Keputusanku Di Sekolah Game

Keputusanku Di Sekolah Game
Chapter 64 - Latihan Bersama


__ADS_3

POV Arkan


“Mas Arkan, ku titip es teh ya…”


“Ok siip…”


Namaku Arkan, salah satu siswa disekolah SMKN 4 Yogyakarta. Walau hari ini hari minggu, Aku tetap ke sekolah untuk melatih timku.


Syukur, baru-baru ini kami baru saja mendapatkan peringkat 2 dalam turnamen game se-Jawa Tengah. Sehingga kami menjadi perwakilan Jateng ketika Final nanti ke Jakarta. Latihan ini menjadi agenda wajib persiapan untuk mendapatkan peringkat pertama.


Salah satu hal yang membuatku terkejut ialah sekolah SMA 8 S Yogyakarta yang menjadi peringkat pertama. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya mereka bukan ancaman. namun pada tahun ini, mereka bisa menjadi salah satu kandidat pemenang pada final nanti.


Pergerakan mereka, strategi, gaya bermain, dan kerjasama mereka tampak seperti pemain yang sudah bermain secara lama. Membayangkan mereka menjadi musuh lagi, membuat diriku membara. Memang seperti inilah turnamen, penuh akan tantangan dan hal yang tak terduga.


“Makasih ya mas…”


Semua pesanan telah dibeli, saatnya kembali.


Satu persatu murid berdatangan dengan mengenakan Almamater sekolahnya.


(hoo… lumayan rame juga pertemuan Osis…)


Yaa benar, mereka semua adalah perwakilan Osis dari sekolah lain. Bisa dibilang sekolahku saat ini menjadi tuan rumah untuk pertemuan Osis se-Yogyarkata. Entah mereka akan membahas apa tapi Aku mendapatkan informasi ini dari salah satu Osis disekolahku, sehingga kami tidak terkejut melihat banyaknya murid asing datang ke sekolah.


Ruangan kami berlatih berada cukup jauh dari gerbang sekolah, bisa dibilang berada dibelakang. Itu mungkin dilakukan pihak sekolah untuk mengurangi keributan yang akan dilakukan oleh murid-murid mengingat ruangan itu menjadi tempat berlatihnya kami.


Ruangan sudah terlihat, namun ada seseorang yang tak kukenal berdiri seolah ingin mengintip bagian dalam. Kerasnya suara dari dalam membuat suara langkahku tak terdengar. Ketika sudah dekat, Aku menepuk pundaknya.


“Kamu siapa?”


Dia tidak mengenakan almamater sehingga dia bukan anggota Osis dari sekolah lain. Tersisa dua kemungkinan, pertama anak kelas 1, tapi ngapain anak kelas 1 selain anggota ekskul Game? Seingatku ekskul lain tidak ada agenda pada hari ini. Kemungkinan terakhir dia berasal dari sekolah lain.


“Nama saya Andi, dari sekolah SMA 8 S Yogyakarta perwakilan ekskul game.”


(ekskul game… tampaknya Aku melupakan sesuatu…)


Aku masuk setelah meminta Andi menunggu sebentar diluar. Membagikan makanan dan minuman agar mereka mendapatkan kembali tenaga yang dibutuhkan.


“ekskul kita sedang ngundang sekolah lain ya?”


“iya mas… divisi Moba sedang latih tanding dengan sekolah lain, kalau gak salah sekolah SMA 8 S Yogyakarta…”


“hoo begitu… berarti murid yang diluar anggota Moba ya. Baiklah kalau begitu Aku keluar dulu, antar dia.”


“ok mas…”


Aku keluar dan membimbingnya ke tempat latihan moba yang tidak jauh dari ruangan ini.


Aku menjelaskan kegunaan ruangan yang kami lewati guna menutupi kesunyian. Ketika sudah dekat dengan tujuan, kami bisa mendengar suara pemain Moba.


“daan… ini dia ruangan moba…”

__ADS_1


“makasih Mas Arkan…”


Andi segera menuju ke perkumpulan sekolahnya,


“SIapa Mas?” salah satu anggota Moba bertanya,


“perwakilan sekolah sana, kayaknya Dia pemain Moba terakhir…”


“hmm… kayaknya tidak Mas, karena pemain mereka sudah berkumpul semua”


“lah, lalu Dia siapa?”


Kami penasaran, namun pemikiran tersebut teralihkan ketika sorak kemenangan berhasil diraih oleh tim Moba sekolahku.


“Yeaayy…!!!”


“GG!!!”


