
Amily mengetuk pintu kamar Comte Abellard 10 kali secara beruntun, sebagai kode kalau yang mengetuk adalah dirinya atau Maria, seperti yang telah mereka sepakati.
Di tangannya ada nampan berisi makanan dan juga minuman.
Ceklek
Terdengar suara kunci pintu diputar dari dalam.
Amily langsung membuka pintu itu dan cepat-cepat masuk. Setelah gadis itu berada di dalam, pintu itu ditutup kembali oleh orang yang berada di belakang pintu.
"Monsieur Marc, Mme Maria meminta saya membawa makanan untuk Anda."
Marc yang masih berdiri di dekat daun pintu menganggukkan kepalanya, lalu mengambil nampan dari tangan Amily. "Terimakasih," ucapnya.
"Apa anda membutuhkan yang lain?"
"Tidak," jawab Marc singkat.
"Anda pasti sangat bosan terkurung seperti ini," komentar gadis itu prihatin.
"Tidak juga," jawab Marc masih singkat dan tanpa ekspresi.
Amily menghela napas tak sabar. Pria ini terlalu kaku. Berdiri tegak seperti patung yang memegang nampan.Padahal tak ada salahnya jika berbagi keluh-kesah dengan orang lain.
Mengingat situasi berbahaya yang sedang mereka hadapi saat ini, Amily merasa harus saling menjaga dan menjadi partner yang baik.
"Saya bisa membantu Anda jika Anda membutuhkan sesuatu," tawarnya.
"Tidak perlu. Saya tidak membutuhkan apa-apa."
Amily memperhatikan pria itu sejenak. Marc tidak juga duduk dan menikmati makanannya. Apa sebenarnya ada yang ingin di sampaikan Pria ini?
"Monsieur, seandainya ada yang Anda khawatirkan, ceritakan saja pada saya. Siapa tahu saya bisa bantu mencari solusi."
"Tidak. Tidak ada yang saya khawatirkan."
Amily diam-diam menggerutu dalam hati. Pria ini benar-benar sulit dipahami.
"Lantas kenapa Anda hanya berdiri menunggu?
"Saya perlu mengunci pintu setelah Anda keluar."
Seketika itu juga wajah manis Amily merah padam karena malu. Ternyata Marc terus berdiri karena menunggunya keluar.
"Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu," ucapnya sembari cepat-cepat berbalik dan keluar dari kamar itu.
Marc benar-benar berbeda dengan saudarinya. Mlle Gaulle sangat ramah dan hangat. Tapi Marc ini seperti robot dan sedikit bicara.
Kaki Amily terus melangkah meninggalkan pintu kamar yang kini telah ditutup rapat oleh pria itu. Sepertinya ia harus menemui Maria, untuk menanyakan apa lagi yang harus dilakukannya setelah ini. Ia tak boleh mengecewakan Mlle Gaulle dan Monsieur Comte yang telah meminta bantuannya.
***
Di ruang duduk, tampak Lady Angelia bersama kedua orang tuanya. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting. Terlihat dari raut wajah mereka yang serius dan penuh ambisi.
"Kau harus membicarakannya sekarang, Sweet heart!" seru Duchess of Medwin. (ibu lady Angelia)
__ADS_1
"Tapi Abellard sekarang sedang tidak bisa ditemui, Mommy."
"Tidak bisa ditemui bagaimana? Kau ini adalah calon istrinya. Mana boleh ada batas diantara kalian?" protes Duke of Medwin.
"Ayahmu benar, Sayangku. Kau tak boleh membuang waktu. Sebelum pernikahan diselenggarakan, Monsieur Comte harus mau membelikan kita tanah di daerah Utara itu. Kita sudah memberikan mereka tanah untuk tempat usaha baru Comtesse, jadi sekarang waktunya kita meminta sesuatu."
Dari raut wajahnya, tampak Lady Angelia keberatan dengan keinginan kedua orangtuanya.
"Tapi Mommy ... bukankah kita juga sudah mendapatkan suntikan dana dari Comtesse untuk pembelian tanah di Paris? Harusnya kita sudah impas."
