Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 58 - Satu Langkah Menuju Impian


__ADS_3

“Pemenang pertandingan kelima ialah sekolah SMA S 8 Yogyakartaa!!!...”


Pandu dipanggil karena ia merupakan pemain terakhir yang berhasil bertahan dan memenangkan pertandingan terakhir.


“satu pertanyaan dari saya, Kok bisa mikir disituasi yang sangat genting begitu untuk melakukan pukulan?” Caster A bertanya,


“yaa, saya juga bingung Mas. Tiba-tiba keingat aja”


“keingat??? Berarti ketika latihan pernah melakukannyaa begitu?”


“iya benar, ketika kami latihan, salah satu anggota kami yang saat ini menggunakan masker menyarankan, ketika lingkaran sudah sangat kecil, lebih baik melakukan pukulan dari pada menembak”


“hooo iya benar, karena pukulan memberikan efek dorongan kebelakang yang membuat pemain musuh terdorong ke zona merah. Sekali kena zona merah, banyak tu darah berkurang” Caster B menjelaskan,


“Nah itu benar, seperti yang dijelaskan oleh Caster B”


“Baiklah, terimakasih, silahkan kembali dan menunggu pengumuman hasil akhir yang sepertinya kebanyakan dari kita sudah tahu siapa peringkat pertamanyaa…”


Ya itu sudah jelas, ketika sekolahku mendapatkan peringkat pertama maka sekolah menjadi sekolah dengan poin tertinggi dan menjadi perwakilan Jawa Tengah di Final Turnamen yang akan diadakan di Jakarta nanti.


(Syukurlah, hari ini akhirnya tiba juga)


“ngeri ya tahun ini sekolah SMA 8 S Yogyakarta, permainan mereka sangat bagus”


“iyaa, berbeda dengan tahun lalu yang permainannya tidak rapi dan jelek”


“berarti, seluruh tim anak tahun pertama”


“kalau gitu, kemungkinan mereka pernah ikut di tingkat SMP dong?”


“tidak, setelah ku lihat kembali di daftar pemain tingkat SMP selama 3 tahun lalu. Ketiga nama atau ciri khasnya mereka tidak ada”


“atau mungkin yang pake masker dulu pernah ikut turnamen, lalu agar triknya tidak diketahui oleh sekolah lain, ia menggunakan masker?”


“hmmm… bisa jadi sih, tap ikan dari gaya mainnya tidak ada kemiripan dengan pemain tingkat SMP selama 3 tahun lalu…”


“waahh….Kalau begitu, hanya satu kemungkinan terakhir. Mereka memang pro dan ini merupakan turnamen pertama mereka”


Tanpa sadar sudah banyak orang disekitar yang mencoba menganalisis sekolahku.


“baiklah, setelah beberapa saat berlalu. Momen terakhir yang telah ditunggu yaitu total poin terakhir yang akan menentukan sekolah mana saja yang menjadi perwakilan Jawa Tengah” Caster B mulai berbicara.


Layar proyektor mulai menampilkan urutan nilai dari yang paling bawah hingga peringkat kelima


“tersisa 4 squad teratas. Yang kita tahu ada sekolah SMKN 4 Yogyakarta, SMK S 7 Solo, SMAN 3 Magelang, dan terakhir SMA S 8 Yogyakarta!!!” Caster A lanjut menjelaskan.


“peringkat ke 4, berhasil diraih oleh SMAN 3 Magelang!!!”

__ADS_1


“peringkat pertama,-”


“eh kenapa langsung pertama?”


“ya karena semua sudah pada tahu juga, sekolah yang tidak terprediksi diawal akan bermain dengan sangat indah. Dengan salah satu anggotanya yg malu-malu kucing menutup wajahnya. Sekolah SMA S 8 Yogyakartaaa!!!!”


“naah, tersisa peringkat 2 dan 3. Dan tersisa juga 2 sekolah yaitu sekolah SMKN 4 Yogyarkarta dan SMK S 7 Solo”


“salah satu sekolah tersebut akan menemani sekolah SMA S 8 Yogyakarta untuk menjadi perwakilan Jawa Tengah dan bertanding di Jakarta”


“dan Sekolah yang menduduki peringkat ke 3 ialah…..”


“Sekolah!!!!... SMK!!!... 7 Solo!!!!”


“dan selamat kepada SMKN 4 Yogyakarta akan menemani SMA S 8 Yogyakarta menuju Jakarta!!!”


Masing-masing anggota tim keluar dan mulai menaiki podium berdasarkan urutan yang telah disebutkan. Pembagian dan pemasangan medali dilaksanakan. Baik penonton yang berada dilantai satu atau penonton yang melihat dari lantai 2 hingga 4 memberikan tepuk tangan yang meriah.


Puncak acara telah selesai, seluruh pemain yang tadi mengisi panggung sudah kembali keruangannya. Lalu Caster A dan B mulai mengakhiri turnamen ini.


Aku dan Salma mulai berjalan keluar.


“Akhirnyaa selesaaiii, dan sekolah kita menang!!!”