Latihan terus berlanjut hingga azan zuhur berkumandang. Sudah lebih 7 pertandingan dilakukan. Setiap kali sekolah lawan kalah, Andi selalu berbicara sesuatu kepada anggota sekolahnya, lalu pada pertandingan selanjutnya mereka menang. Hal tersebut terjadi berulang kali, sehingga bisa kusimpulkan kalau dia merupakan orang yang menjadi strategi Moba disekolah SMA 8 S Yogyakarta.


Saatnya istirahat. Setelah zuhur, Kami semua makan di kantin dengan Nasi yang telah dipesan.


Rasa penasaranku kembali muncul ketika selesai makan, Aku ingin memastikan apakah benar dia strategi Moba disekolahnya? Jika benar, Aku ingin memahami pola pikirnya lebih dalam.


Ketika kebanyakan anggota mulai kembali keruangan, Dia duduk santai memainkan ponselnya. Aku mendekatinya,


“bagus-bagus Strategi yang Kamu gunakan ketika pertandingan tadi…”


“jadi memang benar ya Kamu orang yang mengatur Strategi Moba di sekolah?”


“hmmm… enggak Mas”


“Eh..? lalu tadi? Dan Kamu Divisi apa di ekskul?”


“hoo tadi, hanya memberikan saran berdasarkan pengalaman… Aku divisi Game, yang berfokus mencari tahu misteri, easter Egg, dan sebagainya dalam game bertipe cerita”.


“hoo begitu… ”


Kudengar, disekolah itu memang ada Divisi tersebut. Sehingga Ekskul Game mereka terbagi menjadi 2 Divisi utama yaitu Esport dan Game. Sedangkan kami Ekskul Game hanya fokus turnamen, Divisi kami berdasarkan jenis game yang ada pada turnament. Seperti Moba dan FPS yang Aku ikuti saat ini.


Tunggu, rasanya ada aneh.


“lalu kenapa memilih divisi Game padahal memiliki analisis yang bagus?”


“karena tidak berminat pada game Moba, game Cerita lebih seru bagiku”


Perkataannya tidak menunjukkan kebohongan. Jika dia mengikuti Esport, bisa dibilang dia akan menjadi musuh yang merepotkan. Aku harus mencari tahu lagi.


“mau lihat sesuatu yang lebih seru?”


“apa itu?”

__ADS_1


“nanti keruangan tadi pagi saat kita pertama ketemu”


“baiklah…”


Aku meninggalkannya dan mengajak anggota yang lain untuk bersiap.


Tok!...Tok!!!...


“Masuk aja…”


Andi masuk kedalam ruangan kami. Sebuah ruangan yang dikhususkan berlatih turnamen dengan game bertipe FPS. Bisa dibilang spek komputer disini sangat mumpun bisa memainkan Game FPS manapun dengan nyaman.


“waaah… bagus komputernya, lebih bagus dari sekolahku…”


“menarikkan, kebetulan latihan siang telah dipertengahan…”


Kami melihat latihan timku. Posisiku digantikan oleh anggota cadangan sehingga Aku bisa memperhatikan gerak gerik Andi lebih leluasa.


Tiga pertandingan berlalu.


“mau coba Ndi?”


“eehh… tapi Aku gak pandai Game kayak gini”


Perkataan yang biasanya dikatakan oleh orang yang biasa bermain. Dari matanya Aku yakin, Dia sangat paham tentang Game TEM.


Namun, Perkiraanku Salah. Dua pertandingan telah Dia mainkan, permainannya sangat kaku, responnya sangat lambat, dan arah tembakannya berantakan. Setidaknya itu yang Dia perlihatkan.


“Gimana Gamenya?”


“gak biasa Aku Mas, jadinya beban selama permainan tadi”


“hahaha… gak apa, butuh jam terbang yang banyak aja lagi biar terbiasa…”


“yaa itu benar, kalau gitu Aku pamit dulu. Udah Sore, mau persiapan balek lagi”


“baiklah, makasih sudah berkunjung…”


Andi pergi.


“Jadi, gimana menurutmu?” Aku bertanya kepada pemain yang bermain bersamanya,


“Instingnya tajam, ia bisa tahu dimana musuh akan muncul walau Dia selalu kalah dalam adu tembak. Kalau mengenai Gerakan dan arah tembakan, sepertinya cukup sering main dia jadi bagus”


“begitu ya…”


Informasi yang sangat bagus. Dia bisa menjadi pemain rahasia musuh pada tahun depan. Namun sayang, kalau Dia bermain tahun depan, Aku hanya bisa menyaksikan kemampuannya dari bangku penonton, tidak dari dalam Game.


Disisi lain, Andi keluar dengan santai menjauh dari Ruangan.


“Hampir saja…” keluh Andi dengan pelan.

__ADS_1


(Bersambung…)


__ADS_2