
Pengumuman selesai.
Setelah mendengar pengemumuman tersebut, banyak siswa segera menuju ruang yang di instruksikan. Namanya juga siswa baru, tingkat kepatuhannya masih tinggi. Berbeda dengan siswa yang udah bau sekolah (kelas 3) tingkat kepatuhannya jelas menurun.
Dengan santai kami menuju gedung Aula.
“aahh, masih ingin liburan…”
“nanti ada ekskul apa aja yaa?”
“kalian tahu gak, nanti anggota osis tampil. Yang berarti mbak cantik tadi bisa kita lihat lagi”
Itulah percakapan yang kudengar di sepanjang perjalanan. ada yang masih menginginkan liburan, ada yang ingin mengetahui detail ekskul sekolah dan terakhir penyebab mayoritas para kaum adam semangat datang ke acara ini ialah ingin melihat cewe cantik, terutama salah satu anggota osis. Mengingat upacara tadi pagi mereka sudah melihatnya dan sekaranglah acara yang bisa melihatnya lagi.
“eh itu dia…”
“ayo baris cepat, biar bisa nyapa dia…”
“cantik dia ya…”.
Percakapan para murid berubah ketika melihat siswi yang mereka bicarakan ada di depan gedung aula. Beberapa anggota osis menyambut dipintu depan. Dengan almamater osis, mereka menyambut para kelas satu, meminta membuat barisan agar lebih teratur memasuki gedung aula, dan siswi yang dibicarakan memberikan sekotak cemilan kepada tiap siswa/i.
Akhirnya, giliran kami menerima cemilan.
“ini untukmu Andi…” kata siswi tersebut.
Seketika, barisan terhenti.
Mendengar namaku dipanggil, membuat siswa/i yang berbaris melihat kearahku, termasuk Tia dan Nabila. Bingung dan kaget adalah hal yang kami rasakan. Karena dari tadi siswi tersebut tidak ada menyebutkan nama siswa/i kelas satu yang ia beri cemilan.
“eeemm….yaaa…..makasih mbak…” jawabku bingung.
“ya…sama-sama” balasnya dengan sedikit kesal namun bagiku, wajah kesalnya terlihat jelas.
(eh… Siapa dia? Kenalan? Kok tahu namaku?)
Segera ku menggali ingatan dengan cewe yang ku kenal. Namun, berakhir dengan tidak
ada.
(ah…nanti tahu sendiriku namanya.) pikirku menyerah.
Gedung Aula cukup besar, mungkin menjadi salah satu Gedung terbesar disekolah. Hal yang wajar karena digunakan untuk menampung seluruh siswa untuk acara tertentu. Dalam Aula, disebelah pojok kiri ada panggung jika kita masuk dari pintu utama. Lalu didepan panggung telah berjejer kursi untuk seluruh siswa kelas satu.
Di lantai dua, tempat duduk menghadap ke tengah aula. Sedangkan lantai satu ada pola garis lapangan, sehingga bisa ditebak terkadang Aula dijadikan tempat olahraga.
Setidaknya itu yang kupikirkan.
“hmm kursi depan sudah penuh yaa…” kata Tia
“ya udah, tengah aja kita duduk.” Nabila membimbing kami menuju tempat duduk.
__ADS_1
Pola tempat duduk seperti dua balok. Bagian menengah kebelakang telah diisi oleh cowo-cowo lalu menengah kedepan mayoritas cewe. Entah kenapa tersusun seperti itu, mungkin karena cewe tidak mau di kerumunin cowo dan cowo bisa bebas berbicara dibelakang. Tanpa sadar, seluruh kursi sudah penuh.
Ruangan ditutup dan acara dimulai.
Dengan gaya formal, dua pasangan siswa/i menjadi pembawa acara.
Semua penonton diam.
Penyambutan dari beberapa petinggi sekolah telah dimulai. Kebanyakan siswa/i diam mendengarkan dengan baik, entah itu secara terpaksa atau sukarela.
“terimakasih, semoga kalian bisa menjadi bibit unggul di sekolah ini. Assalammu’alaikum wr.wb”
“terimakasih kepada Bu Indah telah menyampaikan sepatah duapatah katanya. Selanjutnya acara yang ditunggu-tunggu. Perkenalan seluruh ekstrakulikuler yang ada disekolah…”
“ku kaget saat nama bu Indah dipanggil tadi” tia melihat kearah ku dan Nabila
“ya..ku juga sama, gak kukira dia salah satu petinggi disekolah ini.”
Ku hanya diam menyimak percakapan mereka. Ku juga orang yang kaget mengetahui beliau adalah petinggi sekolah ini.
“hmm…berarti gak bisa tidur keseringan ni…” kataku.
Ada lebih 10 ekskul disekolah ini, besar kemungkinan yang memiliki banyak peminatnya ialah olahraga dan Game. Kemungkinan kedua ekskul tersebut mendapat urutan tampil diakhir karena dari pertama hingga ke lima belum giliran kedua ekskul tersebut.
