ibu mertuanya. Gadis itu sampai meremas serbet di samping piringnya.


Monsieur Simon tersenyum lebar. "Anda sangat beruntung, Comtesse. Memiliki anggota keluarga yang sangat pintar seperti Mlle Gaulle. Dan saya memutuskan untuk bekerja sama dengan usaha Anda mulai saat ini," ujar pria itu. Tak tahu bahwa Naeva hanyalah tamu yang tak diinginkan oleh sang Comtesse.


Mata Mme Aamber seketika membesar tak percaya.


"Anda bersungguh-sungguh, Monsieur?"

__ADS_1


"Ya, saya sangat serius. Awalnya saya memang ragu menjalin kerja sama. Karena pabrik saya jelas bergerak dalam ranah perhiasan dari batu mulia, sedangkan Anda sejak dulu berkecimpung di dunia pakaian dan sutra. Tapi kalau Anda memiliki seseorang yang memiliki bakat seperti Mlle Gaulle, saya tak akan ragu." Monsieur Simon meraih sebuah map berisi surat kontrak kerja yang telah diserahkan Mme Aamber sejak awal kedatangannya, lalu membubuhkan tanda tangan.


"Sepertinya Anda harus siap untuk sering-sering berbagi ilmu dengan saya setelah ini, M'mselle ...." Pria berjambang itu melirik Naeva sembari tersenyum.


Abellard jelas merasa tak senang dengan ketertarikan Monsieur Simon pada Naeva. Walau usia laki-laki itu mungkin telah menjelang 40 tahun dan tidak sesuai dengan Naeva yang masih belia, tapi rasa cemburu di hatinya tetap membabi-buta. Ingin rasanya ia mengambil surat kontrak itu dan merobeknya agar tak perlu ada momen berbagi ilmu yang dimaksudkan pengusaha itu.


Namun ia tak ingin Naeva melihat rasa cemburu itu lagi darinya. Tak ingin gadis itu merasa bahwa kebohongan di kastil Wisteria bukanlah apa-apa. Kebohongan itu membuat hatinya terluka. Dan Naeva harus tahu itu!


Lord Alfred tiba-tiba bangkit dari kursinya dengan membawa segelas air yang telah dicampur ramuan itu dan menghampiri Naeva.


"Selamat atas kepintaranmu, Naeva. Aku sangat kagum," ucapnya.


Abellard langsung menoleh saat mendengar pria dari Inggris itu menyebut nama kecil kekasihnya.


"Aku membawakan minuman untukmu." Lord Alfred menyodorkan gelas itu pada Naeva.


Melihat itu, Abellard langsung mendengus sinis.


"Anda memang lelaki yang sangat berlebihan, Lord! Anda bisa mengakui seseorang yang baru Anda temui sebagai kekasih, ck ck ck ...." Abellard berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat wajah Lord Alfred merah padam. "Satu lagi," lanjut sang Comte, "Naeva merasa tak nyaman dengan sikap Anda, jadi tolong menjauh."


Naeva menatap Abellard kesal. Enak saja pria ini mengatur orang yang berinteraksi dengannya. Apa Abellard berpikir dirinya adalah boneka yang bisa dimiliki, diatur lalu dibuang seenaknya?


Setelah menantang Abellard dengan tatapannya, Naeva mengambil gelas minuman yang diberikan Lord Alfred sembari berterimakasih padanya.


Mendapat sambutan baik dari Naeva membuat Lord Alfred merasa mendapat angin. Pria itu menatap sang Comte dengan tampang seorang pemenang. Lalu kembali ke kursinya dengan senyuman mengejek.


"Jangan minum itu!" sergah Abellard sembari mengambil gelas dari tangan Naeva dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2