“iyaa saal, Syukurlah!!!”


“tapi, Aku lapar. Makan dulu yuk, ajak juga yang lain. Kita makan dilantai 4 setauku ada Foodcourt dan enak-enak.”


Banyak orang mulai keluar dari Mall Hartono dikarenakan selesainya turnamen. Namun tidak sedikit juga pengunjung yang masih lalu Lalang untuk menikmati Mall ini. Ditambah lantai empat yang sedang kami tuju terdapat bioskop yang menjadi daya tarik lain di Mall ini.


“Akhirnya sampai”


Salma dengan cepat melihat ke berbagai makanan yang tersedia, sedangkan diriku memastikan terdapat tempat duduk yang kosong.


“ok kita kesana!!!”


Kami mengatakan perkataan yang sama dan di waktu yang sama. Namun, menunjuk kearah yang berbeda. Salma menunjuk kearah salah satu Stand makanan, sedangkan diriku menunjuk kearah tempat duduk.


“baiklah, sepertinya kita pisah aja. Biar dapat juga tempat yang nyaman, Acha makan mau apa?”


“hmmm… nanti aja deh, tunggu yang lain aja”


“ok, Aku duluan ya”


Sesuai arahan, kami berpisah. Aku mengamankan tempat duduk yang berada di pojokan kiri, memiliki tempat duduk yang banyak sehingga kami semua akan muat dan bisa menikmati makanan bersama.


“dimana kalian?”

__ADS_1


Aku kembali mengirimkan pesan ke grup yang berisikan kami berempat. Terlihat Andi mengetik.


“Ikhsan sama Mas Pandu kesana tu, Aku agak belakangan. Mau ganti pakaian dulu”


3 menit kemudian berlalu dan benar apa yang dikatakan Andi, Ikhsan dan Mas Pandu datang dan duduk ditempat yang telah Aku amankan.


“selamat yaa atas kemenangannya!!!”


“makasih mbaakkk, mbak juga makasih udah mau ngurusin berkas kami” Ikhsan membalas dengan sopan,


“yaa benar tu, kalau Lulu gak ada. Bisa kerepotan kami”


“sipp, Saya senang bisa membantu Ndu”


“naah akhirnya tim pemenang tiba, Pesanlah dulu makanannya, baru duduk, atau… oiya, sini biar ku traktir kalian, anggap saja sebagai hadiah dariku?” Salma yang baru kembali menawarkan bantuan.


“kalau gitu…”


Ikhsan dan Mas Pandu mulai memberikan pilihan makanannya. Pikiranku teralihkan ke satu orang yang sampai saat ini belum juga datang. Ya alasan utama Aku belum memesan ialah untuk bisa memesan bareng dengannya dan sepertinya Salma mengetahui keinginanku.


“otw” pesan Andi masuk.


Jika Andi dari lantai yang dengan tempat turnamen tadi, maka besar kemungkinan ia membutuhkan waktu kurang lebih 4 menit. 4 menit bukan waktu yang lama.


“dimana Andi, Lu”


“baru aja dia otw… gimana, satu langkah menuju impian?”


“yaa, satu langkah lebih dekat menuju impian. Makasih sudah membantuku”


Ikhsan yang tampaknya tidak paham hanya terdiam. Selama setahun lalu Aku selalu membantu Pandu untuk menggapai impiannya agar bisa bermain di turnamen dan tentu memenangkannya. Lebih tepatnya itu semua Aku lakukan agar Ekskul Game tidak jadi bubar, karena ku tahu teman masa kecilku pasti akan masuk kesana.


Ketika SD, Andi sangat jarang memperlihatkan wajah puasnya. Ketika mendapatkan nilai tertinggi, dia hanya biasa saja, ketika memenangkan juara di SD, dia biasa saja, ketika mendapatkan hadiah, dia juga biasa saja. Namun ada momen ketika ia memenangkan sebuah permainan, wajahnya tampak sangat senang dan puas.


Awalnya Aku tak mengerti, apa sih game itu. Kenapa dia bisa membuat Andi sebahagia itu?. Butuh beberapa tahun setelah kami berpisah dan akhirnya ku mengerti betapa senang dan puasnya menang dalam pertandingan game, apalagi di tingkat turnamen. Oleh karena itu, melihat kepuasan dan senangnya menjadi alasan utamaku membantu


Pandu menstabilkan ekskul Game.


(mana nih dia gk muncul-muncul, udah lewat 4 menit lagi)


Aku yang memperhatikan escalator yang menuju lantai ini mulai berharap Andi mulai muncul.


(eh mereka kan rombongan yang tadi)


Rombongan kelas satu yang tadi menawarin tempat duduk kelas 1 muncul. Seperti yang tidak diharapkan, mereka mulai menuju lokasi kami.


Namun fokusku teralihkan ke orang yang baru muncul dari escalator. Ada rasa senang karena Andi akhirnya muncul, tapi ada rasa kesel karena dia bersama orang lain. Lebih tepatnya cewe lain.

__ADS_1


(Itu siapaaa!!!)


(Bersambung…)


__ADS_2