"Itu tidak benar, mana mungkin bisa impas dengan uang yang mereka berikan itu. Tanah milikku lebih mahal dari uang yang mereka berikan!" sanggah Duke of Medwin kesal.
"Daddy, pernikahan ini bukan hanya pasal mengambil keuntungan satu sama lain. Tapi juga pasal cintaku. Aku mencintai Comte Abellard dan ingin segera menikah dengannya tanpa hambatan suatu apapun!"
Duke of Medwin menatap putrinya tak sabar.
"Ya, Daddy juga memahami perasaanmu. Tapi kau mencintainya karena kesempurnaannya. Jika dia belum memberikan yang terbaik untukmu, bagaimana dia bisa menjadi lelaki sempurna? Justeru mulai saat inilah kau harus membuatnya royal padamu!"
Lady Angelia terdiam. Yang dikatakan ayahnya itu memang masuk akal. Abellard semakin sempurna karena kekayaannya yang melimpah. Rasanya kesempurnaan itu tidak lengkap jika sang Comte malah pelit padanya.
"Baiklah, Daddy. Akan aku coba," jawab gadis itu akhirnya.
Duke of Medwin langsung tersenyum cerah mendengar jawaban putrinya.
"Kau memang anak yang berbakti. Tidak seperti kakakmu yang tak ada otak itu! Tiba-tiba pergi disaat adiknya akan menikah! Kalau dia malu karena belum memiliki pasangan, harusnya dia mau dijodohkan!"
Lady Angelia terdiam. Ia tak ingin mengatakan yang sebenarnya, bahwa saudaranya itu bukan pergi begitu saja, tapi diusir oleh Comte Abellard secara tidak hormat. Karena ia tak ingin kedua orangtuanya marah pada Comte dan membatalkan pernikahan mereka.
Di balik patung besar yang berdiri tegak tak jauh dari tempat duduk keluarga bangsawan Inggris itu, bersembunyi Amily dengan mata melotot.
Baru saja ia hendak mencari Maria di ruang duduk yang luas itu, tapi telinganya malah tak sengaja mendengar musyawarah memalukan dari dari orang-orang yang terpandang itu. Tapi bukan karena musyawarah itu yang membuat mata indahnya membesar, melainkan karena Lady Angelia akan segera menemui Monsieur Comte.
Amily segera meninggalkan ruangan itu secara diam-diam dan berjalan tergopoh-gopoh menuju Aula. Hatinya sungguh bersyukur saat menemukan wanita baik hati itu di sana.
Namun langkahnya seketika terhenti, ketika melihat Comtesse juga ada di sana.
Ia harus mencari alasan untuk membuat Maria segera meninggalkan aula agar bisa menceritakan yang sebenarnya.
Gadis itu mondar-mandir dengan hati panik. Apa yang harus dikatakannya? Waktunya tidak banyak. Mungkin Lady Angelia saat ini sedang menuju ke kamar Comte Abellard. Dan hanya Maria yang bisa mencegah perempuan itu.
Beberapa detik kemudian Amily tiba-tiba berhenti dengan wajah serius. Ia menemukan ide. Ya, ia menemukan alasan yang akan membuat Maria segera mengikutinya. Apalagi kalau bukan kabar buruk tentang Monsieur Comte?
"Mme Maria!" panggilnya sembari menghampiri dengan tergopoh-gopoh.
Maria menoleh. Alisnya tampak bertaut melihat kepanikan Amily. "Ada apa Amily?"
"Monsieur Comte, Ma'am! Monsieur Comte sepertinya sakit perut."
"Apa?!" seru Maria.
Tidak. Bukan hanya Maria yang berseru kaget, melainkan Mme Aamber juga.
Amily terperanjat. Ia tak ingat bahwa orang yang akan sangat panik mendengar kabar buruk Monsieur Comte justru adalah Comtesse.
Betapa bodoh dirinya!
__ADS_1
Amily Seketika mengutuk kebodohannya di dalam hati. Kenapa ia malah membuat sandiwara mereka terancam ketahuan?
Amily tampak membeku di tempatnya berdiri.
