
(acha kelas 2?? Kami seumuran, jadi seharusnya kami berada di jenjang yang sama. Lalu apa penyebabnya dia kelas 2?)
Kaget dan bingung kini kurasakan.
(oh iyaa… janji itu…acha melakukannya)
Dulu ketika kami masih sekolah dasar, kami berjanji ketika masuk SMP akan memilih jalur accel. Jalur tersebut akan mempercepat masa sekolah yang awalnya tiga tahun menjadi dua tahun. Namun tes yang diberikan sangat susah. Dan acha berhasil melewatinya.
“kenalanmu ndi?” Tanya Nabila, sepertinya ia mendengar ketikaku menyembut nama acha.
“yaa gtulah, teman masa kecil…”
“sudah lama gak ketemu?”
“yap, kurang lebih 4 tahun lah. Makanya gak kukenal tadi pas masuk”
“berarti dia banyak berubah yaa…”
“yaa…benar…”
Terakhir kali ku melihatnya, ia lebih tinggi, pemalu dan cengeng. Kini ia lebih pendek dari pada tinggiku, berani, dan lebih tegar. Sepertinya selama 4 tahun kami berpisah, masing-masing dari kami berubah.
“setiap siswa/i diharuskan memilih satu ekskul yang ada disekolah, maksimal dua ekskul. Diharuskan karena ekskul lah menjadi tempat mengembangkan minat yang kita miliki. Harap pilih dengan baik, karena hingga tamat kalian akan bersama dengan ekskul yang kalian pilih…” wakil osis menjelaskan salah satu peraturan sekolah.
“baiklah, telah diperkenalkannya anggota osis maka kita sudah berada dipenghujung agenda. Sekali lagi selamat datang kepada seluruh kelas satu. Semoga bisa menjadi bibit unggul di sekolah dan selamat menikmasi masa-masa sekolah selama tiga tahun kedepan. Asslammu alaikum wr wb.” Mc menutup acara.
Berakhirnya salam, berakhirnya acara. Seluruh siswa segera keluar dari gedung aula dan kembali ke kelasnya masing-masing.
“ayo balek” ajak Nabila yang sudah berdiri
“hmm mending tunggu 5 menit lagi”
“kenapa?” Tanya Tia
“yaa itu, antri keluarnya…” ku menunjuk kearah pintu keluar. Banyak siswa/i yang ingin keluar secara bersamaan, sehingga anggota osis menyuruh mereka antri agar lebih teratur.
“ok” Nabila dan Tia duduk lagi, lalu mereka berdua mulai berbicara.
Mengabaikan mereka berdua, ku melihat kearah panggung yang kosong. Anggota osis sudah turun, kini mereka duduk berkumpul di kursi depan. Acha berada diantara mereka. Ku terus memandangnya dengan harapan ia melihat kearahku.
Harapanku terkabulkan. Acha melihat kearahku.
Mengangkan tangan kanan, ku memberikan sebuah kode yang dulu sering kami gunakan. Setelah itu, aku Nabila dan Tia kembali ke kelas.
**
5 tahun lalu, ku bertemu dengan acha.
1 jam setelah sekolah dasar selesai, selama itu pulaku menunggu orangtua menjemput. Namun sepertinya orangtuaku sibuk lagi. lelah menunggu, akhirnya kuputuskan untuk pulang sendiri.
Ketika melewati koridor dengan gerbang sekolah, ku melihat seorang siswi yang sama denganku menunggu dijemput. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ia tetap berusaha menahannya.
“kenapa?”
“gak ada” menahan lagi nangisnya.
“dimana rumahnya?”
__ADS_1
Segera ia membuka tasnya, ada tempat penyimpanan khusus didalamnya. Ia menarik kertas dari penyimpanan tersebut.
“itu alamat rumah”
“hmm…dekat rumah kita, mau pulang bareng?”
Dia mengangguk.
Izin pulang ke guru, lalu kami pulang.
Selama diperjalanan, dia hanya diam mengikutiku. Butuh 20 menitan untuk sampai kerumahnya. Rumahnya sederhana, memiliki halaman yang cukup luas dan kebun bunga yang indah.
Seseorang dengan motor memasuki halaman rumah.
“sudah pulang ya anak mama…”
Siswi yang kutemani mendekati orang tersebut, lalu memeluknya.
“ini siapa chaa..?”
“teman sekolah…”.
“ya namanya siapa?”
Siswi tersebut hanya diam, memang benar kami belum kenalan sehingga belum mengetahui nama masing – masing termasuk diriku yang tidak tahu namanya.
“hmm gitu yaa...cowo baik, namanya siapa?”
“namaku andi, ee…bu.”
