
Mimpi.
Situasi saat ini hanyalah mimpi.
“Misi kali ini ialah mengalahkan Beast Tiger,” pria tersebut mengulangi perkataannya
layaknya npc (non playable character) di dalam game.
“Beast ini bisa menjadi equipment tambahan untuk mengalahkan salah satu elemental,”
lanjut pria tadi.
Ini bukan pertama kalinya aku sadar ketika sedang bermimpi. Di internet, kejadian ini disebut dengan Lucid Dreams. Dari artikel yang aku baca, orang yang mengalami ini biasanya dikarenakan otaknya mengalami kelainan aktifitas selama tubuh tidur.
Aku ingat mimpi ini berasal dari salah satu misi game yang baru ditamatkan. Mungkin aku bermimpi karena ini menjadi salah satu Misi yang harus diulangi beberapa kali untuk mencapai 100% keberhasilan misi.
Persiapan selesai, hanya dengan Pedang dan Panah. Satu senjata untuk jarak dekat dan jarak jauh.
Seketika tempat berpindah dan langsung melawan Beast Tiger.
Bentuk Beast Tiger pada dasarnya mirip dengan Tiger pada umumnya, yang membedakannya ialah kecepatan, kekuatan lalu adanya tanduk dikepalanya serta kulit yang ia miliki cukup keras, tidak sembarang logam bisa memotongnya. Dengan kelebihan tersebut, membuat Beast Tiger menjadi salah satu Beast berbahaya.
Pertarungan terjadi.
Beast Tiger tersebut mengaum dengan keras, mengakibatkan sebuah gelombang suara yang cukup besar. Seketika aku menyilangkan tangan untuk melakukan Defensif. Dengan auman yang cukup besar, membuat jarakku dengannya cukup jauh.
Memanfaatkan hal tersebut, aku memilih menggunakan panah. Satu anak panah kutahan di busur. Untuk
meningkatkan kecepatan laju anak panah, kemudian membalut anak panah dengan elemen angin. Sehingga kecepatannya meningkat drastis.
Ketika sudah membidik, anak panah meluncur dengan sangat cepat. Namun sayang, anak panah tersebut berhasil ia tangkis dengan tanduknya.
Setelah ia menangkis anak panah, ia sudah bersiap sedia melakukan lari untuk memperpendek jarak antara kami. Melihat hal tersebut, aku mengganti senjata menjadi pedang. Lalu menangkis cakaran dari arah kiri, mengakibatkan diriku terdorong cukup jauh.
Melihat jarak yang kembali jauh, aku mengganti senjata menjadi panah. Namun tanpa sadar, Beast Tiger sudah berada didekatku, ia menyerang dan membuat panah hancur. Tersisa senjata pedang, waktunya serangan penuh.
Untungnya aku memiliki semua kemampuan yang diinginkan. Itulah Lucid Dreams, bisa mengendalikan mimpi sesuai keinginanan kita. Sehingga aku menambahkan beberapa unsur kekuatan dari berbagai game dan film yang ku ingat.
Dalam keadaan yang Overpower, tidak butuh waktu lama untuk mengalahkan Beast Tiger. Dengan satu tebasan pedang, membelahnya menjadi dua. Beast Tiger kalah, Misi berhasil.
__ADS_1
Tiba - tiba, ada suara yang tidak asing.
“ndi, ui bangun…”.
Ku melihat sekitar, tidak ada tanda-tanda orang yang berbicara
“ui bangun dh jam berapa ini,” nada semakin tinggi.
Mendengar kalimat tadi, membuat ku sadar agar segera keluar dari mimpi ini.
(bangun tidur..)
“beres-beres rumah gih”.
“ya”. Balas singkat sambil mengumpulkan kesadaran.
Yang membangunkan tadi ialah saudara tertuaku.
Mas merupakan istilah Bahasa Jawa untuk memanggil lelaki yang lebih tua atau untuk
sopan santun terhadap seseorang. Dia anak pertama, jadi wajar dia memegang kendali rumah ini ketika orang tua kami tidak ada dirumah.
Jam menunjuk ke arah Sembilan pagi, kurang lebih tertidur selama empat jam. Dengan keadaan
***
Lelah melaksanakan kewajiban, ku beristirahat di meja dapur sambil menikmati sarapan. Tiba-tiba ada suara
langkah kaki menandakan seseorang mendekat.
“hayoo siapa ini,” tanya seorang perempuan dengan senang. Mencoba main tebak-tebakan
dengan menutup mataku.
“Mbak, ayo lah….” Balas ku dengan males.
Mbak memiliki makna yang sama dengan Mas, namun untuk panggilan ke wanita.
“ eh….Kok tau”.
__ADS_1
“ ya jelas lah, dirumah ini cuman tangan mbak aja yang cewe”.
“hahaha…..”.
Mbak ku ikut sarapan,
beberapa saat kemudian Mas juga ikutan sarapan.
Berkumpul lah tiga saudara/i mandiri yang sedang menekuni Pendidikan di Yogyakarta. Mbak sedang menempuh kuliah S1 di UGM sedangkan Mas baru memasuki kuliah S2 di UGM juga. Dari dulu mereka sering membantu ku dalam mengerjakan tugas jika ayah atau ibu sedang tidak dirumah.
“ dek, nnti mau ke gramed kan. Titip beli buku ini ya,” sambil menunjukkan gambar buku dari hp nya.
Bukan novel, melainkan buku yang akan Mas gunakan untuk dia kuliah.
“ yaa, nnti kirim aj fotonya”.
“ ok makasih, ni uangnya,” memberikan sejumlah uang.
“kalau kelar beli bukunya kisaran jam dua siang. Chat Mbak ya, biar di jemput. Soalnya Mbak disekitar sana”.
“ hadeh, bilang aja biar cepat keluar dari diskusi mbak,” balas ku menebak niat yang sebenarnya, karena jarang Mbakku memberikan tumpangan kebaikan seperti itu.
“ yaaa mau gimana lagi, palingan diskusinya kelar jam satu siang, sisanya percapakan gak guna. Mau duluan kalau alasan gak jelas susah dapat izinnya dari kating”.
“ yaya serah dah Mbak ku yang baik hati”.
“ haha,” kami bertiga ketawa.
Lalu melanjutkan sarapan bersama tanpa ada lagi percakapan.
Ketika jam sudah menunjuk pukul 12.00 WIB, bersiap untuk pergi.
Untuk ke Gramed, ku memutuskan menggunakan jasa Ojek Online atau disingkat ojol. Hitung-hitung
membantu pekerjaan orang lain.
Ketika sedang menunggu, tiba-tiba ada seorang bapak mendekati dan bertanya.
“ Kamu Andi ya?”
__ADS_1
Bersambung…
***