“dan tadi adalah ekskul Tataboga, ekskul memasak.”
“kalau kita masuk kesana, sepertinya kenyang terus dong”
“Ok selanjutnya ekskul yang memperkuat tubuh dan berguna untuk membela diri kita jika terjadi hal yang tidak di inginkan.”
“yaitu ekskul beladiri Taekwondo dan Pencak Silat!!!”
Seketika pintu masuk aula terbuka, barisan pelajar dengan seragam taekwondo dan pencak silat memasuki ruangan. Secara gentian, mereka menunjukkan kehebatan beladiri masing-masing. Dengan kecepatan dan kekuatan kakinya, taekwondo memperlihat seberapa cepat mereka bisa menghancurkan balok kayu yang menjadi target. Sedangkan pencak silat, dengan seni dan kelincahannya, mereka memperagakan pertandingan antar para pesilat.
tepuk tangan penonton terdengar cukup keras mengakhiri ekskul beladiri yang telah memperlihatkan kehebatannya. Namun tepuk tangan seperti tadi tidak lagi terdengar di beberapa ekskul yang telah diperkenalkan.
“ok, tersisa 2 ekskul terakhir. Salah satu ekskul yang memiliki banyak peminat dan salah satu ekskul yang memiliki sedikit anggotanya. Yaitu ekskul Game…”
satu orang memasuki panggung, ia menjelaskan sedikit penjelasan tentang ekskul game. Kemudian ia menampilkan video yang secara jelas memperlihatkan seluruh kegiatan ekskul game selama setahun lalu.
Terlihat mereka mengikuti tournament, berlatih, menyusun strategi dan bercanda bersama. Satu hal yang kusadari, tidak adanya tampilan mereka memegang medali.
(berarti setahun lalu mereka tidak ada juara ya.)
“selanjutnya ekskul terakhir, memiliki banyak peminat dan anggota terbanyak karena memiliki beberapa divisi yaitu ekskul olahraga…!!!”
Dengan pakaian olahraga khusus, dua orang memasuki panggung. Ia memberitahu tentang divisi olahraga, dimulai dari futsal, voli, basket hingga catur. Sama halnya dengan ekskul game, selanjutnya mereka memperlihatkan video tentang seluruh kegiatannya.
“terimakasih kepada ekskul olahraga…”
“banyak juga ya divisi ekskul olaraga ini..”
__ADS_1
“iyaa
sama seperti ekskul disekolah kita, banyak juga…”
“tapi sepertinya masih ada yang belum kita kenalin…”
“hmm oiya bener, yang paling akhir bukan ekskul melainkan organisasi intra sekolah atau yang lebih kalian kenal dengan sebutan osis...!!!”
Lampu kembali mati, dipanggung terlihat hitung mundur telah dimulai.
3…2…1
Video tersebut memperkenalkan seluruh anggota osis yang dimulai dari enam divisi osis yaitu Acara, Petugas Umum, Olahraga, Teknologi Media, Inovasi kreatif dan terakhir Humas.
Ketua divisi pertama memasuki panggung bersamaan dengan video tampilan anggota dan kegiatannya.
“eh dia kan salah satu petugas bendera tadi..”
“hoo jadi dia ketua divisi acara.”
“cantiknya…”
Percakapan terdengar dari arah belakang. Barisan belakang terpana melihat ketua divisi acara tersebut. Kemudian giliran bagian depan yang terpana saat melihat ketua divisi ketiga yaitu olahraga.
“diakan pemimpin upacara tadi”
“ku kira pemimpin acaranya ketua osis”
“lalu siapa ketua osisnya ya?”
Rasa ingin tahu juga kurasakan.
(Siapa ketua osisnya?)
Segeraku memperhatikan seluruh siswa/i yang menggunakan almamater osis.
(tidak ada yang cocok)
Mencoba berpikir dan menganalisa, tetap tidak bisa ku tebak. Merasa buntu, ku mengeluarkan Handphone (hp) dan bermain game 1024, sebuah game yang bertujuan mengumpulkan angka genap yang sama disatu kotak hingga kotak tersebut bernilai 1024.
Sepertinya tidak masalah menggunakan hp selama acara, karena dari tadi ku melihat ada beberapa siswa/i yang menggunakan hpnya. Tanpa sadar saatnya divisi terakhir yang maju, divisi Humas.
“divisi terakhir di osis, yaitu divisi Humas yang diketuai oleh Lulu Farasya”
“eh…” aku terdiam. Lalu berhenti bermain game dan memasukkan hp kedalam saku.
Siswi yang tadi memberikan cemilan dan menyebut namaku masuk kedalam panggung. Percakapan dari barisan belakang juga terhenti. Mungkin semua cowo kelas satu yang melihatnya kini terdiam dengan satu alasan siswi lulu Farasya.
“acha” kataku pelan.
(bersambung…)
__ADS_1