“gak, beberapa gang dari rumah ini sudah sampai kerumah”.
“hmm…kalau gitu, masuk dulu yuk kerumah tante. Kita makan siang dulu, nanti tante antar
kerumah”.
“baiklah, makasih tante”
Suasana rumahnya cukup sejuk, sedikitnya perabotan rumah membuat rumahnya terasa lebih luas. Nama siswi yang kutemani ialah Lulu Farasya, namun ibu dan keluarganya sering memanggilnya acha. Ibu acha memasakkan kami nasi goreng, lalu kami makan bersama.
“nanti andi mau pulang jam berapa?”
“hmmm, jam 2 aja tan”
“kenapa?”
“orang rumah jam 2 baru ada, kalau pulang sekarang sendiri juga dirumah”
“hoo gitu, ya udah main sama acha dulu yaa”
“yaa tante”
Hingga jam 2, aku dan acha tidak bermain. Mungkin kami masih pertama ketemu membuat
suasana agak canggung. Akhirnya ku memutuskan mengerjakan tugas dirumahnya.
“kamu ngerjain apa?”
__ADS_1
“hoo ini, tugas mtk”
“kamu paham mtk?”
“yaa mudah kok”
“bisa ajarin acha?”
“ya,bisa”
Kami belajar bersama.
Tanpa terasa sudah jam 2, saatnya pulang.
Tante mengantarkan hingga tiba dirumah, melihat ibu ada dirumah, tante ingin berbicara kepada ibu. Sepertinya tante ingin berkenalan dengan ibu dan menjalin silaturahmi. Ku pamit ke tante dan masuk ke kamar untuk bermain game.
Keesokan harinya, aku melihat acha menunggu lagi ditempat yang sama. Ketika melihatku, ia mendekati seolah aku yang ditunggu bukan orangtua.
“andi, kata ibu seminggu kedepan tidak bisa jemput. Jadi tolong pulang bareng”
“ok”
Kedua kalinya ku berada dirumah acha. kali ini ayah dan adiknya yang kutemui. Ayahnya bekerja sebagai servis komputer, ia tahu segala macam komponen komputer. Adiknya cowo satu tahun lebih muda juga menyukai game sepertiku.
Tidak butuh waktu lama untuk akrab dengan adiknya. Mungkin memiliki hobi yang sama membuat kami memiliki pemikiran yang sama persis. Selama bermain game, ku memberitahunya semua Easter Egg, Hidden Quest, Hidden Boss, dan Mystery yang ada di dalam game tersebut.
Selama seminggu, ku terus menemani acha pulang dan bermain dirumahnya. Terkadang ku melihat ayahnya yang merakit komputer pelanggannya. Disaat itu, ku mendekati ayahnya dan membanjiri dengan banyak pertanyaan.
Apa ini? Gunanya apa? Namanya apa? Kalau rusak gimana?.
Dengan senang hati, ayah acha menjelaskan seluruh pertanyaanku.
Sudah sebulan ku sering bermain dirumahnya. Acha dan aku beda kelas, sehingga ketika dia ingin pulang bersamaku acha memberikan kode tangan bahwa ia menungguku. Kode tangan tersebut ku pelajari dari internet dan menjadi kode kami berdua.
Satu tahun berlalu.
sudah tak terhitung ku bermain dirumahnya, jika rumahku tidak ada orang, ku akan berada dirumah acha dan begitu pula sebaliknya. kedua orang tua kami juga sudah saling kenal. Kedekatan kami senyap ketika hari itu tiba, hari dimana ku pindah ke sumatera tanpa bisa memberitahukan acha.
**
Kring – kring, bel pulang.
Jam 3 sore sekolah berakhir, kebanyakan siswa/i yang beragama islam memilih shalat ashar terlebih dahulu, sedangkan yang selain islam kebanyakan memilih pulang.
Dari halaman masjid, siswa/i bisa melihat keluar banyak jajanan. Para pedagang kaki lima biasanya jualan di samping sekolah. Diantara jajanan tersebut ada makanan yang dulu disukai acha.
Semoga saja dia masih suka.
Tiba dikantin, suasana sepi dan sunyi menyelimuti seluruh ruangan. Diluar kantin, ada beberapa siswa/i yang duduk santai bersama temannya. Dalam kantin, ada seorang siswi duduk didekat stand yang masih buka, ia fokus mengerjakan tugasnya. Tidak ingin mengganggunya, aku perlahan mendekati siswi tersebut.
“coba jangan diubah dulu, bagikan hingga pecahannya sederhana baru dimasukkan ke rumus”
Dia terdiam, lalu melihatku.
“hai acha…” dengan tersenyum.
(Bersambung…)
__ADS_1