Dalam keterpakuannya, ia melihat kedua wanita itu berlari meninggalkan aula.
***
Naeva memapah tubuh Jean yang berjalan terseok-seok menuju ke rumahnya yang berada di belakang peternakan.
Sementara Abellard mengikuti di belakang mereka dengan menarik kudanya.
Gubuk yang mereka tuju sebenarnya tak layak disebut rumah, karena kondisinya lebih bobrok daripada sebuah kandang rusak.
"Kau tinggal di sini?" Naeva menatap prihatin.
"Ya, aku tinggal di sini. Hanya bangunan ini yang diberikan Peternak itu untuk pegawainya. Aku tinggal bersama ayahku, tapi beberapa hari ini dia telah kabur dan tak pernah pulang," jawab Jean. Wanita itu tak lagi menyembunyikan kelemahannya seperti dulu. Sepertinya ia telah sangat lelah menanggung hidupnya yang pahit dan berpura-pura kuat.
"Dia pergi setelah mengacaukan semuanya," sambungnya lirih.
"Sudah berapa lama keluargamu bekerja pada Peternak itu?"
"Sudah sangat lama, kalau tak salah sebelum kami bekerja di Marseille."
Naeva membantu Jean membuka pintu kayu gubuk itu dan memapah wanita itu masuk kedalam.
Teramat kosong. Hanya ada dua buah kursi dan tungku memasak. Naeva meneguk saliva dengan perasaan terenyuh melihatnya. Ternyata separah itu tempat tinggal Amily dan Jean selama ini.
Jean menghenyakkan tubuh lemahnya di atas salah satu kursi sembari meringis, menahan perih di sudut bibirnya yang terluka akibat tamparan keras dari majikannya yang kejam.
Abellard ikut masuk setelah mengikat kudanya. Perasaan sang Comte juga sama terenyuhnya dengan Naeva saat melihat kondisi gubuk itu.
Setelah menghela napasnya, pria itu menghampiri. Menarik kursi satunya lagi dan duduk berhadapan dengan mantan pelayannya yang langsung menundukkan kepala.
"Jean, aku akan langsung berterus terang. Kedatangan kami kemari adalah untuk menjemputmu."
Jean langsung mengangkat wajahnya dengan raut terkejut.
"Aku ingin kau bersaksi siapa pelaku sebenarnya yang meracuni makanan Naeva waktu itu," lanjut Abellard dengan tatapan lurus.
Jean terdiam sesaat. Lalu perlahan bahunya tampak berguncang. Jean kembali menangis.
Naeva menatapnya iba. Wanita itu telah berubah sangat rapuh. Sedikit-sedikit menangis.
"Kami tak menyalahkanmu, Jean. Aku tahu, kau memutuskan untuk memberi kesaksian palsu itu demi Amily. Agar orang yang mengancammu tidak membuat Amily dipecat dan dipulangkan. Setelah melihat keadaan di sini, aku sangat memahami ketakutanmu itu," tutur Naeva dengan dada yang terasa sesak oleh rasa iba.
Jean mengusap air matanya.
"Saya menangis karena penyesalan, M'mselle. Saya sangat bersalah pada Anda. Mungkin kepahitan yang saya alami setelah pulang kemari adalah karena karma. Karena saya telah membuat Anda menderita," lirih wanita itu.
Naeva terdiam. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Begitupun Abellard.
"Lady Angelia, Monsieur." Tatapan Jean beralih pada Abellard. "Lady Angelia lah yang meminta saya mengaku menjadi pelaku dan mengancam akan membuat adik saya dipecat."
Abellard mengangguk. "Aku sudah mengetahuinya. Maka aku datang untuk membawamu bersaksi."
__ADS_1
"Saya akan bersaksi, Monsieur. Saya akan mengatakan yang sebenarnya di hadapan Comtesse dan semua orang. Tak peduli walaupun Comtesse akan menghukum saya karena telah berbohong. Saya berjanji tetap akan bersaksi," tekad wanita.
Matanya tampak berbinar dan penuh keyakinan. "Akhirnya ... saya bisa menebus rasa bersalah yang selama ini menghantui jiwa saya setiap waktu."