Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 66 - Murid Berpotensi


__ADS_3

POV Andi


Sebulan berlalu setelah tiba-tiba bertemu dengan Ketua Osis Mas Raffi. Selama itu juga Aku coba mencari informasi tentangnya. Kesimpulannya, Dia salah satu menjadi Murid terbaik di sekolah. Olimpiade yang dia ikuti ketika perkenalan ekskul diawal semester berhasil mendapatkan juara 1.


Untuk kemampuan fisiknya, tidak ada informasi yang bagus. Namun desas desusnya alasan kelasnya tidak bisa menang dalam lomba panjang pinang dan tarik tambang disebabkan oleh dirinya yang saat itu sibuk menjalin hubungan dengan sekolah lain.


“Jadi Tia mau milih siapa?”


“belum tau lagi Bil, Calonnya ada 3. dan ketiganya kalau menurut visi misi ada kelebihan dan kekurangan”


“benar sih, nanti siang kita baru tahu penjelasan mereka dan pemikiran kritis dari pertanyaan para murid”


Selesai istirahat siang Jumat ini, seluruh murid akan disuruh berkumpul di Aula untuk mendengarkan debat terbuka yang akan memberikan waktu kepada ketiga calon untuk mencari suara pendukungnya.


Ketiga calonnya merupakan anak kelas 2, 2 merupakan siswa dan 1 siswi. Salah satu siswa yang mendaftar merupakan orang yang kukenal dan orang yang menjadi ketua ekskul Game saat Mas Pandu.


Entah apa motivasi atau alasan dia untuk mendaftar calon ketua Osis, tapi selagi Dia bisa membagi waktu tidak menjadi masalah untukku.


Jam pelajaran dimulai dan tetap berjalan seperti biasa, sehingga semua pelajar harus mengikuti tidak terkecuali para calon. Perbedaan yang terasa ketika istirahat terjadi, setiap orang dikelas mulai berdiskusi siapa yang akan mereka pilih untuk menjadi ketua kelas.


Ada yang memilih orang pertama, ada yang kedua, ada yang ketiga, dan bahkan ada yang tidak tahu ingin memilih siapa diantara ketiga calon dan Aku salah satunya.


Kebingunganku memilih antara ketiga calon berhasil ku atasi dengan menunggu acara debat terbuka yang akan dimulai beberapa saat lagi.


Seperti biasa Aku duduk di posisi yang tidak terlalu depan bersama Ikhsan, Icha, Tia, dan Nabila. Kami semua berjanji melanjutkan perdebatan mereka sendiri dalam pemilihan calon setelah mendengarkan debat terbuka ini.


Janji tersebut bermula ketika istirahat pertama, Tia memilih calon pertama, sedangkan Nabila calon kedua. Mereka berdua berdebat didepanku yang sedang menikmati makanan. Ikhsan dan Icha yang melihat, mendekati. Bukannya menenangkan, mereka malah ikut berdebat dengan pilihannya yang merupakan calon ketiga.


“Hadeh….”


Aku sebagai orang yang tidak memilih siapapun, menjadi penengah dan mengusulkan melanjutkan debat setelah melihat debat terbuka ini.


“Assalammualakum…. Selamat Siang semuaa!!!”,


Suara yang kukenal berasal dari atas panggung.


“waalaikum salam, Siaaang Mbaak!!!!”


Mengetahui Acha yang menjadi pembawa acara membuat semua siswa membalas dengan semangat.

__ADS_1


Debat terbuka yang penuh semangat terus berjalan hingga Akhir. Selesai Ashar akan dilakukan pemungutan suara dan bagi yang sudah melakukannya baru diperbolehkan pulang.


Masih ada sekitar 20 menit lagi sebelum Azan Ashar berkumandang.


“sudah kubilang, mending pilih pertama!!!” Tia menyampaikan pendapatnya,


“aaah…Akademik itu gak penting, mending yang kedua mengoptimalkan ekskul!!” Nabila juga menyampaikan pendapatnya,


“agenda bersama disekolah juga penting!!!” Icha juga ikutan.


Kali ini Ikhsan memilih tidak ikut berdebat, mungkin karena kami kembali ke meja kantin yang sama seperti jam istirahat pertama, ia memilih diam dan menikamti minumannya.


Secara garis besar, Calon pertama ingin memfokuskan para siswa dibidang akademik. Sedangkan Calon kedua si Mas Pandu ingin memberikan bantuan kepada setiap ekskul untuk meraih dan memenangkan berbagai ajang perlombaan di luar sekolah. Dan yang terakhir calon ketiga ingin memfokuskan banyak agenda untuk melatih kerja sama antar kelas.


“Allahu akbar…Allahu akbar…”, Azan Ashar berkumandang.


(Baiklah, Aku akan memilih Dia…)


Besoknya, Sabtu. Akan dilakukan perhitungan suara secara terbuka atau setidaknya dengan perwakilan setiap kelas untuk melihat secara langsung perhitungan suara.


Kurang lebih dibutuhkan 1 jam untuk mengetahui pemenangnya yang telah diumumkan selesai Zuhur tadi.


Pemenangnya ialah pilihan Tia yaitu Calon pertama, namanya kalau tidak salah Fadhel apalah gtu... Mungkin karena Aku tidak memilihnya membuatku tidak ingin mengingatnya.


“Assalammu alaikum warah matullahi wabarakatuuh… terimakasih kepada guru-guru dan seluruh anggota Osis yang telah banyak membantu selama masa jabatan saya. Mohon maaf saya katakana pertamakali kepada seluruh siswa-siswi yang mungkin merasakan kesalahan dan kekurangan saya segai ketua Osis.


Kepada ketua Osis baru, pesan saya hanya satu. Ada murid dikelas satu yang memiliki potensi besar.


Itu saja, sekian. Terimakasih semuanyaa. Assalammualaikum warha matullahi wabaraktuh…”


Raffi, Ketua Osis lama memberikan pesan terakhir kepada semua murid.


Kata-kata terakhirnya membuat seisi ruangan menjadi heboh dan bertanya-tanya. Namun tidak bagiku, karena selama Mas Raffi mengatakan itu, Dia menatapku dan tersenyum.


(hadeh… meninggalkan sebuah clue…)


Di ruangan ekskul, Aku, Ikhsan, dan Mas Pandu berkumpul.


Tidak ada alasan khusus kami berkumpul, bisa dibilang ini merupakan kebetulan kami bisa berada diruangan ekskul diwaktu yang sama.

__ADS_1


“Jadi kenapa kalian ke sini?” Mas Pandu mulai bertanya,


“menghindari keramaian di kelas Mas, para kelas satu lagi ramai membahas pernyataan terakhir mantan ketua Osis”


“Kurang lebih sama kayak Ikhsan Mas”


 “Baiklah…”


“Masnya sendiri gimana?” Ikhsan bertanya.


“masih kesal karena kalah…walau sudah tersisa dikit sih”


“sihannya… lalu apa alasan ikut?” kini Aku yang bertanya,


“untuk memenuhi Janji karena kita menang turnamen kemaren…”


“…” Aku dan Ikhsan terdiam.


Jadi karena Janji.


Memang sih, Janji adalah utang. Dan Utang harus segera dilunaskan. Dengan it uku setidaknya akan yakin dengan Mas Pandu dan berbagai perjanjian yang telah kami buat jelas aman bersamanya.


Kenapa Aku bisa begitu yakin? Karena walau Dia mengikuti pemilihan karena Janji, Dia mengikuti dengan serius. Setiap katanya di debat terbuka juga sangat baik dan Visi Misinya juga sangat jelas. Namun memang sepertinya ia kalah karena siswa kali ini lebih memilih akademik dari pada ekskul.


“yang sabar Mass. Setidaknya kita bisa fokus tuk turnamen nanti”


“oiya benar, sepertinya kita akan memperketat latihan mulai malam ini…”


“Baiklah…”


Ini lagi salah satu sifat positif Mas Pandu yang Ku suka, ia bisa cepat melupakan masalalu untuk bisa fokus dengan masalah yang akan datang.


Selama perjalanan kembali ke kelas, banyak murid yang membahas siapa murid yang dikatakan mantan ketua Osis. Ada siswa yang mengaku itu dirinya, ada juga yang mengatakan siswa tersebut pasti berada dikelas A.


Sebagian diriku berharap murid yang dibilang oleh mantan ketua Osis bukanlah diriku, namun sebagian lagi berharap itu Aku. Rasa tidak ingin kalahku masih tinggi.


Membuka ponsel dan melihat kalender.


(sebelum turnamen ada itu ya…)

__ADS_1


Sepertinya Aku harus mempersiapkan diri.


(Bersambung…)


__ADS_2